
Dini hari tepatnya jam 3 lewat 20 menit Arka terbangun dari
tidur nyenyaknya karena ada rasa bergejolak dari dalam perutnya. Badannya
mendadak linglung untuk bisa sampai di depan kamar mandi.
“Huekk Huekk Huekk.” Arka berusaha mengeluarkan isi dalam
perutnya. Keringat dingin mulai membasahi bagian dahi dan leher. Dia
menormalkan debaran pada dadanya dengan cara duduk di lantai kamar mandi.
Selama dua puluh menit menormalkan keadaan, Arka kembali bergelut pada selimut.
Kondisi yang tidak stabil membuat Arka tidak nyaman untuk
sekedar berbaring. Dia bergerak kesana-kesini untuk mencari kenyaman. Perutnya
mendadak berulah kembali, dia segera berlari ke kamar Mandi untuk mengeluarkan
apa yang telah membrontak.
“Astagfirullah, Mas kenapa?” Farah memijat tengkuk sang
suami untuk melancarkan isi dalam perut yang ingin keluar. Raut wajah khawatir
tentu saja ada pada diri Farah. Dia mengira bahwa Arka kelelahan sehingga saat
tidur menjadi tidak nyaman.
“Nggak tahu dek, Perut Mas sakit,” lirih Arka. Dia
berpegangan pada dinding kamar mandi agar tidak jatuh.
“Masih mau muntah Mas?” Tanya F arah dengan mata yang sudah
berkaca-kaca. Dia tidak sanggup melihat sang suami pucat tidak ada tenaga
bahkan untuk menahan bobot tubuhnya sendiri,
Sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit Arka berkata
“Kayaknya I-“
“Huekk Huekk Huekk.” Arka kembali muntah sebelum
menyelesaikan ucapannya.
“Mas,” cicit Farah takut. Dia sudah menangis terisak-isak
karena tidak tega melihat sang suami yang terkulai lemas di bawah lantai.
“Jangan nangis, Mas nggak apa-apa kok,” ucap Arka
lirih. Dia menjulurkan tangan untuk
mengapus air mata yang mengalir pada pipi Farah.
“Mas-“ Farah tidak sanggup melanjutkan ucapannya lagi.
“Mas nggak apa-apa sayang, Ayo kita tidur lagi,” ucap Arka
__ADS_1
sambil bersusah payah untuk berdiri. Farah dengan sigap membantu sang suami
untuk menjadi tempat berpegangnya. Bobot tubuh Arka yang cenderung besar tidak
membuat Farah keberatan sama sekali. Setelah Arka membaringkan tubuhnya, Farah
mencari minyak kayu putih untuk meredahkan sedikit sakit pada perut sang suami.
“Tadi siang Mas makan apa?” tanya Farah sambil mengolesi
minyak pada perut sixpack Arka.
“Kayak biasa kok dek,” jawab Arka. Di saat siang hari Arka
akan membeli makanan di dekat toko barang hariannya. Awalnya Farah ingin
mengantarkan makan siang atau Arka yang pulang ke rumah, sayangnya hal itu
tidak disetujui oleh Arka apalagi mengetahui sedang hamil muda. Jarak rumah
Papa Arfan dan toko Arka lumayan jauh, bisa menempuh perjalanan 45 menit
sehingga membeli makanan adalah pilihan yang tepat.
“Adek kan udah sering bilang belum tentu makanan di luar itu
cocok buat perut Mas, baru satu minggu aja udah sakit perut kayak gini. Gimana
kalau berbulan-bulan bahkan bertahun?” Arka tahu bahwa ketika seorang istri
marah makan cukup diam dan diam jangan melawan dengan berbagai alasan karena
“Kenapa diam?”
“Marahnya kapan-kapan aja Ya, perut Mas sakit.”
Farah menghela nafas panjang, dia sangat mudah sekali
sensitive semenjak hamil.
“Maaf Mas,” lirih Farah.
Arka tersenyum kea rah sang istri, dia tahu bahwa Farah
sangat khawatir. Dia juga tidak ingin sakit perut begini, tetapi apa boleh buat
jika sudah terjadi.
Usapan yang dilakukan Farah pada perut Arka mendadak
menghilangkan rasa sakit, dia mencoba memejamkan mata untuk mengistirahatkan
diri yang sudah tidak bertenaga lagi.
“Jangan sakit-sakit lagi Mas, Adek kacau kalau lihat mas
lemah gini,” bisik Farah. Dia mengecup kening Arka cukup lama.
Waktu dini hari bukanlah waktu biasa. Farah memang tidak
terbiasa menunaikan ibadah shalat malam tetapi dia juga tidak menyia-nyiakan
__ADS_1
waktu apabila terbangun pada dini hari.
Setiap manusia selalu ingin dekat dengan tuhannya, mereka
melakukan berbagai ibadah untuk bisa mendapatkan cinta Allah. Farah masih
belajar dalam perkara agama, dia bukan berasal dari keluarga yang paham agama.
Selama ini Farah hanya mengerjakan shalat lima waktu, puasa wajib di bulan
ramadhan dan ibadah wajib lainnya. Kampung dimana selama 17 tahun dia tinggal
memang sangat kental ilmu agama tetapi Farah tidak pernah keluar dari rumah
kecuali hal yang penting seperti sekolah, belanja, serta membeli apa yang di
suruh oleh keluarganya. Setelah menginjak bangku sekolah menengah atas, dia
juga tidak bisa bebas dari berbagai macam peraturan yang dibuat oleh kakak
sepupunya sendiri. Jadilah ilmu agama yang dia dapat hanya dari buku
perpustakaan sekolah atau sekedar bertanya kepada guru agama.
Mungkin dia akan tahu jika mempunyai Smartphone, ya mungkin
tetapi sayangnya dia tidak diberikan fasilitas tersebut. Dia di beri makan dan
minum saja sudah sangat bersyukur.
Farah memulai shalat,
setiap bacaan-bacaan dia renungkan baik-baik. Dulu dia tidak tahu apa arti dari
bacaan shalat yang tiap hari dia lakukan, sampai ada perkataan seorang ustadz
yang membuat dia sadar bahwa pentingnya memahami arti dari bacaan shalat.
Bayangkan saja, kita shalat 17 rakaat sehari semalam tetapi
kita tidak tahu apa maksud dari bacaan yang kita lakukan. Bagaimana shalat
menghadirkan Kekhusyukkan
sedangkan kita tidak paham apa yang kita baca. Setiap bacaan shalat jika di
renungkan maka tangisanpun bisa keluar tanpa permisi. Bahkan membaca doa
iftitah saja begitu mempunyai makna mendalam, belum lagi Al-fatihah dan
lainnya. Masya Allah.
Setelah menunaikan shalat 2 rakaat dan berdoa, Farah membuka mushaf
dan membaca Al-qur’an dengan sangat
baik. Saat membaca Al-qur’an memang begitu banyak godaannya, seperti ngantuk,
rasa malas dan lain sebagainya. Ketika godaan itu datang maka lawanlah dengan
sekuat tenaga, jangan pernah kalah dari golongan syaitan.
__ADS_1