Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 41


__ADS_3

Ada kalanya rasa iri itu hadir dalam sebuah pertemanan, itu adalah hal yang wajar karena manusia selalu ingin menjadi yang sempurna. Namun ada beberapa hal yang jarang orang bisa lakukan yaitu ketika merasa sakit saat teman merasakan sakit juga.


Dari sekian banyak bahkan ribuan teman hanya ada 1 orang yang memang tulus dalam memahami kita. Kahfi sangat bersyukur mempunyai sahabat lebih dari apapun. Soal uang, soal wanita, soal gaya mereka tidak pernah terlibat konflik karena itu semua.


Yang selalu menjadi konflik dalam persahabatan mereka ketika menyangkut bahaya yang mungkin saja terjadi atas tindakan salah satu mereka, maka percayalah mereka akan menjadi terdepan untuk mencegahnya.


Setelah mengetahui rahasia besar yang di sembunyikan oleh Ray, mereka masih terbayang-bayang hal-hal menyakitkan yang bisa saja terjadi.


Andi tidak pernah terlibat konflik dengan Ray selama ini, dia selalu mengalah apa bila keras kepala Ray datang. Namun hari dimana Bom besar terjun bebas dalam pertemanan mereka Andi lepas control. Jika bukan karena kurus, maka Andi pasti akan memukul Ray sampai pikirannya dapat normal kembali.


Bima yang lebih dewasa dibanding yang lain kadang juga tidak bisa pura-pura kuat jika menyangkut sahabatnya. Dia selalu menjadi tameng untuk sahabatn yang lain sejak duduk di bangku sekolah menengah atas.


Bima juga tidak pernah menyerah untuk mambawa teman-temannya kembali mendekat kepada Allah. Segala upaya dia lakukan. Semua yang Bima lakukan untuk teman-temannya terkadang di tolak secara terang-terang tetapi tidak membuat dia menyerah.


Hanya satu prinsip yang dia pegang "Gue nggak Cuma mau kita sahabatan didunia, tapi gue mau kita juga reunian kelak di surga". Setiap kali mengatakan itu, teman-temannya akan tertawa terbahak-bahak.


Bima paham bagaimana pemikiran mereka yang hanya fokus pada kesenangan dunia, namun dia tidak pernah menyerah menyebut mereka dalam doa di sepertiga malamnya kepada Allah.


Yang Bima tahu selama dia mendekat kepada Allah dia merasa tenang dan dia tidak ingin sendiri dia ingin temannya juga bisa merasakan apa yang dia rasakan.


Hari dimana Bima mengetahui Ray sakit, dia juga terbayang akan sebuah kematian. Dia bisa berkata bahwa mati tidak harus sakit tetapi dia masih mencoba mempraktekkan teori yang dia dapat.


Disisi lain seorang Arka bisa menerima dia nikah secara mendadak, dia mudah untuk jatuh cinta. Namun ketika dia tahu Ray sakit dia lebih patah hati dari yang selama ini dia rasakan.


Kesakitan yang membuat dia ingin melampiaskan pada apapun terkadang terkesan gila. Badan kurus serta kepala yang sudah tidak ada sehelai rambutpun membuat hati Arka tercabik-cabik. Hatinya kesakitan, pikirannya penuh dengan pertanyaan


"kemana Ray dengan tawa bodohnya?"


"Kemana Ray dengan sejuta tingkah?"


"Kemana tubuh kekar Ray?"


"Kemana rambut Ray yang selalu berganti-ganti warna?"


"Kemana Tangan Ray yang selalu memukul kepalanya?"


Semuanya berganti menjadi hal yang mengejutkan dalam kurun waktu 5 bulan.

__ADS_1


Terakhir sosok Kahfi, dia tidak tahu kejutan-kejutan yang hadir dalam kehidupannya. Dia pernah merasakan di ambang batas yaitu ketika detak jantung sang istri tiba-tiba berhenti.


Di masa terburuk dari hidupnya, tetapi Allah masih menyanyanginya. Hari dimana dia tahu Ray sakit, dia Cuma bisa tersenyum dengan luka hati yang kembali terbuka. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Pikiran negative selalu berputar-putar dalam dirinya namun dia berusaha melawannya.


Karena apapun yang Allah takdirkan untuk seorang hamba maka itulah yang terbaik.


***


Kahfi, Bima, Andi dan Arka baru mengetahu bahwa Ray akan melakukan operasi untuk yang ketiga kalinya. Operasi yang mungkin saja jalan menuju kematiannya karena operasi yang dilakukan bisa saja gagal.


Mereka tidak sanggup berkata "Lo harus kuat," bibir mereka sangat keluh untuk mengatakan itu. Tidak lucu mengatakan "lo kuat" sedangkan mereka sendiri tidak kuat.


Andi sudah cukup waktu menenangkan diri,  sehingga dia sudah berada di kamar rawat Ray.  Dia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


Jam sudah menunjukan waktu menunaikan ibadah shalat magrib. Rumah sakit di singapura masih minim terdapat mushola dan kebetulan di rumah sakit Ray di rawat tidak ada tempat beribadah. Biasanya Kahfi shalat di masjid yang kebetulan tidak jauh dari rumah sakit atau di dalam ruangan Rawat anaknya.


"Kalian nggak shalat?" tanya Ray tiba-tiba.


Kahfi dan yang lain mengalihkan pandangan pada Ray. Mereka sedikit ragu, apakah Ray sudah mau menunaikan ibadah shalat atau bagaimana. Sedangkan saat shalat Asar tadi Ray tertidur sehingga Kahfi dan yang lain shalat di masjid.


"Shalat dimana?" tanya Ray lagi.


"Rencananya mau ke Mesjid ni."


Ray terdiam dan yang lain juga diam.


Kahfi dan yang lain ingin segera beranjak untuk shalat di masjid, namun gerakan mereka terhenti karena ucapan Ray.


"Mau shalat jamaah sama gue?"


Ada rasa haru yang membuncak pada diri Bima. Dia tersenyum dengan lebar tidak jauh dengan Kahfi yang juga merasakan hal yang sama.


"Ayo shalat jamaah, seumur umur kita belum pernah shalat bersama,"ucap Kahfi.


"Bantuin gue ambil wudhu ya."


Bima membantu Ray mengambil wudhu, di sela sela itu air matanya mengalir tetapi dengan cepat dihapusnya. Dia tidak mau terlihat cengeng di hadapan Ray.

__ADS_1


Setelah Ray selesai diikuti oleh Kahfi, Arka dan terakhir Andi. Andi merasa ada hal mengganjal dalam dirinya. Dia merasa malu karena di antara sahabatnya hanya dia yang masih bolong-bolong dalam shalat.


"Lo kenapa Ndi?" tanya Arka bingung karena melihat tingkah Andi yang aneh.


"Gue ngerasa jauh banget dari kalian," jawab Andi sambil melihat bagaimana Kahfi dan Bima saling menyuruh untuk menjadi imam.


"Allah sayang sama lo." Hanya itu yang mampu Arka katakan. Dia pernah di posisi itu, posisi dimana dia merasa jauh dari teman-temannya yang lain dalam urusan agama.


"Lo aja imam Bim." Kahfi mempersilakan untuk Bima menjadi imam.


"Lo aja Kaf, lo udah sering jadi imam buat Fiyah," tolak Bima.


"Apa hubungannya coba, Arka juga sering jadi imam buat bini dia. Udahlah lo aja Imam."


Akhirnya Bima menjadi imam di antara mereka. Ray shalat dengan cara duduk karena masih belum bisa berdiri secara lama.


Apa yang hati mereka rasakan hanya Allah yang dapat mengetahuinya.


Bima membacakan surah Al-baqarah 3 ayah terakhir. Suaranya bergetar karena menahan tangis, meskipun yang lain tidak mengetahui arti dari ayat yang dibacakan namun bacaan Bima membuat mereka merasakan bagaimana perjalanan hidup mereka yang sudah jauh dari Allah.


"Assalamu'alaikum warahmatullah."


"Assalamu'alaikum warahmatullah."


Setelah zikir mereka berdoa secara sendiri-sendiri. Apa yang ada dihati mereka, permintaan mereka kepada Allah adalah bukti bahwa seorang hamba membutuhkan Rabb-Nya.


.


.


.


Jangan lupa baca Al-qur'an every time guys💕


Zikir pagi dan petang juga jangan lupa


Jaga kesehatan, semoga kita semua dilindungi Allah.  Aamiin ya Allah

__ADS_1


__ADS_2