
Ba'da isya mereka sepakat itu melihat Alfa. Jarak antara kamar inap Alfa dan Ray cukup jauh karena terletak di lantai yang berbeda. Ray bersikeras ingin ikut karena sudah lama tidak bertemu dengan Alfa. Dia duduk di kursi roda dan didorong oleh Andi.
"Kok bisa Alfa sampai dibawa kesini Kaf? " tanya Andi penasaran. Dia cukup terkejut mendengar Alfa di rawat dan sampai di rujuk ke Rumah Sakit Singapura.
"Infeksi darah, Imunnya lemah jadi ya banyak virus yang masuk. Tapi Alhamdulillah udah membaik kok," jawab Kahfi.
"Alhamdulillah kalau gitu, Terus Fiyah juga ada disini? " tanya Arka.
"Yaiyalah, Gimana keadaan istri lo Ka? " tanya Kahfi balik. Dia juga tahu dari Andi bahwa kondisi Farah terkesan tidak baik. Bobot tubuhnya tidak sesuai dengan usia untuk kehamilan bayi kembar.
"Gimana bilangnya ya, " Arka mengusap kepalanya gusar.
"Dia susah banget disuruh makan, Setiap nggak sesuai sama yang di mau perutnya ya muntah. Gue aja kadang mikir mending dia nggak hamil, nggak tega gue," sambung Arka. Seketika dia mengingat sang istri yang sedang di rumah.
"Biasa gitu, lo harus kasih dia support jangan coba-coba kepancing emosi kalau hormon sensitive dia lagi aktif. Perempuan hamil juga nggak sadar udah bertingkah yang nggak bisa kita tebak. "
Kahfi mengalami hal yang sama dengan Arka. Fiyah dulu juga muntah, bahkan hamil anak kedua juga lebih parah.
"Iya iya, kalau yang udah berpengalaman mha beda."
mereka sekedar mengobrol ringat tentang bisnis bersama yang sudah lumayan stabil.
"Assalamu'alaikum," salam Kahfi dan yang lain ketika memasuki ruangan rawat Alfa.
"Wa'alaikumsalam."
"Kumlam,"balas Fiyah dan Alfa serentak.
Kahfi sudah menceritakan tentang apa yang menjadi beban pikiran akhir-akhir ini. Awalnya Fiyah tidak begitu percaya karena terlalu kaget namun akhirnya semua sudah menjadi kuasa Allah.
"Gimana keadaan Alfa?" tanya Arka sambil mencium pipi gembul Alfa.
"Yaya Ma, Yaya Ay," celoteh Alfa sambil bertepuk tangan. (Ayah Bima, Ayah Ray).
Bima dan Ray tertawa ketika Arka tidak di respon baik oleh Alfa dan malah berfokus pada mereka.
"Salam dulu Mas sama Ayah-Ayah ni, " ucap Kahfi menyuruh sang anak untuk salam kepada sahabat-sahabatnya kemudian Alfa menuruti apa yang ayanya katakan yaitu menyalami satu-satu sahabat-sahabat sang ayah.
"Kok Mas? " tanya Andi kebingungan yang dibalas cengiran lebar oleh Kahfi.
"Jangan bilang kalau Alfa mau punya adik," tebak Bima.
"Cepet amat Kaf, kaget gue." Belum Kahfi menjawab sahabat-sahabatnya sudah heboh duluan.
__ADS_1
"Mas nya dik? " tanya Alfa polos. (Mas Punya adik?)
Kahfi kebingungan menjawab, dia belum menyusun rencana untuk bagaimana cara memberitahukan kepada sang anak.
"Eh tadikan Mas Alfa mau pipis, Ayo Umi temanin." Fiyah mencoba mengalihkan pertanyaan anaknya. Sedangkan Kahfi berbisik kepada sahabatnya bahwa belum memberitahu Alfa.
"Eh ya, Pa Mi. Dong ya?" (Eh iya, Lupa Mi. Gendong ya?)
Alfa menjulurkan tangannya minta di gendong sedangkan Kahfi membantu membawa tiang Infus yang masih belum lepas dari tangan sang anak.
"Oh ya Kaf, Lo nyewa hotel atau gimana? " tanya Andi.
"Kemaren Papa sih nyariin tempat sementara di dekat sini juga. " jawab Kahfi.
"Pinter anak Daddy ya," Kahfi mengangkat tangannya untuk meminta tos kepada sang anak.
"Ya dong, dah sar. " (Iya dong, Udah besar)
Setelah selesai, Alfa kembali duduk di ranjang rumah sakit.
"Yaya Ay kai ju ma, " (Ayah Ray pakai baju sama).
Alfa menunjuk bajunya yang memang sama persis dengan Ray.
"Iya dong Mas, Kan kita pinter makanya harus pakai baju ini," jawab Ray sambil tersenyum. Dia mendwkat ke arah Alfa untuk sekedar melepas rindu.
"Gue nggak di notif notif sama Alfa dari tadi. " lirih Andi protes.
"Hahaha Makanya sering-sering jumpa dia lah." Bima menyenggol pundak Andi sambil tertawa.
Seorang anak itu jika sering bertemu maka otaknya akan merekam sehingga dia akan lebih mudah dekat dan terbiasa untuk berdekatan, beda jika jarang bertemu.
"Mas Alfa udah sembuh kan? " tanya Bima sambil mengelus pucuk kepala Alfa.
"Dah dong, Mas tik tik tel. Atit." (Udah dong, Mas di suntik-suntik dokter. Sakit)
Bima melihat ke arah Kahfi karena tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Alfa.
"Haha dia ngadu kalau di suntik dokter, sakit katanya. " Kahfi menterjemahkan apa yang diucapkan sang anak.
"Tapi sekarang nggak sakit lagi kan? "
Alfa menggelengkan kepalanya dengan semangat.
__ADS_1
"Lang agi." (Pulang lagi)
"Kapan pulang emangnya Kaf? " tanya Arka penasaran. Dia dilema harus pulang ke indo kapan karena kondisi istrinya di rumah juga masih belum dikatakan baik.
"Alfa keluar Rs besok pagi, Tapi insya Allah balik ke Riau pas Ray udah selesai operasi," jawab Kahfi mantap. Dia juga sudah berbicara dengan Fiyah dab Alhamdulillah Fiyah menyetujuinya.
"Kenapa gitu? " tanya Ray kaget.
"Kan gue udah bilang, kita bakal ada buat lo. Jadi lo harus semangat buat operasi. " Kahfi menepuk pundak Ray.
"Iya insya Allah gua bakal semangat. Doain operasi gue lancar. " Pinta Ray.
"Tanpa lo minta kita pasti doain Ray," ucap Bima.
Mereka mengobrol menghabiskan waktu bersama-sama. Jadwal operasi Ray 2 hari lagi. Rasa deg-degan takut pasti ada karena dia manusia. Dia belum mempunyai pahala yang banyak, dan kebalikannya dosa yang sudah menggunung. Wajah dia takut mati, karena belum bisa bertaubat dengan baik.
Ray memang sudah mendekat kepada Allah sejak 5 bulan yang lalu. Saat dia merasakan sakit ketika kemo pertama kali. Ternyata benar di saat kondisi kejepit dan manusia tidak mampu untuk melakukan apapun maka hanya Allah, hanya Allah yang kita punya.
Bima sudah mencari hotel yang bisa mereka gunakan untuk beristirahat. Semua biaya hotel dengan senang hati ditanggung Bima. Andi tidak ingin kalah, dia juga melakukan hal yang sama yaitu membiayai makan mereka.
Tidak ada yang keberatan soal uang, karena mereka yakin ada rezeki teman mereka pada diri mereka.
Ada raut wajah khawatir dalam diri Arka, meskipun sering berkomunikasi tetapi dia tidak bisa tenang dengan kondisi Farah. Melihat sosok Alfa yang begitu menggemaskan entah kenapa Arka menjadi tidak sabar untuk menanti hadirnya si kembar dalam kehidupan mereka.
"Kangen bini lo? " tanya Andi. Mereka sedang berada di dalam hotel.
Arka mengangguk.
"Dasar bucin, baru juga 2 hari kagak ketemu. Lo juga Video Call mulu pun," gerutu Andi yang melihat Arka tengah galau.
"Beda Andi, kalau lo nggak ketemu pacar mungkin biasa aja. Tetapi kalau lo nggak ketemu Istri yang dunia terasa hampa, " balas Arka.
Andi langsung menonjok pelan bahu Arka dan berpura-pura muntah.
"Kenapa kalian? buruan tidur, " tegur Bima saat keluar dari kamar mandi.
"Arka bikin gue jijik beneran, bucin amat," keluh Andi.
"Kagak ada larangan bucin sama istri sendiri, makanya lo nikah, efek kelamaan sendiri si."
Bima hanya menggelengkan kepala setidaknya hari ini dia bisa tersenyum.
"Nikah nikah, gue kaya dulu baru nikah. Puas lo." Andi melempar ciki-ciki pada tubuh Arka.
__ADS_1
"Andii, badan gue bau kan. Untung lo saudara bini gue, kalau kagak tinggal nama lo pulang," teriak Arka membersihkan bumbu ciki-ciki yang melekat pada bajunya.
Andi tertawa dan tertular kepada Bima.