Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 21


__ADS_3

Sejak saat Arfan pergi dia tidak lagi menampakkan diri di depan


anaknya.  Dia akan datang apabila sang anak telah tidur.  Kerinduan


yang dia rasakan selalu membuat dirinya tersiksa,  kenapa begitu sulit


memeluk sang anak padahal dia ada di depan matanya.


Arfan sedih,  ya dia sangat


sedih.  Hanya Allah yang tau seberapa hancurnya dia. Sampai saat ini Arfan


sama sekali belum berumah tangga.  Dia selalu terperangkap pada penyesalan


dan memohon ampunan kepada Allah atas dosa yang pernah dia lakukan.


Arka sering kali melihat ayah


sang istri datang tetapi tidak masuk ke dalam ruang kamar.  Dia hanya


melihat di depan pintu.


"Mas Adek ingin ketemu


Pa-pa" meskipun 2 hari ini Farah selalu melawan dirinya sendiri,  dia


berusaha meminta petunjuk kepada Allah agar Allah memberikan kelapangan pada


dadanya.


"Ayah bentar lagi


datangnya" balas Arka.


"Papa Mas bukan Ayah"


Arka memandang istrinya dengan raut kebingungan.  Setelah itu dia sadar


bahwa sang istri sudah berusaha menerima keadaan meski berat.


Senyum cerah Arka berikan kepada


sang istri. Lagi-lagi dia bersyukur, apa yang orang pikirkan tentang Farah


adalah benar. Farah memang perempuan hebat dan baik.


"Masya Allah,  Iya nanti


Mas kasih tau Ayah ya biar di sampaikan sama Papa Arfan"


Meskipun berat Farah akan


mencoba.  Kebencian tidak akan menghasilkan apapun.  Dia merasa Allah


pasti dia menyukai dirinya,  apalagi berlaku yang tidak baik terhadap ayah

__ADS_1


kandung nya sendiri.


"Apa Papa bakal mau ketemu


sama Adek Mas?  Adek udah jadi anak durhaka" Arka sangat benci sang


istri menangis. Tetapi sekuat mungkin dia berusaha untuk menghilangkan


kesedihan yang dirasakannya.


"Insya Allah Sayang,


Papa setiap hari lihat adek kok. Mas sering lihat"


Arka menceritakan bahwa Papa Arka


sering kali melihat dari pintu.  Bahkan sepanjang malam saat Farah tengah


tertidur.  Setelah menceritakan hal itu,  Farah tambah menangis.


Tidak seharusnya dia membenci Ayah kandung nya sendiri, kesalahan di masa lalu


tidak harus di jadikan patokan untuk masa yang akan datang.


Belum setengah jam Arka


memberitahu sang Ayah,  Papa Arfan sudah hadir di antara mereka.


Raut wajah bahagis tercetak jelas.


Bicarakan baik-baik" bisik Arka pelan.  Dia mengecup kening sang


istri sebelum keluar. Memberikan waktu kepada Farah dan Ayah kandungnya adalah


hal yang diperlukan saat ini.


Menit demi menit berlalu,


dia ada yang mulai untuk angkat bicara.  Keduanya sama-sam menyimpan


ribuan rindu,  ribuan sakit dan ribuan harapan.


"Papa" kata yang cukup


pelan,  namun dapat di dengar oleh Arfan.  Angannya serasa


terbang,  kalimat yang selama 17 tahun di tunggunya.  Kata yang hanya


dia dapatkan dari mimpi.  Kata yang rela dia tukar dengan hidupnya sendiri.


Tangis Arfan pecah,  dia


tidak menyangkan hari ini datang.  Hari di mana anaknya memanggil dengan


kata yang selalu di nantikannya.

__ADS_1


"Ma-maafkan Farah"


lanjut Farah. Ucapan yang sulit dia ucapkan tetapi beban yang menghimpit


dadanya sedikit bergeser.


"Papa yang harusnya minta


maaf,  Ya Allah terima kasih" Arfan mendekap tubuh anaknya erat. Dia


bahagia,  jika Allah mengambil nyawanya sekarang maka dia ikhlas.


"Farah bohong kalau selama


ini menganggap Papa mati,  Farah bohong Pa hiks. Setiap malam Farah selalu


ingin bertemu Papa hiks.  Tiap malam Farah selalu mengharapkan pelukan


Papa,  tiap malam Farah menunggu Papa hiks"


"Maafkan Papa sayang,


Maafkan Papa yang menyerah mencari kamu.  Maafkan Papa sayang maafkan Papa


memberikan kamu luka sedalam ini hiks Maafkan Papa yang membuat hidupmu


hancur" lirih Arfan. Ribuan duri menancap ke dalam hatinya.  Dia


sadar anaknya selama ini menangung hal menyakitkan.


"Kenapa baru sekarang Allah


pertemukan kita Pa,  Farah selama ini selalu merasakan kesakitan.


Farah selama ini selalu dihina hiks,  Farah disiksa Pa" Perasaan yang


selama ini dipendam akhirnya keluar satu persatu.


"Iya Sayang,  Papa


tau.  Maafkan Papa baru datang sekarang hiks.  Maafkan Papa"


Arfan menceritakan bagaimana dia


berusaha mencari Farah berserta ibu anaknya.  Dia berulang ulang mencari


kesegala daerah yang ada di Bandung.   Sampai ada orang yang


mengatakan bahwa anak dan ibu anaknya telah meninggal dunia.  Sejak saat


itu hidupnya hancur,  bahkan hidupnya sudah kelewat batas.  Namun


Allah masih sayang kepadanya,  dia diberikan hidayah untuk bertaubat


kepada Allah.

__ADS_1


__ADS_2