Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 39


__ADS_3

Perjalanan hidup siapa yang tahu, tepat hari di mana Papa Arfan keluar, Arka mendapat kabar yang cukup membuat jantung nya berdetak cepat. Bahkan kakinya saja sudah bergetar hebat ketika membaca chat yang di kirim oleh Sahabatnya Bima.


Bima


Assalamu'alaikum Ka,


Gue bukan mau nambah beban pikiran lo, tapi kalau gue nggak kasih tahu pasti ntar lo marah.


Ka barusan Kahfi kasih tahu gue kalau Ray lagi di rawat Di RS singapura. Dia bohong sama kita.


Insya Allah gue sama Andi mau ke sana.


Wa'alaikumsalam Bim


astagfirullah, gue bakal ikut


Papa mertua gue udah keluar rumah sakit kok


oke beliin tiket gue sekalian ya, ntar gue ganti duitnya


Ka Bini lo lagi hamil,


gue tahu, lo jangan khawatir. ntar otw bandara gue kabari.


Arka menutup smartphonenya. Dia segera mencari keberadaan sang istri untuk meminta izin. Jujur saja Arka berat untuk pergi, namun dia harus bisa menaham semuanya.


"Dek, dimana? " teriak Arka di luar kamar. Farah tidak ada di dalam kamar ataupun di kamar Mandi.


"Dapur Mas, " balas Farah.


Arka langsung berlari ke arah dapur, di sana sudah ada Mama Andi yang kebetulan belum pulang setelah mereka sama-sama dari rumah sakit.


"Mas mau ngomong sebentar." Nafas Arka tidak beraturan.


Farah yang tidak begitu paham mengikuti sang suami yang menuju ke kamar mereka.


"Mas kenapa? " tanya Farah bingung.


"Dek Mas nggak tahu harus ngapain sekarang, sahabat Mas Ray lagi di rawat di rumah sakit Singapura. Anaknya Kahfi juga." Ray mengusap kepalanya berulang kali, jujur saja dia galau.


"Mas mau ke singapura? " tanya Farah to the point.


"I-iya Sayang, Ta-tapi Mas nggak mungkin ninggalin Adek." Arka kian menampilkan wajah bersalah.


"Insya Allah Adek bakal baik-baik aja mas. Pergi aja, Adek nggak apa-apa kok. Kan ada Papa sama Bude Sri. " Farah sama sekali tidak keberatan tentang kepergian sang suami ke Singapura. Selama masa awal kehamilan mungkin dia bertingkah seperti anak kecil. Itu karena perubahan hormon yang mendadak.

__ADS_1


"Mas sebenarnya nggak mau ninggalin Adek, apalagi lagi hamil gini. Makanya Mas bingung harus gimana."


"Kondisi adek aman terkendali kok Mas, Allah akan melindungi Adek Insya Allah. Kapan mau berangkat? " tanya Farah mengalihkan pembicaraan.


"Nanti siang jam 1, Mas pergi sama Andi dan Bima. Yakin nggak apa-apa kan? " Arka kembali bertanya untuk memastikan.


"Iya Mas, jangan khawatir ya." Farah memeluk erat tubuh sang suami. Dia memberikan senyum terbaik agar sang suami tidak ragu untuk pergi.


"Makasih Sayang, makasih."


Arka memberikan kecupan-kecupan pada seluruh wajah Farah. Dia sedikit lega, setidaknya rasa bersalahnya tidak terlalu besar.


Arka sudah meminta izin dengan Papa Arfan. Bahkan Bunda dan Ayah pun sudah diberitahu oleh Arka. Semuanya tidaklah berjalan mulus karena Arka harus mendengar penolakan dari sang Bunda.


Bunda tidak setuju Arka pergi meninggalkan Farah yang tengah hamil, tetapi setelah mengetahui penyebab anaknya terpaksa terbang ke Singapura Bunda mengizinkannya.


Siang yang terik, Arka, Bima dan Andi menunggu keberangkatan pesawatnya sekitar 20 menit lagi. Arka memang tidak membiarkan sang istri mengantarnya ke bandara.


"Gue nggak tahu harus bicara apa, " celetuk Andi dengan tatapan kosong.


"Jangan bahas dulu, kepala gue rasanya mau pecah." Arka menolak membahas perkara Ray. Dia masih berpikir bahwa Ray dirawat karena demam.


Bima hanya diam, dia menenangkan diri dengan mendengarkan murotal Al-qur'an. Al-qur'an adalah sebaik-baik yang bisa menenangkan.


Pesawat tidak mengalami delay sehingga jam 14.00 tepat mereka sampai di Bandara Internasional Singapura. Mereka sama sekali tidak membawa koper, hanya beberapa baju dan keperluan yang mereka letakkan di dalam ransel.


Mereka menunggu Kahfi di loby rumah sakit.


"Kaf, sini. " Arka memanggil Kahfi yang sedang mencari mereka.


Banyak sekali orang yang berada di rumah sakit,  apalagi bahasa umum yang mereka gunakan adalah bahasa inggris walaupun ada beberapa orang berbahasa melayu.


"Alhamdulillah," Kahfi langsung memeluk secara bergantian sahabatnya itu.


"Lo tambah kurus,  Alfa gimana? " tanya Andi.


"Alhamdulillah udah baik,  malahan 2 hari lagi di bolehin pulang," jawab Kahfi.


"Ray gimana? " tanya Bima lemah.


"Gua sebenarnya nggak sanggup liat dia kayak gitu,  gue nunggu kalian biar ke sana sama-sama.  Gu udah tahu dia di kamar berapa. "


Mereka berempat berjalan dengan susana diam.  Ya pastinya mereka mengira semuanya seperti mimpi.


"Bang, " refleks Arka memangil Abang Ray yang tengah berjalan.

__ADS_1


Mereka dapat melihat bagaimana kagetnya Abang kandung sang sahabat melihat kehadiran mereka.


"Ka-kalian kok bisa di sini? " tanya Abang Ray terbata-bata.


"Kami udah tahu bang,  tolong jangan di tutup-tutupi lagi.  Kami ngerasa **** asal abang tahu. "


Setelah itu,  abang Ray menceritakan apa yang selama ini di sembunyikan sang adik dari sahabat-sabatanya.  Sejak kuliah semester 5 Ray sudah mengetahui kalau dia mengalami sakit yang cukup serius.  Dari rambut yang mudah rontok sampai tubuh yang sangat mudah kelelahan. Saat di periksa ternyata Ray sudah menderita penyakit kanker kelenjer getah bening.


Dia menyimpan sendiri penyakitnya, sampai saat dimana Ray tidak bersembunyi lagi sehingga keluarganya tahu.  Dia langsung di rujuk ke rumah sakit singapura.  Segala macam cara di tutupi agar para sahabatnya tidak mengetahui.


"Rasanya sakit,  gue berharap ini mimpi," lirih Andi sambil memegang bagian dadanya dengan erat.  Tidak jauh berbeda dengan Andi,  Arka dan yang lain juga merasakan hal yang sama.


Bima segera masuk ke ruang rawat Ray,  dia tidak bisa menunggu lagi.  Di belakang Bima juga ada Arka,  Andi dan Kahfi.


Ketika membuka pintu,  Tatapan mata Bima langsung menangkap tubuh Ray yang sudah sangat kurus.


Keterkejutan juga di rasakan keluarga Ray,  mereka keluar dan memberikan waktu kepada sahabat-sahahat Ray.


Ray masih tidur.


Bima sebenarnya tidak sanggup melihat,  badannya langsung terduduk di lantai.


Arka memukul-mukul tembok melampiaskan kekesalan pada dirinya sendiri.


Andi sudah menangis dalam diam.


Sedangkan Kahfi tertawa sakit.


"Dia nggak selemah itu buat kalah dari penyakitnya kan," racau Andi.


Ray perlahan membuka matanya,  dia terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Gue kayaknya mau mati deh,  saking rindunya sama kalian gue sampai lihat kalian disini. " perkataan yang menjadi senjata tajam dan sangat menusuk hati Kahfi dkk.


"Gue rindu banget sama kalian,  kalau ini mimpi gue berharap nggak bangun lagi."


Andi langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan.  Dia benar-benat tidak sanggup lagi.


"Lo nggak mimpi Ray,  kita ada disini," ucap Kahfi membuat Ray mengeluarkan air mata.


"Sampai kapan lo nyembunyiin ini semua,  sampai kapan lo pura-pura baik aja,  sampai kapan lo buat kita jadi orang **** sampai kapan Ray? " racau Arka.


"Gu-gue-. "


"Apa ini yang emang lo mau? Apa ini yang memang buat lo bahagia,  apa ini Ray? " potong Andi.

__ADS_1


"Seharusnya lo tahu,  lo sakit kita juga sakit.  Gue nggak tahu mau ngomong apalagi. " Bima sudah tidak bisa menahan air matanya.


Ray terdiam seribu bahasa.  Mereka semua sakit bahkan tidak bisa di sampaikan dengan kata-kata.


__ADS_2