Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 29


__ADS_3

Kondisi kesehatan Farah masih sangat


merisaukan.  Arka menjadi kelinglungan dengan kondisi tersebut.  Jika


saja dia bisa menggantikan rasa mual setiap paginya maka Arka mau


menggantikannya.


 


 


"Dek makan dulu ya. "


Agenda Arka setiap pagi adalah membujuk sang istri untuk bisa mengisi perutnya.


Farah mencium aroma makanan di depanya terlebih dahulu,  kemudian dia


menggeleng tanda tidak ingin untuk sekedar dekat dengan makanan tersebut.


"Kenapa,  Masih kecium bau


bawangnya Ya?” Farah menangguk. Dia menutup hidung karena tidak kuat mencium


aroma yang di hasilkan oleh makanan yang dibawa Arka.


“Padahal nggak ada bau bawangnya kok


dek. " ucap Arka setelah mencium aroma makanan di tanganya.


“Mas jauhin dulu makanannya, bikin


mual.”


 Arka memutuskan untuk kembali memasak sesuatu


yang bisa diterima oleh perut istrinya. Sebenarnya dia bingung harus masak apa.


Dia tidak terlalu pandai dalam urusan masak tetapi jika istrinya meminta Arka


bisa berbuat apa. Fase ngidam yang selalu di bicarakan Bunda, Ayah dan Papa


akhirnya terjadi juga. Dia membaca berberapa artikel bahwa itu hal biasa untuk

__ADS_1


ibu hamil. Sebagai seorang suami Arka mencoba selalu sabar dan menuruti segala


yang dinginkan istrinya selama tidak di luar batas kewajaran dan tidak


menganggu kesehatan.


“Suruh chef resto Papa aja Ka,” usul


Papa mertua Arka.


“Farah maunya Arka yang buat Pa,”


balas Arka. Dia berpikir apa yang enak untuk dibuat tanpa adanya bawang.


“Ya udah masak bubur aja, sini Papa


bantuin.” Ide Papa Arfan tidak terlalu buruk. Bubur adalah makanan yang paling


tepat.


Arka dan Papa Arfan membuat bubur


bersama-sama. Sesekali mereka sekedar berbicara ringan tentang perkembangan


untuk menjadi pelengkap pada keluarga mereka.


“Gimana kuliahnya Ka?”


“Belum ada kemajuan sih Pa, apalagi


lihat kondisi Farah kayak gini.” Meskipun beberapa temannya sudah menyelesaikan


pendidikan strata satu tidak membuat Arka ingin segera menyelesaikannya. Dia tahu


lulus tepat waktu adalah yang paling dicari, tetapi dia sadar diri bagaimana


menjalankan perkuliahan tidak sepenuh hati.


Arka tahu bahwa penyesalan pasti


datang belakangan, dia yang dulunya tidak terlalu serius dalam mengikuti


perkuliahan membuat penyelesainnya pun terkesan lama. Ada beberapa mata kuliah

__ADS_1


yang mendapat nilai tidak memenuhi standar.


“Mungkin karena awal kehamilan Ka,


insya Allah nanti enggak lagi.” Papa Arfan menepuk pundak Arka untuk memberikan


kekuatan untuk menghadapi apapun yang menanti di depan sana.


“Semoga aja Pa, Lihat Farah kurus


gitu buat Arka khawatir apalagi ada 2 anak di dalam perutnya,” lirih Arka.


“Iya Papa pun ngerasa gitu Ka, kita


memang nggak bisa menggantikan posisi Farah ataupun merasakan apa yang dia


alami. Kita harus selalu ada di samping dia, memberikan perhatian agar dia


merasakan bahwa kita selalu ada untuk dia.” Arka mendengarkan dengan sangat


baik.


Sebenarnya begitu banyak ketakutan


dalam dirinya, apalagi umur sang istri terkesan mudah untuk mengalami


kehamilan. Dia juga tidak pernah merencanakan mempunyai anak cepat tetapi jika


Allah sudah berkendak Arka sangat bersyukur karena Allah memberikan kepada


mereka berdua amanah yang bisa jadi sangat diinginkan oleh pasangan di luar


sana.


“Ini Mas sama Papa buat bubur, coba


di cium dulu.” Arka memberikan satu sendok yang sudah berisi bubur. Farah


mencium aroma dari makanan baru yang dibawa Arka, dia merasa tidak merasa mual.


“Nggak bikin mual kok Mas,” ucap Farah dengan


suara lemah. Arka membantu sang istri untuk duduk di ranjang dengan

__ADS_1


bersandarkan bantal yang sudah disusun.


__ADS_2