
Aktifitas yang dijalani terasa begitu mudah jika di niatkan karena
Allah, akan tetapi jika aktifitas itu hanya untuk kepentingan dunia saja
maka Allah akan menjadikan kita lelah dalam menjalaninya.
Arka menjalani hari lebih baik
dari sebelumnya, jika setelah subuh dia biasanya bergelut dengan selimut namun
sekarang secara perlahan dia sudah memaksakan tubuhnya beraktivitas di pagi
hari. Dia ingin merubah kebiasaan buruknya karena telalu malu apalagi dia sudah
menjadi seoarang suami. Dia tidak terbayang jika nanti sudah mempunyai anak
tetapi masih mempunyai kebiasaan buruk, Apa yang akan dia ajarakan kepada sang
anak jika dirinya sendiri belum baik.
"Dek kenapa bolak balik dari
tadi?" tanya Arka yang tengah berbaring di tempat tidur. Semenjak
mengelolah satu buah toko barang harian, Arka sering kali kelelahan. Sekarang
dia baru paham bagaimana sulitnya dalam mencari uang untuk makan. Dia yang dulu
hanya bisa meminta uang serta menggeseknya di atm sekarang harus bekerja terlebih
dahulu untuk mendapatkan penghasilan. Jika dulu uang yang ada di dalam
dompetnya sampai tidak tau harus digunakan untuk apa, sekarang dia harus
pandai-pandai untuk membagi uangnya.
"Perut adek mules Mas"
keluh Farah sambil memang perutnya. Sejak dari sore hari dia mengalami sakit
perut yang lumayan membuat dia kewalahan.
"Ya Allah, tadi siang makan
apa?" tanya Arka khawatir. Dia bisa melihat wajah pucat sang istri.
Farah kembali mengingat-ngingat
apa saja yang masuk kedalam seharian ini. Dia hanya makan makanan seperti biasa
dan ditambah dengan hasil kue pertama yang berhasil dibuatnya siang tadi.
"Gak macam-macam kok
Mas" lirih Farah menahan rasa sakit.
Arka membawa Farah untuk
berbaring di tempat tidur, dia memberikan minyak kayu putih pada perut sang
istri berharap dapat menghilangkan rasa sakit.
Namun belum beberapa menit
berbaring, Farah kembali berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya
yang membrontak.
__ADS_1
"Mas jangan ikut,
Baukk" cegah Farah sebelum sang suami masuk ke dalam kamar mandi.
"Dek baik-baik aja kan"
teriak Arka dibalik pintu.
"Dek jawab dong" teriak
Arka lagi.
"Baik Mas, Cuma mules
ni" balas Farah terbata-bata.
Dengan raut khawatir Farah keluar
dari kamar mandi. Kepalanya mendadak pusing dan tidak mampu untuk menahan tubuhnya.
"Dek kita ke rumas sakit
yuk" ajak Arka sambil menuntun sang istri untuk duduk di tepi ranjang.
"Gak apa-apa kok Mas, minum
obat sakit perut insya Allah sehat" balas Farah. Keringat dingin sudah
menetes sekitaran dahinya.
"Ya udah Mas beli obat dulu
bentar ya" Arka mengambil jaket dan kunci motor. Persediaan obat memang
ada di rumahnya tetapi otaknya terasa buntu saat melihat raut wajah sang istri.
mencegah sang suami yang sudah hilang bagai ditelan bumi. Dia meringis kesakitan
ketika sakit yang tiba-tiba datang secara mendadak.
"Ya Allah nak, Apa yang
sakit?" tanya Bunda Ririn yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Dibelakang
Bunda ada Ayah yang sama khawatirnya dengan Bunda.
"Mules Bun" lirih pelan
Farah. Dia mencoba untuk bangkit karena merasa tidak sopan untuk berbaring di
hadapan mertuanya.
"Udah nak gak usah
bangun" cegah Ayah.
Bunda Ririn membawa obat sakit
perut yang memang tersedia di rumah. Dia memberikan kepada sang mantu.
"Mas Arka belum pulang ya
bun" tanya Farah.
"Belum, Anak Bunda itu kalau
udah panik gak mau dengarin orang. Tadi ayah aja udah teriak bilang kalau ada
__ADS_1
obat di rumah eh dianya udah pergi aja" jelas Bunda Ririn panjang lebar.
Farah merasa bersalah karena
sudah merepotkan orang yang menemani hari-harinya belakangan ini. Dia tidak tau
harus berbuat apa, tetapi kali ini dia hanya ingin istirahat karena sudah tidak
mempunyai tenaga yang banyak lagi. Usapan-usapan di kelapa nya membuat dia
dengan mudah terlelap.
Beberapa menit Farah
terlelap, Arka datang dengan memegang kantong kresek. Nafasnya
tidak beraturan seperti habis berlari.
"Bun gimana keadaan Farah?
" tanya Arka pelan. Disaat matanya melihat objek yang di
khawatirkannya sedang tertidur perasaanya menjadi lebih baik dari sebelumnya.
"Alhamdulillah Baik. Kamu
kenapa beli obat lagi sih, kan di rumah ada" balas Bunda.
"Kenapa Bunda gak bilang?
" ucap Arka memelas. Dia sedikit kesal karena sudah menghabiskan
waktu hanya untuk membeli obat yang ternyata ada di dalam rumah.
"Malah bilang gitu. Ayah
udah teriak tadi kamu langsung aja pergi" Ayah menyentil kening Arka karna
terlalu geram dengan sikap panik sang anak.
"Auuu sakit Yah, Arka
gak dengar tadi" Arka cemberut karena merasa terpojokkan.
"Makanya kalau ada apa itu
jangan langsung panik gak jelas. Kamu dari dulu gitu mulu" sindir
Bunda Ririn.
Bunda Ririn masih mengingat
bagaimana dulu Arka panik ketika mendengar sang Ayah di rumah sakit.
Padahal Ayah dan Bunda ke rumah sakit untuk menemani menantu pertamanya
memeriksa kandungan karena anaknya sedang dinas ke luar kota. Arka yang
langsung mematikan panggilan ketika otaknya mencerna "Ayah di rumah
sakit" mendadak panik.
Dia langsung meninggalkan kelas
dengan buru-buru tanpa memberikan alasan kepada guru. Sungguh menakjubkan
tingkah Arka di kala panik datang. Dia bahkan bisa melupakan orang di
__ADS_1
sekeliling nya.