Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
15. Kenangan


__ADS_3

Enam tahun kemudian. Ariana melahirkan anak ketiganya. Setelah melahirkan dua putra yang tampan, ia melahirkan seorang putri cantik bak peri. Kebahagiaan Victor dan Ariana pun semakin bertambah dengan kehadiran Olivia. Sampai-sampai Ariana mengundang seorang pelukis dari luar wilayah hanya untuk melukis keluarganya.


Namun, siapa sangka. Enam bulan setelah kelahiran Olivia, Ariana megalami kritis. Ternyata Ariana mengalami ledakan mana, saat melahirkan Oliva. Karena tak ingin membuat Victor khawatir, Ariana diam saja dan meminta Dokter juga merahasiakan tentang masalah kesehatannya. Saat masa kritis itulah, Dokter keluarga akhirnya mengakui semuanya pada Victor. Menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Hal itu tentu saja membuat Victor marah, kesal, dan juga kecewa atas sikap Ariana. Namun, ia tidak bisa meluapakan apa yang dirasakannya itu.


Victor menemani Ariana selama masa kritis, sampai Ariana mengembuskan napas terakhirnya. Sebelum meninggal, Ariana sempat mengatakan beberapa hal. Ia meminta maaf pada Victor, karena sudah memberikam bebam berat dengan membesarkan tiga anak mereka. Ariana merasa bersalah, karena ia harus pergi meninggalkan Victor. Ia juga meminta pada Victor untuk menjaga diri.


Victor begitu terpukul akan kematian sosok wanita yang berharga baginya. Bagaimana tidak, Ariana adalah wanita yang selalu ada untuknya pada saat apapun. Suka, duka mereka lalui bersama-sama. Ariana lah yang membuatnya kuat. Ariana lah yang membuatnya jatuh cinta. Dan Ariana jugalah, yang menumbuhkan hasrat untuk memiliki. Ambisi dan keserakahan serta rasa cemburu.


***


Victor menatap nisan Ariana lekat. Matanya memerah dan berkaca-kaca. Namun, ia malu jika harus menangis dihadapan ketiga anaknya.


"Aku datang, Istriku. Entah sudah berapa lama aku tidak datang menemuimu. Aku sibuk berperang dan membasmi monster. Aku membawa anak-anak kita kali ini. Lihatlah mereka. Mereka sudah besar. Jika kau bertanya. Apa aku merawat mereka dengan baik? Aku akan menjawab, jika aku tidak akan bisa melakukannya sebaik kau yang merawat mereka. Yang kubisa hanyalah menghasilkan uang dan memegang pedang. Maaf ... aku tak bisa memenuhi perkataammu, Ariana. Maafkan aku ... " batin Victor.


"Bukankah saya sudah bilang pada Ayah. Kalau Ayah tidak boleh menyalahkan diri sendiri? Ibu pasti akan mengomel kalau Ayah terus begini," kata Olivia yang tiba-tiba muncul di sisi Victor.


Victor terkejut. Segera ia menyek air matanya dan menatap ke arah putrinya. Terlihat Olivia menatap lekat ke arah Ayahnya, lalu tersenyum cantik.

__ADS_1


"Ayah pasti sangat merindukan Ibu. Begitu juga Ibu, yang sudah pasti merindukan Ayah," kata Olivia.


Victor tersenyum, "Ariana ... lihat putrimu. Dia sudah pandai berkata manis dan menghibur Ayahnya yang bersedih. Tidak hanya wajah dan penampilannya saja, bahkan sifat Olivia ssngat mirip denganmu," batin Victor.


"Kau bicara dulu dengan Ibumu. Ayah mau melihat-lihat sekitar sekalian menemui para petani. Jika kau sudah selesai bicara, kau dan Kakak-kakakmu, segeralah temui Ayah. Mengerti?" kata Victor.


Olivia menganggukkan kepala, "Ya, Ayah. Kami mengerti," jawab Olivia.


Victor memanggil Octavius dan Owen, meminta mereka menjaga Olivia dan berbicara dengan Ibu mereka meski hanya sekadar basa-basi atau menyapa. Setelah itu Victor pun pergi.


Olivia menunduk dan menangis. Tubuhnya gemetar sampai Octavius dan Owen menghampiri dan menenangkan Olivia.


"Olivia, kau baik-baik saja? udaranya memang dingin. Apa kau kedinginan?" tanya Octavius. Ia segera menanggalkan jubahnya dan mengenakannya pada Olivia, "Bertahanlah sebentar lagi. Setelah kami bicara dengan Ibu, kami akan membawamu menemui ayah," kata Octavius.


Olivia menganggukkan kepala. Ia menepi, memberi ruang bagi kedua Kakaknya berbincang dengan Ariana. Olivia melihat, Octavius dan Owen tampak lekat menatap nisan Ariana.


Octavius dan Owen, mereka masing-masing menyapa dan mengutarakan isi hati dan pikiran mereka pada Ariana. Menyampaikan apa yang ingin mereka sampaikan. Bagaimana kehidupan mereka, Adik juga Ayah mereka.

__ADS_1


"Mereka terlihat sangat menyanyangi Ibu mereka. Meski mereka telah kehilangan Ibu mereka sejak kecil," batin Olivia.


Olivia berpikir, baik itu Octavius, Owen atau Olivia, semua memiliki kesamaan dengannya. Yakni, kehilangan sosok Ibu saat masih kecil dan hanya dibesarkan oleh sosok Ayah. Bedanya, Ayah Duke sangat bertanggung jawab, meski hanya bisa menyediakan uang tanpa bisa merawat dengan baik. Mempekerjakan pengasuh dan kesatria terbaik dan memenuhi kebutuhan Anak-anaknya. Sedangkan Ayah Olivia yang berasal dari bumi tidak demikian. Sikapnya acuh tak acuh pada Olivia. Karena menganggap Olivia sebagai beban hidup, serta masalah yang menyebabkan kematian sang istri.


Olivia menarik napas panjang, lalu mengembuskan perlahan. Ia menatap sekelilinga dan menatap ke langit yang apda saat itu tampak cerah.


"Apapun itu, aku sudah berada di sini. Aku merasuki tubuh Olivia Hubbert. Mau tak mau aku juga harus menjalani hidup sebagai Olivia Hubbert. Namun, aku tak akan menjalani hidup sesuai isi dalam novelnya. Aku akan hidup sesuai kemauanku dan keinginanku. Menikmati semua yang kumiliki, menghasilkan banyak uang. Jika perlu, aku akan membuka usaha kalau aku sudah dewasa nanti." batin Olivia.


"Olivia, apa kau sudah selesai bicara dengan Ibu?" tanya Owen.


"Sudah, Kak. Apa Kakak berdua juga sudah selesai?" tanya balik Olivia.


"Ya, kami sudah selesai," jawab Owen.


"Ayo, kita pergi dan temui Ayah." ajak Octavius.


Olivia, Octavius dan Owen pun bersama-sama pergi meninggalkan makam Ariana menuju tempat dimana Victor berada.

__ADS_1


__ADS_2