
"Udah nangisnya?" tanya Arka sambil mengelus pucuk kepala Farah.
Arka selalu bingung kenapa istrinya sering sekali menangis. Dia tahu bahwa
permasalahan ini bukan hal biasa tetapi ada ketika ada permasalahan yang bisa
dikatakan sedikit sang istri mudah sekali menangis.
Arka lupa, ya dia lupa bahwa saat
hamil perempuan tidak hanya mengalami perubahan fisik ibu hamil juga rentan
mengalami perubahan emosi. Perubahan suasana hati dinilai akibat jumlah hormon
yang fluktuatif.
Hormon yang naik turun ini
menyebabkan perubahan bahan kimia otak yang mengatur suasana hati. Akibatnya,
ibu mungkin lebih sensitif dan mudah menangis selama kehamilan. Melansir dari
WebMD, perubahan suasana hati dan menangis adalah hal yang normal dari
kehamilan, terutama selama trimester pertama saat hormon sedang naik-naiknya.
"Udah, capek nangis
terus," keluh Farah. Arka menuntun sang istri untuk duduk di
pangkuannya, "Duduk sini."
Farah menggeleng, dia
terlalu malu untuk melakukan itu. Arka menahan tawanya agar tidak keluar.
Aneh saja istrinya itu, padahal sudah berbulan-bulan menikah tetapi masih
saja malu.
"Duduk Yang," suruh
Arka lagi. Farah mengalah, dia duduk di pangkuan sang suami.
Jujur saja Farah merasa minder apalagi berat badannya naik drastis.
"Berat kan Mas? Nggak usah
aja ya." Farah ingin beranjak, namun sebelum itu terjadi Arka sudah
menahannya, "Ringan kok."
Tangan Arka mengusap perut sang
istri dari belakang, dagunya di letekkan pada pundak Farah.
"Bawa 2 anak berat nggak sih
Yang?" tanya Arka polos. Dia tersenyum sendiri membayangkan anaknya
ada di dalam perut sang istri.
"Ngaco deh nanya
begitu, ya nggak berat lah. Malah Farah senang-senang aja.
Jalan jihadnya perempuan ini Mas," jawab Farah bangga.
"Kadang Mas bingung harus
gimana, lihat perut yang setiap hari tambah besar." Farah menyengit
bingung, “namanya juga tumbuh kembang Mas ya tambah gede atuh.”
“Tambah cantik tiap hari,” gombal Arka sambil mencolek dagu sang istri.
Farah menutup wajahnya dengan tangan. Dia tidak tahu apakah wajahnya sudah
semerah tomat atau belum? Yang jelas dia sangat salah tingkah.
“Merah deh merah,” goda Arka lagi. Farah bertambah salah tingkah. Kejadian
itu membuat Arka tidak dapat menahan senyum lebarnya.
Farah mengambil tangan sang suami untuk di pegang jari-jarinya. Dia memainkan
__ADS_1
jari tersebut untuk menghilangkan rasa gugup.
“Yang… Mas mau bilang kalau Ibu Anin sama Ibu Hana minta maaf. Mereka nggak
tahu kalau kita udah nikah lo Yang. Jadi jangan marah lagi ya,” bujuk Arka. Dia
berkata dengan sangat lembut.
Farah tidak langsung menjawab sehingga Arka harus sedikit lebih sabar. “Jangan
marah ya Yang,” ujar Arka lagi.
“Maafin Farah ya Mas!”
Farah sebenarnya sadar bahwa tingkahnya terlalu kekanak-kanakan. Bagaimana dia
bisa menangis dengan hebohnya karena masalah yang sebenarnya bisa selesai
dengan mudah jika dibicarakan. Dia sangat merasa bersalah apalagi bertindak
yang tidak sopan kepada ibu Hana dan ibu Anin.
“Masya Allah, Istrinya siapa si kok pinter gini?”
Farah mencubit tangan sang suami, “Farah serius Mas, Farah salah banget.”
“Iya Mas tahu, jadikan pembelajaran agar tidak begitu lagi ke depannya. Kita
nggak boleh suuzon dengan cepat, kita harus melihat dengan sudut panjang yang
banyak agar tidak terlalu salah menilai,” balas Arka. Farah bangkit dari
pangkuan Arka dan berpindah untuk bisa menghadap ke arah sang suami.
“Terima Kasih Mas,” ujar Farah.
“Sama-sama Sayang, Mau di sini aja atau gimana? Di bawa nggak ada yang jaga
toko lo.” Arka baru ingat kalau di lantai bawa tidak ada yang menjaga tokonya. Sebenarnya
dia tidak terlalu khawatir karena ada fasilitas cctv yang bisa dipantau dari
lantai atas namun, dia juga tidak bisa meninggalkan toko terlalu lama.
“Ikut aja deh, tapi pinjem hp Mas ya,” ujar Farah sambil berdiri. Dia langsung
kausnya Yang?” tanya Arka. Dia membayangkan jika nanti kandungan sang istri
bertambah besar. Apakah masih bisa untuk memasang kaus kaki atau tidak. Farah
menjawab tidak, dia dengan mudah memakainya. Arka membantu sang istri untuk
memakai hijabnya kembali, hijab langsung yang lumayan panjang sampai ke paha.
Arka membantu sang istri untuk menuruni tangga, dia sedikit ngeri karena
takut sang istri ceroboh. “Farah bisa kok Mas,” tolak Farah yang tidak mau di
tuntun karena seperti orang sakit saja. Dia tidakklah sakit, hanya hamil saja
tetapi kenapa sang suami terlalu memperlakukan Farah seperti orang sakit.
“Jangan mikir macam-macam deh Yang, kadang Mas tu pengen banget masuk ke
dalam kepala Farah biar di hilangin pikiran negatifnya.” Farah menyengit
bingung, bagaimana sang suami tahu kalau dia sedikit berpikir yang macam-macam.
Apakah suaminya ini cenayang?
“Emang Farah mikir apaan?” tanyanya kepo. Bisa jadi sang suami hanya menebak
saja dan tebakakn itu kebetulan benar. Kalau
memang bisa membaca pikiran orang, Farah jadi takut sendiri dengan suaminya.
“Mana Mas tahu Yang, tapi Mas tahu kalau Farah mikirnya macam-macam dari
raut wajah yang kayaknya kesal gitu hehe.”
“Lahhh kirain memang bisa baca pikiran.”
Arka meletakkan tangannya di atas kepala Farah, “Mikir apaan si Yang? Mikir yang happy-happy
aja biar anak dan maminya sehat.”
__ADS_1
Farah tersenyum cerah, “Kalau gitu, nanti malam kita makan di luar gimana?”
Arka sedikit kaget, baru pertama kali sang istri mengajaknya keluar. Apa Arka
terlalu mengurung istrinya di rumah sehingga dia bosan begitu. “Tumben mau
makan di luar, mau makan apa emangnya?”
Farah memegang ujung baju sang suami, “Belum tahu sih, tapi Farah pengen
pacaran.” Suara Farah sedikit tidak jelas, Arka hanya mendengar sampai kata pengen
saja. Dia jadi bingung sendiri.
“Pengen apa? ngomongnya jangan kayak hilang jaringan gitu Yang.” Arka
sedikit becanda.
“Pengan PA CA RAN,” jelas Farah dengan
penuh penekanan.
“Kalau gini Mas laju Yang, tapi ingat jangan terlalu aktif ntar, di sini ada
buah hati kita lo Mami.”
“Siap bos,” balas Farah sambil hormat. Arka mencolek hidung sang istri
saking gemasnya. Mereka sampai di meja kasir. Di sana ada dua kursi. Farah
seperti biasa melihat acara masak memasak kue pada salah satu channel youtube. Sedangkan
Arka sibuk dengan leptopnya, dia memang melanjutkan untuk mengerjakan skripsi.
Satu-satu pembeli mulai kembali berdatangan. Arka langsung melayani pembeli
dan jika ramai maka Farah akan membantunya. Kerja sama yang memang dibutuhkan
agar semua menjadi mudah. Ada beberapa
pembeli yang menanyakan tentang kondisi Farah yang tengah hamil. Bahkan ada
juga seorang laki-laki yang bingung membeli susu hamil untuk istrinya di rumah
sehingga bertanya kepada Arka dan Farah.
“Mbaknya Hamil ya mas?” tanya pembeli tersebut. Arka menjawab dengan ramah, “Iya
Mas.”
Pembeli itu sedikit lega, setidaknya dia tidak salah membeli kebutuhan sang
istri. “Istri saya juga hamil muda Mas, saya bingung susu apa yang cocok ya
buat ibu hamil.”
Arka melihat ke arah sang istri, dia jadi mengingat bagaimana dulu Farah
memuntahkan 5 jenis susu dengan merek dan rasa berbeda. Perut sang istri
seperti menolak minuman itu masuk. Arkapun sempat frustasi karena tidak ada
cocok, bahkan dia berpikir sang istri tidak perlu meminum susu karena kasihan
selalu muntah-muntah ketika cairan itu masuk ke dalam mulut.
“Wah Mas, setiap orang beda-beda Mas. Saya saja sampai 5 kali ganti susu
karena perut istri saya menolak. Jadi saya agak susah ngasih pendapat Mas. Bismillah
saja Mas, cari yang kandungan vitaminnya banyak dan biasanya istri Mas suka
susu dengan rasa original atau rasa buah gitu.”
Pembeli itu sedikit paham, dia kembali ke barisan tempat susu kotak
kehamilan berada. Di sana ada berbagai jenis merek dan juga rasa.
“Mas waktu beli susu kehamilan buat Farah juga bingung ya?” tanya Farah. Arka
menjawab iya, jelas saja dia bingung. Apalagi dia saking bahagiannya tidak
bertanya kepada Bunda atau dokter terlebih dahulu.
Pembeli tadi selesai memilih susu kotak kehamilan. Dia mengambil 3 kotak susu dengan berbeda jenis.
__ADS_1
Bersambung…