
Arka menatap sedih sang istri. Memang tidak ada air mata yang keluar pada
mata sang istri, hanya saja raut wajah yang memperlihatkan bahwa dia tidak
apa-apa lebih terlihat menyedihkan lebih dari apapun.
“Nangis aja, jangan ditahan.” Lirih Arka.
“Adek lupa bang caranya nangis semenjak Papa suruh Janji jangan
nangis gara penyakitnya.”
Ungkapan lupa begitu mengandung arti yang lebih dalam dari
apapun. Farah ingin menangis, tetapi di satu sisi dia sudah berjanji dengan
Papanya. Ada yang bilang bahwa menangis bisa sedikit mengurangi rasa dan itu
memang di akui oleh Farah, namun rasanya memendam rasa sakit malah membuat dia
tidak mampu berbuat apa-apa kecuali menatap kosong dan menganggap semuanya
hanya mimpi.
“Adek janji di depan Papa, sekarang Mas pinta jangan di
tahan karena itu lebih menyakitkan.” Pinta Arka.
Farah menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Arka. Dia
menangis dalam diam, tidak ada suara namun air mata mengalir dengan deras.
Om Irfan dan Andi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka terhanyut
oleh pikiran masing-masing.
Dokter yang menangani Papa Arfan keluar, dia menjelaskan
kondisi Papa Arfan tidak dalam kondisi baik. Sakit sirosis hati yang di derita semakin parah.
Farah memandang sedih wajah sang ayah yang tengah berbaring
lemah. Begitu banyak alat yang melekat di tubuh sang ayah.
“Jangan nangis nak,” ucap Om Irfan yang juga merasa
terpukul.
“Papa kapan sadar Om? udah 2 jam.” Keluh Farah.
__ADS_1
“Sabar ya sayang, Papa Arfan masih dalam pengaruh obat.” Balas
Om Irfan.
Arka datang bersama Andi dengan bungkusan yang ada di tangan
mereka.
“Sayang makan dulu yuk, kasihan dedek belum di kasih asupan.”
Arka tahu bahwa sang istri belum makan sejak pagi.
“Papa belum sadar Mas,” ucap Farah tanpa melepaskan
pandangannya pada sang Ayah.
“Sini dengarin Mas dulu,” Arka menarik tangan sang istri
untuk membawanya pada sofa yang ada di ruang rawat tersebut.
“Kalau Papa tahu Adek belum makan pasti Papa bakalan Marah,
makan dikit aja ya Dek,” bujuk Arka dengan wajah yang di imut-imutkannya.
“Jijik ih Ka, sejak kapan lo sok ganteng gitu,” celetuk Andi
sambil memasang wajah tidak sukanya.
“Abang iri ya? Hehe Om suruh Bang Andi nikah sana,” ucap Farah tertawa pelan.
“Nggak ada yang mau sama Abang Andi nak, Om aja kasihan
lihatnya.” Ejek Om Irfan kepada anaknya sendiri.
Andi merasa lega, setidaknya Farah bisa tertawa lagi.
“Nanti Andi nikah pada nggak rela lagi.”
“Alah lo nikah mau sama siapa coba? betul tu kata Om Irfan
nggak ada yang mau sama Lo.” Arka ikut memanas-manasi sang sahabat.
“Asal lo tahu, yang mau sama gue banyak. Cuma gue milih-milihlah,” bela Andi.
“Percaya kok, Bang Andi kan ganteng pasti banyak yang mau.” Tanpa
sadar Farah memuji Andi di depan Arka. Arka yang mendengarnya merasa tidak suka
walaupun yang di puji itu adalah saudara sang istri sendiri.
__ADS_1
“Sayang ih, Nggak boleh muji laki-laki lain di depan suami.”
“Kalau di belakang Mas berarti boleh ya?”
“Eh nggak boleh juga lah, awas aja kalau berani.”
“Iya Mas, Mas Arka yang paling ganteng,” puji Farah.
Arka senyum-senyum sendiri mendengar pujian sang istri,
apalagi pujian tersebut dilontarkan di
depan orang lain.
“Udah ah, Sekarang Adek harus makan. Sini Mas suapin.” Arka
membuka bubur yang baru dibelinya.
“Kok bubur si Mas, Adek kan nggak sakit.” Farah tidak ingin
makan makanan yang dianggapnya untuk orang sakit tersebut.
“Siapa yang bilang bubur makanan orang sakit?” tanya Arka.
Farah tidak bisa menjawab sama sekali.
“Buburnya enak Dek, sini coba dulu ya.” Arka memberikan
suapan kepada Farah.
Farah tidak mau membuka mulutnya, dia mengalihkan pandangan kea
rah lain.
“Adek.. Nggak boleh nolak makanan kalau udah ada di depan
kita. Mas nggak suka adek kayak gini.”
“Ya Adek nggak mau bubur Mas, Mas ngerti dong.”
“Adek makan dulu, kalau nggak enak baru nggak suka makan.”
Arka mencoba sabar menghadapi tingkah sang istri.
“Bentuknnya aja gitu Mas, Adek nggak mau jangan dipaksa
dong.”
Arka meletakkan bubur tersebut di atas meja, dia bergegas
__ADS_1
keluar sebelum emosinya keluar menyambar-nyambar. Farah yang melihat sang suami
keluar hanya bisa menunduk.