Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 26


__ADS_3

Farah menyiapkan sarapan untuk Papa dan sang suami. Papa


Arfan sudah melarang sang anak untuk melakukan aktifitas berat, tetapi keras


kepala Farah tidak bisa dikalahkan.  Arka


keluar dari kamar dengan wajah lebih baik dari sebelumnya.


“Masa apa dek?” tanya Arka. Dia mendekat kea rah Farah untuk


memberikan ciuman selamat pagi yang biasa dilakukan.


Cup


Arka mencurinya secara diam-diam.


“Nasi goreng, Mas kebiasaan langsung cium-cium aja. Kalau di


lihat Papa kan malu” balas Farah.


“Papa masih di kamar kok dek. Anak Abi gimana, anteng ya


My?”


Arka mensejajarkan kepalanya pada perut Farah. Sesekali


mengecup dengan rasa sayang yang luar biasa.


“Anteng ko Bi, Masih belum minta aneh-aneh.”


Arka mengambil kotak susu ibu hamil dan membuatkannya untuk sang


istri.


“Minum susu dulu ya dek,” Arka menyodorkan gelas yang sudah


berisi susu. Sebelum hamil, Farah sangat tidak menyukai susu tetapi setelah


hamil dia tidak merasa mual saat menghirup aroma susu ataupun meminumnya.


“Makasih Abii,” lirih Farah. Dia memberikan sedikit kecupan


sebagai tanda terima kasih atas perhatian yang diberikan sang suami.


“Mulai ya My, serangnya mendadak gini,” balas Arka.


Jantungnya sudah berdebar cukup hebat.


“Eis Mas mau ngapain?” Farah mendadak salting karena sang


suami terus saja mendekat.


“Mau balas dong, sini cium satu dulu.” Arka berhasil memeluk


tubuh ramping sang istri. Dia memberikan kecupan-kecupan pada semua bagian


wajah Farah dengan jail.


“Ehem, Masak apa nak?” Papa Arfan datang tanpa rasa

__ADS_1


bersalah. Farah segera melepas pelukan sang suami dengan wajah yang masih


memerah hebat. Dia sangat malu.


“Nasi goring Pa.” Bukan Farah yang menjawab tetapi Arka.


“Wahh, enak ni kayaknya. Masaknya pakai cinta gitu ya?” goda


Papa Arfan. Farah bersembunyi pada tubuh Arka karena malu.


“Udah lo dek, Papa aja biasa. Ayuk makan.” Arka membawa sang


istri untuk segera duduk dan memulai acara makan mereka. Farah masih menunduk


malu dan tidak berani melihat Papanya sendiri.


“Anak Papa kenapa nunduk dari tadi?”


“Ma-malu sama Papa,” jawab Farah jujur. Papa Arfan dan juga


Arka langsung tertawa.


“Ya Allah nak, udah ah jangan malu-malu gitu sama Papa.”


Setelah makan, Arka memberikan potongan buah kepada sang


istri.


“selama Mas nggak di rumah jangan makan cokelat ya,”


wanti-wanti Arka.


nggak ada cokelat satupun.” Farah mengerucutkan bibirnya.


“Bisa jadi adek hubungi Andi kan minta beliin, Mas ngelarang


karena sayang sama adek dan calon anak kita.”


Farah mengangguk paham. Dia akan mencoba Manahan untuk tidak


mengkonsumi cokelat.


Sebelum berangkat ke toko, Arka selalu menyempatkan untuk


mengajak janin di dalam perut sang istri berbicara. Banyak petuah-petuah yang


dia berikan agar sang janin tidak usil.


“Mas pamit dulu ya, Hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa


langsung telepon.”


“Iya Abi, Abi juga hati-hati. Semangat kerjanya,


banyak-banyak cari duit ya.”


“Iya sayang, Anak Abi juga kalem ya selama Abi nggak ada di


rumah.” Arka mencium kening dan perut sang istri.

__ADS_1


Farah membantu asisten rumah tangga untuk membersihkan sisa


makan mereka. Dia tidak terbiasa duduk berdiam diri saja tanpa melakukan


apapun. Sudah hampir 3 minggu dia libur kursus karena kondisi belum terlalu


stabil.


“Buahnya dihabisin dong nak.” Papa Arfan sedang berada di


rumah keluarga dengan ditemani kopi dan tablet.


“Iya Pa, tadi ngantar Mas Arka dulu ke depan. Papa nggak ke


resto ya?”


“Bentar lagi, ngabisin kopi dulu.” Arfan sangat senang


menikmati secangkir kopi yang tiap pagi dibuatkan sang anak.


“Adek boleh ikut Papa nggak? Bosan di rumah.” Pinta Farah.


Arfan menimbang-nimbang permintaan anaknya terlebih dahulu,


dia takut sang anak akan kelelahan saat mengikutinya ke resto.


“Boleh, tapi janji ya nurut sama Papa.” Fara mengangguk


antusias. Dia ingin belajar membuat kue pada salah satu chef yang berada


disana.


“Nggak boleh ke dapur resto, Cuma boleh duduk.” Kilat


pancaran kegembiraan sirna begitu saja. Farah menampikan wajah cemberutnya. Dia


menahan-nahan air mata agar tidak keluar.


“Adek kan mau buat kue Pa hiks. Di rumah nggak boleh, ikut


kursus juga gak boleh, ini tambah lagi di resto juga gak boleh. Huaaa Papa


nggak sayang Adek.” Papa Arfan panic melihat putrinya menangis seperti anak


berusia 5 tahun yang tidak dibelikan permen kesukaannya.


“Eh sayang Papa kok nangis, Udah ya.” Arfan membawa Farah ke


dalam dekapannya.


“Berhenti nangis kalau Papa bolehin buat kue, huaaa.”


“Iya iya Papa bolehin, tapi Cuma satu jenis kue aja Ya.”


Farah mengangguk, perlahan tangisannya meredah.


Farah bersiap-siap untuk ikut bersama Papa Arfan, dia


tersenyum senang akhirnya bisa memegang adonan kue lagi.

__ADS_1


__ADS_2