Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 49


__ADS_3

"Rujaknya nggak di makan?' tanya Arka. Farah menggeleng, dia sudah bersandar pada pundak Arka. Mereka baru sampai ke rumah sekitar jam 10 malam. Tampak wajah kelelahan terpancar dari diri Farah. Mereka berdua duduk di sofa karena Farah sudah sangat kelelahan.


"Yang," panggil pelan Arka. Farah hanya menggumam pelan, matanya masih tetap tertutup.


"Baru pulang Ka?" tanya Papa Arfan. Arka menjawab iya. Dia juga menyodorkan 1 porsi rujak kepada Papa mertuanya. Setelah mengobrol sebentar Arka langsung menggendong Farah ke kamar mereka. Dalam hati tentu saja Arka merasa kasihan apalagi sang istri masih tergolong muda.


18 tahun saat dulunya Arka habiskan waktu bersama teman-temannya untuk hangout atau hanya sekedar nongkrong yang tidak jelas, namun sang istri harus menghabiskan waktu dengannya dan sebentar lagi menjadi ibu dari anak-anaknya. Jujur saja Arka ingin memberikan pendidikan yang terbaik untuk sang istri, Namun Arka tahu dan dia benar-benar sangat tahu. Istrinya berbeda dari kebanyakan orang, hatinya mulia dan Arka tahu istrinya baik.


Arka akan selalu berusaha untuk membuat sang istri bahagia, menjadikannya sosok sebagai tempat untuk mewujudkan segala mimpi-mmpi dan keinginannya. Dulu Arka berpikir untuk apa menikah muda? Ternyata menikah tidak semenyeramkan pandangannya. Menikah adalah hal yang sangat bagus. Menikah sambil menempuh pendidikanpun tidak ada salahnya. Dalam islam perempuan memang lebih baik berada di rumah untuk memenuhi kewajibannya terhadap suami dan anak-anaknya.

__ADS_1


Apakah pikiran itu kuno? Jelas tidak, dari perempuanlah terlahir anak-anak yang akan membawa peradapan besar di dalam suatu negeri. Bagaimana terlahirnya seorang pejuang tokoh islam yaitu Muhammad Al-Fatih. Dia tentu saja terlahir dari seorang ibu yang luar biasa. Didikan kedua orang tuanya menjadikan dia orang yang sholeh, tangguh lagi baik. Dia berjuang untuk mengalahkan musuh dalam merebut konstatinopel. Madrasah pertama bagi anak adalah ibunya, syair ini ternyata benar adanya terutama untuk keluarga "sang penakluk". Ratu Valide Yumahatun ibu Al Fatih adalah seorang wanita yang shalehah, ibu yang istimewa, ibu yang fokus dalam mendidik anaknya, tidak bercabang perasaan dan hatinya, tidak bercabang akal logika dan kecerdasannya, semua di fokuskan untuk melahirkan orang besar, melahirkan pembuka Konstantinopel, melahirkan manusia yang nanti mendapatkan janji nabi. Ratu Valide Yumahatun mengerahkan seluruh potensi yang dimilikinya untuk mendidik Muhammad Al Fatih.


Setiap selesai shalat subuh sang ibu membawa Muhammad Al Fatih untuk berjalan keluar, kemudian menunjukkan dari kejauhan benteng Konstantinopel yang megah itu, lalu beliau berkata "namamu nak adalah nama nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, nabi kita yang pernah mengatakan 'benteng itu pasti akan ditaklukan' dan kamu adalah penakluknya". Ada pelajaran berharga bagi para ibu dari ratu Valide, pelajaran itu adalah bersungguh-sungguhlah menanamkan misi besar kepada anak.


Begitupun Ayahnya sangat luar biasa, mengantarkan anaknya yaitu Muhammad al Fatih ketempat yang terbaik. Sulthan Muhammad Al Fatih merupakan Sulthan yang berilmu, Sulthan yang shaleh, pemimpin negara dan militer yang hebat bahkan mendapatkan janji kebesaran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, namun tahukah kita bahwa jauh sebelum menjadi Sulthan penakluk Konstantinopel ada sebuah pelajaran sejarah yang jauh lebih dahsyat untuk diketahui. Bahkan sejarah beliau dapat ditiru oleh orang tua manapun yang ingin mencetak karakter anak-anak mereka seperti karakter Sulthan Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinopel.


Sulthan Muhammad Al Fatih rahimahullah yang juga bergelar Abul khairat, Sulthan ketujuh dalam silsilah keluarga utsman, lahir pada masa ketika ayahnya membutuhkan seorang penerus kerajaan yang bisa mewujudkan cita-cita besar para pendahulunya yaitu menaklukkan Konstantinopel. Maka pilihan untuk memilih penerus kerajaan hanya diberikan kepada Muhammad Al Fatih setelah kakaknya "Sulthan Alauddin" wafat. Ada pelajaran yang berharga untuk setiap keluarga muslim bahwa hendaknya para orang tua senantiasa memikirkan kelanjutan amal sholeh yang selama ini dibangun, dan hal itu bisa diwujudkan dengan memikirkan pendidikan yang benar bagi anak.


Sulthan Murad II adalah pemimpin cerdas dan shaleh, pemimpin yang sangat dekat dengan para ulama dan kedekatan itu membuatnya bisa memilih guru yang tepat untuk pendidikan anaknya. Namun masalahnya setiap guru yang datang kepada Al Fatih untuk mengajar ilmu dan keshalehan selalu ditertawakan, dilecehkan dan diabaikan. Sulthan Murad II sadar betul untuk mewujudkan misi besarnya diperlukan seorang guru yang mampu membentuk karakter anaknya. Sang ayah akhirnya mendapat satu nama guru yang tepat yaitu Syaikh Ahmad bin Ismail Al Kurani rahimahullah.

__ADS_1


Ketika Syaikh Ahmad datang ke istana, Sulthan Murad II berkata kepadanya "saya akan menyerahkan pendidikan anak saya kepadamu" sembari Sulthan menyerahkan kayu kepada Syaikh Ahmad lalu Sulthan melanjutkan perkataannya "ajari anak saya ilmu kalau dia tidak mau belajar maka pukul dia dengan kayu ini". Al Kurani segera pergi menemui Muhammad Al Fatih dengan membawa kayu di tangannya. Dia berkata, "Ayahmu mengirimku kepadamu untuk mengajarimu. Dia menyuruhku untuk memukulmu jika kamu tidak mau melaksanakan perintahku."


Mendengar perkataan itu, Sulthan Muhammad Al Fatih tertawa. Al Maula Al Kurani pun memukulnya dengan sangat keras dimajelis tersebut. Hal ini membuat Sulthan Muhammad Al Fatih takut kepadanya. Akhirnya, dia berhasil mengkhatamkan hafalan Al Qur'an dalam waktu singkat. Disini terdapat pelajaran yang sangat mahal, pelajaran itu adalah mulailah pendidikan anak kita dari Al Qur'an dan hendaknya para orang tua memilih guru yang tepat untuk mendidik anak, ketika guru itu datang maka serahkanlah pendidikan anak itu dengan sepenuh hati. Pelajaran berikutnya adalah "wibawa". Seorang guru hendaknya mempunyai wibawa dihadapan murid, jika tidak maka akan terjadi kiamat pendidikan, ilmu yang diajarkan tidak akan bermanfaat lagi.


Seorang Ayah dan Ibu harus sama-sama bekerja sama untuk bisa mendidik anaknya menjadi yang terbaik. Menjadi orang yang bisa membawa kedua orang tuanya ke Jannah-Nya Allah. Peran ibu sangat penting, karena itu dalam islam tidak ada larangan jika seorang perempuan menuntut ilmu malahan di anjurkan. Karena perempuan adalah madrasah pertama untuk Anak. Dia harus mempunyai pengetahuan yang luas terkait dengan zaman yang setiap harinya berubah. Berusaha menciptakan suatu metode pembelajaran agar mampu menghadapi zaman yang penuh dengan hiruk pikuk.


Arka meletakkan sang istri di tempat tidur, dia memandangi setiap inci orang yang akan menemaninya sampai maut menjemput dan insya Allah menjadi bidadarinya kelak di surga. Aamiin ya Allah. Dia membuka hijab sang istri dengan pelan.


Tangannya mencari-cari barang yang biasa digunakan untuk sang istri membersihkan wajah setiap malam. Arka tidak pernah menuntut istrinya harus begini atau harus begitu. Insya Allah dia akan menerima apa adanya, namun memang benar jika istri paham dengan ilmu agama maka dia akan berusaha menyenangkan mata sang suami.

__ADS_1


__ADS_2