
Ada rasa bersalah yang menumpuk pada diri Farah.
“Udah makan buah aja, nanti Arka bakalan balik kok,” ujar
Andi ketika melihat wajah murung sepupunya. Dia juga tidak habis pikir dengan
Arka yang tidak sabaran.
“Mas Arka marah,” kelah Farah.
“Enggak kok, percaya sama abang. Sekarang makan buah dulu
supaya perutnya nggak kosong, Farah harus ingat apa yang ada diperut Farah.”
Farah memakan buah apel dengan paksa. Dia sebenarnya tidak
ingin memakan apapun karena rasanya begitu tidak enak.
Hampir 20 menit Arka datang dengan membawa sebuah bungkus plastik.
Farah masih tidak berani sekedar melihat karena tahu kesalahan yang sudah dia
lakukan.
“Ni Mas beli nasi, makan ya?” suara Arka terdengar sangat
lembut seakan-akan tidak ada yang terjadi sebelumnya.
“Gue sama Papa keluar dulu ya Ka,” izin Andi karena masih
ada beberapa urusan yang harus dilakukan. Om Irfan juga sama.
“Oh iya, Makasih ya Andi Om,” ucap Arka.
“Santai eleh, Papa Farah juga Om gue malahan adiknya Papa
juga,” balas Andi.
“Iya benar kata Andi Ka, Nanti kalau Papa Arfan udah bangun
kabari Om ya.”
Arka mengangguk paham. Di ruangan hanya tinggal Arka dan
Farah. Papa Arfan masih setia memejamkan mata.
“Mas nggak marah?” tanya Farah takut-takut.
“Untuk apa Mas marah?” Arka bertanya balik.
“Ya kan tadi mas keluar gitu aja, Adek kira mas marah.”
“Astagfirullah, Maaf ya sayang. Mas sama sekali nggak marah,
tadi mau cepat-cepat beli nasi. Adekkan belum makan jadi Mas khawatirlah.” Arka
__ADS_1
membuka bungkus nasi yang baru saja dibelinya.
“Harusnya Adek yang minta maaf Mas,” Cicit Farah pelan.
“Udah nggak usah dibahas lagi, sekarang makan ya,”pinta
Arka. Dia sangat khawatir dengan sang istri. Hal itu dikarenakan bobot tubuh
yang tidak sesuai dengan usia kehamilannya apalagi hamil bayi kembar.
Farah mengangguk.
“Pakai tangan mas aja,” ucap Farah ketika melihat Arka
mencari sendok yang entah berada di mana.
“Yakin pakai tangan Mas? Nggak jijik?” Baru kali ini sang
istri meminta di suapi dengan tangan.
“Kok Mas nanya gitu sih, Adek kan kepengan.” Bibir Farah
sudah maju beberapa senti karena tidak suka dengan pertanyaan sang suami.
“Iya iya, Mas cuci tangan dulu.” Arka mencuci tangannya di
dalam kamar mandi.
Setelah di rasa bersih, Arka menyuapi sang istri dengan
tangannya sendiri. Dia tidak pernanh terbayangkan berada diposisi ini. Rasanya ada
“Mas makan juga dong,”ujar Farah.
“Suapi ya.” Giliran Arka yang ingin disuapkan. Farah menyuapi
sang suami dengan tangannya. Mereka melakukan secara bergantian sambil sesekali
berbuat jail.
“Mas nggak kepedasan ya? tadi adek masukin cabe rawit lo.” Farah
yakin bahwa dia meletakkan cabe rawit yang terkenal pedas pada suapannya namun
sang suami tidak bereaksi yang seperti Farah harapkan.
“Jangan lupa sayang, Mas suka pedas.” Arka mengingatkan
Farah.
“Iya iya deh, Kok banyak banget sayurnya buat Adek.”
“Karena yang masuk ke dalam mulut Adek dibagi 3 jadi
sayurnya harus banyak.”
__ADS_1
Arka tersenyum karena Farah makan tidak sepeti biasanya yang
hanya beberapa sendok. Dia memang membeli porsi double untuk jaga-jaga. Ternyata
apa yang Kahfi katakan benar, bahwa perempuan hamil itu kemauan untuk makannya
selalu berubah-rubah. Dan juga perempuan Hamil lebih banyak makan apabila
bersama suaminya. Memang teori itu tidak pada semua orang terjadi tetapi Arka
mengalami itu semua.
“Eh Papa udah sadar.” Farah kaget melihat mata Papanya sudah
terbuka. Dia segera beranjak mendekat kearah sang Ayah dengan wajah yang lebih
bersahabat.
Papa Arfan membalas dengan senyum bahagia. Dia sudah sadar
cukup lama, hanya saja dia diam karena tidak ingin menganggu sang anak dan
menantunya makan dengan romantis. Rasa haru dia rasakan karena sang anak
mendapat seorang suami yang baik dan luar biasa.
Arka sudah melakukan pemanggilan pada pihak medis yang
menangani Papa mertuanya dengan cara menekan tombol yang menempel di dinding.
Dokter datang memeriksa Papa Arfan dari pemeriksaan tengsi,
detak jantung dan lainnya.
Kondisi Papa Arfan stabil untuk sekarang, tetapi masih harus
dilakukan pemantauan dan pemberian obat yang dapat membantu mengurangi rasa
sakit akibat kerusakan pada organ hati.
“Lanjut aja makannya,” lirih Papa Arfan pelan.
“Udah selesai kok Pa,” jawab Farah.
“Bohong Pa, masih ada tu.” Tunjuk Arka pada nasi yang masih
ada.
“Itu bagian Mas, untuk Adek udah habis.”
“Lah kok gitu, itu kan nasi punya Adek semua.”
“Makan dulu sana Nak, kasihan dedek bayi kalau Maminya susah
makan.” Papa Arfan kembali menyuruh sang anak makan.
__ADS_1
Farah menurut, dia melanjutkan menghabiskan makanan yang
masih ada. Arka juga masih setia menyuapi.