Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 23


__ADS_3

"Gimana masih ngambek?"


Arka memepetkan tubuhnya hingga


tidak berjarak sama sekali. Ada senyum menggoda yang bertengger di bibirnya.


Farah makin kelabakan. Saat bangun dari tidurnya, Farah tidak melihat sang


suami sama sekali sehingga ketika Arka datang Farah tidak mau di ajak bicara.


"Ma-mas ja-jangan


dekat-dekat." Farah berusaha memblok kedekatan diantara mereka. Telapak


tangannya terangkat untuk mendorong tubuh Arka yang semakin mendekat.


"Kenapa?" Arka membalas


dengan senyum miring penuh misteri.


Farah menahan nafasnya,


jantungnya berdetak dengan cepat. Wajahnya tidak kalah memerah dan itu


mengundang senyum Arka.


"Malu Mas, nanti Papa


datang" perjelasan yang Farah berikan sama sekali tidak bersumber, padahal


Papa Arfan akan kembali datang pada malam hari yang berarti lima jam lagi.


Farah merasa bodoh dengan jawaban yang dia katakana, tetepi memang hanya itu


yang dapat otakknya pikirkan.


"Malu kenapa coba? Dedek bayi


aja udah jadi" bisik Arka pelan. Bulu kuduk Farah merinding. Dia mulai


memutuskan pandangan ke arah lain agar tidak terlalu kentara apa yang


dirasakannya.


Arka tambah mengembangkan


senyumnya, dia menambah kedekatan mereka kemudian mengusap perut sang istri


yang masih datar.


"Mommy masih ngambek gak


ya?" tanya Arka jail kepada perut Farah.


Mereka sudah memutuskan untuk


panggilan saat sang anak telah lahir. Awalnya Farah tidak setuju, tetapi Arka


tetap ngotot anaknya memanggil dengan sebutan "Abi dan Mommy".


"Akh nggak bisa ngambek


lama-lama sama Mas, coba rasakan gimana jantung Adek deg-degan," Farah


membawa tangan sang suami pada dadanya. Arka yang mengetahui detak jantung sang


istri begitu cepat merasa puas dan tersenyum menang.


"Wah Adek baper sama Mas kan


hahaha. Nggak akan bisa ngambek lama-lama, Mas punya seribu jurus untuk

__ADS_1


Adek" ucap Arka percaya diri. Dia biasanya tipe orang yang tidak telalu


suka bergombal, namun setelah berumah tangga tingkat kegombalannya naik 360


derajat.


"Iya iya, Oh ya teman Mas


kapan datangnya? Adek belum pakek kaus kaki ni" seru Farah sambil menarik


selimut yang menutupi kakinya sehingga terlihatlah kaki Farah yang belum


memakai kaus kaki.


"Kayaknya bentar lagi dek,


Ya udah mas cari kaus kaki di tas dulu ya" Arka mencari kaus kaki di tas


yang terdapat barang keperluan mereka berdua. Setelah itu dia membantu sang


istri memakaikannya.


"Dek banyak makan ya biar


nggak kurus gini" Arka memegang tangan sang istri yang memang tergolong


kurus.


"Iya iya suami ku,


Insya Allah bakal jaga pola makan biar dedeknya sehat,  Mommy sehat dan


Abinya gak risau lagi"


Arka lagi lagi tersenyum,


sang istri sangat bisa membalas membuat jantungan berdetak cepat.


gitu,  Oh ya Papa kemaren bilang kalau sebaiknya kita tinggal di rumahnya


aja.  Menurut adek gimana? "


Beberapa hari yang lalu,


Papa Arfan mengatakan bahwa ingin mengajak anaknya dan juga Arka untuk tinggal


bersama.  Arka paham bahwa Papa Arfan kesepian dalam kesendirian dan dia


juga sangat setuju tetapi semua tergantung sang istri.


"Mas gak apa-apa tinggal di


rumah Papa? " tanya balik Farah.


"Mas gak apa-apa kok,


dimana pun tinggal kalau sama adek Mas ayok ayok aja" balas Arka.


"Gombal, Ya udah tinggal di


rumah Papa aja.  Adek juga mau dekat terus sama Papa hehe"


"Assalamu'alaikum adek


abang" seru Andi heboh yang datang secara tiba-tiba.


"Hehe Wa'alaikumsalam


Abang.  Bawa kan cokelat yang Adek mau? " tanya Farah antusias.


"Lah lah siapa yang bolehin

__ADS_1


makan cokelat? " tanya Arka dengan sorot mata tajam. Dia segera mengambil


plastik yang berada di tangan Andi.


"Apaan sih lo Ka,  Adek


gue mau cokelat pakek larang segala" Andi membalas tatapan Arka tidak


kalah tajamnya.


"Lo tau Farah lagi hamil


kan?"


Andi mengangguk.


"Terus kenapa lo kasih dia


cokelat,  Andi pengen gue rajam lo benaran" lanjut Arka geram.


"Mas jahat hiks,  Papa


kan udah bolehin makan cokelat hiks" tangis Farah pecah sudah.


"Kan kan lo si rese, adek


gue jadi nangis gini"


"Adek lo tu bini gue


Andi.  Udah jangan nangis ya sayang,  makan cokelatnya libur dulu


ya" bujuk Arka.


"Gak mau hiks,  Mau


Papa nggak mau Mas huaaaa" Farah menolak sentuhan dari Arka.


"Haha mampus lo Ka"


ejek Andi semangat.


"Udah ya sayang,  Mas


minta maaf.  Mas bukannya gak mampu beli cokelat tetapi kesehatan adek


sama anak kita itu nomor satu" jelas Arka penuh kelembutan.


"Jangan mesra-mesraan


deh,  Gue masih jomblo oi" sindir Andi.  Dia duduk di sofa


sambil memakan buah yang sudah susah payah Arka potong-potong.


"Andii!!! Itu buah jangan di


makan,  makan yang utuh aja.  Ya Allah ni anak bikin darah  gue


tinggi aja" amuk Arka.  Andi yang mendengar amukan Arka tidak terlalu


ambil pusing.  Dia menikmati dengan santai buah-buahan segar yang


tersedia.


"Mas Nggak boleh pelit gitu


sama Abang"bantah Farah membela Andi.


"Ulu ulu tambah sayang sama


Adek kan jadinya" balas Andi.

__ADS_1


__ADS_2