Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 33


__ADS_3

“Papa udah minum obat?” tanya Farah yang duduk disamping


sang ayah.


“Udah kok, eh bukan obat tapi vitamin nak.” Hati Farah


meringis sakit karena sang ayah begitu ingin merahasiakan apa yang sedang


dialaminya.


“Papa mau nitip makanan nggak? soalnya Arka mau keluar


bentar,” ucap Arka. Dia ingin membeli apa yang diinginkan sang istri yaitu sate


kampung.


“Mau beli apa emannya?”


“Sate kampung Pa, Farah lagi kepengan,” jawab Arka.


“Cucu Papa tu yang minta hehe, Ya udah Papa nitip satu


bungkus deh.” Arka mengangguk paham. Dia pamit pergi untuk keluar. Farah di


larang untuk ikut karena angina malam sang tidak baik untuk tubuhnya.


“Papa senang ketemu Farah?”


Papa Arfan tersenyum, tetapi dibalik senyum itu ada ribuan


kesedihan dan penyesalan.


“Papa sangat senang bahkan Papa nggak tahu harus


mengungkapkannya seperti apa.”


“Alhamdulillah, Papa sayang sama Farah kan?” Papa Arfan


mengangguk bingung. Dia tidak tahu maksud anaknya menanyai sesuatu yang sudah


jelas jawabannya.


“Tolong Pa jangan simpan semuanya sendiri, dulu iya Papa


sendiri sekarang Papa ada Farah, anak yang 17 tahun Papa cari.” Sekuat tenaga

__ADS_1


Farah menahan air matanya agar tidak keluar.


“Ma-maksud Farah apa? Papa nggak simpan apapun kok.”  Farah mengambil nafas untuk mengungkapkan apa


yang dia rasakan. Dia tidak mau diam lagi.


“Farah tahu Papa sedang Allah uji dengan sakit.”


Papa Arfan tetap fokus pada layar televisi. Elusan pada


pucuk kepala sang anak mendadak berhenti.


“Udah ah Papa ngantu mau tidur.” Papa Arfan mencoba bangkit


dari sofa tetapi di cegah dengan cepat oleh Farah.


“Papa nggak boleh gini, Papa harus yakin bisa sembuh. Kalau


Papa sayang sama Farah seharusnya Papa berusahan untuk bisa sembuh hiks. Ka-kalau


saja Papa bakal pergi ninggalin Farah lebih baik dari awal kita nggak pernah


bertemu.”


membantah apa yang anaknya pikirkan.


“Pa-“


“Papa nggak perlu bohong lagi, 2 hari yang lalu Farah dengar


Papa ngomong sama Om Irfan. Farah nggak ada maksud untuk menguping tapi mungkin


itu cara Allah agar Farah tahu apa yang Papa berusaha sembunyikan,”potong


Farah.


“Maafkan Papa, maafkan Papa.” Arfan memeluk tubuh anaknya


sambil mengeluarkan air mata. Dia tidak pernah menyangka apa yang dia


sembunyikan akan terbongkar juga.


“Papa punya Farah, jadi Papa nggak boleh berhenti


berikhtiar,” lirih Farah.

__ADS_1


“Papa nggak tahu sayang, rasanya percuma aja ke rumah sakit


kalau keadaan bukannya membaik tapi malah memburuk.”  Farah menggeleng kuat karena tidak setuju


dengan apa yang sang Papa katakan.


“Papa nggak boleh ngomong gitu, Farah akan nemani Papa ke


rumah sakit untuk cek-up. Manusia hanya berikhtiar serta berdoa kemudian


sisanya kita serahkan sama Allah.”


Akhirnya Arfan mau untuk ke rumah sakit lagi, dia belum


menjelaskan penyakit apa yang dialaminya. Siapa yang tidak menginginkan


kesembuhan? Dia sangat menginginkannya tetapi ada kalahnya dia merasa jenuh


karena tidak menerima hasil yang baik dari ikhtiar yang dia lakukan.


“Iya sayang, Papa harap Farah nggak jadikan penyakit papa


sebagai beban pikiran.”


“Insya Allah enggak Pa, yang harus Papa tahu ada anak yang


selalu berdoa untuk kebaikan Papa,” ucap Farah menguatkan sang ayah.


“Terima kasih sayang.”


Tidak ada anak yang merasa baik-baik saja ketika mengetahui


sang ayah sakit. Farah mengalami itu, dia berpura-pura kuat nyatanya dia tidak


sekuat itu. Tetapi dia bersyukur karena ada sosok suami yang menguatkan dia


dari belakang, yang menghilangkan pikiran-pikiran negatifnya serta menghibur


dirinya.


Perjalanan hidup seseorang tidak ada yang tahu seperti apa,


tetapi ingatlah apa yang Allah takdirkan merupakan hal yang baik untuk


hamba-Nya.

__ADS_1


__ADS_2