
“Bismillah.” Arka memberikan satu
sendok suapa pertama. Dia berdoa dalam hati agar makanan itu bisa diterima oleh
perut sang istri.
Farah menelan makanan tersebut
dengan terpaksa, dia memang tidak begitu nafsu untuk makan. Kalau tidak
mengingat ada janin yang membutuhkan asupan maka Farah tidak akan makan.
“Di paksa ya Sayang, pelan-pelan
aja.” Arka mengusap sudut bibir sang istri. Bibir Farah mengalami pergantian
kulit sehingga ada beberapa bagian yang terkelupas.
“Pedih Mas,” lirih Farah merasa
kesakitan.
“Astagfirullah, jangan dipegang
nanti tambah lebar kelupas kulitnya.” Arka mengusap bibir Farah dengan tisu
karena ada darah yang keluar.
“Sabar ya Sayang, adek kuat untuk
ngejalani ini.”
Sakit ya, Arka tidak berbohong bahwa
ada bagian dari dirinya yang mengalami kesakitan saat meilihat keadaan Farah.
“Hiks hiks.” Farah menangis. Dia tidak
pernah merasakan kesusahan seperti sekarang. Sedikit-sedikit mual dan tidak
nafsu makan. Badannya lemas, bibirnya pecah-pecah dan terkadang merasakan sakit
dibagian pinggang.
“Maafkan Mas karena nggak bisa
meringankan sakit Adek.” Air mata Arka sudah berada diujung matanya. Dia harus
kuat karena jika dia lemah maka siapa yang akan menguatkan.
__ADS_1
“Makasih selalu sabar untuk menghadapi
Adek Mas.” Arka mencium pucuk kepala istrinya dengan sayang. Setelah makan,
Arka memberikan obat penguat janin dari dokter dan susu kehamilan dengan jarak
yang sudah diberitahu oleh dokter kandungan Farah.
Kelelahan dan kecapekan adalah hal
yang semua manusia alami. Perasaan jenuh juga terkadang timbul secara
tiba-tiba. Ketika perasaan itu datang maka ketahuilah bahwa memang dunia itu
tempat capek. Nanti, ya nanti setelah kembali kehadapan Allah barulah rasa
capek itu tergantikan dengan kenikmatan apabila waktu di dunia kita habiskan
dengan bertakwa kepada Allah. Pernikahan muda, kehamilan cepat tidaklah menjadi
penghambat sebuah rumah tangga berjalan baik.
Menikah dengan orang yang kita
cintai adalah hal biasa, tetapi mencintai orang setelah menikah adalah hal yang
luar biasa.
semudah kelihatannya, dia yang masih tergolong muda juga terkadang labil dan
ingin menikmati masa muda. Arka tidak pernanh melarang sang istri untuk
melakukan apa yang dia inginkan, bahkan Arka menawarkan berulang-ulang kali
agar Farah melanjutkan pendidikannya.
***
Farah sudah bisa menjalankan hari lebih baik meskipun mual
di pagi hari masih dialami. Arka sudah berangkat menuju toko untuk mencari
rezeki. Kehidupan di rumah Papa Arfan tidak membuat mereka hanya mengandalkan
uang Papa Arfan. Arka bersikeras agar sang istri menggunakan uang yang dia
berikan apabila ingin membeli hal yang diinginkan.
“Kenapa jarang ke rumah sakit, Jangan membodohi aku lagi Ar”
__ADS_1
“Tidak ada urusan dengan kamu.”
“Dasar kakak bodoh. Kamu mau kondisi semakin buruk, iya?”
“Aku lelah asal kamu tahu. Sebentar lagi akau juga akan
mati.”
“Kamu gila ngomong kayak gitu, seharusnya kamu berpikir
bagaimana bisa bertahan hidup untuk menebus kesalahan kepada anakmu sendiri.”
“Setidaknya aku bisa pergi dengan tenang setelah anakku mau
memaafkan kesalahan ku.”
“Otak kamu ada dimana ha? Aku akan kasih tahu sama Farah
tentang kondisi kamu biar dia mau bujuk kamu ke rumah sakit.”
“Kamu gila? Jangan sampai anak aku tahu. Kalau sampai tahu
aku nggak akan memaafkan kamu.”
Farah terdiam, dia jelas tahu bahwa yang sedang bicara
adalah Papa Arfan dengan Om Irfan. Ada ribuan jarum yang menusuk ke dalam
dadanya, rasanya begitu sakit. Farah memukul-mukul dadanya berharap apa yang
dia dengar adalah sebuah mimpi.
Beribu pertanyaan hinggap dikepalanya, Papanya sakit apa?
Kenapa Papanya tidak mau ke rumah sakit?
Dia kembali bersembunyi di balik tembok ruang kerja Papa
Arfan agar lebih bisa mendengar apa yang disembunyikan Papanya.
“Kamu juga tidak makan obat Ar?”
“Sudah aku bilang jangan ikut campur urusanku.”
Lagi-lagi Farah menangis, dia teringat jelas saat melihat
Papa Arfan memakan banyak pil. Saat Farah menanyainya, Papa Arfan hanya
menjawab bahwa itu vitamin.
__ADS_1
Farah berpikir apakah Papanya juga akan pergi
meninggalkannya?