
Sore harinya. Usai menyelesaikan tugas yang diberikan profesor. Olivia segera pergi ke tempat latihan. Namun, siapa sangka, di sana ia melihat Arron dan Ayahnya sedang berlatih bersama. Ia yang tertarik pun duduk dan melihat pertandingan itu.
"Ada apa ini? Kenapa Ayah dan Arron berduel?" batin Olivia penasaran.
Ini pertama kalinya Olivia melihat sang Ayah dan Putra Mahkota berduel. Karena itu,
Olivia mengamati pergerakan Arron dan Victor dengan seksama.
"Hm ... seru juga," gumam Olivia tersenyum.
Olivi sadar, jika fisik Arron sangatlah kuat dan bugar. Berbeda dari fisiknya dahulu.
"Arron punya fisik yang kuat ternyata. Staminanya bagus sampai bisa mengimbangi Ayah," batin Olivia.
Pandangan Olivia teralihkan pada Victor. Olivia tersenyum, ia diam-diam memuji sang Ayah.
"Wuahh, Ayah siapa ini keren sekali? Swordmaster memang beda," batin Olivia.
Tampak Victor tidak ragu dalam menyerang Arron. Victor mendesak Arron sampai terpojok. Arron yang tak bisa menghindari pedang Victor pun akhirnya meletakkan pedang dan mengakui kekalahannya dihadapan Victor.
"Saya mengaku kalah," kata Arron.
"Angkat pedangmu, Ron! seorang Kesatria sejati tak boleh meletakkan pedangnya begitu saja. Pedang itu seperti harga dirimu. Apa kau akan membiarkan lawanmu menginjak ahrga dirimu?" kata Victor menatap Arron dingin.
Arron kaget, "Maafkan saya, Guru. Saya bersalah. Saya tidak akan mengulanginya," kata Arron.
Olivia yang mendengar perkataan Arron pun terkejut. Ia sampai membekap mulutnya agar tak bersuara.
"A-a-apa? Guru? Hah ... apa yang ku dengar ini bukan sungguha, kan? jadi, Ayah itu guru Putra Mahkota? Yang benar saja," batin Olivia.
Olivia mengerutkan dahinya, "Bagaimana bisa aku tidak tahu hal ini? di novel sama sekali tak tertulis kalau Duke Hubbert itu adalah guru Putra Mahkota. Apa aku sudah melewatkannya? Hm, kurasa tidak. Aku bahkan sampai mengulang baca karena ceritanya menarik. Ini aneh, kalau Arron memanglah murid Duke, lantas kenapa Arron bersikap tidak baik pada Olivia seperti yang di novel? Dia berpura-pura baik dan tulus pada Olivia padahal sebaliknya. Diam-diam menjalin hubungan dengan Beatrix dan tak pernah sekalipun berpihak pada Olivia. Uhh ... kalau aku ingat itu, ingin rasanya kumenarik rambut hitamnya itu," batin Olivia kesal.
Tiba-tiba Olivia dikejutkan oleh Victor yang sudah ada di hadapannya. Olivia yang melamun pun keget sampai melebarkan mata.
"Olivia ... apa yang kau lakukan di sini?" tanya Victor.
Olivia terkejut, "Oh, ah, A-ayah. Maaf, saya melamun. Saya ... hm, saya mau latihan. Namun, saya tidak menyangka akan melihat Ayah dan Yang Mulia Putra Mahkota berlatih," jawab Olivia.
"Guru, saya sudah selesai minum. Mari kita lanjutkan," ajak Arron berjalan menghampiri Victor.
__ADS_1
Olivia menatap Arron, "Salam pada matahari kecil kekaisaran," kata Olivia memberikan salam.
"Ya, lady. Senang bertemu denganmu lagi. Kau ke sini ingin latihan juga?" tanya Arron.
"Iya," jawab Olivia sedikit menundukkan kepala.
Victor terdiam, menatap Olivia dan Arron bergantian. Ia pun terpikirkan sebuah ide cemerlang.
"Kalian berduel lah," perintah Victor.
Olivia keget, "Ya? saya dengan Yang Mulia Putra Mahkota?" tanya Olivia lagi menyakinkan pendengarannya.
Victor menganggukkan kepala, "Ya. Ayah rasa kau dan Yang Mulia Putra Mahkota sepadan. Jangan sepelekan yang kau lihat. Setengah kemampuan Ayah ada pada beliau," kata Victor.
"Anda pandai bergurau, Guru. Mana bisa saya menandingi Anda," sahut Arron.
"Olivia, kau mau berduel dengan Yang Mulia Putra Mahkota?" tanya Victor lagi.
Olivia menganggukkan kepala, "Dengan senang hati, Ayah. Saya juga penasaran akan kemampuan murid Ayah," jawab Olivia penuh semangat.
Arron menatap Olivia, "Dia tampak penuh semangat dan percaya diri. Bagus sekali. Bukankah dia juga pemilik mana melimpah yang dikabarkan di akademi? dia bahkan mengambil kelas kesatria yang kebanyakan dipilih oleh pemuda. Apa dia ingin mengikutu jejak Guru? Ya, apa pun itu dia pasti akan berhasil karena dia itu gigih," batin Arron.
"Lady, saya menantikan pertarungan kita," kata Arron.
"Mau bertaruh?" tanya Arron.
"Apa maksud Anda, Yang Mulia?" jawab Olivia.
"Tidak seru kalau tidak ada taruhannya, kan? jadi, mari kita berduel dengan membuat taruhan, Lady Hubbert." jelas Arron.
Olivia mengerutkan dahi, "Apa yang dia inginkan sebenarnya. Bertaruh? Memang dia itu pemuda yang aneh," batin Olivia.
"Baiklah. Apa yang Anda pertaruhkan? atau Anda ingin sesuatu, jika berhasil mengalahkan saya?" tanya Olivia.
"Ya. Jika aku berhasil mengalahkanmu. Ayo, kita makan bersama sebanyak sepuluh kali," jawab Arron.
Olivia kaget, "Hah? Anda jangan bercanda, Yang Mulia. Itu tidaklah lucu," sahut Olivia tidak terima.
"Hm, entahlah. Saat ini hanya itu hal yang kupikirkan," jawab Arron.
__ADS_1
Olivia menatap Arron tajam, "Baiklah. Jika itu kemauan Anda. Saya juga akan mengatakan apa keinginan saja. Jika saya bisa mengalahkan Anda, saya harap Anda tidak lagi mengganggu saya. Jangan terlihat dihadapan saya. Dan Jangan sok kenal dengan saya. Anda setuju?" tanya Olivia.
Arron tersenyum, "Setuju," jawab Arron senang.
Victor mengerutkan dahi, "Ada apa dengan mereka? suasananya tampak aneh," batin Victor.
Karena Olivia dan Arron berbicara pelan, membuat Victor tak bisa dengar percakapan Arron dengan Olivia yahg berada jauh dari Victor.
"Ehemmm ... (berdehem) apa kalian sudah siap?" tanya Victor.
"Ya," jawab Arron dan Olivia kompak.
"Baiklah. Duel di mulai," kata Victor yang memberikan aba-aba dimulainya duel sengit antara Arron dan Olivia.
Olivia langsung menyerang Arron begitu aba-aba selesai diucapkan Victor. Ia tidak mau memberikan celah sekecil apapun untuk Arron.
Arron dengan sigap menangkis serangan pedang yang datang padanya. Ia tidak boleh sampai kalah karena ia tidak berniat demikian.
Duel sengit berlangsung. Victor tidak menyangka, kalau pertaruggan Putrinya dan Muridnya sangatlah berapi-api.
"Ada apa dengan mereka? seperti musuh yang sudah ratusan tahun tidak bertemu saja," batin Victor.
Olivia menekan pedangya menyudutkan Arron, tapi ternyata Arron mampu bertahan dari tekanan yang diberikan Olivia.
"Sial! dia kuat sekali," batin Olivia.
Arron tersenyum, "Mau menyerah saja?" kata Arron menatap Olivia.
"Jangan harap!" jawab Olivia yang pada akhirnya mengeluarkan kekuatannya.
Karena terdesak, Olivia pun menyalurkan mana pada pedangnya, agar bisa memukul mundur Arron.
Arron mengerutkan dahi, "Apa yang dia lakukan?" batinya mengamati pergerakan Olivia.
"Sial! dia menyalurkan mana ke pedangnya. Kalau begini, mau tak mau aku harus menjaga jarak. Aku tak boleh bersentuhan dengan ma ... " kata hati Arron terhenti saat ia merasakan mana yang terhisap masuk dalam tubuhnya melalui pedangnya.
"Apa ini?" gumam Arron terkejut.
Olivia keget, "Gila? Dia seperti magnet. Dia ... " gumam Olivia melebarkan mata dan akhirnya menarik pedangnya agar tak bersentuhan dengan pedang Arron.
__ADS_1
Olivia menancapkan pedangnya ke tanah sembari menundukkan kepala. Ia masih tidak habis pikir, ada seseorang yang bisa menghisap mana bagaikan magnet yang kuat.
Arron pun terkejut. Seumur-umur ia tidak pernah mengalami hal aneh seperti saat itu. Ia sangat jelas merasakan ada sesuatu yang mengalir dalam tubuhnya melalui pedang yang dipegangnya.