Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 47


__ADS_3

Akhirnya Farah dan Arka bisa keluar untuk menikmati suasana malam. Setelah shalat Isya, Arka memboyong sang istri untuk mencari makan terlebih dahulu. Mereka berdua menggunakan mobil karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi saat malam hari.


Setelan Arka mala mini sungguh di luar ekspetasi, mengapa begitu? Ya Arka hanya menggunakan baju kaos yang di lapisi hondie di padukan dengan bawahan sarung berwarna cokelat. Sedangkan Farah menggunakan gamis hitam yang dibalut dengan jaket tebal berwarna hitam kepunyaan Arka.


Arka memang hobi sekali memakai sandal swallow. Mungkin bagi sebagian orang tidak stylish sekali tetapi baginya itu tidak masalah. Dia mempunyai prinsip selama apa yang dipakai tidak melanggar syariat dan nyaman kenapa tidak?


"Ramai banget ini Yang," keluh Arka melihat begitu banyak muda mudi berhilir mudik. Ada yang nongkrong di depan angkringan sambil membawa gitar, ada yang bermain games, ada yang berduaan, dan masih banyk lagi aktivitas yang mereka lakukan.


"Ya namanya juga tempat jajanan gitu Mas, pasti ramai atuh. Mas takut?" tanya Farah menyelidiki.


Arka mengkerutkan keningnya bingung. Siapa yang takut? Bagaimana istrinya bisa mengambil kesimpulan bahwa dirinya takut. Dia tentu saja tidak takut, hanya saja suasana ramai seperti ini entah kenapa membuat Arka tidak nyaman.


"Takut apaan Yang? Nggak enak aja Mas di tempat ramai gini."


Farah perlahan Paham, dia juga sebenarnya tidak biasa berada dalam keramain, hanya saja makanan yang di jajarkan di tempat itu membuat dia hanya fokus ke makanan bukan ke yang lainnya.


"Iya Mas Farah tahu, tapi mau beli jajanannya," rengek Farah manja. Untung saja tidak ada yang melihat rengekan Farah, jika saja ada maka Arka tidak akan mengizinkan itu. Rengekan sang istri bisa membuat jantung Arka berirama dag dig dug. Arka tahu bahwa dia sudah terlalu bucin dengan istrinya sendiri.


"Iya iya Yang, kita beli kita beli. Jangan rengek gitu di depan umum gini. Mas nggak ridho ada yang liat ya."


Farah mengangguk dengan semangat, dia sudah tidak sabar menyicipi jajanan yang begitu tertata rapi.


"Jajanannya jangan langsung di makan, kita makan nasi dulu baru makan jajanan. Dan ingat Yang jajanannya harus yang sehat. Nggak boleh pakai saus, kecap apalagi yang nggak jelas terbuat dari apanya," cerocos Arka sambil berjalan.


Jujur saja Farah tidak mendengar ocehan sang suami. Dia bingung memilih di angkringan mana dulu. Ada minuman yang lagi viral di kalangan anak muda, donat, kue cokelat, nugget, bakso bakar, dan segala jenis jajanan anak muda.


"Ayo ke situ Mas!" Farah menarik tangan Arka untuk mendatangi salah satu stand makanan. Di sana menjual donat. Arka mencoba untuk sedikit saja bersabar, dia sudah ingin mengomeli istrinya yang mau memakan donat. Padahal siang hari sang istri sudah cukup memakan sesuatu yang berbaur dengan cokelat. Jangan sampai malam juga iya. Bisa bisa anak Arka jadi cokelat.


Arka menahan sang istri agar tidak bisa maju ke depan lagi, "Yang No, tadi siang udah makan cokelat."


"Sekali aja ya ya," pinta Farah. Dia sudah terlalu ngiler melihat deretan donat yang bertabur cokelat.


Arka terdiam sejenak, dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia mencoba menggunakan sesuatu yang menurut dia sendiri sangat menjijikan, "Sayang nya Mas, cintanya Mas... Jangan lagi ya, kita beli rujak aja gimana?"


"Ha?" Farah malah jadi melongo. Dia syok melihat baru pertama sekali sang suami berkata dengan nada lembut di sertai dengan wajah keimutan yang mungkin akan menjadi amit-amit.

__ADS_1


"Yang, makan rujak aja ya?" Arka mengayun-ayunkan tangan sang istri seperti anak kecil yang meminta sesuatu. Melihat tingkah sang suami, Farah jadi terbawa suasana. Dia menurut untuk mengikuti langkah sang suami ke stand rujak.


Malam hari tidak membuat penjual rujak pulang, malahan banyak yang membeli rujak pada malam hari. Arka pun bingung sebenarnya, apakah memang sekarang lagi tren rujak saat malam hari atau dalam posisi ngidam. Arka tidak ambil pusing, dia menuntun sang istri untuk duduk di depan stand tersebut.


"Mas pesan dulu, ada request nggak?" tanya Arka memastikan.


"Hemm, kayaknya jangan pakai buah nenas deh Mas. Asem..." Arka mengerti, dia langsung memesan 2 porsi rujak.


"Pacaranya ya Mas?" tanya pedagang rujak tersebut. Arka tersenyum, "Bukan Mas, istri saya. Alhamdulillah lagi hamil juga."


Farah memakai jaket kebesaran yang menutupi perut buncitnya, makanya tidak ada yang sadar bahwa sang istri tengah hamil.


"Wah pasangan muda toh Mas, semoga lancar persalinannya ya, Aamiin." Arka mengaminkan doa itu. Semakin banyak yang berdoa bukankah semakin baik. Kita tidak pernah tahu doa mana yang menembus langit, bisa jadi doa orang yang menurut kita biasa saja bisa menembus langit. Allah yang lebih tahu hati manusia. Sejatinya hati itu tidak bisa di nilai oleh manusia, yang terlihat mulia belum tentu mulia dihadapan Allah.


"Di tunggu dulu Mas, soalnya banyak pesanan." Arka menurut, dia mendatangi sang istri yang sedang memainkan ponsel. "Main apa Yang?" tanya Arka penasaran. Dia kepo melihat wajah sang istri yang sangat serius. Farah menoleh sebentar, "Cuma lagi chat sama teman SMA Mas."


Arka mengerti, dia tidak bertanya lagi. "Mas... Rujaknya beli berapa?" tanya Farah yang sudah menyimpan ponselnya.


"Beli 2 Yang, kurang ya? Mau nambah lagi kah?"


"Ke cafe Mas aja gimana?" Arka setuju. Dia juga ingin bertemu dengan Andi untuk berdiskusi beberapa hal.


Pesanan rujak sudah selesai, mereka segara beranjak menuju ke dalam mobil. Perjalanan menuju mobil membuat Arka dan Farah sedikit risih. Banyak mata yang melihat ke arah mereka. Arka pikir mungkin style mereka yang menjadi pusat perhatian,  tetapi dia tidak terlalu menghiraukan. Yang dia butuhkan bukan pandangan dari manusia, melainkan pandangan dari Allah.


Banyak sekali fenomena yang sangat Arka sayangkan, bagaiman tidak? Mereka dalam hal ekonomi serba kekurangan tetapi malah gayanya selangit. Na'uzubillah. Bahkan ada yang kuliah jauh-jauh malah menyia-nyiakan kesempatan itu dengan membohongi orang tuanya.


Arka dan Farah sampai ke cafe tujuan mereka. Ternyata begitu banyak pengujung yang datang. Mereka di sambut dengan baik oleh karyawan di sana.


"Assalamu'alaikum," salam Arka dan Farah. Andi sedikit kaget karena kedatangan teman dan sepupunya sendiri. "Wa'alaikumsalam, tumben ke sini." Nada yang di keluarkan Andi bukan biasa, namun terdapat sindiran di sana seakan-akan Arka dan Farah jarang mengujungi cafe tersebut.


"Santai lah," balas Arka sambil memberikan pukulan pelan pada perut Andi. Andi berteriak lebay seakan-akan pukulan Arka sangat kuat padahal tidak sama sekali.


"Abang sehat?" tanya Farah. Dia belum pernah bertemu dengan abang sepupunya sejak pergi ke singapura. Andi tersenyum, "Alhamdulillah sehat dek."


Mereka duduk di sebuah kursi yang berada di tepi jendela. Dari sana dapat terlihat segala macam hiruk pikuk jalanan. Arka dan Farah juga memesan makanan yang menjadi hal yang selalu di pesan oleh pembeli.

__ADS_1


"Makan nasi dulu ya, baru makan rujak," ujar Arka mengingatkan. Dia menjadi sangat cerewet seakan-akan Farah tidak mendengarkan ucapan sang suami.


"Iya Mas, rame ya cafenya."


"Iya Yang, mungkin karena niatnya memang karena Allah makanya lancar gini."


Farah menyengit bingung karena tidak paham apa yang dikatakan oleh sang suami, "maksudnya Mas?"


"Jadi tu, bisnis ini memang milik berlima tetapi Bima dan Kahfi nggak ngambil bagiannya. Malah mereka ngasih bagiannya untuk di berikan kepada orang yang membutuhkan. Keren kan?"


Arka tertawa miris seakan-akan dia ketinggalan dari teman-teman yang lain. "Padahal penghasilan Mas lebih dari Kahfi. Dia kerja menjadi karyawan biasa, nggak kayak Mas yang punya usaha sendiri ya walaupun dikasih modal sama Ayah."


Farah terpaku. Bibirnya terbuka kecil, melongo tidak percaya. "Terus perasaan Mas gimana?"


Arka kembali tersenyum miring sesaat. "Perasaan ya jelas nggak nyaman Yang, kadang Mas mikir hati mereka itu terbuat dari apa gitu? kok bisa memutuskan sesuatu yang luar biasa gitu. Jujur aja Mas masih berat melakukan itu, karena Mas takut nggak bisa ngasih kehidupan yang layak buat Farah, buat anak kita nanti. Padahal Mas tahu banget uang kita kelebihan dari batas kebutuhan kita."


Farah terdiam. Menatap sang suami dengan mata melebar tertegun.


"Dan yang lebih buat Mas miris apa coba? Bima selalu nawarin buat ngantar makanan dan dia nggak akan mau di bayar. Kurang sempurna apa dia kan Yang?" akui Arka dengan jujur.


Farah mengerutkan kening samar, "Jadi karena itu Mas selalu nolak untuk beli di restorannya Bang Bima?"


Arka diam, dia tidak langsung menjawab. laki-laki itu menghela nafas pelan, mnerawang jauh di depan.


Tidak sadar bahwa ada orang yang sejak tadi  belakang mereka, seseorang memerhatikan itu. Dengan tangan yang memegang secangkir kopi. Dia juga merasa miris dengan jalan pikirannya selama ini. Bukan hanya Arka yang mengelami itu, dia pun sama. Ya dia adalah Andi. Arka dan Andi memang masih dalam tahap perubahan, mereka sudah jauh tertinggal dari teman-temannya.


Andi menggigit ujung bibir. Teringat semua apa yang teman-temannya lakukan. Dia sudah ketinggalan jauh.


Arka menghela nafas panjang dengan berat. "Yang..." panggilnya serak, membuat Farah yang sempat ikut melamun jadi mengerjap dan bergumam menjawab. "Yang percaya kalau hijrahnya Mas berawal dari mereka?"


"Maksudnya?" tanya Farah tidak paham.


"Ya, mereka menyadarkan Mas bahwa hidup ini bukan soal mengejar dunia, bukan soal kesenangan dunia semata. Mereka nggak pernah ninggalin Mas saat menjauh dari Allah. Mas tahu sesuatu yang luar biasa saat tidur di rumah Bima. Awalnya Mas nggak tahu kenapa dia kebangun jam 2 pagi, ternyata dia shalat. Dan yang buat Mas tambah hancur adalah ketika Bima ngedoain Mas, ngedoain Ray, ngedoain Andi dan ngedoain Kahfi. Doanya tulus banget, sampai dia nangis gitu. Gimana Mas akan tenang-tenang aja ketika melihat langsung kayak gitu? Dia nggak pernah umbar tentang Mas ataupun yang lainnya, tetapi di depan Allah dia ceritain tentang kami, dia doain kebaikan buat kami. Menurut Mas bukan hanya Bima, tetapi Kahfi juga pasti lakuin hal yang sama."


Andi yang mendengarkan jadi mengangkat wajah, mengangkat kedua alis memandang Arka dan Farah.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2