Queen Of Darkness

Queen Of Darkness
Padang rumput


__ADS_3

" woaahh ini bagus banget " riang seorang wanita pada temannya sambil menggoyang goyangkan lengan temannya itu.


" bener banget " sahut yang lainnya.


seorang pemuda yang sudah berada di atas pohon melambaikan tangannya pada Ryuxie


" KAK!!! KITA BAKAL TINGGAL DISINI? " teriaknya antusias.


teman dari pemuda tersebut yang juga berada diatas pohon bersamanya menepuk pelan pundak pemuda tersebut " hei... yang sopan pada tuan kita " tegurnya , pemuda tersebut menekuk wajahnya iya mengangguk angguk kepalanya mengerti.


Ryuxie menggelengkan kepala heran " tak apa , semuanya !! panggil saya sesuka kalian senyaman kalian saya tak akan mengkhususkan , yasudah ikut aku " tenangnya sedikit berteriak agar semuanya mendengar.


Ryuxie berbalik badan berjalan mendahului namun ia berhenti sejenak " dan untuk tadi ... iya, ini tempat tinggal kita saat ini..." lanjutnya kembali melangkah diikuti para bawahannya yang antusias.


semakin kita berjalan semakin dalam pemandangan semakin indah seperti dongeng saja , Ryuxie berhenti pada Padang rumput yang luas keberhentiannya membuat yang lain mengerutkan kening.


Ryuxie tersenyum tipis sangat tipis ia berbalik memandang seluruhnya , kemudian mengangguk " saya hanya menyiapkan tempat saja , untuk yang lainnya kita akan membuatnya bersama sama , dan untuk kalian bila memiliki seorang teman atau siapapun kalian bisa mengajaknya bergabung bersama dan saya tidak akan memaksa siapapun untuk mengikuti saya , siapa yang ingin tetap bersamasata ikuti saya, kita berlatih bersama sama , dan yang tidak ingin tak apa saya membebaskan kalian , kalian bisa hidup bebas sesuka kalian dan satu lagi aku tidak ingin ada penghianat atau nasib kalian seperti... " terus terang nya mengeluarkan jurus pisau anginnya hanya menggunakan sedikit kekuatan lalu melemparkannya pada sebuah pohon disampingnya dan bertepatan itu beberapa pohon tertebang menjadi dua.


" pohon itu..." lanjutnya, semuanya yang melihat secara live terbelalak kaget pasalnya tuan mereka hanya membuat sebuah pisau seukuran tiga jari saja apalagi yang besar mungkin sangat dahsyat efeknya , mereka meneguk kasar ludah mereka perasaan takut menghantui mereka , mereka memandang Ryuxie takut bercampur kagum.


mereka serempak mengangguk , badan mereka ditegakkan memandang tuan mereka penuh hormat " BAIK TUAN " tegas mereka dengan empat jari diletakkan di dahi mereka seperti hormat.


Ryuxie tersenyum puas ia menepuk sekali tangannya " baiklah... sementara ini kalian beristirahat dahulu di gubuk sebelah sana, saya sudah mempersiapkannya , besok kita akan mulai bekerja " serunya menunjuk sebuah gubuk yang jaraknya lumayan jauh dari mereka.

__ADS_1


" BAIK TUAN "


" satu lagi jangan pernah memberitahukan tempat ini kepada siapapun " dinginnya mengeluarkan auranya setelah itu menghilang bagai ditelan bumi tak berbekas , lagi lagi mereka terkagum kagum pada tuan mereka , dan mereka bersumpah bahwa akan selalu setia dan taat pada tuan mereka sepenuh hati , dan akan mencoba tuk melindungi tuan mereka walaupun harus mengorbankan diri mereka bila itu dapat melindungi tuannya itulah janji mereka.


Seorang pemuda menghampiri pemuda yang tadi menaiki pohon itu " hey Den Hua... kau lihat tadi ... wahh dia begitu cantik juga sangat hebat " pujinya , sedangkan pemuda yang di panggil Den Hua tadi mengangguk setuju.


" betul sekali Nuo Li , kakak memang orang yang sangat sempurna " bangganya membusungkan dadanya , Nuo Li memutar bola matanya malas , ia berjalan meninggalkan Den Hua menuju gubuk yang dimaksud tuannya.


Den Hua mengerutkan dahinya bingung , merasa tak peduli ia berlari ketengah Padang lalu berputar putar senang hingga seorang wanita memanggilnya.


" hey bocah Hua Hua... tangkap..."


sontak Den Hua menghentikan aksinya ia sedikit mendekat pada wanita tersebut dan merentangkan tangannya bermaksud menangkap namun pusing akibat berputar melandanya tak kuat Karna lemas ia terjatuh tergeletak di tanah bertepatan itu juga sebuah kantong kain menimpa terjatuh tepat diwajahnya.


" blueeekkk " muntahnya setelah mencium lebih dekat bahkan ditempatnya tepat didepan hidungnya.


merasa penasaran yang meninggi ia mengangkat kantong tersebut lalu menelitinya tungggu terdapat basah basah berwarna kecoklatan , ia semakin mendekatinya tangannya terulur untuk menyentuh apa itu seperti tanah basah sesekali juga ia berlagak muntah karna baunya namun tetap saja tak mengurangi rasa penasaran dirinya . setelah menyentuhnya tanah tersebut menempel pada jarinya lalu ia mendekatkan jarinya pada hidungnya.


" BLUEEKKK...."


tak tahan ia membuka kantong tersebut , dan tangannya ia masukkan ke kantong tersebut .


" sesuatu yang lunak dan basah juga tadi sangat bau apa ini? " ia mengangkat keluar tangannya , ia memiringkan kepalanya memandang serius pada benda ditangannya itu. matanya terbelalak dengan secepat kilat ia melempar benda tersebut secara acak , tangannya ia kibas kibaskan bermaksud menghilangkan sisa sisa benda tadi ditangannya , ia kembali mencium bau itu

__ADS_1


" BLUEEKKKK...." sudah kesekian kali ia memuntahkan isi perutnya ia benar benar tak kuat mencium lagi.


Den Hua melirik sesosok wanita dan sesosok pria yang sedang menertawakan dirinya mereka melangkah mendekati dirinya.


" kau... apa ini ? kenapa bau sekali? dan ini seperti kotoran.." geramnya kembali mencium tangannya , wajahnya menghijau tak kuat ia buru buru menjauhkannya namun baunya masih tercium dihidungnya.


sosok wanita tersebut tertawa terbahak bahak begitupun pria disampingnya, ia menggeleng gelengkan kepalanya tak mengerti pada lelaki dihadapannya ini " hahahaha kau itu terlalu bodoh apa ? lihatlah Rao Lan , betapa bodohnya kawanmu itu hahahaha " ujarnya mengejek Den Hua.


Den Hua mengerucutkan bibirnya matanya menatap tajam wanita tersebut namun terlihat imut baginya " kau... kenapa kau melemparkan nya padaku , kau tahu itu sangatlah bau.."


" aku sudah menyuruhmu untuk menangkapnya namun apa yang kau lakukan? sangat bodoh otakmu, kau tahu itu memang kotoran tapi kau malah terus menciumnya bodoh blee ..." ejeknya menjulurkan lidahnya , setelah itu ia pergi meninggalkan Den Hua berserta Rao Lan .


" MEI TAN.... AWAS KAU..." geramnya, ia menatap lembut Rao Lan agar dibantu namun bukannya membantu ia ditinggalkan begitu saja.


" urusi dahulu wajahmu yang terkena kotoran itu.." ketusnya berbalik meninggalkan Den Hua yang termenung , lalu sedetik kemudian ia berteriak dengan kencangnya.


" TIDAAAKKK.... WAJAH IMUTKU....." teriaknya menengadahkan kepalanya menatap gelapnya langit sangat dramatis, sungguh kesialan yang haqiqi.


DEN HUA



__ADS_1


__ADS_2