Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 24


__ADS_3

"Assalamu'alaikum" salam orang yang berdatangan di dalam ruang


rawat inap.


"Wa'alaikumsalam, Wow udah


datang aja lo" teriak Andi heboh ketika melihat sahabatnya.


"Jangan teriak lah,


Alfa jadi takut kan."


Ternyata yang datang adalah


Bima,  Kahfi,  Fiyah dan Alfa.


"Masya Allah,  Alfaa


sayang Ayah." Arka langsung menghampiri Alfa yang tengah di gendong oleh


Bima.


"Ntar aja,  Ayah Bima


masih mau gendong Alfa.  Jadi antri dong, " tolak Bima yang mau


memberikan Alfa.


"Masya Allah,  ini


Istri nya ya Ka?  Wah cantik banget." Fiyah mendekat ke arah Farah


dan hal itu membuat Farah tersenyum canggung.


"Eh,  Makasih banyak


mbak. Mbak juga cantik kok" balas Farah.


"Dek ni kenalin,  Ini


namanya Fiyah dan itu suaminya namanya Kahfi.  Oh sampai lupa sama si


kecil hehe Yang di gendongan Bima itu anaknya Fiyah sama Kahfi," ucap Arka


sambil menunjuk siapa yang dikenalkannya.


"Salam kenal mbak,


Nama saya Farah" balas Farah.


"Lun lun" celoteh Alfa.


Bima membiarkan Alfa untuk turun


karena sudah memberontak.  Alfa langsung datang kepada Kahfi yang tengah


duduk bersama Andi karena ada beberapa hal yang ingin mereka bahas.


"Kenapa anak Daddy? "


tanya Kahfi dengan sayang.


"Tu au,  Ya"


tunjuk Alfa pada plastik yang ada di meja.  Kahfi membuka plastik tersebut

__ADS_1


dan melihat ada beberapa coklat.


"Ambil aja Fa kalau


mau,  Itu Ayah Andi kok yang beli" sahut Andi.


"Tanya Umi dulu boleh


enggaknya ya sayang,  Daddy gak mau nanti Alfa sakit" Seru Kahfi.


Sedangkan Farah dan Fiyah sudah


mulai dekat tanpa rasa canggung lagi.  Mereka membahas tentang bagaimana


kehamilan Fiyah dulu.  Farah berkali-kali kagum dengan sosok perempuan di


depannya ini.


Saat pertama kali Farah melihat


Kahfi,  dia sedikit ngeri karena aura dingin begitu terpancar di


sana.  Ternyata Dia salah karena Kahfi sangat sangat suamiable sekali.


"Mi Alfa boleh makan cokelat


gak? " tanya Kahfi yang masih menggendong anaknya.


"Jangan deh Dad,  Tadi


di mobil juga udah makan ice cream dari cokelat" balas Fiyah.


"Alfa makan buah aja


ya,  Ni ada apel" Kahfi menyodorkan buah bulat berwarna merah kepada


"No no no" bantah Alfa.


"Anak sholeh Daddy gak boleh


gitu.  Ini enak lo" Kahfi masih membujuk Alfa agar tidak mau cokelat


lagi.


"Bini gue sama Alfa kok


samaan gitu" celetuk Arka sambil tertawa.


"Mas malu taukk" ucap


Farah cemberut.


"Mbak nikah umur berapa


sih?" tanya Farah kepo.


"Mereka nikah pas masih


sekolah dek" Andi langsung menjawab.


"Maksudnya gimana? "


Farah dibuat bingung.


"Hehe,  Mbak nikah tu

__ADS_1


pas mau ujian kelulusan gitu. Ya ada beberapa alasan gitu.  Alhamdulillah


pernikahan tidak membuat mbak ataupun mas Kahfi terhenti pendidikannya"


jelas Fiyah sambil tersenyum.


"Masya Allah,  Salut


Farah sama mbak.  Apa gak susah sambil kuliah ngurus anak mbak? "


"Alhamdulillah sejauh ini


enggak ya dek,  mbak sama Mas Kahfi bekerja sama cukup bagus hehe.


Kalau mbaknya kuliah maka Mas Kahfi yang jaga dan begitupun sebaliknya.


Anak itu penyatu cinta dek,  dan semua bakal bisa di lewati apabila kita


memikirkan anak," jawab Fiyah.


Kahfi dan Alfa masih saja heboh


karena Alfa ingin meminum susu.


"Mi susu Alfa mana? "


tanya Kahfi.


Alfa memang sudah berusia lebih


dari 2 tahun sehingga tidak minum ASI lagi.  ASInya digantikan oleh susu


formula.


"Di mobil kali Dad,


sini Alfanya sama Umi"


Fiyah mengambil Alfa kemudia


memberikan gelas yang sudah berisi air putih.


"Coba hisap nak" Alfa


menghisap air putih tersebut dengan pipet.


Semua tertawa melihat tingkah


Alfa. Tidak hanya tawa,  rasa takjubpun hadir di tengah-tengah mereka.


Sebuah perjalanan hidup memang


sangat berliku-liku,  tetapi semua sudah Allah gariskan.  Maka jalani


saja dengan ridho dan ikhlas agara ketenangan kita dapatkan.


Berumah tangga di usia muda


bukanlah sebuah aib,  tetapi sebuah perjalanan yang sangat


membanggakan.  Di luaran sana orang tertawa dengan laki-laki yang bukan


muhromnya,  berpacaran sampai melewati batas apakah mereka bahagia?


Bahagia yang mereka rasakan hanya

__ADS_1


sesaat,  tetapi kebahagian pernikahan bisa dirasakan sampai kelak di


akhirat asal pernikahan tersebut di niatkan karena Allah.


__ADS_2