Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 27


__ADS_3

Tujuan pernikahan dalam Al-qur’an ada dua yaitu untuk


meningkatakan ketakwaan kepada Allah dan untuk menghadirkan ketenangan dalam


kehidupan. Suksesnya sebuah rumah tangga adalah apabila ketakwaan kepada Allah


meningkat dari sebelumnya. Cara mendapatkan ketenangan (Sakinah) dengan cara


menghadirkan mawaddah dan Rohmah di rumah. Mawaddah bearti cinta yang di


wujudkan dalam bentuk perhatian fisik atau materi (Seperti memberikan hadiah


kepada pasangannya, bukan dilihat dari harga hadiah itu tetapi dilihat dari


pemberian yang tulus). Sifat mawaddah tidak kekal bisa luntur. Seperti


mencintai karena wajah, sifatnya, gagahnya, anggunnya, sopannya, dompetnya dan


lain sebagainya. Apabila ingin cinta tidak luntur maka ikatlah dengan Rohmah. Rohmah


adalah perhatian yang lahir dari hati yang paling dalam kalau ini dikeluarkan


cinta akan bertahan dan tidak akan berpindah ke lain hati. Yang mempunyai


Rohmah yang paling tinggi adalah seorang ibu, Rohmah berasal dari kata Rahim


dan yang mempunyai Rahim hanyalah seorang ibu atau perempuan.Jika ingin rumah


tangga langgeng maka berikan rohmah lebih tinggi dibanding mawaddahnya. Seperti


contoh memberikan sebuah ucapan manis sebelum sang suami pergi bekerja.


Kepala Arka rasanya mau pecah menerima kenyataan bahwa


karyawan kepercayaannya melakukan penggelapan uang. Dia sama sekali tidak


menyangka setelah karyawannya mendadak hilang dan tidak diketahui


keberadaannya. Dengan langkah gontai Arka memutuskan untuk pulang, dia tidak


sempat untuk makan karena sudah terlalu lelah memikirkan apa yang terjadi.


Arka melangkah kaki masuk ke rumah, perutnya mendadak lapar


dan tidak bisa di ajak bekerja sama.


“Assalamu’alaikum,”salam Arka. Dia membuka kemeja dan


meninggalkan baju kaus dalam.


“Wa’alaikumsalam, udah pulang ternyata.” Farah menghampiri


Arka dan mencium punggung tangganya. Arka juga membalas mencium kening sang


istri.


“Iya dek, Mas laper. Ada yang bisa mas makan nggak?” tanya


Arka. Perutnya sudah berulang kali bunyi.

__ADS_1


“Astagfirullah, Kebetulan Adek belum masak mas. Mas juga


nggak biasanya pulang cepat,” balas Farah merasa bersalah.


“Ya udah masakin mie aja dek, Bisa kan?” Farah mengangguk


mantap. Dia merasa sang suami tidak pada kondisi yang baik.


Dengan langkah buru-buru Farah memasak 2 bungkus mie


kemasan. Bawang, cabe dan sayur dia potong kecil-kecil untuk menambah citra


rasa. Tidak lupa menambah 2 butir telur untuk hasil yang sempurna.


Beberapa menit kemudian, mie tersebut masak dan bisa


dihidangkan.


Farah menuangkan mie kedalam sebuah mangkuk, kemudian dia


ingin meletakkan di meja makan.


Satu langkah, 2 lanngkah dan hampir sampai ke meja makan


namun ternyata tidak.


Brakkkk (suara pecahan kaca)


“Astagfirullah,” lirih Farah kaget. Tangannya mendadak


kesemutan sehingga tidak sadar mangkuk yang ada ditangan terjatuh.


“Sayang apa yang pecah?” Arka yang mendengarkan suara


menuju ke arah dapur.


“Ma-maaf Mas.” Mata Farah sudah berkaca-kaca. Dia merutuki


dirinya sendiri yang tidak hati-hati. Rasa bersalah itu bekali-kali lipat


ketika mendengar suara perut sang suami.


“Ya Allah, Apa yang sakit?” tanya Arka sambil mengecek


keadaan tubuh sang istri. Dia memastikan tidak ada satupun yang lecet pada


tubuh istrinya


“Mie nya jatuh hiks, Adek salah.” Farah menangis karena


tidak kuasa menahan gejolak di dalam hatinya.


“Udah nggak apa-apa kok, Mas yang salah bukan adek,” ucap


Arka. Dia membawa tubuh sang istri ke dalam dekapannya. Rasa lapar yang sedari


tadi membrontak hilang begitu saja ketika melihat sang istri menangis. Dia seharusnya


tidak menyuruh Farah untuk memasak mie. Rasa lega juga ikut andil karena sang

__ADS_1


istri dan calon anaknya baik-baik saja.


“Ta-tapikan Mas lapar huaaa, Adek istri yang nggak becus


Mas.”


“Udah ya sayang, nggak apa-apa kok. Duduk di sini dulu ya.”


Arka membawa Farah untuk duduk di kursi. Dia segera membersihkan tumpahan mie


dan pecahan kaca yang ada dilantai.


“Biar adek aja yang bersiin Mas.” Farah mengambil ahli sekop


dan sapu yang ada ditangan Arka.


“Adek, Mas suruh duduk kan. Udah nggak apa-apa kok mas


bersiinnya.” Farah akhirnya menunduk patuh. Dia duduk sambil memakan buah yang


sudah disediakan oleh Arka.


Setelah bersih, Arka segera memesan makanan dengan cara


online.


“Adek mau makan apa?”tanya Arka.


“Tadi udah makan sama Papa kok mas diluar,” balas Farah.


“Mas kayaknya ada masalah, kalau udah siap cerita Farah


bakal dengarin kok.”


Ketika memasuki biduk rumah tangga, Farah pelahan mengetahui


beberapa hal dari sang suami. Seperti contohnya sekarang, dia tau Arka


mempunyai masalah karena sang suami tidak bisa menyembunyikan apabila ada


masalah yang menimpa.


“Mas baik-baik aja kok.”


Farah paham kalau sang suami tidak mau menceritakan apa yang


terjadi. Dia juga tidak akan memaksa karena bisa membuat kegaduhan yang tidak


penting.


Suami istri mempunyai pemikiran dan sifat yang berbeda-beda,


saat ingin menikah seseorang harus mengetahui hal apa-apa saja yang mungkin


akan dialami. Seperti salah satu sifat laki-laki atau suami saat dia ditimpa


permasalahan, dia tidak akan meu mencerikan kepada istri karena takut menjadi


beban pikiran untuk sang istri. Sedangkan perempuan cenderung ingin tahu dan

__ADS_1


sangat mudah berpikiran ke arah negative. Oleh karena itu sudah sepatutnya di


dalam rumah tangga kepercayaan dan saling mengerti itu di dahulukan.


__ADS_2