Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 25


__ADS_3

Dini hari tepatnya jam 3 lewat 20 menit Arka terbangun dari


tidur nyenyaknya karena ada rasa bergejolak dari dalam perutnya. Badannya


mendadak linglung untuk bisa sampai di depan kamar mandi.


“Huekk Huekk Huekk.” Arka berusaha mengeluarkan isi dalam


perutnya. Keringat dingin mulai membasahi bagian dahi dan leher. Dia


menormalkan debaran pada dadanya dengan cara duduk di lantai kamar mandi.


Selama dua puluh menit menormalkan keadaan, Arka kembali bergelut pada selimut.


Kondisi yang tidak stabil membuat Arka tidak nyaman untuk


sekedar berbaring. Dia bergerak kesana-kesini untuk mencari kenyaman. Perutnya


mendadak berulah kembali, dia segera berlari ke kamar Mandi untuk mengeluarkan


apa yang telah membrontak.


“Astagfirullah, Mas kenapa?” Farah memijat tengkuk sang


suami untuk melancarkan isi dalam perut yang ingin keluar. Raut wajah khawatir


tentu saja ada pada diri Farah. Dia mengira bahwa Arka kelelahan sehingga saat


tidur menjadi tidak nyaman.


“Nggak tahu dek, Perut Mas sakit,” lirih Arka. Dia


berpegangan pada dinding kamar mandi agar tidak jatuh.


“Masih mau muntah Mas?” Tanya F arah dengan mata yang sudah


berkaca-kaca. Dia tidak sanggup melihat sang suami pucat tidak ada tenaga


bahkan untuk menahan bobot tubuhnya sendiri,


Sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit Arka berkata


“Kayaknya I-“


“Huekk Huekk Huekk.” Arka kembali muntah sebelum


menyelesaikan ucapannya.


“Mas,” cicit Farah takut. Dia sudah menangis terisak-isak


karena tidak tega melihat sang suami yang terkulai lemas di bawah lantai.


“Jangan nangis, Mas nggak apa-apa kok,” ucap Arka


lirih.  Dia menjulurkan tangan untuk


mengapus air mata yang mengalir pada pipi Farah.


“Mas-“ Farah tidak sanggup melanjutkan ucapannya lagi.


“Mas nggak apa-apa sayang, Ayo kita tidur lagi,” ucap Arka

__ADS_1


sambil bersusah payah untuk berdiri. Farah dengan sigap membantu sang suami


untuk menjadi tempat berpegangnya. Bobot tubuh Arka yang cenderung besar tidak


membuat Farah keberatan sama sekali. Setelah Arka membaringkan tubuhnya, Farah


mencari minyak kayu putih untuk meredahkan sedikit sakit pada perut sang suami.


“Tadi siang Mas makan apa?” tanya Farah sambil mengolesi


minyak pada perut sixpack Arka.


“Kayak biasa kok dek,” jawab Arka. Di saat siang hari Arka


akan membeli makanan di dekat toko barang hariannya. Awalnya Farah ingin


mengantarkan makan siang atau Arka yang pulang ke rumah, sayangnya hal itu


tidak disetujui oleh Arka apalagi mengetahui sedang hamil muda. Jarak rumah


Papa Arfan dan toko Arka lumayan jauh, bisa menempuh perjalanan 45 menit


sehingga membeli makanan adalah pilihan yang tepat.


“Adek kan udah sering bilang belum tentu makanan di luar itu


cocok buat perut Mas, baru satu minggu aja udah sakit perut kayak gini. Gimana


kalau berbulan-bulan bahkan bertahun?” Arka tahu bahwa ketika seorang istri


marah makan cukup diam dan diam jangan melawan dengan berbagai alasan karena


“Kenapa diam?”


“Marahnya kapan-kapan aja Ya, perut Mas sakit.”


Farah menghela nafas panjang, dia sangat mudah sekali


sensitive semenjak hamil.


“Maaf Mas,” lirih Farah.


Arka tersenyum kea rah sang istri, dia tahu bahwa Farah


sangat khawatir. Dia juga tidak ingin sakit perut begini, tetapi apa boleh buat


jika sudah terjadi.


Usapan yang dilakukan Farah pada perut Arka mendadak


menghilangkan rasa sakit, dia mencoba memejamkan mata untuk mengistirahatkan


diri yang sudah tidak bertenaga lagi.


“Jangan sakit-sakit lagi Mas, Adek kacau kalau lihat mas


lemah gini,” bisik Farah. Dia mengecup kening Arka cukup lama.


Waktu dini hari bukanlah waktu biasa. Farah memang tidak


terbiasa menunaikan ibadah shalat malam tetapi dia juga tidak menyia-nyiakan

__ADS_1


waktu apabila terbangun pada dini hari.


Setiap manusia selalu ingin dekat dengan tuhannya, mereka


melakukan berbagai ibadah untuk bisa mendapatkan cinta Allah. Farah masih


belajar dalam perkara agama, dia bukan berasal dari keluarga yang paham agama.


Selama ini Farah hanya mengerjakan shalat lima waktu, puasa wajib di bulan


ramadhan dan ibadah wajib lainnya. Kampung dimana selama 17 tahun dia tinggal


memang sangat kental ilmu agama tetapi Farah tidak pernah keluar dari rumah


kecuali hal yang penting seperti sekolah, belanja, serta membeli apa yang di


suruh oleh keluarganya. Setelah menginjak bangku sekolah menengah atas, dia


juga tidak bisa bebas dari berbagai macam peraturan yang dibuat oleh kakak


sepupunya sendiri. Jadilah ilmu agama yang dia dapat hanya dari buku


perpustakaan sekolah atau sekedar bertanya kepada guru agama.


Mungkin dia akan tahu jika mempunyai Smartphone, ya mungkin


tetapi sayangnya dia tidak diberikan fasilitas tersebut. Dia di beri makan dan


minum saja sudah sangat bersyukur.


 Farah memulai shalat,


setiap bacaan-bacaan dia renungkan baik-baik. Dulu dia tidak tahu apa arti dari


bacaan shalat yang tiap hari dia lakukan, sampai ada perkataan seorang ustadz


yang membuat dia sadar bahwa pentingnya memahami arti dari bacaan shalat.


Bayangkan saja, kita shalat 17 rakaat sehari semalam tetapi


kita tidak tahu apa maksud dari bacaan yang kita lakukan. Bagaimana shalat


menghadirkan Kekhusyukkan


sedangkan kita tidak paham apa yang kita baca. Setiap bacaan shalat jika di


renungkan maka tangisanpun bisa keluar tanpa permisi. Bahkan membaca doa


iftitah saja begitu mempunyai makna mendalam, belum lagi Al-fatihah dan


lainnya. Masya Allah.


Setelah menunaikan shalat 2 rakaat dan berdoa, Farah membuka mushaf


dan  membaca Al-qur’an dengan sangat


baik. Saat membaca Al-qur’an memang begitu banyak godaannya, seperti ngantuk,


rasa malas dan lain sebagainya. Ketika godaan itu datang maka lawanlah dengan


sekuat tenaga, jangan pernah kalah dari golongan syaitan.

__ADS_1


__ADS_2