Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 40


__ADS_3

"Gue nggak mau kalian kayak gini," ucap Ray tiba-tiba.


"Jadi kita harus gimana, pura-pura baik maksud lo. Gitu yang lo mau?" tanya Andi dengan tatapan penuh luka.


"Gue nggak suka kalian pandang dengan cara kasihan, gue nggak suka," bantah Ray.


"Ray.. Gue nggak paham jalan pikiran lo gimana. Gue marah, tapi gue nggak tahu harus marah sama siapa, gue kecewa tapi gue nggak ada hak untuk kecewa karena lo anggap kita ini nggak penting."


Tatapan mata Arka tidak jauh berbeda dari Andi.


"Kalian penting," lirih Ray.


"Jangan belagak bilang kita seakan-akan penting bagi lo, kalau kenyataannya kita kayak lo anggap angin lalu."


Arka mengalihkan pandangannya kea rah lain, jujur dia tidak sanggup pura-pura kuat nyatanya dia tidak sekuat itu.


"Gue nggak ada anggap kalian gitu, gu-gue-"


"Gue apa? Lo mau bilang gini "Biar gue nahan semua sendiri tapi jangan kalian" mau bilang gitu lo? Basi Ray basi. Lo berhasil bikin kita kayak orang ****, gue salut Ray gue salut. Makasih banyak." Potong Andi.


"Ndi jangan gitu, Lo udah keterlaluan." Bima tidak suka dengan ucapan Andi.


"Gue yang keterlaluan, atau Dia? Ayo jawab. Kalau gue yang keterlaluan, maka jangan salahin gue suatu saat nanti ada apa-apa gue nggak kasih tahu lo pada." Emosi Andi sudah keluar.


"Gue tahu lo kecewa, gue tahu lo marah. Tapi lo harus sadar teman lo itu lagi sakit." Kahfi memperingati.


"Bukannya dia berusaha nutupin dari kita ya kalau dia sakit, bukannya dia pengen kelihatan baik-baik aja di depan kita, oke gue turutin mau dia. Gu-gue nggak ngerasa dia sakit. Gue masih anggap dia Ray **** yang selalu ngasih candaan garing." Andi.


"Andi lo jangan kebawa emosi gitu," Kahfi mengeraskan suaranya.


"Gu-gue anggap kalian lebih dari apapun, kalian orang yang udah gue anggap kayak keluarga. Oke gue nggak akan pura-pura lagi. Gue minta maaf kalau udah nyembunyiin ini semua dari kalian, gue minta maaf." Ray menarik nafas sebelum melanjutkan apa yang dia ingin sampaikan.


"Gue bakal jujur, ini sakit sakit banget. Gue masih ingat Andi bilang kalau gue orang yang susah banget buat nangis, nyatanya gue nggak kayak gitu. Setiap gue selesai Kemoterapi gue nangis, gue nggak sekuat itu buat nahan semuanya. Gue juga udah capek, kalau bisa gue lebih baik mati. Tapi sampai hari ini gue belum juga mati, gue udah nggak sanggup lihat keluarga gue sendiri yang sedih apalagi lihat kalian gini gue nggak sanggup." Air mata Ray mengalir tanpa permisi. Dia tidak bisa bersembunyi lagi.

__ADS_1


Bima melangkah kearah Ray. Dia langsung memeluk Ray dengan cukup erat.


"Lo kuat, lo kuat." Lirih Bima pelan. Air matanya juga tidak bisa di tahan.


"Gue nggak sekuat itu Bim, gue capek." Meskipun pelan, ucapan Ray masih bisa di dengar oleh yang lain.


Andi merasakan dadanya yang sudah menyempit, rasanya sakit.


Arka pura-pura menulikan telinganya.


"Lo harus yakin bisa sembuh," tegas Kahfi.


"Selama 5 bulan gue berobat nggak ada perkembangan, gue makin sakit asal kalian tahu. Rasanya gue terlalu bodoh kalau percaya bakalan sembuh. Semua orang bilang kalau gue bakalan sembuh, nyatanya enggak. Gue tambah sakit dan pasti gue bentar lagi mati".


"Lo **** atau gimana? Lo mau mati, iya. Ya udah nggak perlu susah-susah. Lompat aja lo dari sini biar mati sekalian. Gue orang yang pertama kali bakal ketawa".


"Andi," tegur Kahfi.


Andi segera keluar meninggalkan ruang rawat Ray, pikiran kacau. Dia seperti terkena bom besar yang begitu mengguncang hati dan jiwanya.


"Mau nunggu di bawa kalau dia memang mau mati." Jawab Andi santai sebelum menghilang.


"Kaf lo ikutin Andi, emosi dia nggak stabil,"ujar Bima.


Kahfi mengikuti kemana Andi pergi.


Sedangkan Ray masih terdiam seribu bahasa, dia merasa sangat bersalah. Namun dia juga tidak sanggup menahan rasa sakit.


"Gue baru sadar. Di antara kita be lima, cuma Andi yang jarang nunjukin emosinya, tapi kali ini dia lepas control gitu. Dan gue tahu dia yang paling sakit di sini," ucap Arka.


"Gu-gue minta maaf." Hanya itu yang bisa Ray katakana.


"Asalkan lo semangat untuk sembuh, gue bakal maafin." Arka memberikan pelukan sebagai tanda bahwa Ray tidak sendiri.

__ADS_1


"Udah jangan terlalu dipikirkan, bentar lagi Andi bakal balik kesini. Lo istirahat dulu Ray." Bima membantu Ray untuk beristirahat.


"Terima kasih banyak."


***


"Udah ngerasa tenang lo?" tanya Kahfi sembari memberikan Andi sekaleng minuman.


Hening, Andi masih bungkam.


"Gue tahu lo merasa nggak becus jadi sahabat, gue tahu Andi. Tapi lo juga nggak boleh kayak tadi,"tegur Kahfi.


"Gue juga takut dia bakalan mati Kaf, gue memang yakinin dia bahwa dia bakalan sembuh nyatanya gue nggak yakin. Gue nggak yakin Kaf," ujar Andi.


Mereka sedang berada di sebuah taman yang di sediakan rumah sakit. Begitu banyak orang berlalu lalang bahkan ada orang yang memakai baju untuk pasien rumah sakit.


"Jangan pernah sandingkan kematian dengan penyakit Ndi, kita yang sehat kayak gini pun bisa mati."


"Gue harus gimana Kaf? Iman gue nggak sekuat kalian, gu-gue-."


"Untuk sekarang kita support dia," potong Kahfi.


"Gue nggak pernah ngebayangin kalau kita ada disituasi saat ini Kaf, rasanya kayak mimpi," racau Andi.


"Itulah namanya hidup, kita nggak akan tahu apa yang nunggu kita di depan sana."


"Ray nggak ganteng lagi sekarang, dia kurus banget. Dulu tubuhnya keren, bahkan gue iri. Tapi sekarang dia kayak orang asing dipandangan gue. Apalagi kepalanya botak." Andi tanpa sadar kembali mengeluarkan air mata.


"Gue cengeng banget kan Kaf, gini aja udah nangis." Sambungnya lagi.


"Lo kira gue kagak cengeng. Kita itu lucu ya, pas tawuran atau balapan kita udah lecet luar biasa tapi kagak pernah nangis. Ternyata luka dari dalam lebih sakit dibanding luka luar," keluh Kahfi.


Mereka mengingat-ngingat bagaimana dulu mereka bersama-sama. Waktu sudah berubah dan pemikiranpun juga berubah. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Senyum hari ini bisa saja menjadi derai air mata begitupun sebaliknya.

__ADS_1


Jika tidak menggantungkan hidup kepada Allah maka percayalah hidup akan kacau seperti tidak ada arah. Apapun yang terjadi hari ini, seberat apapun cobaan tersebut percayalah semua akan berakhir.


Dunia ini hanya sebuah tempat sementara yang tidak abadi, nanti ada masa di mana kita tidak akan diuji lagi atau tempat dimana segala kenikmatan. Itulah surga yang di rindukan oleh orang beriman dan bertakwa.


__ADS_2