Quickie Marriage

Quickie Marriage
QM 31


__ADS_3

Segala pemikiran buruk mulai mengganggu diri Farah, dia


duduk termenung di bawah lantai kamar. Segala beban pemikirannya mendadak


menjadi pedang tajam yang menancap pada dadanya. Sakit yang dia rasakan hanya


mampu dikeluarkan dalam bentuk air mata. Seandainya dia tidak mempunyai iman


maka mengakhiri hidup akan dia lakukan karena rasanya seluruh tubuhnya sakit


dan merasa lelah dengan hidup yang dia jalani. Farah seakan lupa bahwa apapun


yang menimpa kehidupan seseorang adalah hal yang terbaik yang Allah berikan.


Rasa lelah dalam hidup memang akan dirasakan semua orang, tetapi sebagai


seorang hamba yang mengaku beriman dan bertakwa seharusnya percaya bahwa akan


ada kehidupan akhirat kekal yang akan menanti.


Sebisa mungkin Farah menahan suara tangisnya agar orang lain


tidak mengetahuinya. Dia tidak tahu penyakit apa yang di alami oleh sang Ayah.


Perasaan nya tentu menerka-nerka hal yang buruk.


“Sayang kok pintu nya terkunci.” Suara yang seharusnya tidak


ingin Farah dengar untuk saat ini. Dia mengusap air matanya yang masih menetes.


“Dek, buka dulu. Leptop mas ketinggalan.”


“Iya bentar Mas.” Farah mencuci wajahnya agar bekas


tangisnya tidak terlalu kentara.


Clek


Farah mengambil punggung tangan sang suami untuk dicium


kemudian segera berjalan menuju ranjang.


“Adek kenapa?” tangan Farah di cekal oleh Arka. Arka merasa


ada yang aneh dengan istrinya.


“Nggak apa-apa kok mas,” jawab Farah sambil mengalihkan


wajahnya kea rah lain.


“Eh sini tatap mata Mas kalau memang baik-baik aja.”


Farah tetap tidak ingin menatap wajah tampan sang suami.

__ADS_1


“Lepas Mas, Adek mau istirahat dulu.” Alasan yang sangat


ampuh karena Arka segera melepas pegangan pada pergelangan tangan istrinya.


“Anak Abi nggak rewel kan Mi?” Arka mengusap perut sang


istri yang tengah berbaring. Pikiran Arka hanya satu apakah Farah kesusahan


saat hamil. Dia bukan nya tidak tahu bahwa sang istri habis menangis.


“Enggak ko Bi, dedek sama Mami baik-baik aja kok.”


5 menit Arka mengusap perut sang istri sembari melafazkan


shalawat kepada nabi Muhammad. Ketika usapan yang Farah rasakan menghilang dia


mencari keberadaan sang suami yang tidak bersuara.


“Kok Mas ganti baju?” tanya Farah kaget melihat sang suami mengganti


bajunya dengan kaos biasa.


“Nggak apa-apa.” Arka mendekat ke arah sang istri sembari


mengusap pucuk kepalanya dengan lembut.


Farah terdiam menerima sentuhan yang Arka berikan, seakan


beban berat yang menghimpit dadanya bisa hilang sebagian.


“Bo-boleh Mas,” balas Farah terbata-bata. Dia sudah


berpikiran negative .


“Mas nggak minta banyak kok, Adek boleh nangis tapi saat Mas


ada disamping adek, saat mengadu dihadapan Allah dan saat bahagia. Bisa?”


Mata Farah sudah berkaca-kaca, permintaan sederhana namun


mengandung beribu kesusahan didalamnya. Dia tidak ingin terlihat lemah di


hadapan sang suami, dia tidak ingin menjadi beban.


“A-adek-“


“Mas tahu adek habis nangis, apakah kehamilan ini


memberatkan?”


Farah menggeleng dengan cepat, dia menangis bukan karena


kehamilannya.

__ADS_1


“Adek bahagia dengan kehamilan ini Mas.”


“Jujur Mas enggak akan pernah bisa tahu apa yang Adek rasa


atau Adek pendam kalau Adek sendiri nggak kasih tahu sama Mas.”


“Pa-pa Sakit,” lirih Farah yang sudah menangis. Dia menutup


wajahnya dengan tangan. Arka mengambil kedua tangan istrinya kemudian mengecup


pelan kedua buah mata sang istri.


“Jangan pernah menganggap orang sakit maka ajalnya sudah


dekat.” Perkataan lembut dengan senyum tulus Arka berikan.


“Sebab kematian orang tidak ada yang kita tahu Dek, kita


yang sehat seperti ini saja bisa saja mati sekarang. Papa sakit itu sudah


menjadi takdir yang Allah berikan, kita tidak bisa menyalahkan Allah atau


siapapun. Sebagai orang yang sayang sama Papa seharusnya kita mendoakan,


mensupport serta tidak menunjukan kesedihan kepada Papa,” sambung Arka.


“Papa enggak mau ke rumah sakit Mas, tadi Om Irfan ke sini


hiks.”


“Nah maka tugas kita untuk meyakinkan Papa agar mau ke rumah


sakit. Mati itu tidak menunggu sakit dek, kalau sudah ajalnya maka setiap


makhluk hidup tidak akan bisa menghindar.” Arka melihat sang istri perlahan


berhenti menangis. Dia sadar bahwa sang istri hanya manusia biasa yang pasti


tidak bisa menerima keadaan yang menimpa orang yang disayanginya.


“Ka-kalau nanti Papa nggak mau juga gimana?”


“Insya Allah mau, orang tua mana mau menolak permintaan


anaknya dek.”


Farah mengangguk mengerti, dia memeluk sang suami dan


mengucapkan terima kasih karena sudah selalu ada. Dia tidak tahu bahwa sosok di


depannya bisa menjadi orang yang mampu membuat dirinya lebih kuat dan tegar


serta memberikan kebahagian sekaligus meskipun sejatinya kebahagiaan itu Allah

__ADS_1


yang berikan.


__ADS_2