
Tujuan pernikahan dalam Al-qur’an ada dua yaitu untuk
meningkatakan ketakwaan kepada Allah dan untuk menghadirkan ketenangan dalam
kehidupan. Suksesnya sebuah rumah tangga adalah apabila ketakwaan kepada Allah
meningkat dari sebelumnya. Cara mendapatkan ketenangan (Sakinah) dengan cara
menghadirkan mawaddah dan Rohmah di rumah. Mawaddah bearti cinta yang di
wujudkan dalam bentuk perhatian fisik atau materi (Seperti memberikan hadiah
kepada pasangannya, bukan dilihat dari harga hadiah itu tetapi dilihat dari
pemberian yang tulus). Sifat mawaddah tidak kekal bisa luntur. Seperti
mencintai karena wajah, sifatnya, gagahnya, anggunnya, sopannya, dompetnya dan
lain sebagainya. Apabila ingin cinta tidak luntur maka ikatlah dengan Rohmah. Rohmah
adalah perhatian yang lahir dari hati yang paling dalam kalau ini dikeluarkan
cinta akan bertahan dan tidak akan berpindah ke lain hati. Yang mempunyai
Rohmah yang paling tinggi adalah seorang ibu, Rohmah berasal dari kata Rahim
dan yang mempunyai Rahim hanyalah seorang ibu atau perempuan.Jika ingin rumah
tangga langgeng maka berikan rohmah lebih tinggi dibanding mawaddahnya. Seperti
contoh memberikan sebuah ucapan manis sebelum sang suami pergi bekerja.
Kepala Arka rasanya mau pecah menerima kenyataan bahwa
karyawan kepercayaannya melakukan penggelapan uang. Dia sama sekali tidak
menyangka setelah karyawannya mendadak hilang dan tidak diketahui
keberadaannya. Dengan langkah gontai Arka memutuskan untuk pulang, dia tidak
sempat untuk makan karena sudah terlalu lelah memikirkan apa yang terjadi.
Arka melangkah kaki masuk ke rumah, perutnya mendadak lapar
dan tidak bisa di ajak bekerja sama.
“Assalamu’alaikum,”salam Arka. Dia membuka kemeja dan
meninggalkan baju kaus dalam.
“Wa’alaikumsalam, udah pulang ternyata.” Farah menghampiri
Arka dan mencium punggung tangganya. Arka juga membalas mencium kening sang
istri.
“Iya dek, Mas laper. Ada yang bisa mas makan nggak?” tanya
Arka. Perutnya sudah berulang kali bunyi.
__ADS_1
“Astagfirullah, Kebetulan Adek belum masak mas. Mas juga
nggak biasanya pulang cepat,” balas Farah merasa bersalah.
“Ya udah masakin mie aja dek, Bisa kan?” Farah mengangguk
mantap. Dia merasa sang suami tidak pada kondisi yang baik.
Dengan langkah buru-buru Farah memasak 2 bungkus mie
kemasan. Bawang, cabe dan sayur dia potong kecil-kecil untuk menambah citra
rasa. Tidak lupa menambah 2 butir telur untuk hasil yang sempurna.
Beberapa menit kemudian, mie tersebut masak dan bisa
dihidangkan.
Farah menuangkan mie kedalam sebuah mangkuk, kemudian dia
ingin meletakkan di meja makan.
Satu langkah, 2 lanngkah dan hampir sampai ke meja makan
namun ternyata tidak.
Brakkkk (suara pecahan kaca)
“Astagfirullah,” lirih Farah kaget. Tangannya mendadak
kesemutan sehingga tidak sadar mangkuk yang ada ditangan terjatuh.
“Sayang apa yang pecah?” Arka yang mendengarkan suara
menuju ke arah dapur.
“Ma-maaf Mas.” Mata Farah sudah berkaca-kaca. Dia merutuki
dirinya sendiri yang tidak hati-hati. Rasa bersalah itu bekali-kali lipat
ketika mendengar suara perut sang suami.
“Ya Allah, Apa yang sakit?” tanya Arka sambil mengecek
keadaan tubuh sang istri. Dia memastikan tidak ada satupun yang lecet pada
tubuh istrinya
“Mie nya jatuh hiks, Adek salah.” Farah menangis karena
tidak kuasa menahan gejolak di dalam hatinya.
“Udah nggak apa-apa kok, Mas yang salah bukan adek,” ucap
Arka. Dia membawa tubuh sang istri ke dalam dekapannya. Rasa lapar yang sedari
tadi membrontak hilang begitu saja ketika melihat sang istri menangis. Dia seharusnya
tidak menyuruh Farah untuk memasak mie. Rasa lega juga ikut andil karena sang
__ADS_1
istri dan calon anaknya baik-baik saja.
“Ta-tapikan Mas lapar huaaa, Adek istri yang nggak becus
Mas.”
“Udah ya sayang, nggak apa-apa kok. Duduk di sini dulu ya.”
Arka membawa Farah untuk duduk di kursi. Dia segera membersihkan tumpahan mie
dan pecahan kaca yang ada dilantai.
“Biar adek aja yang bersiin Mas.” Farah mengambil ahli sekop
dan sapu yang ada ditangan Arka.
“Adek, Mas suruh duduk kan. Udah nggak apa-apa kok mas
bersiinnya.” Farah akhirnya menunduk patuh. Dia duduk sambil memakan buah yang
sudah disediakan oleh Arka.
Setelah bersih, Arka segera memesan makanan dengan cara
online.
“Adek mau makan apa?”tanya Arka.
“Tadi udah makan sama Papa kok mas diluar,” balas Farah.
“Mas kayaknya ada masalah, kalau udah siap cerita Farah
bakal dengarin kok.”
Ketika memasuki biduk rumah tangga, Farah pelahan mengetahui
beberapa hal dari sang suami. Seperti contohnya sekarang, dia tau Arka
mempunyai masalah karena sang suami tidak bisa menyembunyikan apabila ada
masalah yang menimpa.
“Mas baik-baik aja kok.”
Farah paham kalau sang suami tidak mau menceritakan apa yang
terjadi. Dia juga tidak akan memaksa karena bisa membuat kegaduhan yang tidak
penting.
Suami istri mempunyai pemikiran dan sifat yang berbeda-beda,
saat ingin menikah seseorang harus mengetahui hal apa-apa saja yang mungkin
akan dialami. Seperti salah satu sifat laki-laki atau suami saat dia ditimpa
permasalahan, dia tidak akan meu mencerikan kepada istri karena takut menjadi
beban pikiran untuk sang istri. Sedangkan perempuan cenderung ingin tahu dan
__ADS_1
sangat mudah berpikiran ke arah negative. Oleh karena itu sudah sepatutnya di
dalam rumah tangga kepercayaan dan saling mengerti itu di dahulukan.