Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 48


__ADS_3

Menceritakan hal yang berkaitan dengan Bima dan Kahfi selalu mampu menyentuh hati Arka. Bahkan Farah yang mendengarkan cerita itu menjadi sangat tersentuh. Apakah ada orang di zaman sekarang apalagi masih muda berperilaku seperti yang dicerikan suaminya.


Farah tersenyum dengan mata sedikit berkaca-kaca. Arka memang tidak menangis tetapi siapapun yang melihat pasti tahu apa yang dirasakan olehnya. Matanya memandang fokus pada tangan yang berada di atas meja, "Setiap yang mereka lakukan selalu memikirkan orang lain."


"Begitu mulia hati mereka Mas, semoga kita bisa menyusul mereka dalam urusan akhirat," ucap Farah sambil tersenyum.


Mereka mengakhiri obrolan itu karena pesanan mereka sudah datang. Yang membawa makanan itu adalah Andi. Bisa dikatakan di cafe tersebut ada beberapa karyawan, namun Andi tidak pernah menilai dirinya sebagai bos. Jika dia sanggup membantu, maka dia akan lakukan. Semua karyawan yang bekerja adalah teman-temannya semasa SMA yang kesulitan dalam hal ekonomi.


"Makan sayur yang banyak dek, untung aja ada persedian sayur kol." Andi sangat tahu kesukaan Farah. Dia berusaha memberikan perhatian yang baik karena tahu bahwa 18 tahu adek sepupunya itu tidaklah seberuntung hidupnya.


"Abang baik bener, kan makin sayang," balas Farah dengan wajah imutnya. Arka sedikit tidak suka dan itu membuat Andi tertawa, "Ya Allah Ka, Sepupu gue ini. Bucin amat."


Arka malah memberikan tatapan tajam.


"Lo nggak makan?" tanya Arka. Dia hanya melihat Andi meminum kopi berwarna hitam pekat.


Andi menahan senyumnya, jujur saja mereka jarang menanyai tentang makan satu sama lain. Mungkin perubahan umur dan keadaan membuat semuanya terasa berbeda secara perlahan.


"Nggak biasa gue makan jam segini," balas Andi sambil menyesap kopinya. Sedangkan Farah asik memakan makananya. Menu makan malam seperti biasa yaitu nasi dan juga olahan sayur kol yang entah kenapa membuat Farah begitu menikmatinya.


"Enak nggak Yang?" tanya Arka memastikan. Farah mengangguk. Arka mengambil piring sang istri karena sepertinya ada beberapa cabe rawit di sana. Dia bukannya terlalu overprotektif terhadap sang istri, hanya saja setiap kali makan cabe berukuran kecil itu maka Farah akan mengalami sakit perut. Seakan-akan perut Farah sangat sensitif terhadap cabe itu.


Arka dengan telaten mengambil satu persatu cabe berukuran kecil itu yang bercampur dengan sayur. Andi melihat keheranan, tidak seperti biasanya.


"Kenapa Ka?"


"Oh ini, Farah agak sensitif kalau makan ini."


Andi mengangguk mengerti, dia memberikan Farah beberapa macam buah agar kandungan sehat dan berkembang.


"Nasi dulu kali Andi baru makan buah," ucap Arka mengambil buah yang berada di tangan Andi.


"Iya iya Abi, ribet banget dah." Andi mengalah. Dia tidak mau ikut dalam drama pasangan muda tersebut. Dia seperti obat nyamuk saja di antara Arka dan Farah. Terlalu miris apa yang di alami oleh Andi.


Kemurungannya berubah menjadi senyum ketika melihat sosok laki-laki yang memakai baju kaos biasa yang sedang bergandengan dengan perempuan.


"Sini," ujar Andi sambil mengangkat tangannya. Arka terkejut dan menoleh siapa yang di panggil oleh Andi.


Dia langsung berdiri menyambut sosok laki-laki itu sambil bertos ria. "Assalamu'alaikum," salam laki-laki yang baru datang tersebut. Ya dia adalah Bima bersama Ibunya.


"Wa'alaikumsalam, Eh Mami datang juga."


Tidak ada kecanggungan Andi maupun Arka memanggil ibu Bima sama seperti Bima memanggil yaitu dengan sebutan Mami.


"Iya... di ajak Bima, Jomblo si anak Mami," ujar Mami Bima-Ralline sambil tertawa. Farah melihat Mami teman sang suami hanya kagum. Wajah kebaratan sangat terpampang jelas di depannya. Namun wajah itu sangat sempurna dengan hijab yang memberikan kesan luar biasa. Farah baru tahu ternyata wajah blasteran Bima berasal dari Maminya.


Andi tertawa terbahak-bahak, padahal dia juga jomblo. "Lu sama juga kali," ujar Arka mengejek. Andi memberikan senyum miringnya, "Biarin, jomblo terhormat."


"Udah-udah," ujar Ralline menyudahi aksi debat anak-anak muda tersebut. Dia melihat sosok perempuan di sisi Arka, dia langsung tersenyum lebar seakan-akan instingnya bekerja dengan baik. "Istrinya Arka kan?"

__ADS_1


Farah tersenyum malu, "Iya Ta-."


"Panggil Mami aja nak," potong Ralline. "I-iya Mi," balas Farah canggung.


Ralline langsung berjalan ke sisi Farah dan memeluknya sangat eret seperti sudah kenal lama. Farah jadi canggung sendiri, jujur saja dia sedikit malu saat ini.


"Cantik banget ya, pinter banget Arka nyarinya." Lagi-lagi Farah tersenyum malu, apalagi dibilang cantik oleh orang yang cantik.


"Cantikan Ma-mi," balas Farah sedikit kikuk.


Ralline tersenyum lebar, dia mengelus pucuk kepala Farah. Matanya tertuju pada perut buncit Farah yang terlihat. Farah memang sudah membuka jaket yang dipakainya karena berada di dalam ruangan.


"Masya Allah, udah hamil ya. Jahat banget Arka nemuin Farah sama Mami udah hamil gini." Ralline sedikit cemberut. Dia memang sudah tahu tentang pernikahan Arka dan Farah 5 bulan yang lalu. Bahkan sebab pernikahan itu terjadipun Ralline tahu, hal ini bisa terjadi karena memang Bima menceritakan apapun yang dia rasakan, lalui, alami kepada Mami tercintanya.


"Bukan gitu Mi, ini aja baru bisa keluar kayak gini," bela Arka merasa tidak enak hati.


"Bohong Mi, pas dia balik ke sini aja langsung meet up sama yang lain kok," celetuk Andi tersenyum senang.


Arka menatap tajam Andi.  Dia memang raja dalam hal mengompori.


"Udahlah Mi,  kita pesan makanan dulu.  Tu liat istri Arka juga lagi makan," ucap Bima menengahi.  Jika tidak maka obrolan mereka tidak akan selesai-selesainya.


"Oh iya,  makan dulu aja nak.  Maaf ya Mami ganggu gini."


"Eh enggak kok Mi, tadi Mas Arka juga lagi pisahin cabe rawit." Tunjuk Farah pada sebuah piring.


Ralline menatap apa yang ditunjuk Farah,  memang bener ada kumpulan potongam cabe rawit di salah satu piring.


"Suami idaman," puji Ralline pada Arka. 


"Apaan si Mi,  Arka nggak suka dibilang gitu," rengek Arka. 


Ralline menarik nafas pelan, ternyata belum semua yang berubah. Rengekan manja yang dulu sering mondar mandir di telingannya masih sangat jelas terdengar.


"Udah jadi suami juga masih aja kayak gitu,  jangan sampai Farah ngasuh 2 bayi ya besok," ancam Ralline sedikit becanda.


"Memang 2 bayi atuh Mi," balas Arka santai.


Ralline membulatkan matanya,  "Ya Allah kembar, Masya Allah...Alhamdulillah."


Arka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Jomblo gigit jari," celetuk Andi sewot. 


"Makanya kalian tu nikah,  heran Mami.  Udah punya kerjaan juga, umur juga udah dikatakan matang masih aja sendiri.  Kahfi aja anaknya udah umur 3 tahun. Arka mau punya anak sekalian 2, terus kalian apa?"


Ralline mengomel memang seperti ibu-ibu cerewet pada umumnya.  Bima yang mendengarkan hanya mengelus dada sabar.  Bima ingat betul 3 tahun yang lalu dia ingin menikah tetapi Mami melarangnya dengan berbagai alasan,  lantas sekarang malah Mami yang mendesak dirinya.


Aneh memang.

__ADS_1


"Udah Mi jangan marah mulu,  duduk dulu aja. Pesanan Mami seperti biasakan?" tanya Andi.


Ralline mengangguk.  Dia mengobrol asik dengan Farah.  Baik itu membahas tentang kehamilan, tentang keagamaan bahkan membahas tentang Arka, Bima,  Andi,  Kahfi dan Ray.


"Andi mau ke Singapura pas weekend,  lo ikut?" tanya Arka.  Mereka terkesan dalam obrolan serius.  Bahkan mata mereka berdua sama sama menyimpan ribuan rasa yang tidak bisa di utarakan.  Obrolan sensitif memang jika membahas tentang Ray.


"Rencananya Iya, udah beli tiket si kami," balas Bima.


"Lo kenapa?" tanya Bima bingung. Wajah Arka seperti menyimpan sesuatu yang tidak bisa di ungkapkan.


"Gue harus gimana?" tanya balik Arka kebingungan sendiri. Bima mengangkat sebelah alisnya petanda tidak paham. Pikiran mereka tidak bertemu pada satu titik yang sama tetapi berbeda beda cabang sehingga spekulasi mereka menjadi tidak nyambung.


"Gimana apanya? Gue kagak paham Ka."


"Udahlah, mumet kepala gue." Arka mengurungkan niatnya untuk menyampaikan apa yang dia rasa. Sekarang waktu yang tidak cocok untuk membahas masalah Ray, apalagi ada Mami Bima dan sang istri.


"Berat amat keknya masalah hidup lo, masalah skripsi lu?" Andi ikut menimbrung dalam obrolan. Arka bukannya tambah rilex malah tambah sedikit kacau. Masalah satu belum selesai malah masalah satu muncul.


"Kenapa kalian?" Ralline ikutan kepo dengan pembahasan teman anak-anaknya.


"Nggak apa apa Mi. Biasa Bima minta di cariin calon," jawab Arka mengalihkan pembicaraan.


"Bagus tu Ka, Mami setuju banget. Ada rekomen nggak Ka? Yang agamanya baik... Itu aja kalau Mami."


Bima hanya diam, dia sedikit kesal dengan Arka apalagi pembahasannya masalah jodoh.


"Sama Anjel aja gimana Mi? Kenal juga kan Mami. Temannya Fiyah lo."


Arka mulai membuat Bima lebih kesal lagi. Bima memang tidak mau lagi membahas Anjel, bukan karena dia tidak suka. Hanya saja dia teringat bagaimana dulu Arka ingin serius dengan Anjel malah Bima yang menyebabkan kegagalan untuk niat baik temannya.


"Wah Mami setuju tu sama dia. Ramah gitu lagi." Ralline berbinar-binar seperti ada harapan dia akan segera mendapatkan calon menantu.


"Jangan dengarin Arka lah Mi," ujar Bima agar sang Mami tidak terlalu berharap. Dia tidak tahu kepada siapa hatinya berlabuh.


"Masa Bima sama Anjel si Mi? Bima tu cocoknya sama orang indonesia asli. Masa sama blasteran juga, nggak ada gregetnya gitu," ujar Andi polos.


Arka memukul perut Andi pelan.


"Sakit Ka, ih apaan si main pukul-pukul aje lu. KDP lu!!!"


"KDP apaan bang?" tanya Farah kepo.


"Kekerasan dalam pertemanan atuh Dek. Suami kamu ni minta di aduin Papa Arfan kali ya."


"Macam bocah lu," balas Arka sewot.


Ralline tertawa, dia seperti berada dalam pertengkaran anak kecil. Meskipun ramai tetapi ada saja yanh kurang. Kehadiran Kahfi dan Ray sangat berpengaruh jika mereka berkumpul. Ralline beharap semoga anak dan teman anak-anaknya bisa berkumpul seperti dulu lagi. Tentu saja dengan pemikiran yang lebih baik dari dulu.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa vote, coment dan likenya kakak biar semangat up terus hehe


__ADS_2