Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 20


__ADS_3

"Bun kok Istri Arka belum bangun-bangun" lirih Arka. Pandangannya


tidak pernah lepas dari objek yang menemanunya tidur setiap hari.


"Sabar Ka,  semua akan


baik-baik saja"


Ayah dan Bunda Ririn memutuskan


untuk pulang ke rumah. Segala perlengkapan Farah belum mereka siapkan,


apalagi Farah harus di rawat di rumah sakit selama seminggu.


Ruangan rawat inap masih


sepi,  Arka setia menemani sang istri.  Tidak hanya Arka sendiri di


sana,  ada juga Irfan dan Arfan.  Mereka menunggu sedikit lebih jauh.


"Ma-mas" panggil


Farah.  Arka mengucapkan syukur karena sang istri akhirnya bisa


bangun.


"Iya sayang,  apa yang


sakit?" tanya Arka lembut.


"Hiks Adek jahat ya


Mas"


Arka terdiam,  dia tidak


pernah mengira bahwa sang istri tidak mengkhawatirkan keadaan sendiri tetapi


malah mengkhawatirkan tindakannya beberapa saat yang lalu.


"Tenang ya sayang,


jangan banyak pikiran" Arka berusaha menenangkan sang istri.  Dia


juga khawatir dengan janin yang masih muda.


"Hiks adek ja-jahat Mas.


Kenapa adek bisa sebenci ini? " tangis dengan ribuan kesakitan telah


keluar.


Arfan dan Irfan bahkan melihat


itu semua.  Kata andai andai tidak akan berguna sama sekali.  Arfan


merasakan kesakitan yang luar biasa,  dia menyerah untuk menemui sang


anak.  Dia tidak akan memaksa lagi, melihat sang anak bahagia dari jauh


saja sudah cukup. Dia tidak boleh berlaku egois karena hanya akan menghancurkan


semuanya.


"Mau kemana Ar?" Tanya


Irfan ketika melihat suadaranya beranjak pergi.


"Udah Van, Anak aku udah


bahagia.  Aku kira jika bertemu aku bisa menebus kesalahan dengan


membahagiakannya,  namun aku salah.  Dia sudah bahagia,

__ADS_1


seharuskan aku memang tidak perlu menampakkan diri padanya.  Aku bahagia


kalau dia bahagia. Biarlah doa yang menjadi pengikat aku dan anakku" balas


Arfan.  Dia segera pergi setelah mengetahui anaknya baik-baik saja.


Dia juga merasa bahagia karena sebentar lagi akan menjadi kakek di usianya yang


masih 40 tahun.


"Jangan menyalahkan diri


sendiri Ar,  Kamu sudah berusaha mencarinya" balas Irfan.


"Belum,  aku yang


bodoh.  Aku yang percaya begitu saja dengan ucapan mereka" lanjut


Arfan.  Suaranya kian menghilang sebanding dengan penampakannya yang sudah


tidak ada.


"Udah jangan nangis lagi ya


Sayang" Arka mengelus pucuk kepala Farah.  Tanganya serulur untuk


menghapus jejak-jejak air mata.


"Mas kenapa begitu sulit


menerima kenyataan?  Ke-kenapa harus sekarang dia datang Mas? "


"Sayang udah ya,  Mas


gak suka kalau kayak gini.  Istigfar sayang"


Kesulitan terbesar adalah melawan


hawa nafsu sendiri. Cara terbaik adalah dengan banyak-banyak beristigfar kepada


Setelah di rasa tenang,


Arka bisa bernafas lega.  Kedatangan Ayah Arka dan Bunda Ririn juga bisa


sedikit menenangkan Farah.  Meskipun tidak banyak bicara,  tetapi


tatapan kata yang kosong membuat Arka ribuan lebih khawatir.


Mereka belum memberitahukan bahwa


ada kehidupan lain di dalam perut Farah. Arka masih ragu,  apakah istrinya


siap untuk hamil ataupun tidak.  Usia yang cukup muda membuat kehamilan


yang datang bisa membahayakan,  namun Arka percaya bahwa Allah memberikan


amanah tersebut tanda bahwa mereka telah siap untuk menerimanya.


"Ada yang mau mas kasih


tau" ucap Arka pelan.  Dia sedang mengupas buah apel untuk sang


istri. Ayah Arka dan Bunda Ririn keluar karena ingin memberikan waktu kepada


anaknya.


"A-apa Mas? " Farah


masih ketakutan,  apa lagi kejutan yang akan hadir dalam hidupnya.


"Jangan tegang dek,


rilex ya"

__ADS_1


"Ma-maaf Mas,  Farah


terlalu takut untuk mengetahui sesuatu" jelas Farah.


"Apapun yang terjadi Mas


bakal ada di samping adek,  jadi jangan khawatir ya" balas Arka


tersenyum.


"Iya Mas, jadi mas mau kasih


tau apa? "


"Begini,  Di perut adek


ada amanah yang Allah titipkan untuk kita" meskipun ragu,  Akhirnya


Arka dapat untuk berbicara.


Farah terdiam kaku,  air


matanya mengalir begitu saja. Dan hal itu membuat Arka khawatir.  Dia


harus seperti apa jika sang istri tidak senang?  Seharusnya Arka tau bahwa


sang istri belum siap.


"Ma-maafkan Mas,


jangan salahin anak kita ya.  Mas yang salah" ujar Arka yang langsung


memeluk erat tubuh sang istri.


"Mas hiks kenapa minta


maaf?" tanya Farah terbata-bata.  Bahkan dia tidak sadar cairan


mengalir dari hidungnya.


"Adek pasti gak marah sama


Mas kan? Makanya nangis" tebak Arka.


"Adek hiks nangis karena


bahagia Mas,  Allah baik banget sehingga ngasih amanah secepat ini"


Lagi-lagi Arka bersyukur,


dia tidak perduli bajunya sudah ada cairan yang berasal dari hidung sang istri.


"Makasih sayang,  kita


belajar sama-sama ya" Farah menggerakkan kepalanya dalam pelukan sang


suami.


Rasa bahagia itu tiba-tiba saja


Allah hadirkan.  Bukankah Allah begitu baik?


Tetapi perlu di ingat bahwa Allah


haik setia saat bukan hanya saat kita merasa bahagia.  Kebaikan yang Allah


berikan mungkin tidak terasa secara langsung,  namun yakinlah satu hal


bahwa apapun yang terjadi itulah yang terbaik dari Allah agar kita selalu


mendekat kepada-Nya.  Jika kesedihan itu datang,  maka mengadulah


kepada Allah. Setiap doa,  rintihan serta keluh kesah yang kita sampaikan

__ADS_1


yakinlah bahwa Allah mendengarnya.


__ADS_2