Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 43


__ADS_3

Senyum cerah tampak terpancar dari wajah Arka. Dia baru saja


sampai di bandara Sultan Sarif Kasim II Riau. Perjalanan dari Singapura tidak


memakan waktu yang lama, hanya sekitar 1 jam. Bertemu dengan istri tercinta


adalah hal yang selalu ditunggunya. Perasaan lega juga bersarang dalam diri


Arka karena kesuksesan operasi sang sahabat yaitu Ray.


Arka memang memilih penerbangan pada dini hari untuk


memberikan sang istri kejutan, sedangkan Bima, Andi dan keluarga Kahfi lebih


memilih penerbangan pada sore hari. Suasana bandara cukup sepi karena masih jam


4 pagi hari. Arka sudah memesan mobil yang akan mengantarnya pulang kerumah.


Jujur saja Arka merasa lelah, apalagi selama di singapura


dia tidak memiliki waktu tidur seperti biasanya dan juga otaknya terbagi dua


antara sang istri dan sahabatnya Ray.


Kepulangan Arka tidak ada yang mengetahuinya satupun. Ketika


sang istri bertanya kapan  Arka akan


pulang maka dengan jail Arka menjawab belum tentu. Perjalanan dari bandara ke


rumahnya memakan waktu selama 5 jam. 5 jam sudah termasuk waktu berhenti saat


shalat subuh. Pada pukul 8 pagi Arka sampai pada pagar rumahnya. Suasana masih


terasa sepi, apalagi Arka tahu akhir-akhir ini sang istri sangat susah untuk


bangkit dari kasus empuk mereka kecuali pada waktu shalat.


“Assalamu’alaikum Pa,” salam Arka ketika melihat sang Papa


mertua sedang berjalan santai di bawah sinar matahari pagi.


“Wa’alaikumsalam… Masya Allah, Arka!!!”


Arka mendekat ke arah sang Papa untuk bersalam terlebih


dahulu. Sang Papa mertua dengan senang menyambut kedatangan Arka, sembari itu


mereka mengobrol sebentar hanya untuk  sekedar


membicarakan sosok Farah. Ketika bercerita ada sedikit rasa bersalah dalam diri


Arka karena melewatkan segala tingkah aneh sang istri atau tingkah manja yang


tiba-tiba saja datang.


“Suka lucu kadang Papa kalau ingat tingkah Farah  Ka, masa dia tiba-tiba mau nanem bunga

__ADS_1


padahal malam lo Ka,” kekeh Papa Arfan. Arka yang mendengarkan juga ikut


tertawa.


“Terus tetap diturutin Pa?” tanya Arka penasaran.


“Iya Ka, Bunda kamu langsung ke sini bawa bunga sama potnya.


Untung Farah nikahnya sama kamu Ka… Kalau enggak, Papa enggak tahu bakal


gimana.”


“Ya namanya juga jodoh Pa, suka misterius. Apalagi cara


Allah mempertemukannya kami berdua, diluar dugaan Pa. Sampai sekarang aja, Arka


nggak percaya kalau nikahnya kilat gitu hehe.”


Papa Arfan mengacak rambut Arka sambil tersenyum. “Jaga


Farah dengan baik ya Ka, kalau umpamanya udah nggak bisa maka balikin ke Papa


dengan cara yang baik.”


Arka mendongkakkan wajah karena tidak suka dengan apa yang


dikatakan Papa Arfan. Arka sudah memantapkan di dalam jiwa dan hati ahkan


dihadapan Allah bahwa akan menjaga sang istri beserta anak-anaknya kelak dengan


segenap jiwa dan raga.


Allah selama kami menjadikan akhirat sebagai tujuan rumah tangga maka semua


akan baik-baik saja,” lirih Arka.


Setelah mengobrol beberapa menit, Arka pamit untuk


membersihkan diri. Di dalam kamar dia dapat melihat sang istri yang masih


bergelut dengan selimut dan kasur padahal waktu sudah menunjukan pukul 8.45


pagi.


Arka tidak menghampiri sang istri karena takut ada bakteri


ataupun virus yang mungkin saja bertengger pada tubuhnya selama perjalanan. Dia


langsung membersihkan diri agar lebih segar. Setelah itu barulah Arka


memberingkan tubuh di samping sang istri. Sesekali Arka mengelus perut Farah


yang sudah lebih besar dari yang terkakhir dia lihat.


“Assalamu’alaikum Anak-anak Abi..” ucap pelan Arka. Senyum


Arka kian lebar ketika melihat sang istri yang sama sekali tidak terganggu

__ADS_1


dengan kehadirannya.


“Udah 1 mingguan nggak ketemu Abi ya, kangen nggak? Pasti kangen


dong, kan Abi ganteng gini,” sambung Arka lagi.


Arka melihat sang istri mengucek kedua matanya. Dia hanya


tersenyum melihat wajah polos Farah yang terlihat bingung.


“Saking kangennya sampai kebawa mimpi ya nak,” celoteh Farah


kepada sang anak di dalam perutnya.


Arka kembali tertawa, “Kangen Abi ya Mi?” tanya Arka sambil


meletakkan tangannya di dagu.


“Iya kangen banget, cepet pulang makanya Bi. Masa udah


seminggu nggak ada yang cium,” adu Farah sambil menunjuk bibirnya.


“Ulu ulu, sini Mas cium dulu…” balas Arka lalu mendekat ke


arah sang istri.


“Malas…mimpi doang,” potong Farah sambil menutup kepalanya


dengan selimut.


“Yang ini Mas lo, Ya Allah.” Arka menarik selimut sang


istri, dia harus menyadarkan sang istri agar bisa melepas rindu. Semakin


kencang Arka menarik selimut maka semakin kencang pula Farah menahannya.


“Mas kangen lo Yang,” lirih Arka sembari mengalah. Dia menghentikan


aksi terik menarik selimut.


“Kangen Mas juga,” balas Farah sambil memeluk tubuh Arka.


Dia menghirup aroma tubuh Arka dengan sangat lama.


“Maafin Mas ya Yang,” lirih Arka sambil mengelus pucuk


kepala sang istri.


Mereka menikmati waktu berdua di tempat tidur. Sesekali Farah


bertanya tentang aktivitas sang suami di Singapura. Arka menjawab setiap


pertanyaan dengan antusias, bahkan dia berjanji jika mempunyai rezeki akan


membawa sang istri ke sana.


Arka tidak lupa memberitahu kondisi Ray serta Alfa. Setiap hal

__ADS_1


yang terjadi harusnya mampu mengambil pelajaran dari sana dan Arka bisa


merasakan itu semua.


__ADS_2