Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 36


__ADS_3

“Papa kenapa?”


Farah melihat sang Papa terduduk lemas dilantai sambil


memegang bagian dadanya. Dia segera membantu sang Papa untuk bangkit. Kebetulan


kondisi rumah sedang sepi karena Arka sudah pergi bekerja dan Bibi yang


membantu Farah membereskan rumah sedang cuti.


“Ja-jangan banyak gerak.” Ucap Papa Arfan terbata-bata.


Kondisi kandungan Farah tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Dia sudah dua kali


mengalami kondisi terlemah sampai harus di rawat di rumah sakit.


“Jangan pikirin Farah Pa, yang penting kondisi Papa saat ini.”


Farah sudah telihat pucat karena terlalu risau dengan


kondisi sang Papa, jika dia bisa memilih dia tidak mau melihat kondisi terburuk


Papanya saat ini.


“Pa-pa baik.” Perkataan yang jelas besar kebohongan di


dalamnya. Farah mencoba menghubungi sang suami tetapi tidak ada jawaban sama


sekali.


Dia mencoba menghubungi Om Irfan, dalam hati dia selalu


berdoa agar ada jawaban.


“Assalamu’alaikum Om.”


“Wa’alaikumsalam, kenapa nak?”


“Pa-papa ngedrop Om-“


“Om langsung ke sana.”


Tit tit tit.


Sambungan panggilan terputus sebelah pihak.


“Apa yang sakit Pa?” tanya Farah sambil mengusap bagian dada

__ADS_1


Papanya.


Papa Arfan tidak menjawab, dia hanya memberikan senyum yang


malah membuat Farah bertambah sakit.


Di sisi lain Irfan yang mendengar kabar dari keponakannya


manjadi tidak bisa mengendalikan diri. Dia tidak tahu bahwa apa yang di


prediksi dokter akan terjadi saat ini. Meskipun sudah melakukan banyak


pengobatan dan meminum berbagai macam obat itu tidak menjamin kesembuhan dan


perbaikan organ hati yang sudah rusak.


Irfan menerobos masuk menuju kamar saudara kembarnya yang


sudah terdapat sosok yang membuat dirinya kacau. Arfan terlihat tengah


berbaring dengan ditemani anaknya.


“Ayo kerumah sakit,” ucap Irfan sambil membantu Arfan untuk


bangun.


“Farah pakai jilbab dulu sana, Om tunggu di mobil.” Intruksi


Irfan langsung di laksanakan oleh Farah.


Farah segera memakai gamis secara buru-buru, tidak lupa kaus


kaki yang menutupi kakinya.


“Papa kenapa Om?” Farah melihat sang Papa sudah tidak


sadarkan diri. Bulir-bulir keringat mulai membasahi dahi Farah. Mulutnya tidak


henti melafazakan zikir kepada Allah.


“Tenang aja Ya, Farah juga nggak boleh terlalu panik karena


nggak baik buat kandungan.”  Irfan segera


melajukan mobilnya dengan kecepatan di atasa rata-rata.


__ADS_1


“Adek.” Arka datang bersama Andi dengan nafas


terengah-engah. Mendapat kabar Papa mertua dan istrinya di rumah sakit membuat


dirinya kacau. Dia memang salah tidak membawa telepon saat menuju ke masjid


dekat tokonya.


“Pa-papa Mas,” lirih Farah sedu. Arka tidak tahu harus


bagaimana, sang itsri memang tidak menangis tetapi melihat kondisi sang istri


saat ini membuat ribuan paku menancap pada hatinya.


“Insya Allah Papa baik-baik aja,” ucap Arka menenangkan sang


istri. Menunggu pemeriksaan adalah situasi yang buruk karena tidak adanya


kepastian.


Raut wajah khawatir tercetak jelas pada wajah Irfan, Andi,


Arka dan yang pastinya Farah. Mereka masih diam satu sama lain menyelami


pikiran yang mulai tidak tentu arah.


“Udah makan dek?” tanya Arka sambil mengelus pucuk kepala


istri.


“Dek,” panggil Arka karena tidak kunjung mendapat jawaban


dari sang istri.


“Iya Mas,” jawab Farah lesu. Bahkan suara nya tidak


terdengar lagi.


“Jangan banyak pikiran dek, Mas mohon.” Permintaan Arka


bukan semata-mata hal yang biasa. Dia tidak ingin kacaunya pikiran membuat


janin dalam kandungan sang istri terganggu.


“Adek baik mas, jangan khawatir,” lirih Farah sambil


memaksakan diri untuk tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2