
Senyum cerah tampak terpancar dari wajah Arka. Dia baru saja
sampai di bandara Sultan Sarif Kasim II Riau. Perjalanan dari Singapura tidak
memakan waktu yang lama, hanya sekitar 1 jam. Bertemu dengan istri tercinta
adalah hal yang selalu ditunggunya. Perasaan lega juga bersarang dalam diri
Arka karena kesuksesan operasi sang sahabat yaitu Ray.
Arka memang memilih penerbangan pada dini hari untuk
memberikan sang istri kejutan, sedangkan Bima, Andi dan keluarga Kahfi lebih
memilih penerbangan pada sore hari. Suasana bandara cukup sepi karena masih jam
4 pagi hari. Arka sudah memesan mobil yang akan mengantarnya pulang kerumah.
Jujur saja Arka merasa lelah, apalagi selama di singapura
dia tidak memiliki waktu tidur seperti biasanya dan juga otaknya terbagi dua
antara sang istri dan sahabatnya Ray.
Kepulangan Arka tidak ada yang mengetahuinya satupun. Ketika
sang istri bertanya kapan Arka akan
pulang maka dengan jail Arka menjawab belum tentu. Perjalanan dari bandara ke
rumahnya memakan waktu selama 5 jam. 5 jam sudah termasuk waktu berhenti saat
shalat subuh. Pada pukul 8 pagi Arka sampai pada pagar rumahnya. Suasana masih
terasa sepi, apalagi Arka tahu akhir-akhir ini sang istri sangat susah untuk
bangkit dari kasus empuk mereka kecuali pada waktu shalat.
“Assalamu’alaikum Pa,” salam Arka ketika melihat sang Papa
mertua sedang berjalan santai di bawah sinar matahari pagi.
“Wa’alaikumsalam… Masya Allah, Arka!!!”
Arka mendekat ke arah sang Papa untuk bersalam terlebih
dahulu. Sang Papa mertua dengan senang menyambut kedatangan Arka, sembari itu
mereka mengobrol sebentar hanya untuk sekedar
membicarakan sosok Farah. Ketika bercerita ada sedikit rasa bersalah dalam diri
Arka karena melewatkan segala tingkah aneh sang istri atau tingkah manja yang
tiba-tiba saja datang.
“Suka lucu kadang Papa kalau ingat tingkah Farah Ka, masa dia tiba-tiba mau nanem bunga
__ADS_1
padahal malam lo Ka,” kekeh Papa Arfan. Arka yang mendengarkan juga ikut
tertawa.
“Terus tetap diturutin Pa?” tanya Arka penasaran.
“Iya Ka, Bunda kamu langsung ke sini bawa bunga sama potnya.
Untung Farah nikahnya sama kamu Ka… Kalau enggak, Papa enggak tahu bakal
gimana.”
“Ya namanya juga jodoh Pa, suka misterius. Apalagi cara
Allah mempertemukannya kami berdua, diluar dugaan Pa. Sampai sekarang aja, Arka
nggak percaya kalau nikahnya kilat gitu hehe.”
Papa Arfan mengacak rambut Arka sambil tersenyum. “Jaga
Farah dengan baik ya Ka, kalau umpamanya udah nggak bisa maka balikin ke Papa
dengan cara yang baik.”
Arka mendongkakkan wajah karena tidak suka dengan apa yang
dikatakan Papa Arfan. Arka sudah memantapkan di dalam jiwa dan hati ahkan
dihadapan Allah bahwa akan menjaga sang istri beserta anak-anaknya kelak dengan
segenap jiwa dan raga.
Allah selama kami menjadikan akhirat sebagai tujuan rumah tangga maka semua
akan baik-baik saja,” lirih Arka.
Setelah mengobrol beberapa menit, Arka pamit untuk
membersihkan diri. Di dalam kamar dia dapat melihat sang istri yang masih
bergelut dengan selimut dan kasur padahal waktu sudah menunjukan pukul 8.45
pagi.
Arka tidak menghampiri sang istri karena takut ada bakteri
ataupun virus yang mungkin saja bertengger pada tubuhnya selama perjalanan. Dia
langsung membersihkan diri agar lebih segar. Setelah itu barulah Arka
memberingkan tubuh di samping sang istri. Sesekali Arka mengelus perut Farah
yang sudah lebih besar dari yang terkakhir dia lihat.
“Assalamu’alaikum Anak-anak Abi..” ucap pelan Arka. Senyum
Arka kian lebar ketika melihat sang istri yang sama sekali tidak terganggu
__ADS_1
dengan kehadirannya.
“Udah 1 mingguan nggak ketemu Abi ya, kangen nggak? Pasti kangen
dong, kan Abi ganteng gini,” sambung Arka lagi.
Arka melihat sang istri mengucek kedua matanya. Dia hanya
tersenyum melihat wajah polos Farah yang terlihat bingung.
“Saking kangennya sampai kebawa mimpi ya nak,” celoteh Farah
kepada sang anak di dalam perutnya.
Arka kembali tertawa, “Kangen Abi ya Mi?” tanya Arka sambil
meletakkan tangannya di dagu.
“Iya kangen banget, cepet pulang makanya Bi. Masa udah
seminggu nggak ada yang cium,” adu Farah sambil menunjuk bibirnya.
“Ulu ulu, sini Mas cium dulu…” balas Arka lalu mendekat ke
arah sang istri.
“Malas…mimpi doang,” potong Farah sambil menutup kepalanya
dengan selimut.
“Yang ini Mas lo, Ya Allah.” Arka menarik selimut sang
istri, dia harus menyadarkan sang istri agar bisa melepas rindu. Semakin
kencang Arka menarik selimut maka semakin kencang pula Farah menahannya.
“Mas kangen lo Yang,” lirih Arka sembari mengalah. Dia menghentikan
aksi terik menarik selimut.
“Kangen Mas juga,” balas Farah sambil memeluk tubuh Arka.
Dia menghirup aroma tubuh Arka dengan sangat lama.
“Maafin Mas ya Yang,” lirih Arka sambil mengelus pucuk
kepala sang istri.
Mereka menikmati waktu berdua di tempat tidur. Sesekali Farah
bertanya tentang aktivitas sang suami di Singapura. Arka menjawab setiap
pertanyaan dengan antusias, bahkan dia berjanji jika mempunyai rezeki akan
membawa sang istri ke sana.
Arka tidak lupa memberitahu kondisi Ray serta Alfa. Setiap hal
__ADS_1
yang terjadi harusnya mampu mengambil pelajaran dari sana dan Arka bisa
merasakan itu semua.