
“Papa kenapa?”
Farah melihat sang Papa terduduk lemas dilantai sambil
memegang bagian dadanya. Dia segera membantu sang Papa untuk bangkit. Kebetulan
kondisi rumah sedang sepi karena Arka sudah pergi bekerja dan Bibi yang
membantu Farah membereskan rumah sedang cuti.
“Ja-jangan banyak gerak.” Ucap Papa Arfan terbata-bata.
Kondisi kandungan Farah tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Dia sudah dua kali
mengalami kondisi terlemah sampai harus di rawat di rumah sakit.
“Jangan pikirin Farah Pa, yang penting kondisi Papa saat ini.”
Farah sudah telihat pucat karena terlalu risau dengan
kondisi sang Papa, jika dia bisa memilih dia tidak mau melihat kondisi terburuk
Papanya saat ini.
“Pa-pa baik.” Perkataan yang jelas besar kebohongan di
dalamnya. Farah mencoba menghubungi sang suami tetapi tidak ada jawaban sama
sekali.
Dia mencoba menghubungi Om Irfan, dalam hati dia selalu
berdoa agar ada jawaban.
“Assalamu’alaikum Om.”
“Wa’alaikumsalam, kenapa nak?”
“Pa-papa ngedrop Om-“
“Om langsung ke sana.”
Tit tit tit.
Sambungan panggilan terputus sebelah pihak.
“Apa yang sakit Pa?” tanya Farah sambil mengusap bagian dada
__ADS_1
Papanya.
Papa Arfan tidak menjawab, dia hanya memberikan senyum yang
malah membuat Farah bertambah sakit.
Di sisi lain Irfan yang mendengar kabar dari keponakannya
manjadi tidak bisa mengendalikan diri. Dia tidak tahu bahwa apa yang di
prediksi dokter akan terjadi saat ini. Meskipun sudah melakukan banyak
pengobatan dan meminum berbagai macam obat itu tidak menjamin kesembuhan dan
perbaikan organ hati yang sudah rusak.
Irfan menerobos masuk menuju kamar saudara kembarnya yang
sudah terdapat sosok yang membuat dirinya kacau. Arfan terlihat tengah
berbaring dengan ditemani anaknya.
“Ayo kerumah sakit,” ucap Irfan sambil membantu Arfan untuk
bangun.
“Farah pakai jilbab dulu sana, Om tunggu di mobil.” Intruksi
Irfan langsung di laksanakan oleh Farah.
Farah segera memakai gamis secara buru-buru, tidak lupa kaus
kaki yang menutupi kakinya.
“Papa kenapa Om?” Farah melihat sang Papa sudah tidak
sadarkan diri. Bulir-bulir keringat mulai membasahi dahi Farah. Mulutnya tidak
henti melafazakan zikir kepada Allah.
“Tenang aja Ya, Farah juga nggak boleh terlalu panik karena
nggak baik buat kandungan.” Irfan segera
melajukan mobilnya dengan kecepatan di atasa rata-rata.
…
__ADS_1
“Adek.” Arka datang bersama Andi dengan nafas
terengah-engah. Mendapat kabar Papa mertua dan istrinya di rumah sakit membuat
dirinya kacau. Dia memang salah tidak membawa telepon saat menuju ke masjid
dekat tokonya.
“Pa-papa Mas,” lirih Farah sedu. Arka tidak tahu harus
bagaimana, sang itsri memang tidak menangis tetapi melihat kondisi sang istri
saat ini membuat ribuan paku menancap pada hatinya.
“Insya Allah Papa baik-baik aja,” ucap Arka menenangkan sang
istri. Menunggu pemeriksaan adalah situasi yang buruk karena tidak adanya
kepastian.
Raut wajah khawatir tercetak jelas pada wajah Irfan, Andi,
Arka dan yang pastinya Farah. Mereka masih diam satu sama lain menyelami
pikiran yang mulai tidak tentu arah.
“Udah makan dek?” tanya Arka sambil mengelus pucuk kepala
istri.
“Dek,” panggil Arka karena tidak kunjung mendapat jawaban
dari sang istri.
“Iya Mas,” jawab Farah lesu. Bahkan suara nya tidak
terdengar lagi.
“Jangan banyak pikiran dek, Mas mohon.” Permintaan Arka
bukan semata-mata hal yang biasa. Dia tidak ingin kacaunya pikiran membuat
janin dalam kandungan sang istri terganggu.
“Adek baik mas, jangan khawatir,” lirih Farah sambil
memaksakan diri untuk tersenyum.
__ADS_1