Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 38


__ADS_3

Ada rasa bersalah yang menumpuk pada diri Farah.


“Udah makan buah aja, nanti Arka bakalan balik kok,” ujar


Andi ketika melihat wajah murung sepupunya. Dia juga tidak habis pikir dengan


Arka yang tidak sabaran.


“Mas Arka marah,” kelah Farah.


“Enggak kok, percaya sama abang. Sekarang makan buah dulu


supaya perutnya nggak kosong, Farah harus ingat apa yang ada diperut Farah.”


Farah memakan buah apel dengan paksa. Dia sebenarnya tidak


ingin memakan apapun karena rasanya begitu tidak enak.


Hampir 20 menit Arka datang dengan membawa sebuah bungkus plastik.


Farah masih tidak berani sekedar melihat karena tahu kesalahan yang sudah dia


lakukan.


“Ni Mas beli nasi, makan ya?” suara Arka terdengar sangat


lembut seakan-akan tidak ada yang terjadi sebelumnya.


“Gue sama Papa keluar dulu ya Ka,” izin Andi karena masih


ada beberapa urusan yang harus dilakukan. Om Irfan juga sama.


“Oh iya, Makasih ya Andi Om,” ucap Arka.


“Santai eleh, Papa Farah juga Om gue malahan adiknya Papa


juga,” balas Andi.


“Iya benar kata Andi Ka, Nanti kalau Papa Arfan udah bangun


kabari Om ya.”


Arka mengangguk paham. Di ruangan hanya tinggal Arka dan


Farah. Papa Arfan masih setia memejamkan mata.


“Mas nggak marah?” tanya Farah takut-takut.


“Untuk apa Mas marah?” Arka bertanya balik.


“Ya kan tadi mas keluar gitu aja, Adek kira mas marah.”


“Astagfirullah, Maaf ya sayang. Mas sama sekali nggak marah,


tadi mau cepat-cepat beli nasi. Adekkan belum makan jadi Mas khawatirlah.” Arka

__ADS_1


membuka bungkus nasi yang baru saja dibelinya.


“Harusnya Adek yang minta maaf Mas,” Cicit Farah pelan.


“Udah nggak usah dibahas lagi, sekarang makan ya,”pinta


Arka. Dia sangat khawatir dengan sang istri. Hal itu dikarenakan bobot tubuh


yang tidak sesuai dengan usia kehamilannya apalagi hamil bayi kembar.


Farah mengangguk.


“Pakai tangan mas aja,” ucap Farah ketika melihat Arka


mencari sendok yang entah berada di mana.


“Yakin pakai tangan Mas? Nggak jijik?” Baru kali ini sang


istri meminta di suapi dengan tangan.


“Kok Mas nanya gitu sih, Adek kan kepengan.” Bibir Farah


sudah maju beberapa senti karena tidak suka dengan pertanyaan sang suami.


“Iya iya, Mas cuci tangan dulu.” Arka mencuci tangannya di


dalam kamar mandi.


Setelah di rasa bersih, Arka menyuapi sang istri dengan


tangannya sendiri. Dia tidak pernanh terbayangkan berada diposisi ini. Rasanya ada


“Mas makan juga dong,”ujar Farah.


“Suapi ya.” Giliran Arka yang ingin disuapkan. Farah menyuapi


sang suami dengan tangannya. Mereka melakukan secara bergantian sambil sesekali


berbuat jail.


“Mas nggak kepedasan ya? tadi adek masukin cabe rawit lo.” Farah


yakin bahwa dia meletakkan cabe rawit yang terkenal pedas pada suapannya namun


sang suami tidak bereaksi yang seperti Farah harapkan.


“Jangan lupa sayang, Mas suka pedas.” Arka mengingatkan


Farah.


“Iya iya deh, Kok banyak banget sayurnya buat Adek.”


“Karena yang masuk ke dalam mulut Adek dibagi 3 jadi


sayurnya harus banyak.”

__ADS_1


Arka tersenyum karena Farah makan tidak sepeti biasanya yang


hanya beberapa sendok. Dia memang membeli porsi double untuk jaga-jaga. Ternyata


apa yang Kahfi katakan benar, bahwa perempuan hamil itu kemauan untuk makannya


selalu berubah-rubah. Dan juga perempuan Hamil lebih banyak makan apabila


bersama suaminya. Memang teori itu tidak pada semua orang terjadi tetapi Arka


mengalami itu semua.


“Eh Papa udah sadar.” Farah kaget melihat mata Papanya sudah


terbuka. Dia segera beranjak mendekat kearah sang Ayah dengan wajah yang lebih


bersahabat.


Papa Arfan membalas dengan senyum bahagia. Dia sudah sadar


cukup lama, hanya saja dia diam karena tidak ingin menganggu sang anak dan


menantunya makan dengan romantis. Rasa haru dia rasakan karena sang anak


mendapat seorang suami yang baik dan luar biasa.


Arka sudah melakukan pemanggilan pada pihak medis yang


menangani Papa mertuanya dengan cara menekan tombol yang menempel di dinding.


Dokter datang memeriksa Papa Arfan dari pemeriksaan tengsi,


detak jantung dan lainnya.


Kondisi Papa Arfan stabil untuk sekarang, tetapi masih harus


dilakukan pemantauan dan pemberian obat yang dapat membantu mengurangi rasa


sakit akibat kerusakan pada organ hati.


“Lanjut aja makannya,” lirih Papa Arfan pelan.


“Udah selesai kok Pa,” jawab Farah.


“Bohong Pa, masih ada tu.” Tunjuk Arka pada nasi yang masih


ada.


“Itu bagian Mas, untuk Adek udah habis.”


“Lah kok gitu, itu kan nasi punya Adek semua.”


“Makan dulu sana Nak, kasihan dedek bayi kalau Maminya susah


makan.” Papa Arfan kembali menyuruh sang anak makan.

__ADS_1


Farah menurut, dia melanjutkan menghabiskan makanan yang


masih ada. Arka juga masih setia menyuapi.


__ADS_2