Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 1


__ADS_3

Jangan Membaca Saat Waktu Shalat


Coment dong tentang cerita ini?


.


 


Raut


wajah gusar terpancar dari diri Arka. Dia mengasingkan diri keperdesaan


yang berada disudut kota Bandung. Desa tersebut masih arsi dan sangat


tinggi nilai tata kramanya. Arka mengetahuinya dari banyak orang berlalu


lalang dengan menggunakan pakaian sopan. Selama perjalanan Arka tidak


mendapati seorang pun yang terbuka auratnya.


Arka


berada disini bukan suatu kebetulan, tetapi atas keinginannya sendiri.


Desa tersebut dia dapatkan dari pencarian di mbah google.


Sedari


tadi Arka menjadi pusat perhatian, karena penampilannya yang memang


terkesan berbeda. Beberapa hari yang lalu dia mengganti warna rambutnya


dengan warna coklat.


Dia berjalan tanpa memperdulikan tatapan orang lain, yang dia cari hanya ketenangan.


Semilar angin membuat perasaannya sedikit membaik, dia nyaman dengan tempat yang masih jauh dari kesan kekotaan.


Sejenak


dia duduk disebuah pondok yang ada dipertengahan sawah. Pondok tersebut


sangat nyaman meskipun hanya terbuat dari kayu-kayu bekasan.


Pandangannya


mengarah pada langit yang biru. Senyum yang cerah terbit begitu saja,


berusaha untuk mengikhlaskan segala takdir yang membuat hatinya


terjepit.


"Ya


Allah, gue ikhlas kalau memang mereka mau nikah. Tapi kok sakit ya


Allah" lirihnya pelan. Pandangan yang awalnya merekah kembali meredup.


Setelah menghabiskan 1 puntung rokok, Arka kembali melanjutkan perjalanannya. Dia ingin mencari tempat tinggal sementara.


Matanya


menangkap bangunan kuno diseberang bukit. Dia yang awalnya ingin


melihat keindahan alam dari bukit menjadi membatalkan niatnya karena


melihat bangunan yang belum pernah dilihat sekalipun.


Arka


mengambil ponselnya untuk mengambil gambar dari beberapa sudut


bangunan, tidak lupa dia juga selfie untuk menunjukkan kepada sahabatnya


bagaimana suksesnya acara liburan mendadaknya atau bisa dikatakan


menenangkan diri.


"Kakak kok jahat, aku salah apa"


"Salah


lo banyak, pertama lo bukan anak Ayah Ibu. Lo ngerebut perhatian mereka


dari gue dan adik gue. Lo sok pinter, ngambil cowok yang gue suka dan


lo ikut ikutan sekolah dikota. Seharusnya lo sadar, lo cuma anak haram


yang di pungut sama Ayah gue. Gak usah pakai jilbab, gue jijik liatnya


munafik"


"Kak udah yuk, nanti ada yang liat kita"


"Bentar lagi dek, kakak belum puas nyiksa dia"


Plakk


Plakk

__ADS_1


Plakk


"Sakit,


iya sakit? Lebih sakit mana dari pada kami yang mau serumah sama lo


selama 17 tahun. Gak tau diuntung lo. Setelah ini masa depan lo


berhenti, kodrat lo itu cuma jadi ibu desa yang ngurus cuci piring.


Dasar anak haram"


"Stopp


bilang aku anak haram kak, aku gak pernah mau terlahir jadi anak yang


kakak bilang haram. Kalau aku bisa milih aku juga gak mau masuk kedalam


rumah Ayah Ibu. Aku juga gak mau kak hiks hiks"


"Hahaha


Salahnya lo gak bisa milih. Seharusnya lo ikut mati sama Ibu lo yang


pelacur itu. Gak nyadar apa keluarga lo nyusain ayah gue"


"Dek buka jilbabnya, robek bajunya"


"Jangan Dek, kakak mohon"


"Diam gue bilang, kan gini keren lo. Rambut lo keren juga gue warnain kemaren hahaha. Ayo dek"


"Kak kita beneran ninggalin disini?"


"Iyalah,


bentar lagi preman desa yang mau sama tu anak haram bakal kesini.


Sesuai rencana kita jalankan biar dia segera hidup sensara hahaha"


"Kak Dek hiks jangan tinggalin disini. Astagfirullah ya Allah ampuni dosa hamba"


Sayup


sayup Arka mendengar obrolan seperti didrama televisi. Dia tidak begitu


ambil pusing, lebih baik tidak terlalu ikut campur pada urusan orang


lain. Bunyi pintu membuat Arka menyembunyikan dirinya dibalik pohon


besar. Dia melihat 2 orang wanita yang masih muda sedang mengobrol.


"Mana si Jarwo itu, lama amat"


"Woi Lo dimana ha, gue udah siapin mangsa buat lo"


"..."


"Iya cepetan, gue mau lapor sama warga biar kalian nikah"


"..."


"Oke gue cabut, awas aja lo telat"


Arka melihat kedua orang didepannya menjauh pergi. Otaknya sangat lambat mencerna sebenarnya situasi apa ini?


Tanpa disangka langkah kakinya mengarah ke arah gudang. Dia mendengar tangisan orang yang meminta pertolongan.


"Ngeri


gue dengarnya" lirih Arka pelan. Dia mengurungkan niat untuk melangkah


ke arah gudang. Kakinya perlahan menjauh dan kupingnya serasa tuli


mendengan jeritan orang yang meminta pertolongan.


Beberapa langkah sudah menjauh, tetapi jeritan itu terasa semakin kuat dipendengarannya.


"Ampun dah, Bismillah aja Ka" ucapnya untuk menyemangati diri.


 


 


"Akhhhhh"


"Astagfirullah, hantu" Arka ingin segera pergi dari sana.


"Aku bukan hantu, hiks Kamu orang jahat kan"


Tangisnya


membuat Arka sedikit ya ingat sedikit kasihan. Perempuan didepannya ini


sungguh mengenaskan. Kupingnya yang salah mendengar atau dirinya yang


banyak mengkhayal sehingga perempuan didepannya ini menganggap dirinya


orang jahat.

__ADS_1


"Woii, gue bukan orang


jahat. Gak ada kerjaan banget gue culik lo. Cantik juga enggak" Arka


melepaskan kemeja nya dan memperlihatkan badan atletisnya.


"Ngapain kamu buka baju, akhhhh pergi sana hiks"


"Diam cewek gila, lihat badan lo tu tambah dosa gue aja. Cih ni pakai" Arka memberikan kemejanya.


"Hiks Makasih, tolongin aku" Suara penuh kepedihan itu membuat Arka blank seketika.


"Lo pakai jilbab" Arka melihat kain yang sudah tercabik-baik dilantai.


"Hiks Iya huaaa, Allah pasti marah"


Menyebalkan itu yang


Arka pikirkan tentang sosok didepannya ini. Dia mengambil sarung yang


kebetulan ada didalam tas dan memberikannya kepada perempuan malang itu.


"Ni pakai, Sial apa gue bisa ketemu cewek kayak lo. Lemah gini lagi" cerocos Arka.


Pintu gudang terbuka dengan lebarnya. Disana ada 2 orang laki-laki dengan tampang berantakan.


"Eh siapa Lo"


"Gue, lo gak usah tau siapa gue. Bisa jadi malaikat maut buat lo" Arka tertawa didalam hati memikirkan ucapannya sendiri.


"Siniin cewek dibelakang lo, dia calon istri gue"


"Hahahaha Gue gak bodoh kali. Lo suruhan 2 cewek udik itu kan. Mirip drama banget mha ini"


"Diam lo, jangan banyak


bacot" Bogeman mendarat pada wajah Arka. Senyum miringnya terbit, dia


sudah berjanji tidak akan berkelahi lagi tetapi dia hanya membela diri.


Tangannya terasa gatal karena sudah lama tidak melayangkan pukulan pada


orang.


Arka membalasnya dengan


sangat lihai. Beberapa menit kemudian kedua laki-laki itu terkapar tidak


berdaya. Senyum bangga Arka terbit begitu saja.


"Gue hitung sampai 3 ni ya kalau lo gak pergi jangan harap bisa bernafas lagi. 1.. 2.. "


Kedua preman yang menjadi sasaran empuk tinju Arka lari terbirit-birit.


"Udah kan lo bisa pulang sekarang"


"Eh sarung sama kemejanya gimana"


"Bisa lo bakar atau buang" Arka membawa kembali ranselnya dan berniat untuk pergi.


Namun suara bising perlahan membuat kakinya terhenti.


Pikirannya kacau ketika obrolan 2 perempuan didepan gudang tadi berputar pada otaknya.


"Ayo kita lihat, Siapa yang buat mesum dikampung kita"


Arka terlambat, dia tertangkap basa bersama perempuan yang tidak dikenalnya.


"Astagfirullah. Apa yang


kalian lakukan. Ayo kita bawa mereka berdua kebalai desa" Kedua tangan


Arka dipegang erat oleh bapak-bapak.


"Pak saya gak buat mesum, ini salah paham pak" bela Arka.


"Maling mana mau ngaku, kalau ngaku penjara penuh"


Arka memejamkan matanya berharap mimpi buruk ini segera berakhir.


.


.


.


Jangan lupa baca Al-qur'an every time guys💕💕


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2