
Pagi-pagi sekali Farah harus mengalami mual dan pusing. Jika
di malam hari Arka yang mual maka dipagi hari Farah yang mengalami itu. Menurut
Bunda Ririn itu hal biasa pada 3 bulan kehamilan, apalagi kehamilan pertama.
Arka juga tidak menyangka dia ikut merasakan mual dan pusing saat malam hari.
“Masih mau mual?” tanya Arka khawatir. Farah semakin lama
semakin susah makan. Setiap kali mencium aroma makanan yang menurutnya tidak
enak maka dia akan langsung mual.
Farah mengangguk.
Huek huekk
“Kita ke rumah sakit aja ya.” Arka tidak sanggup lagi
melihat sang istri setiap pagi harus berulang kali mengeluarkan isi perutnya.
“Gimana Ka?” Papa Arfan tidak kalah khawatirnya.
“Masih mual Pa, Arka mau bawa adek ke rumah sakit.” Papa
Arfan menyetujui keinginan dari menantunya.
“Nggak apa-apa kok Mas, namanya juga hamil.”
Arka menggendong tubuh kurus sang istri untuk di bawa ke
tempat tidur. Dia setia mengelus perut sang istri berharap dapat mengurangi
rasa sakit.
“Ka Papa khawatir kalau tiap hari kayak gini terus, bawa ke
dokter aja.”
“Iya Pa, nanti kalau udah istirahat sebentar baru Arka bawa.”
Arka dan Papa Arfan membawa Farah ke rumah sakit untuk
melakukan pemeriksaan. Dokter mengatakan bahwa kondisi Farah sering dialami banyak
perempuan hamil.
“Masya Allah kantungnya ada 2 lo pak, ini bisa dilihat.”
__ADS_1
Dokter kandungan tersebut menunjukan 2 kantung pada layar USG.
“Ma-maksudnya Apa dok?”
“Alhamdulillah bayi bapak kembar.” Senyum Arka kian
mengembang mengetahui kejutan yang Allah berikan kepadanya. Dia berulang-ulang
kali mengucapkan syukur kepada Allah atas nikmat yang Allah berikan pada rumah
tangganya.
“Mas,” lirih Farah sambil menangis.
“Allah baik banget sama kita sayang,”balas Arka. Tanpa sadar
air matanya juga mengalir.
“Mas nangis?”
“Eh-“ Arka mengusap air matanya, dia merasa malu ketika Papa
Arfan dan dokter kandungan melihatnya. “Mas terlalu bahagia dek,” sambungnya
lagi.
dibanding hamil biasa. Pola makan juga di perhatikan ya Pak. Sebisa mungkin
bapak harus selalu memberikan support dan perhatian agar ibunya tidak terlalu stress.
Pagi ini dikasih bubur dulu biar perut ibunya nggak kosong, apalagi yang
ngambil apa yang kita makan itu dua orang ya jelas harus banyak-banyak makan.”
Dokter kandungan memberikan berbagai macam intruksi.
“Baik dok,” Arka mengangguk mengerti dengan apa yang
dijelaskan sang dokter.
Seorang suster mengantarkan makanan yang memang di sediakan
rumah sakit.
“Makan dulu ya Yang,” Arka menyodorkan satu suap bubur.
“Nggak mau mas, nanti muntah lagi,”tolak Farah. Dia menutup
mulut dengan kedua tangannya.
__ADS_1
“Ayo dong Yang, Anak kita nanti makan apa. Makan ya.” Arka
kembali membujuk sang istri.
Akhirnya Farah mau untuk menerima suapan yang diberikan oleh
Arka. Senyum Arka terbit karena suapan demi suapan mau untuk diterima.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Arka menatap bingung kedua orang tuanya
yang mendadak datang.
“Kamu ya Ka nggak ada kasih kabar sama Bunda atau Ayah kalau
Farah di rumah sakit.” Bunda Ririn menjewer kuping anaknya.
“Aduh Bun, ampunn.” Arka meminta tolong kepada Ayahnya agar
bisa menghindar dari sang bunda.
“Kalau ada apa-apa harusnya kamu kasih tau Ayah sama Bunda,
untuk Papa Arfan ngabarin tadi kalau enggak mungkin Ayah nggak akan tahu.” Arka
menyerah, dia juga tidak bisa berpikir waras saat melihat sang istri terkulai lemah.
“Baru 2 hari enggak ketemu kok Farah tambah kurus,” lirih
Bunda Ririn.
“Hehe sering mual Bun, setiap makanan yang masuk ke perut
pasti keluar lagi.”
“Sabar ya nak, itu ladang pahala untuk seorang perempuan. Jika
kita ridho maka Allah akan lapangkan dada kita untuk menghadapinya.” Farah
mengangguk paham. Dia juga pernah mendengar dalam sebuah kejian bahwa perempuan
itu sangat Allah istimewakan. Saat dia hamil sampai melahirkan, itu menjadi ladang
pahala ketika dia mampu bersabar dan ridho menjalani. Rasa sayang seorang ibu
sudah muncul sejak janin masih di dalam kandungan. Mereka akan memberikan
tempat ternyaman untuk calon anaknya.
__ADS_1