
“Papa udah minum obat?” tanya Farah yang duduk disamping
sang ayah.
“Udah kok, eh bukan obat tapi vitamin nak.” Hati Farah
meringis sakit karena sang ayah begitu ingin merahasiakan apa yang sedang
dialaminya.
“Papa mau nitip makanan nggak? soalnya Arka mau keluar
bentar,” ucap Arka. Dia ingin membeli apa yang diinginkan sang istri yaitu sate
kampung.
“Mau beli apa emannya?”
“Sate kampung Pa, Farah lagi kepengan,” jawab Arka.
“Cucu Papa tu yang minta hehe, Ya udah Papa nitip satu
bungkus deh.” Arka mengangguk paham. Dia pamit pergi untuk keluar. Farah di
larang untuk ikut karena angina malam sang tidak baik untuk tubuhnya.
“Papa senang ketemu Farah?”
Papa Arfan tersenyum, tetapi dibalik senyum itu ada ribuan
kesedihan dan penyesalan.
“Papa sangat senang bahkan Papa nggak tahu harus
mengungkapkannya seperti apa.”
“Alhamdulillah, Papa sayang sama Farah kan?” Papa Arfan
mengangguk bingung. Dia tidak tahu maksud anaknya menanyai sesuatu yang sudah
jelas jawabannya.
“Tolong Pa jangan simpan semuanya sendiri, dulu iya Papa
sendiri sekarang Papa ada Farah, anak yang 17 tahun Papa cari.” Sekuat tenaga
__ADS_1
Farah menahan air matanya agar tidak keluar.
“Ma-maksud Farah apa? Papa nggak simpan apapun kok.” Farah mengambil nafas untuk mengungkapkan apa
yang dia rasakan. Dia tidak mau diam lagi.
“Farah tahu Papa sedang Allah uji dengan sakit.”
Papa Arfan tetap fokus pada layar televisi. Elusan pada
pucuk kepala sang anak mendadak berhenti.
“Udah ah Papa ngantu mau tidur.” Papa Arfan mencoba bangkit
dari sofa tetapi di cegah dengan cepat oleh Farah.
“Papa nggak boleh gini, Papa harus yakin bisa sembuh. Kalau
Papa sayang sama Farah seharusnya Papa berusahan untuk bisa sembuh hiks. Ka-kalau
saja Papa bakal pergi ninggalin Farah lebih baik dari awal kita nggak pernah
bertemu.”
membantah apa yang anaknya pikirkan.
“Pa-“
“Papa nggak perlu bohong lagi, 2 hari yang lalu Farah dengar
Papa ngomong sama Om Irfan. Farah nggak ada maksud untuk menguping tapi mungkin
itu cara Allah agar Farah tahu apa yang Papa berusaha sembunyikan,”potong
Farah.
“Maafkan Papa, maafkan Papa.” Arfan memeluk tubuh anaknya
sambil mengeluarkan air mata. Dia tidak pernah menyangka apa yang dia
sembunyikan akan terbongkar juga.
“Papa punya Farah, jadi Papa nggak boleh berhenti
berikhtiar,” lirih Farah.
__ADS_1
“Papa nggak tahu sayang, rasanya percuma aja ke rumah sakit
kalau keadaan bukannya membaik tapi malah memburuk.” Farah menggeleng kuat karena tidak setuju
dengan apa yang sang Papa katakan.
“Papa nggak boleh ngomong gitu, Farah akan nemani Papa ke
rumah sakit untuk cek-up. Manusia hanya berikhtiar serta berdoa kemudian
sisanya kita serahkan sama Allah.”
Akhirnya Arfan mau untuk ke rumah sakit lagi, dia belum
menjelaskan penyakit apa yang dialaminya. Siapa yang tidak menginginkan
kesembuhan? Dia sangat menginginkannya tetapi ada kalahnya dia merasa jenuh
karena tidak menerima hasil yang baik dari ikhtiar yang dia lakukan.
“Iya sayang, Papa harap Farah nggak jadikan penyakit papa
sebagai beban pikiran.”
“Insya Allah enggak Pa, yang harus Papa tahu ada anak yang
selalu berdoa untuk kebaikan Papa,” ucap Farah menguatkan sang ayah.
“Terima kasih sayang.”
Tidak ada anak yang merasa baik-baik saja ketika mengetahui
sang ayah sakit. Farah mengalami itu, dia berpura-pura kuat nyatanya dia tidak
sekuat itu. Tetapi dia bersyukur karena ada sosok suami yang menguatkan dia
dari belakang, yang menghilangkan pikiran-pikiran negatifnya serta menghibur
dirinya.
Perjalanan hidup seseorang tidak ada yang tahu seperti apa,
tetapi ingatlah apa yang Allah takdirkan merupakan hal yang baik untuk
hamba-Nya.
__ADS_1