Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 35


__ADS_3

Apa yang terjadi sesungguhnya adalah yang terbaik dalam


membuat sebuah perjalanan hidup. Berawal dari kesalah pahaman berunjung kepada


kebahagian. Itu memang hal yang luar biasa, namun apa yang tidak mungkin jika


Allah yang telah berkendak. Jalan hidup yang telah Allah takdir kan adalah yang


terbaik dan pasti yang paling baik.  Jangan tanya apa hikmah saat itu juga jika masalah datang, tetapi


tersenyum dan lapang kan dada untuk menerima nya.


Pagi yang indah di awali dengan menikmati suasana nyaman dan


bersih. Farah dan Arka memutus kan untuk berjalan – jalan pagi. Sinar matahari


masih enggan untuk muncul.


“Yang udah belom?” tanya Arka yang sudah siap dengan busana jogging


nya. Dia memakai celana training dan kaos hitam polos.


“Bentar Mas, mau ngisi air dulu buat Papa.” Jawab Farah. Dia


sudah mempunyai kebiasaan pagi membuat air rebusan rempah-rempah (infused


Water)  yang di dapat dari salah satu


dokter sekaligus ustadz yaitu dr. zaidul Akbar. infused water adalah air


mineral yang dicampurankan dengan berbagai macam potongan buah-buahan segar,


sayuran, herbal, atau rempah-rempah. Anda bisa membuat minuman satu ini


sendiri di rumah. Tak ada buah, sayuran, herbal atau rempah khusus untuk


membuat infused water. Pilihan bahan-bahan tersebut disesuaikan dengan apa yang


Anda sukai.


Minuman ini akan disimpan dalam sebotol air mineral dan dinginkan di dalam


kulkas setidaknya 1-12 jam agar sari buah lebih menyatu dengan air. Setelah


didiamkan dalam waktu yang lama, potongan buah atau sayuran yang digunakan


biasanya akan menjadi lembek.


Bagi beberapa orang, bahan-bahan tersebut di buang karena di rasa kurang enak


ketika di makan. Oleh sebab itu, banyak orang menyebut infused water sebagai


minuman rasa buah atau minuman sari buah. Lantaran mereka hanya mengonsumsi air


rendaman buah dan sayuran saja.


Cara membuat infused water sangat sederhana. Yang Anda butuhkan hanyalah air


matang dan pilihan buah-buahan, sayuran, serta rempah-rempah sesuai dengan yang


Anda sukai.


Jika Anda memutuskan untuk membuat infused water, Anda bisa memilih jenis


buah seperti jeruk, lemon, stroberi, mangga, jeruk nipis, apel, atau buah


apapun yang Anda sukai. Buah-buahan ini juga dapat ditambah dengan


rempah-rempah atau herbs seperti daun mint, jahe, kayu manis, dan


sereh. Semakin banyak bahan yang Anda gunakan, maka akan semakin kuat rasa


infused water. Namun, pastikan Anda mencuci bersih semua bahan-bahan sebelum


digunakan.


Setelah di cuci sampai bersih, potong bahan - bahan yang akan Anda gunakan


lalu masukkan ke dalam sebuah wadah. Tuangkan air matang (boleh air panas atau


air dingin) ke dalamnya. Rendam buah selama kurang lebih 1 hingga 12 jam di


kulkas.


Sebelum disajikan, Anda bisa mengeluarkan bahan-bahan yang di pakai dari


infused water untuk mencegah buah mengalami pembusukan di dalam


air. Jangan lupa untuk menyimpan infused water kembali di dalam kulkas.


Anda disarankan untuk menghabiskan infused water kurang dari 3 hari atau bahkan


di hari yang sama, terutama jika infused water Anda tidak disimpan di kulkas.


Farah biasa membuat infused water dengan merebus beberapa jenis rempah –


rempah seperti kunyit, jahe atau tambahan lada hitam.


“Rajin bener istri Mas ya,” goda Arka sambil mengelus pucuk


kepala sang istri.


“Harus dong Mas, hidup sehat harus di paksain, jangan di tunggu


– tunggu nanti bisa terlambat,” balas Farah.


Mata Arka tidak pernah merasa puas jika melihat wajah teduh


istri nya, apalagi di tambah dengan perut yang mulai membunci. Arka mengakui


apa yang sering di cerita kan orang yaitu seorang perempuan terlihat sexy dan


menggoda saat mengandung buah hati. Dia tersenyum lebar dan sesekali bebuat


jail dengan mencolek atau bahkan menghembus leher bagian belakang sang istri.


“Mas geli tahu,” teriak Farah. Dia belum menggunakan pakaian


jogging. Hanya daster biasa dengan rambut yang sama sekali belum di sisir.


Arka selalu melihat sang istri akhir-akhir ini sangat malas


mengurus diri, mandi dan sikat gigi sangat sulit. Bahkan Arka pernah melakukan


pemaksaan agar sang istri mau untuk membersihkan diri.


“Kok rambutnya belum di sisir sih?” tanya Arka memperbaiki


ikatan rambut sang istri yang sudah miring sana sini.


“Biarin ih, sana deh Mas jangan ganggu dulu nanti jogingnya nggak


jadi.” Kesal Farah yang masih mencoba untuk bersabar.


“Mami jangan marah – marah dong masih pagi ini.”


“Iya Abi buat kesal aja, dari tadi jail mulu udah tahu kalau


Mami sensitive masih aja nggak ngerti.”


“Ulu – ulu sayang nya Mas, Maminya anak-anak Mas ngambek


ceritanya?” Arka memeluk Farah dari belakang dan sontak membuat Farah kaget.

__ADS_1


Jantung Farah berpacu dengan sangat kuat, dia mulai menahan


senyum malu-malu karena ke romantisan sang suami beda dari yang lain.


“Wah wah jantung nya Mami kok kenceng banget dekat nya.”


Arka sama sekali tidak berhenti menggoda sang istri. Menggoda sang istri


merupakan hoby yang tidak bisa di tinggalkan atau di gantikan.


“Mas udah dong,” lirih Farah sambil berusahan melepaskan


dekapan sang suami. Arka sama sekali tidak mau melepaskannya. Dia nyaman dengan


posisi sekarang, walaupun sang istri belum mandi sama sekali.


“Ini air panas lo Mas, awas nanti kena,” sambung Farah lagi


sambil memegang ganggang tempat merebus air. Arka akhirnya melepaskan tangannya


dari pinggang sang istri. Dia tidak mau ada hal yang buruk yang bisa saja


terjadi. Mencegah lebih baik dari pada mengobati ya tentu saja.


 “Mas ke kamar dulu


bentar ya,” pamit Arka dan di balas anggukan kepala oleh Farah.


Arka mengambil sisir, vitamin rambut  dan juga skincare yang memang jarang digunakan


oleh sang istri. Arka sering melakukan sharing – sharing dengan salah satu


sahabat yang sudah lama menikah dan tentu punya banyak pengalaman di banding


dirinya. Sahabatnya adalah Kahfi.


Sikap Farah setelah Hamil tentu sangat berbeda, tidak hanya


sikap namun fisiknya juga berubah. Bintik-bintik hitam mulai bermunculan di


sekitaran pipi dan dahi.


“Sini Mas sisir dulu rambutnya.” Arka manarik tangan sang


istri untuk mau mengikutinya. Ruang keluarga adalah hal yang dituju.


“Adek bisa sendiri kok Mas,” tolak  Farah yang tidak merasa enak hati.


“Udah Mas aja lo dek, sekalian di kasih vitamin rambut lo,”


kekeh Arka yang sudah meletakan cream vitamin rambut pada tangannya.


Farah menerima dengan senang hati, dia tidak pernah


menyangka bahwa rumah tangga akan sesenang ini. Suami yang Allah kirimkan


untuknya sangat paket komplit.


“Adek tambah jelek ya Mas?” tanya Farah tiba-tiba. Dia juga


sadar diri perubahan fisiknya sanga dratis.


“Siapa bilang gitu biar Mas bawa ke dokter mata dia,” jawab


Arka yang masih asik menyisir rambut sang istri.


“Nggak ada sih Mas, Adek ngerasa kok kalau udah jelek gini


apalagi susah mandi.” Arka sedikit tertawa. Dia tidak masalah bagaimanapun


kondisi sang istri asalkan dalam keadaan sehat. Namun dalam hal mandi Arka


tidak bisa toleransi, dia tidak mau sang istri jatuh sakit karena banyak kuman


“Ya mandi lo dek, kenapa akhir – akhir ini susah banget di


suruh mandi. Apa fobia air gitu?” tanya Arka heran.


“Entah ya Mas, kalau mandi tu bawaannya malas dan malas,”


balas Farah.


Sejenak Arka tidak habis pikir dengan apa yang di katakana oleh


istrinya, namun dia sedikit sadar apa kebiasaan dia malas mandi menular pada


anak di dalam perut sang istri.


“Nah udah rapi rambutnya, sekarang kasih skincare dulu biar


bintik hitamnya mudra.” Arka mengolesi skincare yang baru dibelinya beberapa


hari yang lalu. Dia selalu berkonsultasi dengan Kahfi yang mana istri sang


sahabat juga mengalami perubahan fiisik khususnya wajah saat hamil .


“Padahal selama ini enggak pernah sampai gini lo muka adek,”


curhat Farah yang merasa aneh dengan dirinya sendiri.


“Namanya juga perubahan hormon dek, coba dulu pakai ini


semoga aja cocok,” jelas Arka.


“Oh iya jadi jogging nggak Mas?” tanya Farah.


“Jadi dong, Mas tunggu adek siap - siap ya. Jangan lama,


awas lo,” jawab Arka.


Farah segera beranjak ke kamar untuk bersiap - siap, tetapi


sebelum itu dia lebih dulu mengantarkan minuman yang sudah disiapkan untuk sang


Ayah di dalam kamar.


“Assalamu’alaikum Pa,” salam Farah.


“Wa’alaikumsalam, kok belum jogging kata Arka tadi mau jogging,”


jawab Papa Arfan yang tengah membaca sebuah buku tebal. Sampul buku tersebut


bertulisan “Ensiklopedia Sahabat” yang berisi kisah dan riwayat hidup 104


sahabat Rasulullah.


“Bentar lagi mau jogging Pa, bukan jogging sih Pa juga mau


jalan pagi,” ucap Farah. Dia meletakkan buah dan air di dalam tumbler.


“Ni buah sama air Pa.” Papa Arfan menerima dengan senang


hati. Dia merasa lega dan senang di perhatikan oleh anaknya sendiri.


“Makasih ya sayang,” ucap Papa Arfan sambil tersenyum.


“Iya sama – sama Pa, Farah sama Mas Arka pamit jalan pagi


dulu ya Pa.” Farah mencium punggung tangan sang ayah kemudian keluar kamar


untuk segera bersiap – siap.


Tampilan Farah hanya sederhana dengan Kaos panjang dan rok

__ADS_1


berwarna hitam serta hijam yang menutupi tubuh sampai pahanya.


“Ayuk Mas,” ajak Farah semangat.


“Pelan – pelan aja Ya,” Arka mencoba memperingati sang istri


yang kadang tidak sadar jika sedang hamil.


Mereka berdua berjalan santai sambil menikmati suasana pagi


yang masih segar  dan udara yang sehat. Sesekali


Farah merasa lelah dan Arka memutuskan untuk berhenti untuk minum. Arka juga


sesekali memijit kaki Farah yang kesemutan. Farah merasa tersanjung dengan


perhatian yang di berikan oleh sang suami. Dia mengingat setiap perlakuan


masing yang mempu membuat perempuan di luaran sana menginginkan nya.


“Mas nggak ada ke Bandung ya?” tanya Farah penasaran. Sudah hampir


3 bulan Arka masih berada di Riau.


“Bandung?” ulang Arka keheranan.


“Iya, kan pendidikan Mas belum selesai. Adek juga tahu kok


kalau Mas harus segera menyelesaikannya karena bisa jadi nambah semester lagi


tahun depan kalau nggak selesai semester ini,” jelas Farah.


Arka terdiam sebentar, dia juga mau segera menyelesaikan


pendidikannya. Akan tetapi melihat kondisi sang istri yang tidak stabil membuat


dirinya ragu untuk ke Bandung walaupun hanya beberapa hari.


“Hemm gimana ya dek.” Arka menggaruk kepalanya yang tidak


gatal.


“Mas ragu karena Adek kan?” tebak Farah yang sangat tepat.


“Bu-bukan gitu, sekarang pembimbing Mas masih sibuk


pengabdian masyarakat. Jadi masih belum bisa bimbingan langsung, “ jelas Kahfi


cepat.


“Adek nggak suka kalau mas tunda – tunda terus amanah untuk


menyelesaikan pendidikan meskipun Mas udah nikah bahkan punya pekerjaan. Adek


nggak masalah kalau Mas tinggal buat ke Bandung kok. Di sini ada Papa, Bunda


sama Ayah yang pasti jaga Adek dengan baik.”


“Mas masih belum bisa ninggalin adek bukan karena ragu sama


Papa, Bunda ataupun Ayah. Insya Allah nanti kalau udah siap Mas bakal ke


Bandung kok, dan kalau kandungan adek udah kuat dan dokter memperbolehkan  Mas mau ajak adek sekalian. Mau ikut?”


Farah mengangguk antusias karena akan ke Bandung lagi. Tetapi


ada bagian dirinya yang masih sedikit ingin melupakan kenangan pahit di Bandung


tersebut.


“Kalau mau ikut harus makan teratur, jangan malas minum susu


sama vitamin ya biar Mami sama baby nya sehat dan kuat,” lirih Arka sambil


mengelus pucuk kepala Farah.


“Susunya nggak enak lo Mas, ganti rasa boleh?” Tanya Farah


takut-takut.


“Kok baru sekarang bilangnya, kan pas awal Mas kasih susu


itu udah di bilang kalau nggak enak bilang aja biar di ganti. Mulai nakal ya


Mami ni,” Arka mencubit gemas sang istri. Dia tidak habis pikir karena Farah


tidak memberitahu dari awal untuk mengganti rasa yang dia suka.


“Bukan Nakal Abi tapi kan mubazir kalau di ganti soalnya masih banyak,” bela


Farah.


“Iya deh Mami ma selalu benar, Abi aja yang salah terus.


Jadi mau rasa apa ? biar nanti Mas bawain dari toko sekalian.”


Farah sejenak berpikir rasa apa yang dia inginkan.


“Atau mau coba satu – satu aja?” sambung Arka.


“Jangan toh Mas, ih macam sultan aja,” kesal Farah sambil


mencubit pinggang sang suami.


“Aduh sakit sayang, Kan susu nya ada di toko tinggal ngambil


aja susah banget.”


“Nanti toko bangkrut kita mau makan apa Mas?”


Arka tertawa . kali ini suaranya pecah sehingga membuat


orang-orang yang sedang berlari pagi melihat mereka.


“Ya makan nasi dek masa makan batu, ada – ada aja ni.”


Arka mengambil minum yang ada di kantung celananya dan memberikan kepada sang


istri yang sudah kelihatan lelah.


“Ni minum, capek ya bawa 2 baby Mi?” tanya konyol Arka. Jari


tangannya meraba perut Farah di iringi dengan bacaan shalawat.


“Enggak kok Mas, Adek senang Allah kasih kesempatan untuk


merasakan perjuangan seorang ibu sehingga Allah sangat murka apabila anak


durhaka kepada orang tuanya terutama seorang ibu,” lirih Farah.


Kesakitan yang dia rasakan masih belum seluruhnya, jika saja


seorang anak tahu bagaimana rasanya dan tidak lupa mungkin tidak akan ada anak


yang durhaka.  Farah dan Arka memutuskan


untuk segera kembali ke rumah. Mereka sesekali bercanda dan juga membahas perkara


agama seperti kisah Rasulullah, kisah keluarga serta sahabat dan kisah yang


berkenaan dengan cara mendidik seorang anak. Sebagai calon orang tua tentu


mereka ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya dan juga mereka ingin selalu

__ADS_1


di berkahi kehidupan rumah tangganya.


__ADS_2