Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 14


__ADS_3

Arka tengah bersiap-siap


untuk pergi ke toko yang dikelolanya akhir-akhir ini. Sebelum ke Toko


dia lebih dulu mengantarkan sang istri untuk pergi ke tempat kursus


membuat kue. Masih teringat dibenak Arka bahwa sang istri begitu


antusias dalam membuat kue, bahkan sampai melupakan waktu.


Arka melihat Farah


tengah duduk di depan televise dengan sangat intens. Dia


mengendus-ngendus pada leher sang istri yang memang belum menggunakan


hijab.


"Mas geli" kesal Farah karena terganggu dalam aktivitas menontonnya.


"Kenapa belum siap-siap?


Malah nonton upin-ipin lagi" Arka menggelang pelan melihat tingkah sang


istri yang begitu fokus dalam menonton. Dia pikir kalau mungkin rumah


mereka kemalingan, maka perempuan di depannya ini tidak akan tau sama


sekali.


"Bentar lagi Mas, Lagi seru ni" seru Farah.


Arka mencoba mengalah


untuk menunggu sang istri selesai menonton. Dia memainkan game dari


smartphonenya. Menit demi menit berlalu tetapi sang istri belum juga


selesai menonton. Dia tidak mungkin menunggu lebih lama lagi karena


matahari sudah mulai tinggi.


"Dek udahan lo, Mas belum buka toko ni"


"Bentar lagi, tu tinggal 20 menit lagi selesai"


Wahh Arka terus saja kebingungan dengan tinggah Farah yang sangat aneh. Dia sudah tidak ingin menunggu terlalu lama lagi.


"Ya Udah nonton aja,  Mas mau ke toko dulu" ucap Arka.  Dia mengganti kunci mobil dengan kunci mobil.


Motor sudah dipanaskan,


Arka tinggal mengenakan helm dan segera pergi. Namun belum memakai helm


terdengar teriakan yang cukup nyaring.


"Mas kok ninggalin adek huaaaa.  Jahatt, Mas gak sayang lagi"


Farah menangis histeris.


"Ya Allah,  Arka sabar.  Lo kalau sabar tambah ganteng" lirih pelan Arka menguatkan dirinya sendiri.


"Jahat jahat,  Bundaaaaa Mas Arka jahat hiks huaaaaa"


Arka segera masuk ke


dalam rumah mencari pelaku yang membuat dirinya repot pada pagi ini.


Dia melihat sosok perempuan itu malah makan kue sambil menangis.


"Niat nangis gak sih" sindir Arka melihat tingkah Farah.


"Niat Mas hiks,  tapi laper juga" balas Farah yang masih sesenggukan.


"Hahahaha,  makin hari makin gemes si Adek" ucap Arka sambil menjahilu dang istri dengan mengambil kue di atas piring.


"Gak boleh ambil,  Huaaa sana sana"


Arka kembali tertawa terbahak-bahak.  Jika saja Bunda dan Ayah di rumah maka Arka sudah mendapat ceramah plus jeweran mujarab.

__ADS_1


"Kalem Sayang,  Udah


udah jangan nangis nanti sakit lagi" Arka menghentikan tingkah jailnya.


Dia tidak mau membuat Farah sakit karena menangis.


"Mas sih jahat hiks,  Masa ninggalin istrinya sendiri di rumah" balas Farah.


"Iya iya sayang,  Udah


makan dulu kuenya baru Mas antar ke tempat kursus" Arka mengalah untuk


membiarkan sang istri menghabiskan kue di atas piring.


Farah sibuk melahap kue yang semalam di bawakan oleh Bunda Ririn dari tempat saudara jauh mereka.


"Dek mau kemana? " tanya Arka yang melihat sang istri beranjak pergi.


"Mau ke kamar mandi


bentar bang. Kue nya jangan di ambil,  awas aja hilang satu.  Kuenya


udah Adek hitung lo Mas" balas Farah sebelum menghilang.


"Adek Adek,  segitunya suka sama coklat" lirih Arka pelan.


"Mas" rengek Farah yang membuat Arka terkejut.


"Astagfirullah, lama lama jantungan Mas dek" balas Arka menggelengkan kepala.


"Hehe Maaf Mas" Farah cecengesan menampilkan deretan giginya.


"Kenapa? "


"I-itu Mas" Farah terlihat Ragu untuk mengatakan kepada sang suami.


"Apa sih dek? "


"Beliin pembalut di


minimarket depan dong Mas" cicit pelan Farah.  Wajahnya memerah menahan


malu.  Ini pertama kalinya Farah meminta tolong untuk membeli pembalut.


"Pantes sensi aja belakangan ini,  Untung Mas sabar"


"Iya iya Mas.  Sabar kok sombong, gak boleh lo" ucap Farah.


"Hehe,  Iya mas beliin bentar.  Pembalut nya yang mana? " tanya Arka.


"Yang sayap warna orange Mas" jawab Farah.


"Mas dari dulu kepo lo,  emang kalian makek gak dibawa terbang ya kan pakai sayap hahahaha"


Sebelum ada barang yang melayang kepadanya,  Arka lebih dulu meninggalkan rumah untuk menuju mini market.


Arka memakirkan motornya


sebelum masuk kedalam mini market. Dia mulai mencari letak di mana


pembalut sang biasa dipakai sang istri berada.  Sepanjang jalan, dia


mengambil beberapa barang yang dibutuhkannya seperti kotak susu bubuk


yang selalu diminum sang istri.  Arka masih ingat bagaimana dia memaksa


Farah untuk membiasakan diri minum susu.


Arka melihat tubuh Farah


tidak berisi dan terbilang sangat kurus. Dengan sedikit paksaan,


akhirnya Farah mau minum susu tersebut. Farah sebenarnya tidak begitu


menyukai susu,  mungkin waktu kecil dia tidak diberikan susu bagaimana


pun keluarganya tidak begitu menyukainya.


"Woi bro,  ngapain lo di barang cewek?"

__ADS_1


Kebetulan yang tidak


Arka inginkan sama sekali.  Sebegitu banyak minimarket kenapa harus


bertemu dengan laki-laki yang tidak ingin dia temukan untuk sekarang.


"Assalamu'alaikum dulu,


kebiasaan lo" tegur Arka.  Dia memang belum baik tetapi dia berjanji


pada diri sendiri akan berusaha untuk menjadi baik.


"Wah wah Suami mha sekarang ya beda.  Wa'alaikumsalam"


"Tumben lo ke minimarket sini?" tanya Arka sedikit penasaran.


"Hahaha Biasa,  lagi nyari cewek dekat sini" balas laki-laki tersebut.  Dia adalah Andi.


"Kapan sih lo Insaf? Main cewek mulu,  gak takut apa kena karma?"


"Ntar aja deh,  Lo gak


asik ma sekarang.  Gue ngerasa sendiri apalagi Ray gak ada di sini" Andi


merasa sudah jauh dari temannya.  Dia sebenarnya ingin berubah tetapi


lingkungan tidak mendukungnya.


"Bukan gue gak asik,  lo aja yang merasa kita-kita jauh dari lo" balas Arka.


"Iye iyee pak,  Beli apaan lo? " tanya Andi kepo.


"Biasalah,  bini gue dapet" balas Arka.  Dia mengambil satu bungkus besar pembalut yang biasa dipakai sang istri.


Mereka berbincang


sebentar, topiknya tidak jauh dari Ray yang tidak ada kabar.  Bahkan


Kahfi berinisiatif ke Singapura untuk mengunjungi Ray.  Mereka semua tau


bahwa Kahfi yang paling peduli kepada mereka.


"Yang ini dihitung juga ya Mbak" seru Andi sambil menunjuk belanjaan Arka.


"Gak usah, gue bayar sendiri aja" cegah Arka yang tidak hati.


Sudah bukan menjadi


rahasia lagi pertemanan mereka lebih dari apapun.  Ketika mereka berlima


berkumpul maka selalu saja mereka semua berebut untuk membayar makanan


yang lain.


"Alah santai aja,  Berapaan mbak? "


"235.900 Mas"


Andi mengeluarkan lembaran uang berwarna merah sebanyak 3 lembar.


"Makasih ya bro" ucap Arka bersungguh-sungguh.


Mereka berdua berpisah ketika sudah sampai pada motor masing-masing.


Sesampainya di rumah,  Arka memberikan bungkusan kepada sang istri.


"Makasih Mamas,  Tambah cinta kan" celetuk Farah tersenyum.


Cup


Pertama sekali,  Farah berani mencium bibir sang suami.


"Adek bikin mas jantungan taukk" Arka merasakan jantungnya berdebar cukup cepat.


"Hahaha Maaf Mas" balas Farah ketika sudah sampai di kamar mandi.


Arka sedikit merasa bodoh dengan dirinya sendiri.  Apakah ini di namakan bucin?


Wahh ternyata jatub

__ADS_1


cinta kepada yang halal rasanya sebahagia ini.  Ingin berbuat apapun


tidak ada larangan malahan berbuah pahala.


__ADS_2