
Arka mengusap kepala dengan gusar, Pikirannya kalut. Jika saja waktu bisa diputar kembali maka dia tidak akan pernah membiarkan sang istri bertemu dengan DIA.
Dia tidak memperdulikan orang lain saat ini, dia hanya ingin sang istri baik-baik saja.
"Maaf" Arfan merasa bersalah, andai saja dia tidak keras kepala ingin bertemu maka putrinya akan baik-baik saja.
"Kalau kata maaf bisa membuat istri saya sadar maka akan saya maafkan"
Pikiran Arka kacau. Dia sadar siapa orang di depannya tetapi dia tidak mampu untuk bersikap baik.
Arka sudah jatuh cinta, Ya jelas. Kalau bukan karena cinta lantas apa yang dia lakukan selama ini. Dia baru merasakan rasa berbunga-bunga setiap paginya kenapa sekarang ada awan gelap mendatanginya tanpa permisi.
"Ka duduk dulu" suruh Bunda Ririn.
Arka hanya membalas dengan senyum miris. Senyum yang menyimpan ribuan kesedihan.
Suasan hening tidak membuat lebih baik, Arka tau beginilah perasaan sahabatnya Kahfi saat istrinya Fiyah berada di ruang yang sangat dia benci.
Rasanya sakit, berulang-ulang kali Arka mencoba menahan air mata yang hampir tumpah.
Arfan tertunduk lesu, kenapa begitu berat masalah yang Allah berikan padanya?
Apakah taubatnya tidak di terima selama ini? Penyesalan bertahun-tahun yang selalu menghantui apakah itu tidak cukup?
Kenapa saat ujian yang datang menerjang seakan menghimpit dada, padahal bukankah nikmat Allah seluas langit dan bumi. Hari ini memang Allah membuat kita bersedih, Akan tetapi kesedihan itu tidak akan berlangsung lama begitupun dengan tawa yang memiliki batas waktu.
Banyak kisah yang menyadarkan kita bahwa apa yang menimpa kita hari ini bukan hal berat. Setiap masalah yang datang bukan bearti Allah tidak sayang, tetapi Allah sangat menyayangi hambanya tersebut. Ujian datang untuk menghadirkan pahala, dan pahala bersanding dengan surga.
Ada Kisah salah satu sahabat Rasulullah yang bisa menyusuk hati. Mungkin kisahnya tidak seterkenal Khalifah Abu Bakar yang dermawan ataupun Khalifah Utsman yang kaya. Dia bernama Imran Bin Hushain. Dia seorang laki-laki yang bahkan para Malaikat mengucapkan salam kepadanya.
Dia mempraktekkan makna tawakal dengan sebaik-baiknya. Saat Allah memberikan dia ujian berupa sakit busung air selama 30 tahun kehidupannya, dia tidak bisa duduk ataupun berdiri. Ranjang yang di tiduri pada bagian bawahnya dilubangi dan di berika pelepah kurma sebagai tempat untuk membuang hajat.
__ADS_1
Ketika sahabat melihat kondisinya banyak yang menangis, akan tetapi dia tidak bersedih sedikitpun. Suatu ketika datangnya Mutharrif dan saudaranya al-Ala yang langsung menangis takkala melihat kondisi Imran. Imran bertanya "Mengapa Engkau Menangis? ". Mutharrif menjawab "Karena penderitaan yang kamu alami sangat luar biasa". Imran kembali berkata "Jangan menangis, karena sesuatu yang paling disukai (Diinginkan) Allah adalah sesuatu yang paling aku sukai"
Karena kesabaran yang luar biasa, setiap malam Malaikat menyampaikan salam padanya.
Menurut logika tidak mungkin seseorang bisa bersabar dengan sakit yang di derita selama 30 tahun tanpa bisa bergerak, namun iman berkata lain. Jika kamu sabar maka Allah akan mencintaimu dan seluruh makhluk akan mencintai kamu juga.
"Ayo istirahat dulu Ar" ucap Irfan sambil memegang pundak suadara kembarnya itu.
"Sebelum aku tau anakku baik-baik saja aku gak akan pergi. Kenapa Allah jahat sama aku Van? Pa-padahal aku baru ketemu sama dia" seluruh resah dan gelisah keluar begitu saja. Arfan tidak mampu menahannya lagi.
"Anak kamu pasti baik-baik Ar, dia perempuan hebat" Irfan mencoba menguatkan.
"Iya dia pe-perempuan hebat, iya aku yakin anak aku akan baik-baik saja" racau Arfan.
Arka melihatnya, dia sadar. Bukan hanya dia yang sakit di sini. Seharusnya dia mampu membaikkan benang yang kusut, meluruskan hal yang belok dan menyatukan hal yang baik.
"Kamu sadar Ka, bukan hanya kamu yang sakit. Gak ada Ayah yang tidak sayang anaknya sendiri" bisik Ayah Arka.
"Ta-tapi Yah-"
"Apa yang membuat orang bisa tenang, saat dia mampu memaafkan kesalahan orang lain. Farah masih muda, dia masih belum sepenuhnya dapat menguasai diri. Memang sulit untuk bisa melupakan hal mengerikan, tetapi semua akan terbayar dengan kebersamaan yang membahagiankan. Itu yang ingin dilakukan oleh Papa Arfan Ka. Cara hadirnya Farah memang salah, semua itu memang kesalahan Papa Arfan. Tetapi jika dia mau bertaubat kepada Allah apa kita masih mengvonisnya sebagai Ahli neraka? Tidak bisa nak, bisa jadi ketika seorang hamba bertaubat dia lebih mulia dari kita"
Arka terdiam sejenak. Apa yang dikatakan ayahnya masuk begitu saja dalam pikirannya.
"Arka tau Yah, tetapi ketika Arka melihat mata Farah yang menyimpan ribuan kebencian Arka pun tidak bisa menerima DIA Yah"
"Perlahan nak, sampai kapanpun tidak ada yang namanya mantan anak. Memang Farah dalam hal nasab tidak ada karena itu dampak dari kesalahan orang tuanya. Tetapi darah Papa Arfan ada dalam diri istri kamu Ka. Bukan suatu kebetulan Allah menjodohkan kalian, Allah mempertemukan kalian dengan cara yang sulit di terima oleh akal. Namun dari kamulah, Farah bisa bertemu dengan Papa kandungnya kan. Bisa jadi inilah jawaban dari doa Papa Arfan selama ini"
__ADS_1
Ayah Arka menepuk pundak anaknya untuk memberikan kekuatan. Dia tidak tau bahwa salah satu anaknya akan menghadapi masalah yang cukup rumit. Dia tidak menyalahkan takdir, karena Allah akan selalu memberikan apa yang dibutuhkan hamba-Nya.
Dokter yang menangani Farah telah keluar, Arka menjadi orang terdepan menanyai kondisi istrinya.
"Istri bapak mengalami pendarahan, Alhamdulillah tidak berefek pada janinnya. Tetapi dia harus beristirahat di rumah sakit selama kurang lebih seminggu untuk menguatkan kondisi ibu dan janinnya" Jelas dokter yang menangani Farah.
"Ja-janin apaan dok? "
"Jadi bapak belum tau kalau istri bapak hamil? "
Arka menggelengkan kepalanya. Dia merasa bodoh untuk sekedar pencerna maksud dari dokter tersebut.
"Istri bapak hamil, untuk lebih lanjut lagi nanti dokter kandungan akan memeriksanya pak"
"Ta-tapi 2 minggu yang lalu istri saya datang bulan" Arka ingat kapan istrinya menyuruh untuk membeli pembalut.
"Dalam kehamilan muda sangat biasa ada bercak darah Pak, jadi mungkin bercak darah itu di kira sebagai darah haid"
Setelah semuanya jelas, dokter segera meninggalkan mereka. Arka tidak menyangkan bahwa Allah memberikannya buah hati secepat ini. Membayangkan dia mempunyai anak membuat ribuan kupu-kupu terbang didalam perutnya.
Tidak hanya Arka, Bunda Ririn dan Ayah juga sangat bahagia mendengar kabar tersebut. Mata Arka menatap Papa Arfan, dia dapat melihat senyum terukir di sudut bibir Papa Arfan.
Mereka segara memasuki ruang inap. Ruang VIP menjadi pilihan untuk kenyamanan keluarga.
Farah masih belum menyadarkan diri karena bius yang masih berefek. Berulang kali Arka mencium punggung tangan sang istri. Dia tidak sabar menunggu hari dimana mereka berkumpul bersama dengan senyum yang tercetak.
.
.
Jangan lupa baca Al-qur'an every time guys 💕
__ADS_1