
Tiga bulan kemudian
Tidak mudah bagi Anton untuk mendapatkan cinta dari Risa, pasalnya sudah tiga bulan pasca pernikahannya, sang istri masih menutup hatinya, padahal Anton sudah melakukan berbagai hal, agar Risa tertarik, tapi nyatanya tidak sedikit pun tertarik padanya.
Namun, Anton tidak sama sekali menyerah untuk mendapatkan cinta Risa, dengan perhatin perhatin kecil yang di tunjukkan, seperti pagi hari ini, Anton menghampiri sang istri yang sedang memasak di dapur, yang sering Risa lakukan, ketika libur bekerja seperti hari ini.
Mengingat lagi, Risa masih tetap bekerja secara profesional menjadi sekretaris Anton, tanpa ada satu pun karyawan kantor yang mengetahui, jika dirinya sudah menjadi istri atasan, padahal Anton ingin memberi tahu pada seluruh karyawannya siapa Risa saat ini, tapi dilarang oleh Risa.
Tentu saja, Anton mengikuti apa yang sang istri katakan.
"Aku akan membantumu," ucap Anton saat sudah mendekati Risa.
"Tidak perlu," sambung Risa dengan ketus, tanpa menoleh pada sang suami, dan terus meracik bahan makanan yang akan di masaknya di meja kabinet dapur.
Namun, setelahnya Risa menatap pada Anton yang berdiri tepat di sampingnya, dimana dia baru saja mengelap keringat di kening Risa.
"Kamu berkeringat," ucap Anton sambil mengukir senyum.
__ADS_1
Dan tidak mendapat tanggapan dari Risa, yang kembali fokus pada pekerjaannya.
"Ris, mama dan juga papa ingin bertemu kamu nanti malam, apa kamu tidak keberatan untuk menemui mereka?" tanya Anton karena kedua orang tuanya belum bertemu dengan Risa, dan saat mereka sudah kembali dari luar negeri ingin sekali menemui istri dari putranya. "Ris," panggil Anton, karena tidak mendapat jawaban dari Risa.
"Iya," dan sekarang Risa menjawab pertanyaan sang suami, merasa tidak enak pada kedua orang tua Anton, tepatnya dengan mamanya, yang beberapa kali nenghubunginya dan memintanya untuk datang ke rumah, setelah tibanya dari luar negeri beberapa hari lalu.
"Terima kasih," sambung Anton, sambil mengusap kepala Risa, hal yang selalu Anton lakukan padanya, yang membuat Risa sudah terbiasa. "Di mana putri kecilku?" tanya Anton yang tidak mendapati Nana. "Apa di taman bersama Mbak?" tanyanya lagi, saat Anton sudah hafal, jika di akhir pekan, putri sambungnya tersebut pasti berada di taman di temani asisten rumah tangganya, selagi Risa memasak, yang hanya bisa dilakukan jika dia libur.
"Iya," jawab Risa, lalu meringis kesakitan, ketika salah satu jarinya teriris pisau.
"Biar, mbak yang meneruskan pekerjaannya ini,"
"Aku tidak apa-apa, ini hanya tergores sedikit,"
"Sedikit kamu bilang? Lihatlah, darahnya banyak," Anton yang begitu panik, langsung membawa Risa menuju ruang tengah. "Kamu disini saja, aku akan mengambil kontak p3k," ujar Anton yang sudah mendudukkan Risa di sofa yang ada di ruang tengah, lalu berlari untuk mengambil kotak p3k yang selalu tersedia di rumahnya.
Anton dengan telaten mengobati luka yang ada di salah satu jari Risa.
__ADS_1
Dan Risa yang sedari tadi enggan menolah pada sang suami, kini menatapnya, dan mengingat lagi, selama tiga bulan menjadi istri Anton dan tinggal bersama.
Anton selalu menunjukkan kasih sayang, meskipun Risa tidak peduli padanya, bukan hanya pada dirinya saja, tapi juga pada Nana sang putri, yang sekarang sangat deket dengan Anton, hingga Nana ingin selalu bersama dengan Anton dibanding dengan Risa.
Dan Anton juga selalu mengerti apa yang Risa mau, hingga dia rela untuk tidak tidur di kamar yang sama dimana Risa berada sesuai keinginannya.
"Kenapa kamu masih bertahan dengan aku yang seperti ini?" tanya Risa, membuat Anton yang masih fokus pada luka sang istri, langsung menegakkan kepalanya untuk menatap Risa.
"Karena kamu istriku, dan aku sangat mencintaimu, meskipun kamu belum mencintai aku,"
"Kenapa kamu mencintai wanita seperti aku?"
"Aku tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan kamu, Ris. Karena cinta tidak beralasan," jawab Anton sambil mengukir senyum, lalu meraih tangan Risa yang tidak terluka, kemudian menggenggamnya dengan sangat erat. "Apa tidak ada celah sedikit pun dihatimu, untuk menerima cintaku, Ris?"
Risa sejenak terdiam, sambil terus menatap pada Anton, yang menurutnya sangat tulus. "Aku akan mencoba,"
Bersambung.............
__ADS_1