
"Gimana masih ngambek?"
Arka memepetkan tubuhnya hingga
tidak berjarak sama sekali. Ada senyum menggoda yang bertengger di bibirnya.
Farah makin kelabakan. Saat bangun dari tidurnya, Farah tidak melihat sang
suami sama sekali sehingga ketika Arka datang Farah tidak mau di ajak bicara.
"Ma-mas ja-jangan
dekat-dekat." Farah berusaha memblok kedekatan diantara mereka. Telapak
tangannya terangkat untuk mendorong tubuh Arka yang semakin mendekat.
"Kenapa?" Arka membalas
dengan senyum miring penuh misteri.
Farah menahan nafasnya,
jantungnya berdetak dengan cepat. Wajahnya tidak kalah memerah dan itu
mengundang senyum Arka.
"Malu Mas, nanti Papa
datang" perjelasan yang Farah berikan sama sekali tidak bersumber, padahal
Papa Arfan akan kembali datang pada malam hari yang berarti lima jam lagi.
Farah merasa bodoh dengan jawaban yang dia katakana, tetepi memang hanya itu
yang dapat otakknya pikirkan.
"Malu kenapa coba? Dedek bayi
aja udah jadi" bisik Arka pelan. Bulu kuduk Farah merinding. Dia mulai
memutuskan pandangan ke arah lain agar tidak terlalu kentara apa yang
dirasakannya.
Arka tambah mengembangkan
senyumnya, dia menambah kedekatan mereka kemudian mengusap perut sang istri
yang masih datar.
"Mommy masih ngambek gak
ya?" tanya Arka jail kepada perut Farah.
Mereka sudah memutuskan untuk
panggilan saat sang anak telah lahir. Awalnya Farah tidak setuju, tetapi Arka
tetap ngotot anaknya memanggil dengan sebutan "Abi dan Mommy".
"Akh nggak bisa ngambek
lama-lama sama Mas, coba rasakan gimana jantung Adek deg-degan," Farah
membawa tangan sang suami pada dadanya. Arka yang mengetahui detak jantung sang
istri begitu cepat merasa puas dan tersenyum menang.
"Wah Adek baper sama Mas kan
hahaha. Nggak akan bisa ngambek lama-lama, Mas punya seribu jurus untuk
__ADS_1
Adek" ucap Arka percaya diri. Dia biasanya tipe orang yang tidak telalu
suka bergombal, namun setelah berumah tangga tingkat kegombalannya naik 360
derajat.
"Iya iya, Oh ya teman Mas
kapan datangnya? Adek belum pakek kaus kaki ni" seru Farah sambil menarik
selimut yang menutupi kakinya sehingga terlihatlah kaki Farah yang belum
memakai kaus kaki.
"Kayaknya bentar lagi dek,
Ya udah mas cari kaus kaki di tas dulu ya" Arka mencari kaus kaki di tas
yang terdapat barang keperluan mereka berdua. Setelah itu dia membantu sang
istri memakaikannya.
"Dek banyak makan ya biar
nggak kurus gini" Arka memegang tangan sang istri yang memang tergolong
kurus.
"Iya iya suami ku,
Insya Allah bakal jaga pola makan biar dedeknya sehat, Mommy sehat dan
Abinya gak risau lagi"
Arka lagi lagi tersenyum,
sang istri sangat bisa membalas membuat jantungan berdetak cepat.
gitu, Oh ya Papa kemaren bilang kalau sebaiknya kita tinggal di rumahnya
aja. Menurut adek gimana? "
Beberapa hari yang lalu,
Papa Arfan mengatakan bahwa ingin mengajak anaknya dan juga Arka untuk tinggal
bersama. Arka paham bahwa Papa Arfan kesepian dalam kesendirian dan dia
juga sangat setuju tetapi semua tergantung sang istri.
"Mas gak apa-apa tinggal di
rumah Papa? " tanya balik Farah.
"Mas gak apa-apa kok,
dimana pun tinggal kalau sama adek Mas ayok ayok aja" balas Arka.
"Gombal, Ya udah tinggal di
rumah Papa aja. Adek juga mau dekat terus sama Papa hehe"
"Assalamu'alaikum adek
abang" seru Andi heboh yang datang secara tiba-tiba.
"Hehe Wa'alaikumsalam
Abang. Bawa kan cokelat yang Adek mau? " tanya Farah antusias.
"Lah lah siapa yang bolehin
__ADS_1
makan cokelat? " tanya Arka dengan sorot mata tajam. Dia segera mengambil
plastik yang berada di tangan Andi.
"Apaan sih lo Ka, Adek
gue mau cokelat pakek larang segala" Andi membalas tatapan Arka tidak
kalah tajamnya.
"Lo tau Farah lagi hamil
kan?"
Andi mengangguk.
"Terus kenapa lo kasih dia
cokelat, Andi pengen gue rajam lo benaran" lanjut Arka geram.
"Mas jahat hiks, Papa
kan udah bolehin makan cokelat hiks" tangis Farah pecah sudah.
"Kan kan lo si rese, adek
gue jadi nangis gini"
"Adek lo tu bini gue
Andi. Udah jangan nangis ya sayang, makan cokelatnya libur dulu
ya" bujuk Arka.
"Gak mau hiks, Mau
Papa nggak mau Mas huaaaa" Farah menolak sentuhan dari Arka.
"Haha mampus lo Ka"
ejek Andi semangat.
"Udah ya sayang, Mas
minta maaf. Mas bukannya gak mampu beli cokelat tetapi kesehatan adek
sama anak kita itu nomor satu" jelas Arka penuh kelembutan.
"Jangan mesra-mesraan
deh, Gue masih jomblo oi" sindir Andi. Dia duduk di sofa
sambil memakan buah yang sudah susah payah Arka potong-potong.
"Andii!!! Itu buah jangan di
makan, makan yang utuh aja. Ya Allah ni anak bikin darah gue
tinggi aja" amuk Arka. Andi yang mendengar amukan Arka tidak terlalu
ambil pusing. Dia menikmati dengan santai buah-buahan segar yang
tersedia.
"Mas Nggak boleh pelit gitu
sama Abang"bantah Farah membela Andi.
"Ulu ulu tambah sayang sama
Adek kan jadinya" balas Andi.
__ADS_1