
Sejak saat Arfan pergi dia tidak lagi menampakkan diri di depan
anaknya. Dia akan datang apabila sang anak telah tidur. Kerinduan
yang dia rasakan selalu membuat dirinya tersiksa, kenapa begitu sulit
memeluk sang anak padahal dia ada di depan matanya.
Arfan sedih, ya dia sangat
sedih. Hanya Allah yang tau seberapa hancurnya dia. Sampai saat ini Arfan
sama sekali belum berumah tangga. Dia selalu terperangkap pada penyesalan
dan memohon ampunan kepada Allah atas dosa yang pernah dia lakukan.
Arka sering kali melihat ayah
sang istri datang tetapi tidak masuk ke dalam ruang kamar. Dia hanya
melihat di depan pintu.
"Mas Adek ingin ketemu
Pa-pa" meskipun 2 hari ini Farah selalu melawan dirinya sendiri, dia
berusaha meminta petunjuk kepada Allah agar Allah memberikan kelapangan pada
dadanya.
"Ayah bentar lagi
datangnya" balas Arka.
"Papa Mas bukan Ayah"
Arka memandang istrinya dengan raut kebingungan. Setelah itu dia sadar
bahwa sang istri sudah berusaha menerima keadaan meski berat.
Senyum cerah Arka berikan kepada
sang istri. Lagi-lagi dia bersyukur, apa yang orang pikirkan tentang Farah
adalah benar. Farah memang perempuan hebat dan baik.
"Masya Allah, Iya nanti
Mas kasih tau Ayah ya biar di sampaikan sama Papa Arfan"
Meskipun berat Farah akan
mencoba. Kebencian tidak akan menghasilkan apapun. Dia merasa Allah
pasti dia menyukai dirinya, apalagi berlaku yang tidak baik terhadap ayah
__ADS_1
kandung nya sendiri.
"Apa Papa bakal mau ketemu
sama Adek Mas? Adek udah jadi anak durhaka" Arka sangat benci sang
istri menangis. Tetapi sekuat mungkin dia berusaha untuk menghilangkan
kesedihan yang dirasakannya.
"Insya Allah Sayang,
Papa setiap hari lihat adek kok. Mas sering lihat"
Arka menceritakan bahwa Papa Arka
sering kali melihat dari pintu. Bahkan sepanjang malam saat Farah tengah
tertidur. Setelah menceritakan hal itu, Farah tambah menangis.
Tidak seharusnya dia membenci Ayah kandung nya sendiri, kesalahan di masa lalu
tidak harus di jadikan patokan untuk masa yang akan datang.
Belum setengah jam Arka
memberitahu sang Ayah, Papa Arfan sudah hadir di antara mereka.
Raut wajah bahagis tercetak jelas.
Bicarakan baik-baik" bisik Arka pelan. Dia mengecup kening sang
istri sebelum keluar. Memberikan waktu kepada Farah dan Ayah kandungnya adalah
hal yang diperlukan saat ini.
Menit demi menit berlalu,
dia ada yang mulai untuk angkat bicara. Keduanya sama-sam menyimpan
ribuan rindu, ribuan sakit dan ribuan harapan.
"Papa" kata yang cukup
pelan, namun dapat di dengar oleh Arfan. Angannya serasa
terbang, kalimat yang selama 17 tahun di tunggunya. Kata yang hanya
dia dapatkan dari mimpi. Kata yang rela dia tukar dengan hidupnya sendiri.
Tangis Arfan pecah, dia
tidak menyangkan hari ini datang. Hari di mana anaknya memanggil dengan
kata yang selalu di nantikannya.
__ADS_1
"Ma-maafkan Farah"
lanjut Farah. Ucapan yang sulit dia ucapkan tetapi beban yang menghimpit
dadanya sedikit bergeser.
"Papa yang harusnya minta
maaf, Ya Allah terima kasih" Arfan mendekap tubuh anaknya erat. Dia
bahagia, jika Allah mengambil nyawanya sekarang maka dia ikhlas.
"Farah bohong kalau selama
ini menganggap Papa mati, Farah bohong Pa hiks. Setiap malam Farah selalu
ingin bertemu Papa hiks. Tiap malam Farah selalu mengharapkan pelukan
Papa, tiap malam Farah menunggu Papa hiks"
"Maafkan Papa sayang,
Maafkan Papa yang menyerah mencari kamu. Maafkan Papa sayang maafkan Papa
memberikan kamu luka sedalam ini hiks Maafkan Papa yang membuat hidupmu
hancur" lirih Arfan. Ribuan duri menancap ke dalam hatinya. Dia
sadar anaknya selama ini menangung hal menyakitkan.
"Kenapa baru sekarang Allah
pertemukan kita Pa, Farah selama ini selalu merasakan kesakitan.
Farah selama ini selalu dihina hiks, Farah disiksa Pa" Perasaan yang
selama ini dipendam akhirnya keluar satu persatu.
"Iya Sayang, Papa
tau. Maafkan Papa baru datang sekarang hiks. Maafkan Papa"
Arfan menceritakan bagaimana dia
berusaha mencari Farah berserta ibu anaknya. Dia berulang ulang mencari
kesegala daerah yang ada di Bandung. Sampai ada orang yang
mengatakan bahwa anak dan ibu anaknya telah meninggal dunia. Sejak saat
itu hidupnya hancur, bahkan hidupnya sudah kelewat batas. Namun
Allah masih sayang kepadanya, dia diberikan hidayah untuk bertaubat
kepada Allah.
__ADS_1