
Segala pemikiran buruk mulai mengganggu diri Farah, dia
duduk termenung di bawah lantai kamar. Segala beban pemikirannya mendadak
menjadi pedang tajam yang menancap pada dadanya. Sakit yang dia rasakan hanya
mampu dikeluarkan dalam bentuk air mata. Seandainya dia tidak mempunyai iman
maka mengakhiri hidup akan dia lakukan karena rasanya seluruh tubuhnya sakit
dan merasa lelah dengan hidup yang dia jalani. Farah seakan lupa bahwa apapun
yang menimpa kehidupan seseorang adalah hal yang terbaik yang Allah berikan.
Rasa lelah dalam hidup memang akan dirasakan semua orang, tetapi sebagai
seorang hamba yang mengaku beriman dan bertakwa seharusnya percaya bahwa akan
ada kehidupan akhirat kekal yang akan menanti.
Sebisa mungkin Farah menahan suara tangisnya agar orang lain
tidak mengetahuinya. Dia tidak tahu penyakit apa yang di alami oleh sang Ayah.
Perasaan nya tentu menerka-nerka hal yang buruk.
“Sayang kok pintu nya terkunci.” Suara yang seharusnya tidak
ingin Farah dengar untuk saat ini. Dia mengusap air matanya yang masih menetes.
“Dek, buka dulu. Leptop mas ketinggalan.”
“Iya bentar Mas.” Farah mencuci wajahnya agar bekas
tangisnya tidak terlalu kentara.
Clek
Farah mengambil punggung tangan sang suami untuk dicium
kemudian segera berjalan menuju ranjang.
“Adek kenapa?” tangan Farah di cekal oleh Arka. Arka merasa
ada yang aneh dengan istrinya.
“Nggak apa-apa kok mas,” jawab Farah sambil mengalihkan
wajahnya kea rah lain.
“Eh sini tatap mata Mas kalau memang baik-baik aja.”
Farah tetap tidak ingin menatap wajah tampan sang suami.
__ADS_1
“Lepas Mas, Adek mau istirahat dulu.” Alasan yang sangat
ampuh karena Arka segera melepas pegangan pada pergelangan tangan istrinya.
“Anak Abi nggak rewel kan Mi?” Arka mengusap perut sang
istri yang tengah berbaring. Pikiran Arka hanya satu apakah Farah kesusahan
saat hamil. Dia bukan nya tidak tahu bahwa sang istri habis menangis.
“Enggak ko Bi, dedek sama Mami baik-baik aja kok.”
5 menit Arka mengusap perut sang istri sembari melafazkan
shalawat kepada nabi Muhammad. Ketika usapan yang Farah rasakan menghilang dia
mencari keberadaan sang suami yang tidak bersuara.
“Kok Mas ganti baju?” tanya Farah kaget melihat sang suami mengganti
bajunya dengan kaos biasa.
“Nggak apa-apa.” Arka mendekat ke arah sang istri sembari
mengusap pucuk kepalanya dengan lembut.
Farah terdiam menerima sentuhan yang Arka berikan, seakan
beban berat yang menghimpit dadanya bisa hilang sebagian.
“Bo-boleh Mas,” balas Farah terbata-bata. Dia sudah
berpikiran negative .
“Mas nggak minta banyak kok, Adek boleh nangis tapi saat Mas
ada disamping adek, saat mengadu dihadapan Allah dan saat bahagia. Bisa?”
Mata Farah sudah berkaca-kaca, permintaan sederhana namun
mengandung beribu kesusahan didalamnya. Dia tidak ingin terlihat lemah di
hadapan sang suami, dia tidak ingin menjadi beban.
“A-adek-“
“Mas tahu adek habis nangis, apakah kehamilan ini
memberatkan?”
Farah menggeleng dengan cepat, dia menangis bukan karena
kehamilannya.
__ADS_1
“Adek bahagia dengan kehamilan ini Mas.”
“Jujur Mas enggak akan pernah bisa tahu apa yang Adek rasa
atau Adek pendam kalau Adek sendiri nggak kasih tahu sama Mas.”
“Pa-pa Sakit,” lirih Farah yang sudah menangis. Dia menutup
wajahnya dengan tangan. Arka mengambil kedua tangan istrinya kemudian mengecup
pelan kedua buah mata sang istri.
“Jangan pernah menganggap orang sakit maka ajalnya sudah
dekat.” Perkataan lembut dengan senyum tulus Arka berikan.
“Sebab kematian orang tidak ada yang kita tahu Dek, kita
yang sehat seperti ini saja bisa saja mati sekarang. Papa sakit itu sudah
menjadi takdir yang Allah berikan, kita tidak bisa menyalahkan Allah atau
siapapun. Sebagai orang yang sayang sama Papa seharusnya kita mendoakan,
mensupport serta tidak menunjukan kesedihan kepada Papa,” sambung Arka.
“Papa enggak mau ke rumah sakit Mas, tadi Om Irfan ke sini
hiks.”
“Nah maka tugas kita untuk meyakinkan Papa agar mau ke rumah
sakit. Mati itu tidak menunggu sakit dek, kalau sudah ajalnya maka setiap
makhluk hidup tidak akan bisa menghindar.” Arka melihat sang istri perlahan
berhenti menangis. Dia sadar bahwa sang istri hanya manusia biasa yang pasti
tidak bisa menerima keadaan yang menimpa orang yang disayanginya.
“Ka-kalau nanti Papa nggak mau juga gimana?”
“Insya Allah mau, orang tua mana mau menolak permintaan
anaknya dek.”
Farah mengangguk mengerti, dia memeluk sang suami dan
mengucapkan terima kasih karena sudah selalu ada. Dia tidak tahu bahwa sosok di
depannya bisa menjadi orang yang mampu membuat dirinya lebih kuat dan tegar
serta memberikan kebahagian sekaligus meskipun sejatinya kebahagiaan itu Allah
__ADS_1
yang berikan.