Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 12


__ADS_3

Aktifitas yang dijalani terasa begitu mudah jika di niatkan karena


Allah,  akan tetapi jika aktifitas itu hanya untuk kepentingan dunia saja


maka Allah akan menjadikan kita lelah dalam menjalaninya.


Arka menjalani hari lebih baik


dari sebelumnya, jika setelah subuh dia biasanya bergelut dengan selimut namun


sekarang secara perlahan dia sudah memaksakan tubuhnya beraktivitas di pagi


hari. Dia ingin merubah kebiasaan buruknya karena telalu malu apalagi dia sudah


menjadi seoarang suami. Dia tidak terbayang jika nanti sudah mempunyai anak


tetapi masih mempunyai kebiasaan buruk, Apa yang akan dia ajarakan kepada sang


anak jika dirinya sendiri belum baik.


"Dek kenapa bolak balik dari


tadi?" tanya Arka yang tengah berbaring di tempat tidur. Semenjak


mengelolah satu buah toko barang harian, Arka sering kali kelelahan. Sekarang


dia baru paham bagaimana sulitnya dalam mencari uang untuk makan. Dia yang dulu


hanya bisa meminta uang serta menggeseknya di atm sekarang harus bekerja terlebih


dahulu untuk mendapatkan penghasilan. Jika dulu uang yang ada di dalam


dompetnya sampai tidak tau harus digunakan untuk apa, sekarang dia harus


pandai-pandai untuk membagi uangnya.


"Perut adek mules Mas"


keluh Farah sambil memang perutnya. Sejak dari sore hari dia mengalami sakit


perut yang lumayan membuat dia kewalahan.


"Ya Allah, tadi siang makan


apa?" tanya Arka khawatir. Dia bisa melihat wajah pucat sang istri.


Farah kembali mengingat-ngingat


apa saja yang masuk kedalam seharian ini. Dia hanya makan makanan seperti biasa


dan ditambah dengan hasil kue pertama yang berhasil dibuatnya siang tadi.


"Gak macam-macam kok


Mas" lirih Farah menahan rasa sakit.


Arka membawa Farah untuk


berbaring di tempat tidur, dia memberikan minyak kayu putih pada perut sang


istri berharap dapat menghilangkan rasa sakit.


Namun belum beberapa menit


berbaring, Farah kembali berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya


yang membrontak.

__ADS_1


"Mas jangan ikut,


Baukk" cegah Farah sebelum sang suami masuk ke dalam kamar mandi.


"Dek baik-baik aja kan"


teriak Arka dibalik pintu.


"Dek jawab dong" teriak


Arka lagi.


"Baik Mas, Cuma mules


ni" balas Farah terbata-bata.


Dengan raut khawatir Farah keluar


dari kamar mandi. Kepalanya mendadak pusing dan tidak mampu untuk menahan tubuhnya.


"Dek kita ke rumas sakit


yuk" ajak Arka sambil menuntun sang istri untuk duduk di tepi ranjang.


"Gak apa-apa kok Mas, minum


obat sakit perut insya Allah sehat" balas Farah. Keringat dingin sudah


menetes sekitaran dahinya.


"Ya udah Mas beli obat dulu


bentar ya" Arka mengambil jaket dan kunci motor. Persediaan obat memang


ada di rumahnya tetapi otaknya terasa buntu saat melihat raut wajah sang istri.


mencegah sang suami yang sudah hilang bagai ditelan bumi. Dia meringis kesakitan


ketika sakit yang tiba-tiba datang secara mendadak.


"Ya Allah nak, Apa yang


sakit?" tanya Bunda Ririn yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Dibelakang


Bunda ada Ayah yang sama khawatirnya dengan Bunda.


"Mules Bun" lirih pelan


Farah. Dia mencoba untuk bangkit karena merasa tidak sopan untuk berbaring di


hadapan mertuanya.


"Udah nak gak usah


bangun" cegah Ayah.


Bunda Ririn membawa obat sakit


perut yang memang tersedia di rumah. Dia memberikan kepada sang mantu.


"Mas Arka belum pulang ya


bun" tanya Farah.


"Belum, Anak Bunda itu kalau


udah panik gak mau dengarin orang. Tadi ayah aja udah teriak bilang kalau ada

__ADS_1


obat di rumah eh dianya udah pergi aja" jelas Bunda Ririn panjang lebar.


Farah merasa bersalah karena


sudah merepotkan orang yang menemani hari-harinya belakangan ini. Dia tidak tau


harus berbuat apa, tetapi kali ini dia hanya ingin istirahat karena sudah tidak


mempunyai tenaga yang banyak lagi. Usapan-usapan di kelapa nya membuat dia


dengan mudah terlelap.


Beberapa menit Farah


terlelap,  Arka datang dengan memegang kantong kresek.  Nafasnya


tidak beraturan seperti habis berlari.


"Bun gimana keadaan Farah?


" tanya Arka pelan.  Disaat matanya melihat objek yang di


khawatirkannya sedang tertidur perasaanya menjadi lebih baik dari sebelumnya.


"Alhamdulillah Baik. Kamu


kenapa beli obat lagi sih,  kan di rumah ada" balas Bunda.


"Kenapa Bunda gak bilang?


" ucap Arka memelas.  Dia sedikit kesal karena sudah menghabiskan


waktu hanya untuk membeli obat yang ternyata ada di dalam rumah.


"Malah bilang gitu. Ayah


udah teriak tadi kamu langsung aja pergi" Ayah menyentil kening Arka karna


terlalu geram dengan sikap panik sang anak.


"Auuu sakit Yah,  Arka


gak dengar tadi" Arka cemberut karena merasa terpojokkan.


"Makanya kalau ada apa itu


jangan langsung panik gak jelas.  Kamu dari dulu gitu mulu" sindir


Bunda Ririn.


Bunda Ririn masih mengingat


bagaimana dulu Arka panik ketika mendengar sang Ayah di rumah sakit.


Padahal Ayah dan Bunda ke rumah sakit untuk menemani menantu pertamanya


memeriksa kandungan karena anaknya sedang dinas ke luar kota.  Arka yang


langsung mematikan panggilan ketika otaknya mencerna "Ayah di rumah


sakit" mendadak panik.


Dia langsung meninggalkan kelas


dengan buru-buru tanpa memberikan alasan kepada guru.  Sungguh menakjubkan


tingkah Arka di kala panik datang.  Dia bahkan bisa melupakan orang di

__ADS_1


sekeliling nya.


__ADS_2