Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 45


__ADS_3

"Udah nangisnya?" tanya Arka sambil mengelus pucuk kepala Farah.


Arka selalu bingung kenapa istrinya sering sekali menangis. Dia tahu bahwa


permasalahan ini bukan hal biasa tetapi ada ketika ada permasalahan yang bisa


dikatakan sedikit sang istri mudah sekali menangis.


Arka lupa, ya dia lupa bahwa saat


hamil perempuan tidak hanya mengalami perubahan fisik ibu hamil juga rentan


mengalami perubahan emosi. Perubahan suasana hati dinilai akibat jumlah hormon


yang fluktuatif.


Hormon yang naik turun ini


menyebabkan perubahan bahan kimia otak yang mengatur suasana hati. Akibatnya,


ibu mungkin lebih sensitif dan mudah menangis selama kehamilan. Melansir dari


WebMD, perubahan suasana hati dan menangis adalah hal yang normal dari


kehamilan, terutama selama trimester pertama saat hormon sedang naik-naiknya.


"Udah,  capek nangis


terus," keluh Farah.  Arka menuntun sang istri untuk duduk di


pangkuannya, "Duduk sini."


Farah menggeleng,  dia


terlalu malu untuk melakukan itu.  Arka menahan tawanya agar tidak keluar.


Aneh saja istrinya itu,  padahal sudah berbulan-bulan menikah tetapi masih


saja malu.


"Duduk Yang," suruh


Arka lagi.  Farah mengalah,  dia duduk di pangkuan sang suami.


Jujur saja Farah merasa minder apalagi berat badannya naik drastis.


"Berat kan Mas? Nggak usah


aja ya." Farah ingin beranjak, namun sebelum itu terjadi Arka sudah


menahannya, "Ringan kok."


Tangan Arka mengusap perut sang


istri dari belakang,  dagunya di letekkan pada pundak Farah.


"Bawa 2 anak berat nggak sih


Yang?" tanya Arka polos.  Dia tersenyum sendiri membayangkan anaknya


ada di dalam perut sang istri.


"Ngaco deh nanya


begitu,  ya nggak berat lah.  Malah Farah senang-senang aja.


Jalan jihadnya perempuan ini Mas," jawab Farah bangga.


"Kadang Mas bingung harus


gimana, lihat perut yang setiap hari tambah besar." Farah menyengit


bingung, “namanya juga tumbuh kembang Mas ya tambah gede atuh.”


“Tambah cantik tiap hari,” gombal Arka sambil mencolek dagu sang istri.


Farah menutup wajahnya dengan tangan. Dia tidak tahu apakah wajahnya sudah


semerah tomat atau belum? Yang jelas dia sangat salah tingkah.


“Merah deh merah,” goda Arka lagi. Farah bertambah salah tingkah. Kejadian


itu membuat Arka tidak dapat menahan senyum lebarnya.


Farah mengambil tangan sang suami untuk di pegang jari-jarinya. Dia memainkan

__ADS_1


jari tersebut untuk menghilangkan rasa gugup.


“Yang… Mas mau bilang kalau Ibu Anin sama Ibu Hana minta maaf. Mereka nggak


tahu kalau kita udah nikah lo Yang. Jadi jangan marah lagi ya,” bujuk Arka. Dia


berkata dengan sangat lembut.


Farah tidak langsung menjawab sehingga Arka harus sedikit lebih sabar. “Jangan


marah ya Yang,” ujar Arka lagi.


“Maafin Farah ya Mas!”


Farah sebenarnya sadar bahwa tingkahnya terlalu kekanak-kanakan. Bagaimana dia


bisa menangis dengan hebohnya karena masalah yang sebenarnya bisa selesai


dengan mudah jika dibicarakan. Dia sangat merasa bersalah apalagi bertindak


yang tidak sopan kepada ibu Hana dan ibu Anin.


“Masya Allah, Istrinya siapa si kok pinter gini?”


Farah mencubit tangan sang suami, “Farah serius Mas, Farah salah banget.”


“Iya Mas tahu, jadikan pembelajaran agar tidak begitu lagi ke depannya. Kita


nggak boleh suuzon dengan cepat, kita harus melihat dengan sudut panjang yang


banyak agar tidak terlalu salah menilai,” balas Arka. Farah bangkit dari


pangkuan Arka dan berpindah untuk bisa menghadap ke arah sang suami.


“Terima Kasih Mas,” ujar Farah.


“Sama-sama Sayang, Mau di sini aja atau gimana? Di bawa nggak ada yang jaga


toko lo.” Arka baru ingat kalau di lantai bawa tidak ada yang menjaga tokonya. Sebenarnya


dia tidak terlalu khawatir karena ada fasilitas cctv yang bisa dipantau dari


lantai atas namun, dia juga tidak bisa meninggalkan toko terlalu lama.


“Ikut aja deh, tapi pinjem hp Mas ya,” ujar Farah sambil berdiri. Dia langsung


kausnya Yang?” tanya Arka. Dia membayangkan jika nanti kandungan sang istri


bertambah besar. Apakah masih bisa untuk memasang kaus kaki atau tidak. Farah


menjawab tidak, dia dengan mudah memakainya. Arka membantu sang istri untuk


memakai hijabnya kembali, hijab langsung yang lumayan panjang sampai ke paha.


Arka membantu sang istri untuk menuruni tangga, dia sedikit ngeri karena


takut sang istri ceroboh. “Farah bisa kok Mas,” tolak Farah yang tidak mau di


tuntun karena seperti orang sakit saja. Dia tidakklah sakit, hanya hamil saja


tetapi kenapa sang suami terlalu memperlakukan Farah seperti orang sakit.


“Jangan mikir macam-macam deh Yang, kadang Mas tu pengen banget masuk ke


dalam kepala Farah biar di hilangin pikiran negatifnya.” Farah menyengit


bingung, bagaimana sang suami tahu kalau dia sedikit berpikir yang macam-macam.


Apakah suaminya ini cenayang?


“Emang Farah mikir apaan?” tanyanya kepo. Bisa jadi sang suami hanya menebak


saja dan tebakakn itu kebetulan benar.  Kalau


memang bisa membaca pikiran orang, Farah jadi takut sendiri dengan suaminya.


“Mana Mas tahu Yang, tapi Mas tahu kalau Farah mikirnya macam-macam dari


raut wajah yang kayaknya kesal gitu hehe.”


“Lahhh kirain memang bisa baca pikiran.”


Arka meletakkan tangannya di atas kepala Farah,  “Mikir apaan si Yang? Mikir yang happy-happy


aja biar anak dan maminya sehat.”

__ADS_1


Farah tersenyum cerah, “Kalau gitu, nanti malam kita makan di luar gimana?”


Arka sedikit kaget, baru pertama kali sang istri mengajaknya keluar. Apa Arka


terlalu mengurung istrinya di rumah sehingga dia bosan begitu. “Tumben mau


makan di luar, mau makan apa emangnya?”


Farah memegang ujung baju sang suami, “Belum tahu sih, tapi Farah pengen


pacaran.” Suara Farah sedikit tidak jelas, Arka hanya mendengar sampai kata pengen


saja. Dia jadi bingung sendiri.


“Pengen apa? ngomongnya jangan kayak hilang jaringan gitu Yang.” Arka


sedikit becanda.


 “Pengan PA CA RAN,” jelas Farah dengan


penuh penekanan.


“Kalau gini Mas laju Yang, tapi ingat jangan terlalu aktif ntar, di sini ada


buah hati kita lo Mami.”


“Siap bos,” balas Farah sambil hormat. Arka mencolek hidung sang istri


saking gemasnya. Mereka sampai di meja kasir. Di sana ada dua kursi. Farah


seperti biasa melihat acara masak memasak kue pada salah satu channel youtube. Sedangkan


Arka sibuk dengan leptopnya, dia memang melanjutkan untuk mengerjakan skripsi.


Satu-satu pembeli mulai kembali berdatangan. Arka langsung melayani pembeli


dan jika ramai maka Farah akan membantunya. Kerja sama yang memang dibutuhkan


agar semua menjadi mudah.  Ada beberapa


pembeli yang menanyakan tentang kondisi Farah yang tengah hamil. Bahkan ada


juga seorang laki-laki yang bingung membeli susu hamil untuk istrinya di rumah


sehingga bertanya kepada Arka dan Farah.


“Mbaknya Hamil ya mas?” tanya pembeli tersebut. Arka menjawab dengan ramah, “Iya


Mas.”


Pembeli itu sedikit lega, setidaknya dia tidak salah membeli kebutuhan sang


istri. “Istri saya juga hamil muda Mas, saya bingung susu apa yang cocok ya


buat ibu hamil.”


Arka melihat ke arah sang istri, dia jadi mengingat bagaimana dulu Farah


memuntahkan 5 jenis susu dengan merek dan rasa berbeda. Perut sang istri


seperti menolak minuman itu masuk. Arkapun sempat frustasi karena tidak ada


cocok, bahkan dia berpikir sang istri tidak perlu meminum susu karena kasihan


selalu muntah-muntah ketika cairan itu masuk ke dalam mulut.


“Wah Mas, setiap orang beda-beda Mas. Saya saja sampai 5 kali ganti susu


karena perut istri saya menolak. Jadi saya agak susah ngasih pendapat Mas. Bismillah


saja Mas, cari yang kandungan vitaminnya banyak dan biasanya istri Mas suka


susu dengan rasa original atau rasa buah gitu.”


Pembeli itu sedikit paham, dia kembali ke barisan tempat susu kotak


kehamilan berada. Di sana ada berbagai jenis merek dan juga rasa.


“Mas waktu beli susu kehamilan buat Farah juga bingung ya?” tanya Farah. Arka


menjawab iya, jelas saja dia bingung. Apalagi dia saking bahagiannya tidak


bertanya kepada Bunda atau dokter terlebih dahulu.


Pembeli tadi selesai memilih susu kotak kehamilan. Dia mengambil 3 kotak susu dengan berbeda jenis.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2