Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 13


__ADS_3

"Gimana udah enakan perutnya dek?" tanya Arka sambil mengusap


perut sang istri.  Dulu ketika awal pernikahan mungkin mereka sama-sama


canggung, tetapi sekarang tidak lagi. Farah yang masih memiliki jiwa mudah


terkadang berpakaian ala artis korea di dalam kamar,  apalagi dengan


rambut yang sudah berganti warna menjadi merah.


Arka awalnya tidak setuju dengan


tingkah aneh yang istri yang ingin mengganti warna merah, tetapi karena cat


awal pada rambut sang istri tidak bagus makanya Arka mengizinkannya.


Kadang Bunda Ririn merasa aneh


dengan anak dan mantunya.  Bahkan Arka juga ikut ikutan mewarnai dengan


warna merah. Bunda Ririn memaklumi semua tindakan selama tidak menentang


syariat islam,  Arka sudah meyakinkan Bunda dan Ayahnya bahwa cat rambut


yang dia gunakan halal dan tidak mengandung zat berbahaya serta tidak berwarna


hitam.


Dulu ketika memutuskan untuk


mencat rambut,  Bunda Ririn sudah menegaskan bahwa tidak boleh merubahnya


dengan warna hitam dan Arka menyanggupi itu.  Dia membiarkan warnanya


hilang sendiri  atau saat rambutnya sudah mulai panjang dia akan


memotongnya.


Rasulullah SAW bersabda


غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا


السَّوَادَ


“Ubahlah uban ini dengan


sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” (HR. Muslim). Dari hadist tersebut


sudah sangat jelas bahwa Rasulullah SAW membolehkan mewarnai rambut asalkan


tidak warna hitam. Kemudian ulama besar Syafi’iyah menjelaskan bahwa warna yang


dianjurkan untuk mewarnai uban yaitu hamroh (merah), shofroh (kuning) dan haram


menggunakan warna hitam.


Akan tetapi ada juga yang


mengatakan makruh tanzih. Akan tetapi sebaiknya kita menghindari menggunakan


warna hitam karena Rasulullah SAW lah yang berkata bahwa hindari lah warna


hitam. Perlu diketahui bahwa terdapat ancaman untuk orang yang mewarnai rambut


ataupun uban dengan warna hitam. Ancaman tersebut berbunyi seperti berikut ini.


يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي

__ADS_1


آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ


الْجَنَّةِ


“Pada akhir zaman nanti akan


muncul suatu kaum yang bersemir dengan warna hitam seperti tembolok


merpati. Mereka itu tidak akan mencium bau surga.” (HR. Abu


Daud, An Nasa’i, Ibnu Hibban dalam shahihnya, dan Al Hakim).


"Udah enakan Mas,  Udah


jam berapa Mas?" tanya Farah penasaran.  Dia merasa sudah terlalu


lama tertidur.


"Jam 1 malam dek"Jelas


Arka. Dia mengusap pucuk kepala sang istri.


"Mas Adek Ma-"


Celana Arka terkena cairan yang


keluar dari mulut Farah.  Dia mengetahui bahwa itu muntahan.  Arka


sebenarnya jijik,  tetapi dia tidak mau membuat sang istri sedih dengan


rasa bersalahnya.


"Ya Allah mas Maaf


hiks,  Maaf mas" Farah sudah menangis meraung-raung seperti abis


dimarahi padahal Arka sama sekali tidak marah.  Arka bahkan membersihkan


"Udah gak apa-apa dek,


udah malam jangan nangis ya" bujuk Arka lembut.  Dia tidak mungkin


membentak atau bahkan memarahi sang istri yang masih terlihat lemas.


"Maafin Adek Mas


huaaaaa,  Adek gak tau diri gini.  Jangan dekat-dekat Mas,


memang benar kata orang adek pembawa sial" ucap Farah.


Arka terdiam mendengar penuturan


sang istri. Dia tidak suka dengan kata-kata yang diucapkan oleh Farah.


"Adek jangan gini, Mas gak


apa-apa.  Udah ya jangan ngomong ngawur gitu,  Mas gak suka"


"A-adek Merasa malu Mas,


huaaaa maafin adek" berulang kali Arka menahan emosinya untuk tidak


meledak.  Bagaimana pun sisa penatnya bekerja tadi siang belum


hilang,  ditambah dengan tingkah sang istri yang mendadak aneh efek karena


sakit.

__ADS_1


"Hei Sayang udah ya"


Arka meninggalkan sang istri


untuk membersihkan diri ke kamar mandi.  Dia tidak mungkin memeluk sang


istri dengan muntahan yang masih menempel pada dirinya.


Sejenak Arka menulikan telinganya


terhadap tangis sang istri,  dia buru-buru menganti baju sebelum penghuni


rumah terbangun akibat ulah Farah.


"Udah ya Sayang,  Ayo


tidur lagi" pinta Arka setelah selesai mengganti baju.


"Mas hiks Marah kan sama


Adek. Huaaaa. Mas ninggalin adek tadi"


Pukulan-pukulan kecil mendarat


pada dada bidang Arka.


"Huss,  Mas cuma ganti


baju Sayang.  Udah ya,  Mas gak marah.  Ayo sekarang tidur"


Arka kembali membujuk sang istri.


Berulang kali dia memijat


kepalanya yang terasa mau pecah.  Setelah beberapa menit menangis, Farah


memejamkan matanya yang terasa berat.


"Jangan buat Mas khawatir


lagi,  Mimpi ya Indah sayang" lirih Arka pelan.  Dia mencium


kening serta bibir sang istri.


Malam yang cukup membuat Arka


kerepotan, dia berulang-ulang kali di uji kesabarannya.  Beginilah seorang


suami,  bagaimanapun tingkah istri jangan sekalipun membentak atau bermain


tangan.  Jika istri salah maka tegurlah dengan cara yang benar,


bukan disaat emosi sedang berada dipuncak tetapi saat keadaan sudah tenang


sehingga mengobrolpun menjadi enak.  Namun apabila Suami cepat sekali


bermain tangan atau membentak,  sikap itu tidak akan pernah terlupakan


oleh istri seumur hidupnya.


Wanita itu ibarat kaca,


ketika kaca tersebut sudah pecah maka sangat sulit menyatukan untuk sempurna


kembali.  Ketika hatinya tersakiti,  dia akan memaafkan tetapi tidak


bisa melupakan.  Maka jadilah suami yang baik, contohlah Rasulullah

__ADS_1


bagaimana menjadi seorang suami.


.


__ADS_2