
Apa yang terjadi sesungguhnya adalah yang terbaik dalam
membuat sebuah perjalanan hidup. Berawal dari kesalah pahaman berunjung kepada
kebahagian. Itu memang hal yang luar biasa, namun apa yang tidak mungkin jika
Allah yang telah berkendak. Jalan hidup yang telah Allah takdir kan adalah yang
terbaik dan pasti yang paling baik. Jangan tanya apa hikmah saat itu juga jika masalah datang, tetapi
tersenyum dan lapang kan dada untuk menerima nya.
Pagi yang indah di awali dengan menikmati suasana nyaman dan
bersih. Farah dan Arka memutus kan untuk berjalan – jalan pagi. Sinar matahari
masih enggan untuk muncul.
“Yang udah belom?” tanya Arka yang sudah siap dengan busana jogging
nya. Dia memakai celana training dan kaos hitam polos.
“Bentar Mas, mau ngisi air dulu buat Papa.” Jawab Farah. Dia
sudah mempunyai kebiasaan pagi membuat air rebusan rempah-rempah (infused
Water) yang di dapat dari salah satu
dokter sekaligus ustadz yaitu dr. zaidul Akbar. infused water adalah air
mineral yang dicampurankan dengan berbagai macam potongan buah-buahan segar,
sayuran, herbal, atau rempah-rempah. Anda bisa membuat minuman satu ini
sendiri di rumah. Tak ada buah, sayuran, herbal atau rempah khusus untuk
membuat infused water. Pilihan bahan-bahan tersebut disesuaikan dengan apa yang
Anda sukai.
Minuman ini akan disimpan dalam sebotol air mineral dan dinginkan di dalam
kulkas setidaknya 1-12 jam agar sari buah lebih menyatu dengan air. Setelah
didiamkan dalam waktu yang lama, potongan buah atau sayuran yang digunakan
biasanya akan menjadi lembek.
Bagi beberapa orang, bahan-bahan tersebut di buang karena di rasa kurang enak
ketika di makan. Oleh sebab itu, banyak orang menyebut infused water sebagai
minuman rasa buah atau minuman sari buah. Lantaran mereka hanya mengonsumsi air
rendaman buah dan sayuran saja.
Cara membuat infused water sangat sederhana. Yang Anda butuhkan hanyalah air
matang dan pilihan buah-buahan, sayuran, serta rempah-rempah sesuai dengan yang
Anda sukai.
Jika Anda memutuskan untuk membuat infused water, Anda bisa memilih jenis
buah seperti jeruk, lemon, stroberi, mangga, jeruk nipis, apel, atau buah
apapun yang Anda sukai. Buah-buahan ini juga dapat ditambah dengan
rempah-rempah atau herbs seperti daun mint, jahe, kayu manis, dan
sereh. Semakin banyak bahan yang Anda gunakan, maka akan semakin kuat rasa
infused water. Namun, pastikan Anda mencuci bersih semua bahan-bahan sebelum
digunakan.
Setelah di cuci sampai bersih, potong bahan - bahan yang akan Anda gunakan
lalu masukkan ke dalam sebuah wadah. Tuangkan air matang (boleh air panas atau
air dingin) ke dalamnya. Rendam buah selama kurang lebih 1 hingga 12 jam di
kulkas.
Sebelum disajikan, Anda bisa mengeluarkan bahan-bahan yang di pakai dari
infused water untuk mencegah buah mengalami pembusukan di dalam
air. Jangan lupa untuk menyimpan infused water kembali di dalam kulkas.
Anda disarankan untuk menghabiskan infused water kurang dari 3 hari atau bahkan
di hari yang sama, terutama jika infused water Anda tidak disimpan di kulkas.
Farah biasa membuat infused water dengan merebus beberapa jenis rempah –
rempah seperti kunyit, jahe atau tambahan lada hitam.
“Rajin bener istri Mas ya,” goda Arka sambil mengelus pucuk
kepala sang istri.
“Harus dong Mas, hidup sehat harus di paksain, jangan di tunggu
– tunggu nanti bisa terlambat,” balas Farah.
Mata Arka tidak pernah merasa puas jika melihat wajah teduh
istri nya, apalagi di tambah dengan perut yang mulai membunci. Arka mengakui
apa yang sering di cerita kan orang yaitu seorang perempuan terlihat sexy dan
menggoda saat mengandung buah hati. Dia tersenyum lebar dan sesekali bebuat
jail dengan mencolek atau bahkan menghembus leher bagian belakang sang istri.
“Mas geli tahu,” teriak Farah. Dia belum menggunakan pakaian
jogging. Hanya daster biasa dengan rambut yang sama sekali belum di sisir.
Arka selalu melihat sang istri akhir-akhir ini sangat malas
mengurus diri, mandi dan sikat gigi sangat sulit. Bahkan Arka pernah melakukan
pemaksaan agar sang istri mau untuk membersihkan diri.
“Kok rambutnya belum di sisir sih?” tanya Arka memperbaiki
ikatan rambut sang istri yang sudah miring sana sini.
“Biarin ih, sana deh Mas jangan ganggu dulu nanti jogingnya nggak
jadi.” Kesal Farah yang masih mencoba untuk bersabar.
“Mami jangan marah – marah dong masih pagi ini.”
“Iya Abi buat kesal aja, dari tadi jail mulu udah tahu kalau
Mami sensitive masih aja nggak ngerti.”
“Ulu – ulu sayang nya Mas, Maminya anak-anak Mas ngambek
ceritanya?” Arka memeluk Farah dari belakang dan sontak membuat Farah kaget.
__ADS_1
Jantung Farah berpacu dengan sangat kuat, dia mulai menahan
senyum malu-malu karena ke romantisan sang suami beda dari yang lain.
“Wah wah jantung nya Mami kok kenceng banget dekat nya.”
Arka sama sekali tidak berhenti menggoda sang istri. Menggoda sang istri
merupakan hoby yang tidak bisa di tinggalkan atau di gantikan.
“Mas udah dong,” lirih Farah sambil berusahan melepaskan
dekapan sang suami. Arka sama sekali tidak mau melepaskannya. Dia nyaman dengan
posisi sekarang, walaupun sang istri belum mandi sama sekali.
“Ini air panas lo Mas, awas nanti kena,” sambung Farah lagi
sambil memegang ganggang tempat merebus air. Arka akhirnya melepaskan tangannya
dari pinggang sang istri. Dia tidak mau ada hal yang buruk yang bisa saja
terjadi. Mencegah lebih baik dari pada mengobati ya tentu saja.
“Mas ke kamar dulu
bentar ya,” pamit Arka dan di balas anggukan kepala oleh Farah.
Arka mengambil sisir, vitamin rambut dan juga skincare yang memang jarang digunakan
oleh sang istri. Arka sering melakukan sharing – sharing dengan salah satu
sahabat yang sudah lama menikah dan tentu punya banyak pengalaman di banding
dirinya. Sahabatnya adalah Kahfi.
Sikap Farah setelah Hamil tentu sangat berbeda, tidak hanya
sikap namun fisiknya juga berubah. Bintik-bintik hitam mulai bermunculan di
sekitaran pipi dan dahi.
“Sini Mas sisir dulu rambutnya.” Arka manarik tangan sang
istri untuk mau mengikutinya. Ruang keluarga adalah hal yang dituju.
“Adek bisa sendiri kok Mas,” tolak Farah yang tidak merasa enak hati.
“Udah Mas aja lo dek, sekalian di kasih vitamin rambut lo,”
kekeh Arka yang sudah meletakan cream vitamin rambut pada tangannya.
Farah menerima dengan senang hati, dia tidak pernah
menyangka bahwa rumah tangga akan sesenang ini. Suami yang Allah kirimkan
untuknya sangat paket komplit.
“Adek tambah jelek ya Mas?” tanya Farah tiba-tiba. Dia juga
sadar diri perubahan fisiknya sanga dratis.
“Siapa bilang gitu biar Mas bawa ke dokter mata dia,” jawab
Arka yang masih asik menyisir rambut sang istri.
“Nggak ada sih Mas, Adek ngerasa kok kalau udah jelek gini
apalagi susah mandi.” Arka sedikit tertawa. Dia tidak masalah bagaimanapun
kondisi sang istri asalkan dalam keadaan sehat. Namun dalam hal mandi Arka
tidak bisa toleransi, dia tidak mau sang istri jatuh sakit karena banyak kuman
“Ya mandi lo dek, kenapa akhir – akhir ini susah banget di
suruh mandi. Apa fobia air gitu?” tanya Arka heran.
“Entah ya Mas, kalau mandi tu bawaannya malas dan malas,”
balas Farah.
Sejenak Arka tidak habis pikir dengan apa yang di katakana oleh
istrinya, namun dia sedikit sadar apa kebiasaan dia malas mandi menular pada
anak di dalam perut sang istri.
“Nah udah rapi rambutnya, sekarang kasih skincare dulu biar
bintik hitamnya mudra.” Arka mengolesi skincare yang baru dibelinya beberapa
hari yang lalu. Dia selalu berkonsultasi dengan Kahfi yang mana istri sang
sahabat juga mengalami perubahan fiisik khususnya wajah saat hamil .
“Padahal selama ini enggak pernah sampai gini lo muka adek,”
curhat Farah yang merasa aneh dengan dirinya sendiri.
“Namanya juga perubahan hormon dek, coba dulu pakai ini
semoga aja cocok,” jelas Arka.
“Oh iya jadi jogging nggak Mas?” tanya Farah.
“Jadi dong, Mas tunggu adek siap - siap ya. Jangan lama,
awas lo,” jawab Arka.
Farah segera beranjak ke kamar untuk bersiap - siap, tetapi
sebelum itu dia lebih dulu mengantarkan minuman yang sudah disiapkan untuk sang
Ayah di dalam kamar.
“Assalamu’alaikum Pa,” salam Farah.
“Wa’alaikumsalam, kok belum jogging kata Arka tadi mau jogging,”
jawab Papa Arfan yang tengah membaca sebuah buku tebal. Sampul buku tersebut
bertulisan “Ensiklopedia Sahabat” yang berisi kisah dan riwayat hidup 104
sahabat Rasulullah.
“Bentar lagi mau jogging Pa, bukan jogging sih Pa juga mau
jalan pagi,” ucap Farah. Dia meletakkan buah dan air di dalam tumbler.
“Ni buah sama air Pa.” Papa Arfan menerima dengan senang
hati. Dia merasa lega dan senang di perhatikan oleh anaknya sendiri.
“Makasih ya sayang,” ucap Papa Arfan sambil tersenyum.
“Iya sama – sama Pa, Farah sama Mas Arka pamit jalan pagi
dulu ya Pa.” Farah mencium punggung tangan sang ayah kemudian keluar kamar
untuk segera bersiap – siap.
Tampilan Farah hanya sederhana dengan Kaos panjang dan rok
__ADS_1
berwarna hitam serta hijam yang menutupi tubuh sampai pahanya.
“Ayuk Mas,” ajak Farah semangat.
“Pelan – pelan aja Ya,” Arka mencoba memperingati sang istri
yang kadang tidak sadar jika sedang hamil.
Mereka berdua berjalan santai sambil menikmati suasana pagi
yang masih segar dan udara yang sehat. Sesekali
Farah merasa lelah dan Arka memutuskan untuk berhenti untuk minum. Arka juga
sesekali memijit kaki Farah yang kesemutan. Farah merasa tersanjung dengan
perhatian yang di berikan oleh sang suami. Dia mengingat setiap perlakuan
masing yang mempu membuat perempuan di luaran sana menginginkan nya.
“Mas nggak ada ke Bandung ya?” tanya Farah penasaran. Sudah hampir
3 bulan Arka masih berada di Riau.
“Bandung?” ulang Arka keheranan.
“Iya, kan pendidikan Mas belum selesai. Adek juga tahu kok
kalau Mas harus segera menyelesaikannya karena bisa jadi nambah semester lagi
tahun depan kalau nggak selesai semester ini,” jelas Farah.
Arka terdiam sebentar, dia juga mau segera menyelesaikan
pendidikannya. Akan tetapi melihat kondisi sang istri yang tidak stabil membuat
dirinya ragu untuk ke Bandung walaupun hanya beberapa hari.
“Hemm gimana ya dek.” Arka menggaruk kepalanya yang tidak
gatal.
“Mas ragu karena Adek kan?” tebak Farah yang sangat tepat.
“Bu-bukan gitu, sekarang pembimbing Mas masih sibuk
pengabdian masyarakat. Jadi masih belum bisa bimbingan langsung, “ jelas Kahfi
cepat.
“Adek nggak suka kalau mas tunda – tunda terus amanah untuk
menyelesaikan pendidikan meskipun Mas udah nikah bahkan punya pekerjaan. Adek
nggak masalah kalau Mas tinggal buat ke Bandung kok. Di sini ada Papa, Bunda
sama Ayah yang pasti jaga Adek dengan baik.”
“Mas masih belum bisa ninggalin adek bukan karena ragu sama
Papa, Bunda ataupun Ayah. Insya Allah nanti kalau udah siap Mas bakal ke
Bandung kok, dan kalau kandungan adek udah kuat dan dokter memperbolehkan Mas mau ajak adek sekalian. Mau ikut?”
Farah mengangguk antusias karena akan ke Bandung lagi. Tetapi
ada bagian dirinya yang masih sedikit ingin melupakan kenangan pahit di Bandung
tersebut.
“Kalau mau ikut harus makan teratur, jangan malas minum susu
sama vitamin ya biar Mami sama baby nya sehat dan kuat,” lirih Arka sambil
mengelus pucuk kepala Farah.
“Susunya nggak enak lo Mas, ganti rasa boleh?” Tanya Farah
takut-takut.
“Kok baru sekarang bilangnya, kan pas awal Mas kasih susu
itu udah di bilang kalau nggak enak bilang aja biar di ganti. Mulai nakal ya
Mami ni,” Arka mencubit gemas sang istri. Dia tidak habis pikir karena Farah
tidak memberitahu dari awal untuk mengganti rasa yang dia suka.
“Bukan Nakal Abi tapi kan mubazir kalau di ganti soalnya masih banyak,” bela
Farah.
“Iya deh Mami ma selalu benar, Abi aja yang salah terus.
Jadi mau rasa apa ? biar nanti Mas bawain dari toko sekalian.”
Farah sejenak berpikir rasa apa yang dia inginkan.
“Atau mau coba satu – satu aja?” sambung Arka.
“Jangan toh Mas, ih macam sultan aja,” kesal Farah sambil
mencubit pinggang sang suami.
“Aduh sakit sayang, Kan susu nya ada di toko tinggal ngambil
aja susah banget.”
“Nanti toko bangkrut kita mau makan apa Mas?”
Arka tertawa . kali ini suaranya pecah sehingga membuat
orang-orang yang sedang berlari pagi melihat mereka.
“Ya makan nasi dek masa makan batu, ada – ada aja ni.”
Arka mengambil minum yang ada di kantung celananya dan memberikan kepada sang
istri yang sudah kelihatan lelah.
“Ni minum, capek ya bawa 2 baby Mi?” tanya konyol Arka. Jari
tangannya meraba perut Farah di iringi dengan bacaan shalawat.
“Enggak kok Mas, Adek senang Allah kasih kesempatan untuk
merasakan perjuangan seorang ibu sehingga Allah sangat murka apabila anak
durhaka kepada orang tuanya terutama seorang ibu,” lirih Farah.
Kesakitan yang dia rasakan masih belum seluruhnya, jika saja
seorang anak tahu bagaimana rasanya dan tidak lupa mungkin tidak akan ada anak
yang durhaka. Farah dan Arka memutuskan
untuk segera kembali ke rumah. Mereka sesekali bercanda dan juga membahas perkara
agama seperti kisah Rasulullah, kisah keluarga serta sahabat dan kisah yang
berkenaan dengan cara mendidik seorang anak. Sebagai calon orang tua tentu
mereka ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya dan juga mereka ingin selalu
__ADS_1
di berkahi kehidupan rumah tangganya.