Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 15


__ADS_3

 


 


Sejauh mata memandang terpancarkan cinta yang begitu besar.  Cinta yang di


landaskan karena Allah mustahil akan patah.  Sebagaimana kisah sahabat


Rasulullah yaitu Abu Darda dan sang istri Ummu Darda.  Cinta sang istri


begitu kuat sampai dia ingin bersama sang suami kelak di surga.  Ummu


Darda berdoa kepada Allah "Ya Allah sebagaimana Abu Darda melamarku


untuk dijadikan istrinya di dunia,  Maka Aku melamarnya kepada Engkau


untuk dijadikan suami Ku di Surga kelak"


Lantas doa itu di dengan oleh Abu Darda,  Dia berkata "Jika Kamu mau seperti


ini,  Maka jadikan aku satu-satunya suamimu dan jangan menikah lagi


sepeninggalanku"


Setelah Abu Darda wafat kembali kehadapan Allah,  Ummu Darda yang masih sangat


cantik dan muda serta sholeha dilamar oleh sahabat Rasulullah yang lain


yaitu Mu'awiyyah. Namun, Ummu Darda menolaknnya karena dia hanya ingin


menjadi istri Abu Darda kelak di surga.


Masya Allah.


Penjabaran cinta tidak akan pernah habisnya jika dibahas.  Orang bisa gila karena


cinta,  orang bisa nangis karena cinta,  orang bisa bunuh diri karena


cinta ataupun orang bisa bahagia karena cinta.  Namun pertanyaannya


bagaimana cinta itu bisa menghasilkan kebahagian?


Pertama cintai sang pencipta karena dia lah yang berhak mendapatkan cinta


kita.  Ketika Allah sudah kita cintai dan Allah mencintai kita maka


cinta seluruh alam akan kita dapatkan,  ketika cinta kepada Allah sampai


kapanpun tidak akan pernah patah.


Pernikahan adalah salah satu pembuktian cinta, layaknya kalau kita mencintai Allah


maka kita buktikan dengan mengerjakan amal sholeh. Bagitupun dengan


cinta kepada makhluk Allah maka pernikahan adalah buktinya.


Sangat lucu dengan fenomena yang menjadi hal lazim dikalangan masyarakat yang


mana mereka mengaku cinta tetapi berujung kepada kemaksiatan,  wahh


pertanyaan cinta apa itu yang mendapat murka Allah?


Jangan kotorin cinta dengan maksud tersembunyi,  tidak ada cinta yang tulus apabila kemaksiatan hadir di dalamnya.


Stop maksiat atas nama cinta,  karena cinta bukan jalannya maksiat tetapi


cinta itu jalannya untuk meraih keberkahan sang khaliq.


Suasana hati yang baik pasti akan berdampak pada postur tubuh,  tingkah laku


dan perkataan.  Arka mengalami perubahan itu setiap harinya,  meskipun


rumah tangga yang dijalaninnya masih seumur jagung tetapi dia tidak akan

__ADS_1


menyerah untuk selalu belajar dan belajar.


Tidak ada kata terlambat untuk belajar bukan?  Dan itu lebih baik dari pada tidak belajar sama sekali.


"Bun mau makan apa?  Biar Farah buatin"


"Gak usah nak,  Kita makan diluar aja nanti malam"


Bunda Ririn memang merencanakan untuk makan malam diluar bersama teman suaminya.  Mereka sudah merencakan jauh-jauh hari.


"Wahh acara apaan bun?" tanya Farah penasaran.


"Temannya Ayah ngajakin gitu nak, ya udah sekalian ngenalin kalianlah" balas Bunda.


"Asik bener ngobrolnya Bun" ucap Arka tiba-tiba.


Hari ini memang Arka tidak bekerja karena merasa tidak enak badan.  Sejak semalam dia selalu muntah-muntah.


"Udah sehat Kamu Ka? " tanya Bunda.


"Agak mendingan sih Bun,  Kambuhnya kalau Malam aja" balas Arka.


"Aneh aja Kamu,  makanya malam itu pakai baju biar gak masuk angin" omel Bunda Ririn.


Arka sudah sering kali mendengarkan sang Bunda mengomel.  Dia hanya diam dan


tidak membalas karena rumus menghadapi orang tua yang marah hanya diam


diam diam.


Arka mencari kenyamanan pada Farah yang tengah duduk di ruang keluarga.  Dia


memeluk erat sang istri tanpa merasa malu kepada Bundanya sendiri.


"Mas malu ada Bunda lo" bisik Farah pelan.


"Gak apa apa nak, Arka mah kalau sakit memang gitu.  Dulu sama bunda


anaknya sendiri.


"Nah itu Bunda ngerti,  perut Arka sakitnya hilang-hilang timbul.  Kalau dekat Adek perut Mas gak terlalu sakit" oceh Arka.


"Lebay kamu Ka" Arka mendapat pukulan pelan dari sang bunda tercinta.


"Bukannya kita mau makan malam diluar ya Bun,  Mas Arka masih sakit gini" lirih Farah.


"Iya juga,  ya udah nanti Bunda bilang sama Ayah makannya di rumah aja"


Bunda Ririn meninggalkan Arka dan Farah di ruang keluarga. Dia ingin memesan makan malam karena


tidak memungkinkan untuk memasak sendiri.


"Dek,  Mas mau cium dong" Keanehan yang hakikih, itulah yang Farah rasakan beberapa hari ini.


Cup


Farah mencium bibir Arka secara kilat.  Dia tidak mau menunda karena takut sang suami akan ngambek tidak jelas.


"Kok nempel doang" rengek Arka yang tidak puas.


"Mas ih Malu tau kalau sempat Bunda atau Ayah mergokin" bela Farah.


"Bunda di kamar,  Ayah masih kerja Dek.  Cepet deh"


"Mas kenapa sih akhir akhir ini suka mesum gak jelas, Kalau di kamar gak apa-apa.  Lah ini di sini"


Arka bangun dari posisi nyamannya.  Entah kekuatan dari mana dia menggedong sang istri untuk di bawa ke kamar.


"Mas nanti jatuh,  Ya Allah" teriak Farah syok.


Arka membaringkan sang istri di tempat tidur,  dia tidak lupa mengunci pintu.


"Kenapa di kunci segala lagi"

__ADS_1


"Biar gak ada yang ganggu,  Mas lagi mau ini"


Hormon Arka sedang pada puncaknya.


Akhirntya Farah mengalah dan mengikuti kemauan sang suami.


***


"Bun maaf  gak bantuin" lirih Farah merasa bersalah. Dia baru keluar kamar setelah ba'da magrib.


"Haha iya iya nak, Bunda paham kok" goda Bunda Ririn.  Wajah Farah berubah jadi merah.


Arka dan sang Ayah memang menunaikan shalat magrib dan isya di Mesjid komplek.  Acara makan malam di mulai ba'da isya.


Setelah Arka dan Ayah pulang dari mesjid.  Semua bersiap untuk menunggu tamu


yang datang.  Arka sampai sekarang belum tau siapa yang datang.


"Dek Mas pakai ini aja ya,  Malas ganti" Arka masih setia menggunakan gamis.  Dia bener-bener terlihat ganteng.


"Iya,


Mas tambah ganteng lo pakai itu" balas Farah.  Dia tinggal menggunakan


khimar yang sangat panjang, bahkan sampai ke lututnya.


"Wah wah bidadari surga ni" Arka tidak kalah dalam hal menggoda.


"Apaan sih Mas,  Ayo keluar.  Nanti Bunda sama Ayah nyariin lagi"


Mereka berdua segera keluar kamar,  di meja makan sudah begitu penuh dengan suara bising diringin canda tawa.


"Wah ini ya yang nikah" seorang laki-laki yang cukup Arka kenal.


"Iya Om hehe,  Andinya kapan nikah? " goda Arka sambil menaik turunkan alisnya.


"Apaan sih Lo Ka" potong Andi kesal.


"Udah ah,  Kalian berdua sama aja" lerai Bunda Ririn.


Farah merasa risih ketika ada yang melihatnya secara intens.  Dia merapatkan tubuhnya ke arah Arka.


"Kenapa?" bisik Arka pelan.  Dia paham sang istri tidak nyaman saat ini.


"Gak apa apa Mas" balas Farah.


"Oh ya ini nak ini Om Irfan sama Tante Sarah, terus itu Vero sana Veri


adiknya Andi" ucap Bunda Ririn menjelaskan siapa yang ada di depannya.


"Salam kenal Om Tante,  Nama saya Farah" Ucap Farah mengenalkan diri.  Dia


sebenarnya tidak mau mengenalkan diri tetapi dia harus bersikap sopan.


"Oh ya Farah asal mana? " tanya Om Irfan.


"Bandung Om" Arka mewakili sang istri untuk bertanya.


Begitu banyak pertanyaan yanh dilontarkan Om Irfan kepada Farah,  mengenai umur,  alama lengkap serta keluarga.


"Papa Kepoan banget sih" Andi heran bagaimana Papanya yang begitu cuek bisa jadi cerewet.


"Eh Maaf ya"


Mereka langsung menikmati hidangan yang ada.


***


Jangan lupa baca Al-qur'an every time guys 💕💕


 


 

__ADS_1


__ADS_2