
"Bun kok Istri Arka belum bangun-bangun" lirih Arka. Pandangannya
tidak pernah lepas dari objek yang menemanunya tidur setiap hari.
"Sabar Ka, semua akan
baik-baik saja"
Ayah dan Bunda Ririn memutuskan
untuk pulang ke rumah. Segala perlengkapan Farah belum mereka siapkan,
apalagi Farah harus di rawat di rumah sakit selama seminggu.
Ruangan rawat inap masih
sepi, Arka setia menemani sang istri. Tidak hanya Arka sendiri di
sana, ada juga Irfan dan Arfan. Mereka menunggu sedikit lebih jauh.
"Ma-mas" panggil
Farah. Arka mengucapkan syukur karena sang istri akhirnya bisa
bangun.
"Iya sayang, apa yang
sakit?" tanya Arka lembut.
"Hiks Adek jahat ya
Mas"
Arka terdiam, dia tidak
pernah mengira bahwa sang istri tidak mengkhawatirkan keadaan sendiri tetapi
malah mengkhawatirkan tindakannya beberapa saat yang lalu.
"Tenang ya sayang,
jangan banyak pikiran" Arka berusaha menenangkan sang istri. Dia
juga khawatir dengan janin yang masih muda.
"Hiks adek ja-jahat Mas.
Kenapa adek bisa sebenci ini? " tangis dengan ribuan kesakitan telah
keluar.
Arfan dan Irfan bahkan melihat
itu semua. Kata andai andai tidak akan berguna sama sekali. Arfan
merasakan kesakitan yang luar biasa, dia menyerah untuk menemui sang
anak. Dia tidak akan memaksa lagi, melihat sang anak bahagia dari jauh
saja sudah cukup. Dia tidak boleh berlaku egois karena hanya akan menghancurkan
semuanya.
"Mau kemana Ar?" Tanya
Irfan ketika melihat suadaranya beranjak pergi.
"Udah Van, Anak aku udah
bahagia. Aku kira jika bertemu aku bisa menebus kesalahan dengan
membahagiakannya, namun aku salah. Dia sudah bahagia,
__ADS_1
seharuskan aku memang tidak perlu menampakkan diri padanya. Aku bahagia
kalau dia bahagia. Biarlah doa yang menjadi pengikat aku dan anakku" balas
Arfan. Dia segera pergi setelah mengetahui anaknya baik-baik saja.
Dia juga merasa bahagia karena sebentar lagi akan menjadi kakek di usianya yang
masih 40 tahun.
"Jangan menyalahkan diri
sendiri Ar, Kamu sudah berusaha mencarinya" balas Irfan.
"Belum, aku yang
bodoh. Aku yang percaya begitu saja dengan ucapan mereka" lanjut
Arfan. Suaranya kian menghilang sebanding dengan penampakannya yang sudah
tidak ada.
"Udah jangan nangis lagi ya
Sayang" Arka mengelus pucuk kepala Farah. Tanganya serulur untuk
menghapus jejak-jejak air mata.
"Mas kenapa begitu sulit
menerima kenyataan? Ke-kenapa harus sekarang dia datang Mas? "
"Sayang udah ya, Mas
gak suka kalau kayak gini. Istigfar sayang"
Kesulitan terbesar adalah melawan
hawa nafsu sendiri. Cara terbaik adalah dengan banyak-banyak beristigfar kepada
Setelah di rasa tenang,
Arka bisa bernafas lega. Kedatangan Ayah Arka dan Bunda Ririn juga bisa
sedikit menenangkan Farah. Meskipun tidak banyak bicara, tetapi
tatapan kata yang kosong membuat Arka ribuan lebih khawatir.
Mereka belum memberitahukan bahwa
ada kehidupan lain di dalam perut Farah. Arka masih ragu, apakah istrinya
siap untuk hamil ataupun tidak. Usia yang cukup muda membuat kehamilan
yang datang bisa membahayakan, namun Arka percaya bahwa Allah memberikan
amanah tersebut tanda bahwa mereka telah siap untuk menerimanya.
"Ada yang mau mas kasih
tau" ucap Arka pelan. Dia sedang mengupas buah apel untuk sang
istri. Ayah Arka dan Bunda Ririn keluar karena ingin memberikan waktu kepada
anaknya.
"A-apa Mas? " Farah
masih ketakutan, apa lagi kejutan yang akan hadir dalam hidupnya.
"Jangan tegang dek,
rilex ya"
__ADS_1
"Ma-maaf Mas, Farah
terlalu takut untuk mengetahui sesuatu" jelas Farah.
"Apapun yang terjadi Mas
bakal ada di samping adek, jadi jangan khawatir ya" balas Arka
tersenyum.
"Iya Mas, jadi mas mau kasih
tau apa? "
"Begini, Di perut adek
ada amanah yang Allah titipkan untuk kita" meskipun ragu, Akhirnya
Arka dapat untuk berbicara.
Farah terdiam kaku, air
matanya mengalir begitu saja. Dan hal itu membuat Arka khawatir. Dia
harus seperti apa jika sang istri tidak senang? Seharusnya Arka tau bahwa
sang istri belum siap.
"Ma-maafkan Mas,
jangan salahin anak kita ya. Mas yang salah" ujar Arka yang langsung
memeluk erat tubuh sang istri.
"Mas hiks kenapa minta
maaf?" tanya Farah terbata-bata. Bahkan dia tidak sadar cairan
mengalir dari hidungnya.
"Adek pasti gak marah sama
Mas kan? Makanya nangis" tebak Arka.
"Adek hiks nangis karena
bahagia Mas, Allah baik banget sehingga ngasih amanah secepat ini"
Lagi-lagi Arka bersyukur,
dia tidak perduli bajunya sudah ada cairan yang berasal dari hidung sang istri.
"Makasih sayang, kita
belajar sama-sama ya" Farah menggerakkan kepalanya dalam pelukan sang
suami.
Rasa bahagia itu tiba-tiba saja
Allah hadirkan. Bukankah Allah begitu baik?
Tetapi perlu di ingat bahwa Allah
haik setia saat bukan hanya saat kita merasa bahagia. Kebaikan yang Allah
berikan mungkin tidak terasa secara langsung, namun yakinlah satu hal
bahwa apapun yang terjadi itulah yang terbaik dari Allah agar kita selalu
mendekat kepada-Nya. Jika kesedihan itu datang, maka mengadulah
kepada Allah. Setiap doa, rintihan serta keluh kesah yang kita sampaikan
__ADS_1
yakinlah bahwa Allah mendengarnya.