
Kondisi kesehatan Farah masih sangat
merisaukan. Arka menjadi kelinglungan dengan kondisi tersebut. Jika
saja dia bisa menggantikan rasa mual setiap paginya maka Arka mau
menggantikannya.
"Dek makan dulu ya. "
Agenda Arka setiap pagi adalah membujuk sang istri untuk bisa mengisi perutnya.
Farah mencium aroma makanan di depanya terlebih dahulu, kemudian dia
menggeleng tanda tidak ingin untuk sekedar dekat dengan makanan tersebut.
"Kenapa, Masih kecium bau
bawangnya Ya?” Farah menangguk. Dia menutup hidung karena tidak kuat mencium
aroma yang di hasilkan oleh makanan yang dibawa Arka.
“Padahal nggak ada bau bawangnya kok
dek. " ucap Arka setelah mencium aroma makanan di tanganya.
“Mas jauhin dulu makanannya, bikin
mual.”
Arka memutuskan untuk kembali memasak sesuatu
yang bisa diterima oleh perut istrinya. Sebenarnya dia bingung harus masak apa.
Dia tidak terlalu pandai dalam urusan masak tetapi jika istrinya meminta Arka
bisa berbuat apa. Fase ngidam yang selalu di bicarakan Bunda, Ayah dan Papa
akhirnya terjadi juga. Dia membaca berberapa artikel bahwa itu hal biasa untuk
__ADS_1
ibu hamil. Sebagai seorang suami Arka mencoba selalu sabar dan menuruti segala
yang dinginkan istrinya selama tidak di luar batas kewajaran dan tidak
menganggu kesehatan.
“Suruh chef resto Papa aja Ka,” usul
Papa mertua Arka.
“Farah maunya Arka yang buat Pa,”
balas Arka. Dia berpikir apa yang enak untuk dibuat tanpa adanya bawang.
“Ya udah masak bubur aja, sini Papa
bantuin.” Ide Papa Arfan tidak terlalu buruk. Bubur adalah makanan yang paling
tepat.
Arka dan Papa Arfan membuat bubur
bersama-sama. Sesekali mereka sekedar berbicara ringan tentang perkembangan
untuk menjadi pelengkap pada keluarga mereka.
“Gimana kuliahnya Ka?”
“Belum ada kemajuan sih Pa, apalagi
lihat kondisi Farah kayak gini.” Meskipun beberapa temannya sudah menyelesaikan
pendidikan strata satu tidak membuat Arka ingin segera menyelesaikannya. Dia tahu
lulus tepat waktu adalah yang paling dicari, tetapi dia sadar diri bagaimana
menjalankan perkuliahan tidak sepenuh hati.
Arka tahu bahwa penyesalan pasti
datang belakangan, dia yang dulunya tidak terlalu serius dalam mengikuti
perkuliahan membuat penyelesainnya pun terkesan lama. Ada beberapa mata kuliah
__ADS_1
yang mendapat nilai tidak memenuhi standar.
“Mungkin karena awal kehamilan Ka,
insya Allah nanti enggak lagi.” Papa Arfan menepuk pundak Arka untuk memberikan
kekuatan untuk menghadapi apapun yang menanti di depan sana.
“Semoga aja Pa, Lihat Farah kurus
gitu buat Arka khawatir apalagi ada 2 anak di dalam perutnya,” lirih Arka.
“Iya Papa pun ngerasa gitu Ka, kita
memang nggak bisa menggantikan posisi Farah ataupun merasakan apa yang dia
alami. Kita harus selalu ada di samping dia, memberikan perhatian agar dia
merasakan bahwa kita selalu ada untuk dia.” Arka mendengarkan dengan sangat
baik.
Sebenarnya begitu banyak ketakutan
dalam dirinya, apalagi umur sang istri terkesan mudah untuk mengalami
kehamilan. Dia juga tidak pernah merencanakan mempunyai anak cepat tetapi jika
Allah sudah berkendak Arka sangat bersyukur karena Allah memberikan kepada
mereka berdua amanah yang bisa jadi sangat diinginkan oleh pasangan di luar
sana.
“Ini Mas sama Papa buat bubur, coba
di cium dulu.” Arka memberikan satu sendok yang sudah berisi bubur. Farah
mencium aroma dari makanan baru yang dibawa Arka, dia merasa tidak merasa mual.
“Nggak bikin mual kok Mas,” ucap Farah dengan
suara lemah. Arka membantu sang istri untuk duduk di ranjang dengan
__ADS_1
bersandarkan bantal yang sudah disusun.