
Farah mengerucutkan bibir karena kesal melihat sang suami begitu sibuk menyusun barang di toko harian mereka. Sudah hampir 30 menit Farah tidak dihiraukan sama sekali.
"Mas," panggil Farah centil. Arka menghentikan sejenak aktifitasnya. Dia melihat ke arah sang istri dan bertanya kenapa.
Farah tidak kunjung menjawab sehingga Arka kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Mas, nangis ni."
Arka menahan tawanya, menangis apanya? Jelas saja Farah masih sibuk mengemil jajanan di samping dirinya
"Mas kan udah bilang nggak usah ikut," ucap Arka sambil membenarkan hijab sang istri yang sudah tidak rapi lagi.
"Kan masih kangen, Mas sih baru pulang kemaren langsung kerja gini," protes Farah.
"Sayangnya Mas... coba dengarin dulu ya." Arka menghela nafasnya dulu. Dia kembali melanjutkan ucapannya. Tatapannya masih sama dengan biasanya yaitu tatapan lembut yang menenangkan. "Selagi masih sehat kenapa harus berdiam diri, makanya mas kerja."
Farah mengangguk saja, dia memang sedikit sensitif. Bukan sedikit lagi tetapi sangat banyak. Dia bisa berubah-rubah dalam waktu yang cukup singkat. Kadang dia manja luar biasa kepada Arka, bahkan Farah tidak melepaskan pandangannya dari arah sang suami.
Kadang Farah juga sangat tidak peduli dengan sekitarnya. Hal ini bisa terjadi ketika dia memasak kue atau melihat tutorial membuat kue di youtube atau media sosial.
"Cari karyawan baru aja gimana Mas?" usul Farah secara tiba-tiba. Dia sangat prihatin dengan kesibukan sang suami. Dari menyusun stok baranf, menghitung stok barang serta menghitung pemasukan dan pengeluaran. Dan Jangan lupakan aktiviras membersihkan toko yang mungkin akan kotor setiap hari.
"Maunya juga gitu, tapi tunggu beberapa hari ini dulu."
"Kok gitu Mas?" tanya Farah penasaran.
"Mas sebenarnya masih trauma sama karyawan yang lama," ucap Arka jujur.
Farah menatap sang suami lebih intens. Tangannya bergerak menuju wajah Arka. Dia tersenyum, "Nggak semua orang jahat Mas, salah besar kalau kita nilai orang sama semua."
"Semoga Allah kirimkan kita orang baik ya Yank," ucap Arka penuh harap. Farah mengaminkan doa sang suami.
Arka kembali melanjutkan aktivitas menyusun barang yang ada, begitupun dengan Farah yang ikut membantu. Beberapa kali Arka melihat sang istri karena khawatir bila ada hal yang tidak diinginkan. Awalnya Arka tidak setuju sang istri membantu tetapi Farah memberikan argument yang tidak bisa di bantah Arka.
"Harus banyak gerak Mas biar lahirannya lancar."
Arka bisa apa jika sudah begitu.
"Yang makan buah dulu ya, pagi tadi kan nggak ada makan nasi."
Farah menggelengkan kepalanya, dia sama sekali tidak ingin makanan berat masuk ke dalam perutnya. Apalagi buah, dia seperti anti dengan itu.
"Makan snack aja gimana Mas?" tawar Farah. Arka menggeleng keras. Apa apaan makan snack, jelas saja itu tidak sehat.
Ada beberapa orang datang membeli, Farah langsung berjalan ke arah meja kasir. Dia memang sudah terbiasa di meja tersebut untuk membantu sang suami.
"Selamat datang Bu, ini saja ada tambahan lain," ucap Farah ramah.
"Ini saja, lagi hamil ya mbak?" tanya ibu-ibu paruh baya tersebut. Farah mengangguk sambil tersenyum. Dia mulai mengambil satu-satu barang untuk melakukan scan code. Tampilan harga muncul ketika scan code itu selesai.
__ADS_1
"Udah lama kerja di sini mbak?"
"Eh... nggak kerja kok Bu, Cuma bantu aja," jawab Farah.
"Suaminya mana mbak? kok bisa bantu di toko Mas Arka."
Farah bingung sendiri, suami dia kan Arka kenapa harus menanyai ke mana sang suami.
"Su-." Belum selesai berbicara Ibu paruh baya tersebut sudah memotong ucapan Farah, "Saya mau jodohin Mas Arka sama anak saya mbak, menurut mbak gimana?"
Raut wajah Farah yang mulanya tersenyum mendadak berubah. Enak saja sang suami dijodohkan dengan perempuan lain yaitu anak ibu itu sendiri. Big no pikir Farah.
"Emang anak ibu lulusan apa?" tanya Farah sedikit nyolot. Ingatkan Farah bahwa lawan bicaranya saat ini adalah seorang ibu-ibu.
"Aci bentar lagi lulus dari UII kan bu?" sambung satu ibu-ibu lagi.
UII!!! Wow itu adalah kampus impian Farah sejak sekolah menengah atas. UII kepanjangan dari Universitas Internasional Indonesia yang berada di ibukota Negara.
"Eh Ibu Anin, Ibu Hana. Udah lama nggak ketemu!" sapa Arka ramah. Dia berdiri di sisi samping Farah sambil membantu sang istri meletakkan barang belanjaan ke dalam plasik.
"Mas Arka toh yang nggak buka toko, padahal saya suka kali belanja di sini," ujar Ibu Anin senang.
Farah memutas bola matanya malas, dia sudah terlanjur kesal. Bukan kepada ibu-ibu yang berada di depannya, tetapi kepada dirinya sendiri. Bagaimana pula bisa dia di bandingkan dengan sosok anak Ibu Anin yang lulusan UII sedangkan dia hanya lulusan SMA. Bayangkan hanya SMA. Siapa yang tidak minder? Hayo siapa yang tidak minder!!! maka Farah akan sedikit lebih pede, namun pasti tidak ada.
"Saya ke Singapura satu minggu kemaren," jelas Arka. Ibu Anin dan Ibu Hana malah heboh meminta oleh-oleh. Arka tertawa canggung, dia bukannya pelit tetapi memang tidak sempat mebeli oleh-oleh. Jangan untuk orang lain, untuk istrinya sendiri saja tidak ada. "Saya nggak jalan-jalan Bu, teman saya sakit. Doain teman saya namanya Ray semoga dia cepat sembuh ya Bu."
"Mas udah selesai kuliah ya? Kok sering stay di sini?" tanya Bu Hana kepo.
Ibu Hana dan Ibu Anin memang berlangganan dengan toko keluarga Arka. Dulu toko tersebut dikelola oleh Ayah Arka sehingga mereka kenal dengan keluarga Arka.
"Belum Bu, Lagi nyusun skripsi," balas Arka.
"Totalnya 187.800 ya bu," ucap Farah sambil mengotak atik keyboard yang ada di depannya.
Ibu Anin memberikan uang pecahan seratus ribu sebanyak 2 lembar.
"Uang Ibu dua ratus ribu ya, total belanjaan ibu seratus delapan puluh tujuh ribu delapan ratus rupiah."
Farah mengambil kembalian di laci tempat penyimpangan uang. Dia merobek kertas .
"Kembaliannya dua belas ribu dua ratus rupiah, terima kasih Bu," ucap Farah sambil memberikan kertas struk belanjaan dan uang kembalian.
Ibu Hana langsung meletakkan belanjaannya di atas meja kasir. Sebenarnya belanjaan Ibu Hana tidak jauh berbeda dengan Ibu Anin.
"Anak Ibu yang sering Ibu ceritain itu bentar lagi lulus Mas," pancing Ibu Anin.
Farah mendengar itu jadi kesal sendiri. Dia melakukan scan code barang dengan tidak baik sehingga Arka sedikit menegur.
"Jangan gitu," lirih Arka pelan. Farah bukannya tenang tetapi malah tambah kesal. Apa-apaan suaminya ini pikirnya.
__ADS_1
"waah bagus dong Bu, semoga cepat lulus ya," balas Arka ramah. Siapa yang tidak jatuh hati bahkan ibu-ibu pencari menantu idamanpun jatuh hati pada Arka.
"Aamiin, terima Kasih ya Mas. Nggak ada niat mau nikah Mas?"
Arka terdiam, dia sedikit tersadar bahwa ada yang tidak beres dengan kondisinya saat ini.
"Maksudnya apa ya Bu?" tanya Arka. Ibu Hana malah tertawa, "Ibu Anin mau jadiin Mas Arka menantunya lo. Mau nggak Mas?"
Farah sudah sangat kesal, apalagi tingkat sensitifnya naik secara drastis.
"Saya permisi ke atas dulu ya bu," lirih Farah pelan. Bahkan dia tidak berani menatap mata sang suami. Dia berjalan dengan menunduk sambil mengusap perutnya yang sudah mulai besar.
"Yank," panggil Arka cepat. Dia ingin mengejar takut bila sang istri mengalami sakit perut atau bahkan tidak fokus untuk naik tangga.
Ibu Anin dan Ibu Hana membulatkan bola matanya. Mereka terdiam ketika Arka memanggil sang istri dengan sebutan "Yank".
"I-itu.. kok panggil nya gitu Mas?" tanya bingung Ibu Anin. Arka selesai menghitung belanjaan Ibu Hana, dia ingin segera menyusul sang istri. "Eh, Saya memang manggil gitu sama istri saya Bu. Maaf ya Bu kalau terkesan alay gitu."
"Mas udah nikah?"
"Alhamdulillah udah, itu istri saya udah hamil jalan 4 bulan Bu. Doain istri dan anak-anak saya baik-baik aja ya Bu."
Ibu Hana dan Ibu Anin terdiam, mereka bingung harus menjawab apa. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa Arka sudah menikah. Tidak mungkin rasanya Arka menikah tidak mengundang mereka yang kebetulan sudah kenal dengan keluarga Arka.
"Totalnya, 146.000 Bu."
Ibu Hana memberikan uang pas. Ibu Hana dan Ibu Anin segera pergi setelah mengucapkan beberapa kata, "Mas sampaikan maaf kami buat istri Mas ya. Kami sama sekali nggak tahu kalau mas udah nikah.Di bujuk baik-baik ya Mas, apalagi kalau hamil gitu."
Arka mengangguk saja. Dia mulai mengerti apa yang sedang terjadi. Jika sudah ngambek begini, Arka harus mengeluarkan kesabaran ekstra. Farah terkadang suka berbuat aneh-aneh atau meminta yang aneh-aneh.
"Kirain marah, lah ternyata lagi nonton youtube," ujar Arka ketika melihat sang istri duduk di sofa santai empuk sambil melihat layar leptop.
Farah hanya diam.
"Yank," panggil Arka. Farah tetap tidak bergeming.
Arka gemas sendiri, dia langsung menurunkan layar leptop yang di tonton sang istri. Tidak menurunkan sampai full, hanya setengahnya saja. Hal itu membuat Farah menjadi lebih marah.
"Kenapa si Mas, orang lagi nangis masih aja di ganggu. Biarin istrinya tenang dulu kenapa si? Ini liat udah hamil juga masih ditanyain, suaminya mana? jelas suaminya di depan mata masih aja di tanyain..." racau Farah dengan kecepatan ekstra.
Farah mengambil nafas, "Enggak tahu apa itu suami orang masih aja dijodohin, mentang-mentang lulusan UII jadi bebas gitu kan. Iya tahu kok kalau Farah lulusan SMA doang. Siapa yang mau coba?" sambung Farah lagi.
Jujur saja Arka khawatir, dia langsung memeluk erat sang istri sambil mengusap bagian belakang tubuhnya untuk memberikan ketenangan. Arka sadar, ternyata apa yang terjadi tadi sangat membekas pada diri sang istri.
"Kenapa si Mas mereka nggak ngertiin perasaan Farah?"
Arka hanya diam, biarkan saja sang istri mengeluarkan segala keluh kesah dan unek-uneknya.
Bersambung..
__ADS_1