Rahasia Dibalik Pernikahan

Rahasia Dibalik Pernikahan
Mengambil Keputusan


__ADS_3

Niat awal papa Martin yang ingin memberitahu Risa jika dia hanya istri kedua bagi Anton, dia urungkan ketika sang istri tiba-tiba datang menyusulnya.


"Papa harusnya tidak bertindak sejauh ini," ujar mama Marta yang sedang duduk di jok mobil tepat di samping sang suami, setelah memutuskan untuk pulang dari rumah Risa, setelah bercakap cakap sebentar.


"Tapi, cepat atau lambat Risa akan mengetahuinya,"


"Iya mama tahu, tapi biarkan Risa tahu dari Anton, bukan dari kita. Kita memang orang tuanya, tapi kita tidak boleh ikut campur, tugas kita hanya memberi tahu Anton, untuk segera memberi tahu semuanya pada Risa, dan kita sebagai mertua harus menyayangi Risa seperti anak kita sendiri, Pa," nasihat mama Marta yang coba terus menyayangi Risa seperti dia menyayangi menantu pertama.


Awalnya mama Marta juga sangat terkejut mendapati sang putra yang menikah tanpa sepengetahuannya, tapi dengan alasan yang Anton dan Leta katakan, membuat mama Marta menerima pernikahan kedua sang putra.


Dan sebisa mungkin untuk menyayangi Risa, setelah tahu jika Risa adalah wanita baik dan juga mandiri, tidak seperti dugaan awalnya, jika Risa mau menikah dengan Anton hanya karena materi.


"Kelamaan, jika harus menunggu anak kamu itu,"


"Anton juga anak kamu, Pa," sambung mama Marta.


"Berapa hari dia di luar negeri?"


"Seminggu,"


"Baiklah, papa akan menyusul dia, dan mendesaknya untuk segera memberi tahu semuanya pada Risa,"


"Mama ikut,"

__ADS_1


*


*


*


Dan benar saja, keesokan harinya papa Martin dan juga mama Marta, langsung terbang untuk menemui sang putra di rumahnya yang ada di luar negeri.


Anton dan juga Leta yang sedang duduk di sebuah sofa panjang berhadapan dengan sofa lainnya, dimana mama Marta dan juga Papa Martin berada, hanya diam sambil berfikir setelah mendengar nasihat papa Martin, agar tidak menyembunyikan lagi tentang semuanya pada Risa.


"Kenapa kalian hanya diam?" tanya papa Martin pada keduanya. "Cepat atau lambat pasti Risa akan mengetahuinya,"


"Iya, dan kalian harus secepat mungkin mengatakan kebenaran ini, jangan menunggu waktu lagi," sambung mama Marta.


"Aku belum siap,"


"Belum siap kamu bilang, kamu yang mulai dulu, dan kamu juga yang harus menghadapinya,"


"Risa sedang hamil, Pa. Aku tidak ingin janin yang sedang di kandungannya, kenapa napa, jika aku mengatakan semua ini padanya sekarang ini,"


"Sayang, aku pikir benar apa yang mama dan juga papa katakan, kita harus segera mengatakan semuanya pada Risa sekarang juga," sambung Leta yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh kedua mertuanya.


"Tapi sayang, bagaimana jika..."

__ADS_1


"Mungkin Risa akan kecewa saat kita menceritakan semuanya, tapi percaya padaku, dia tidak akan pernah meninggalkan kamu," sambung Leta memotong perkataan sang suami, tahu apa yang membuatnya kuatir. "Karena ada anak kamu dan dia di dalam rahimnya, berbeda jika kamu mengatakannya nanti, apa lagi jika dia sudah melahirkan, bukan hanya meninggalkan kamu, Risa juga pasti akan langsung menceraikan kamu, sayang."


"Benar apa yang dikatakan oleh Leta," sambung mama Marta.


Namun, tidak mendapat tanggapan dari Anton yang sedang berpikir.


Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Anton, sebelum mengambil keputusan. "Baik, aku akan mengatakannya," akhirnya Anton mengikuti saran sang istri dan juga kedua orang tuanya.


"Dan aku ikut denganmu," sambung Leta.


*


*


*


Sebelum sang suami tiba di rumah beberapa jam lagi, Risa terlebih dahulu pulang ke rumah, untuk menyambut suami tercinta.


Padahal hari ini dia ingin bertemu dengan teman temannya, tapi dia urungkan saat Anton memberu tahu jika dia memajukan kepulangannya.


Setelah berdandan untuk menyambut kedatangan sang suami, yang setengah jam lalu menghubunginya dan memberi tahunya, jika sudah dalam perjalanan menuju rumah. Kini Risa menuju ruang makan untuk memastikan semua hidangan yang tadi di masaknya sudah tersaji di meja makan


"Sempurna," ucap Risa setelah mengetahui, semua makanan yang dimasaknya sudah tersaji di meja makan. Dan tidak berselang lama, bel pintu rumahnya berbunyi. "Mbak, aku yang akan membuka pintu," Risa melarang asisten rumah tangganya yang ingin membuka pintu, dan dengan segera Risa menuju pintu rumahnya, karena dia sangat yakin, jika yang menekan bel rumah adalah sang suami.

__ADS_1


"Mas," ucap Risa sambil tersenyum, saat sudah membuka pintu, dia melihat sang suami berada di depan pintu, dan Risa langsung menautkan kedua alisnya ketika melihat ada wanita cantik yang duduk di kursi roda.


Bersambung...........


__ADS_2