Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 30


__ADS_3

“Bismillah.” Arka memberikan satu


sendok suapa pertama. Dia berdoa dalam hati agar makanan itu bisa diterima oleh


perut sang istri.


Farah menelan makanan tersebut


dengan terpaksa, dia memang tidak begitu nafsu untuk makan. Kalau tidak


mengingat ada janin yang membutuhkan asupan maka Farah tidak akan makan.


“Di paksa ya Sayang, pelan-pelan


aja.” Arka mengusap sudut bibir sang istri. Bibir Farah mengalami pergantian


kulit sehingga ada beberapa bagian yang terkelupas.


“Pedih Mas,” lirih Farah merasa


kesakitan.


“Astagfirullah, jangan dipegang


nanti tambah lebar kelupas kulitnya.” Arka mengusap bibir Farah dengan tisu


karena ada darah yang keluar.


“Sabar ya Sayang, adek kuat untuk


ngejalani ini.”


Sakit ya, Arka tidak berbohong bahwa


ada bagian dari dirinya yang mengalami kesakitan saat meilihat keadaan Farah.


“Hiks hiks.” Farah menangis. Dia tidak


pernah merasakan kesusahan seperti sekarang. Sedikit-sedikit mual dan tidak


nafsu makan. Badannya lemas, bibirnya pecah-pecah dan terkadang merasakan sakit


dibagian pinggang.


“Maafkan Mas karena nggak bisa


meringankan sakit Adek.” Air mata Arka sudah berada diujung matanya. Dia harus


kuat karena jika dia lemah maka siapa yang akan menguatkan.

__ADS_1


“Makasih selalu sabar untuk menghadapi


Adek Mas.” Arka mencium pucuk kepala istrinya dengan sayang. Setelah makan,


Arka memberikan obat penguat janin dari dokter dan susu kehamilan dengan jarak


yang sudah diberitahu oleh dokter kandungan Farah.


Kelelahan dan kecapekan adalah hal


yang semua manusia alami. Perasaan jenuh juga terkadang timbul secara


tiba-tiba. Ketika perasaan itu datang maka ketahuilah bahwa memang dunia itu


tempat capek. Nanti, ya nanti setelah kembali kehadapan Allah barulah rasa


capek itu tergantikan dengan kenikmatan apabila waktu di dunia kita habiskan


dengan bertakwa kepada Allah. Pernikahan muda, kehamilan cepat tidaklah menjadi


penghambat sebuah rumah tangga berjalan baik.


Menikah dengan orang yang kita


cintai adalah hal biasa, tetapi mencintai orang setelah menikah adalah hal yang


luar biasa.


semudah kelihatannya, dia yang masih tergolong muda juga terkadang labil dan


ingin menikmati masa muda. Arka tidak pernanh melarang sang istri untuk


melakukan apa yang dia inginkan, bahkan Arka menawarkan berulang-ulang kali


agar Farah melanjutkan pendidikannya.


***


Farah sudah bisa menjalankan hari lebih baik meskipun mual


di pagi hari masih dialami. Arka sudah berangkat menuju toko untuk mencari


rezeki. Kehidupan di rumah Papa Arfan tidak membuat mereka hanya mengandalkan


uang Papa Arfan. Arka bersikeras agar sang istri menggunakan uang yang dia


berikan apabila ingin membeli hal yang diinginkan.


“Kenapa jarang ke rumah sakit, Jangan membodohi aku lagi Ar”

__ADS_1


“Tidak ada urusan dengan kamu.”


“Dasar kakak bodoh. Kamu mau kondisi semakin buruk, iya?”


“Aku lelah asal kamu tahu. Sebentar lagi akau juga akan


mati.”


“Kamu gila ngomong kayak gitu, seharusnya kamu berpikir


bagaimana bisa bertahan hidup untuk menebus kesalahan kepada anakmu sendiri.”


“Setidaknya aku bisa pergi dengan tenang setelah anakku mau


memaafkan kesalahan ku.”


“Otak kamu ada dimana ha? Aku akan kasih tahu sama Farah


tentang kondisi kamu biar dia mau bujuk kamu ke rumah sakit.”


“Kamu gila? Jangan sampai anak aku tahu. Kalau sampai tahu


aku nggak akan memaafkan kamu.”


Farah terdiam, dia jelas tahu bahwa yang sedang bicara


adalah Papa Arfan dengan Om Irfan. Ada ribuan jarum yang menusuk ke dalam


dadanya, rasanya begitu sakit. Farah memukul-mukul dadanya berharap apa yang


dia dengar adalah sebuah mimpi.


Beribu pertanyaan hinggap dikepalanya, Papanya sakit apa?


Kenapa Papanya tidak mau ke rumah sakit?


Dia kembali bersembunyi di balik tembok ruang kerja Papa


Arfan agar lebih bisa mendengar apa yang disembunyikan Papanya.


“Kamu juga tidak makan obat Ar?”


“Sudah aku bilang jangan ikut campur urusanku.”


Lagi-lagi Farah menangis, dia teringat jelas saat melihat


Papa Arfan memakan banyak pil. Saat Farah menanyainya, Papa Arfan hanya


menjawab bahwa itu vitamin.

__ADS_1


Farah berpikir apakah Papanya juga akan pergi


meninggalkannya?


__ADS_2