
Cinta akan hadir karena terbiasa, dan itu perasaan yang sekarang Risa rasakan, karena semakin hari cintanya tumbuh subur untuk sang suami.
Dan sekarang Risa dan juga Anton, menjalani rumah tangga penuh dengan kebahagian, tanpa ada yang mungusik rumah tangannya, meskipun papa Martin hingga saat ini belum merestui pernikahannya, dan itu tidak masalah bagi Anton, dia seorang pria dan dia yang bertanggung jawab penuh pada sang istri, dan juga Nana putri sambungnya.
Karena Anton percaya, jika suatu saat nanti, papa Martin pasti akan merestui pernikahannya.
"Mas," panggil Risa sekarang pada sang suami.
"Iya, Ris," sahut Anton yang masih sibuk di ruang kerjanya,
"Lihatlah," Risa yang masih menjabat sebagai sekretaris sang suami menunjuk jam dinding yang ada di ruangan Anton, membuat Anton langsung tersenyum.
"Seperti biasa," ujar Anton, yang tahu untuk apa sang istri masuk ke dalam ruang kerjanya.
Ini jam makan siang, dan seperti biasa, Risa pasti akan menanyakan pada sang suami, ingin makan apa, dan nanti dia akan membelikan makanan untuk sang suami, lalu mereka akan makan bersama di dalam ruang kerja Anton.
Dan itu yang selalu keduanya lakukan jika jam makan siang, tak pernah sekali pun mereka makan di luar bersama, sesuai keinginan Risa, yang masih tidak ingin mempublikasikan hubungannya dengan Anton.
Anton yang sudah beranjak dari duduknya, kini menghampiri Risa.
"Sebenarnya aku ingin makan di luar denganmu,"
"Mas,"
"Iya aku tahu," sambung Anton yang sudah berada tepat di depan Risa, dan sekarang menarik pinggang sang istri, agar tubuhnya menempel dengannya.
"Mas, ini di kantor,"
__ADS_1
"Aku tahu, aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu,"
"Katakan saja,"
"Apa kamu sudah siap?"
"Siap apa Mas?"
"Memberikan adik bayi untuk Nana," jawab Anton, mengingat lagi, dia dan juga Risa belum pernah melakukan hubungan badan, meskipun Risa sudah membalas cintanya sejak beberapa bulan lalu, hingga usia pernikahannya hampir menginjak usia satu tahun beberapa bulan lagi. Dan Anton menahan itu, meskipun dalam lubuk hatinya yang terdalam dia sangat menginginkan hal itu dengan sang istri, tapi dia tahan, takut Risa kecewa padanya.
Namun, pertanyaan Anton tidak di jawab oleh Risa, membuatnya langsung melepas pelukannya, lalu menatap pada istrinya tersebut yang sedang menahan senyum.
"Kenapa tidak di jawab?"
Dan sekarang Risa menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Anton yang pertama kalinya.
"Mas," ucap Risa setelah melepas tautan bibirnya. "Ini di kantor,"
"Maaf," ujar Anton sambil mengukir senyum, lalu membelai pipi Risa. "Kamu tunggu saja di sini, biar aku yang menyuruh OB untuk memesan makanan, kamu makan mau makan nasi campur yang ada di kantin kan?"
"Aku saja yang beli Mas, jangan menyuruh OB,"
"Tapi..."
"Mas," sambung Risa memotong perkataan Anton. "Aku pergi dulu," Risa pun langsung keluar dari ruangan sang suami, tentu saja Anton tidak akan melarangnnya lagi, karena dia selalu mengikuti apa yang Risa katakan.
"Heh, aku dengar-dengar pak Anton sudah menikah, tahu,"
__ADS_1
"Aku juga sempat dengar,"
"Tapi siapa istrinya ya,"
"Entahlah, tapi aku yakin, pasti istrinya sangat cantik,"
"Tapi dengar-dengar juga, pak Martin tidak merestui pernikahannya. Maka dari itu pak Martin sekarang tidak pernah ke sini,"
Risa yang sudah berada di kantin, mendengar jelas, apa yang beberapa karyawan itu katakan. Dan dia sangat terkejut mendengar pernyataan terakhir para karyawan tersebut, yang menyebut nama papa mertuanya.
"Papa Martin tidak merestui pernikahan aku dan juga Mas Anton," batin Risa, dan mengingat lagi, selama menjadi istri dari Anton, dia tidak pernah bertemu dengan papa Martin, dan saat dia berkunjung ke rumahnya, Risa juga tidak pernah mendapati papa Martin. Hanya mama Marta yang selalu dia temui, saat dia bertanya dimana papa mertuanya, mama Marta selalu mengatakan jika papa Martin sedang beristirahat di dalam kamar dan tidak ingin di ganggu.
"Hey, Ris. Sini," salah satu karyawan yang sedang bergosip kini menarik tangan Risa untuk mendekat. "Kamu kan, sekretaris pak Anton. Kamu tahu dong siapa istrinya, orang mana? Pasti sangat cantik kan?"
"Aku tidak tahu,"
"Jangan bohong,"
"Iya, aku permisi dulu," ujar Risa yang langsung meninggalkan kantin tersebut.
"Ris, ada apa?" tanya Anton di sela sela menguyah makanan, ketika melihat raut wajah sang istri yang sedikit murung.
"Mas, apa papa tidak merestui pernikahan kita?"
"Heh, apa yang kamu katakan, tentu saja dia sangat merestui pernikahan kita," bohong Anton, yang memang ingin merahasiakan tentang sang papa yang tidak merestui pernikahannya, dari Risa. "Lagian kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Hanya bertanya," jawab Risa dan kembali meneruskan makan siang, meskipun di dalam hatinya masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang suami.
__ADS_1
Bersambung...................