Putri Yang Diabaikan

Putri Yang Diabaikan
23. Memenuhi Undangan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian. Victor memenuhi undangan Kaisar dan mengunjungi Kekaisaran. Kedatangan Victor disambut hangat oleh Kaisar.


"Selamat datang, Duke Hubbert," kata Kaisar.


"Salam kenapa matahari kekaisaran. Saya Victor Hubbert memenuhi undangan Baginda Kaisar," kata Victor memberi salam.


"Tidak perlu terlalu formal. Kita bicara santai saja, Duke. Ayo, kita berbincag di taman saja. Bukankah cuaca hari ini sangat cerah? kata Kaisar.


"Baik, Baginda. Silakan," jawab Victor.


Victor menundukkan kepala, "Apa yang sebenarnya ingin beliau bicarakan? kenapa sampai mengajakku ke taman?" batin Victor.


Victor mengikuti Kaisar yang berjalan menuju taman istana. Di taman, pelayan sudah menyiapkan teh dan kudapan untuk Kaisar dan Victor. Kaisar duduk, diikuti Victor yang duduk di hadapan Kaisar.


"Minumlah teh ini. Teh ini bagus untuk kesehatan," kata Kaisar.


Seorang pelayan menuang teh dan menyajikan pada Victor. Victor mengambil cangkir dan mencicipi sedikit teh itu.


"Ada apa, Baginda? sampai-sampai Anda mengirim undangan pada saya untuk datang," tanya Victor.


"Hm, begini. Aku mau merayakan ulang tahun Putra Mahkota, sekaligus mengadakan pesta kedewasaan. Aku berencana mengundang para lady dan Tuan muda bangsawan Kekaisaran ini. Bagaimana menurutmu?" tanya Kaisar menatap Victor.


"Hal seperti itu, bukankah bisa Anda putuskan sendiri? saya tidak mmeiliki hak melarang, bukan?" jawab Victor.


"Benar. Namun, ada satu hal lagi yang ingin aku bicarakan, Duke. Putra Mahkota sudah menginjak usia dewasa, dan pastinya membutuhkan calon istri. Aku ingin putraku mendapatkan istri dari keluarga baik-baik," kata Kaisar.


"Oh, maksud Anda. Anda ingin segera menikahkan Putra Mahkota, begitu? Lantas, apakah Anda punya pandangan tentang keluarga mempelai perempuan?" tanya Victor. Ia meminum lagi teh di cangkir yang dipegangnya.


"Soal itu, bagaimana kalau calon istrinya putrimu saja?" Tanya Kaisar.


Victor yang sedang minum pun langsung tersedak. Ia tidak percaya mendengar hal yang tidak pernah dipikirkannya dari Kaisar yang duduk dihadapannya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa, Kaisar ingin menikahkan putriku dengan Putra Mahkota yang seperti itu?" batin Victor.


"A-apa maksud Anda, baginda? putri saya bahkan belum melakukan pesta kedewasaan dan debut. Sepertinya dia juga sibuk dengan hal lain dan tidak memikirkan pernikahan," jawab Victor.


"Jadi, kau menolak?" tanya Kaisar.


"Ya, saya menolak keras." jawab tegas Victor.


Kaisar terkejut, lalu tertawa, "Hahaha ... tidak kusangka kau akan menjawab dengan ekspresi kesal seperti itu, Duke. Baiklah, baiklah, aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi. Anggap saja aku tidak pernah membahas soal perikahan. Kita bicarakan hal lain saja," kata Kaisar.


"Sudah kuduga, pasti sulit mengajaknya bicara," batin Kaisar. Mengangkat cangkir dan meminum tehnya.


Kaisar dan Victor membicarakan tentang perdagangan jalur laut yang segera dibuka. Kekaisaran akan melakukan transaksi dengan kerjaan tetangga. Demi memperlancar jalannya transaksi, Kaisar meminta Victor mengawasi langsung pelabuhan saat transaksi berlangsung. Victor tidak menolak. Ia akan memenuhi keinginan Kaisar.


"Aku akan kirim Putra Mahkota juga mendampingimu," kata Kaisar.


"Baik, Yang Mulia." Jawab Victor.


Cukup lama Kaisar dan Victor berbincang. Sampai akhirnya Victor berpamitan pulang karena pebicaraan antaranya dengan Kaisar sudah berakhir.


Sesampainya di kastil, Victor langsung memanggil Olivia ke ruang kerjanya. Dan tidak lama Olivia langsung datang menghadap.


"Ayah, ada apa?" Tanya Olivia berjalan mendekati sofa dan langsung duduk di sofa.


"Sebentar lagi, jalur perdagangan di pelabuhan dibuka. Ayah diminta Baginda Kaisar mengawasi langsung jalannya trsnsaksi dengan kerajaan tetangga itu. Karena tidak tahu, kapan selesai, maka ada baiknya kau tidak kluar rumah dalam waktu itu, kecuali pergi ke akademi. Mengerti?" kata Victor.


Olivia mengerutkan dahi, "Aduh, kenapa harus dalam waktu dekat? minggu depan kan aku harus mengambil surat tanah dan brrtemu ahli bangunan. Bagaimana ini? Apa sebaiknya aku bicara saja kalau aku ada janji?" batin Olivia.


"Itu, Ayah. Bagaiamana dengan latihan? kalau pergi ke kediaman pelatih, masih boleh, kan? Apa ke pasar juga tidak boleh?" tanya Olivia.


Victor terdiam. Ia berpikir, kalau jalur perdagangan dibuka, pasti akan ramai dan ia tidak bisa lagsung bergrak kalau Olivia dalam masalah, sbab ia ditugaskan langsung mengawasi transaksi. Biasanya pada saat pelabuhan dibuka untuk para pedagang, akan banyak orang yang datang dari luar wilayah, bahkan orang dari kerajaan tetangga pun pasti akan ada yang datang. Tentu saja itu akan memancing para penjahat seperti perampok atau pencuri untuk beraksi. Dan biasanya mereka akan menargetkan para babgsawan yang terlihat memiliki banyak uang. Menipu dengan berpura-pura berjualan barang bagus, padahal palsu. Sampai menculik dan melakukan tindak kejahatan lain. Victor pun tidak ingin putrinya menjadi korban. Meski ia tahu kalau putrinya pasti akan bisa melindungi diri sendiri.

__ADS_1


Victor menatap Olivia, "Kalau aku tidak mengizinkan, apa dia akan marah? meski tidak langsung ditunjukkan, dia pasti akan memendam kekesalan padaku." batin Victor.


Vivtor menarik napas dalam, lalu mengembuskan napas perlahan.


"Ya, baiklah. Kau boleh pergi. Emma harus selalu ada di sisimu. Dan langsung pulang kalau urusanmu selesai, mengerti?" Kata Victor.


Olivia tersenyum, "Ya, Ayah. Terima kasih," kata Olivia.


"Bagaimana latihamu? ayo, latihan juga dengan Ayah lain waktu," tanya Victor.


"Latihanya lancar Ayah. Semua berjalan dengan lancar tanpa kendala. Wah, saya senang kalau Ayah mau mengajari langsung. Perlukah kita membuat taruhan?" kata Olivia.


Victor mengerutkan dahi, "Taruhan?" gumam Victor.


"Saya mau mengajak ayah berduel. Jika saya menang, maka Ayah harus mengabulkan semua permintaan saya. Sebaliknya, jika Ayah berhasil mengalahkan saya, maka Ayah juga bisa melakukan hal yang sama. Bagaimana?" jelas Olivia.


Victor menganggukkan kepala, "Oh, begitu. Baiklah, tidak masalah. Ayo, kita lakukan." jawab Victor menyetujui.


"Oh, ya. Tadi Ayah pergi ke Kaisaran, kan? apa ada hal serius? apa Ayah diminta datang hanya untuk menugakan Ayah mengawasi pelabuhan saja?" tanya Olivia penasaran.


Deg ... Victor mengepalkan tangan saat ingat perkataan Kaisar sebelum menugaskanya mengwasi transaksi. Pembahasan tentang pernikahan, tidak membuat Victor senang.


"Hal-hal tak berguna, sebaiknya tak perlu diketahui Olivia. Uh, mengesalkan sekali. Bisa-bisanya Kaisar punya pemikiran seperti itu. Apa lady babgsawan di Kekaisaran ini hanya putriku saja? Hahhh ... " batin Victor.


"Tidak ada apa-apa. Beliau hanya mengajak Ayah minum teh yang katanya bagus untuk kesehatan. Itu saja," jawab Victor.


Olivia menganggukkan kepala, "Oh, begitu." jawab Olivia.


"Ayah sudah selesai bicara denganmu. Kau bisa kembali. Ayah mau melanjutkan memeriksa laporan dulu," kata Victor.


"Ya, Ayah. Selamat bekerja," jawab Olivia bangkit berdiri.

__ADS_1


"Oh, ya. Ulang tahunmu enam bulan lagi, kan? kalau ada waktu, buatlah rencana. Ayah akan membuat pesta perayaan untukmu. Sekaligus pesta kedewasaanmu," kata Victor.


"Ya, Ayah." jawab Olivia yang langsung pergi meninggalkan ruang kerja Ayahnya.


__ADS_2