Rahasia Dibalik Pernikahan

Rahasia Dibalik Pernikahan
Menyetujui


__ADS_3

Rasa sakit yang Risa rasakan karena kebohongan Anton, digantikan rasa iba, ketika sang suami tergeletak lemah di ranjang rumah sakit, karena mengalami dehidrasi akut, mengingat selama seminggu Anton tidak makan atau pun minum, karena rasa penyesalannya yang teramat dalam.


Mama Marta yang baru keluar dari ruang perawatan sang putra kini mendekati Risa yang sedang duduk di bangku tunggu tidak jauh dari ruangan di mana sang suami berada.


Kemudian mama Marta duduk tepat disamping sang menantu yang terlihat sedih.


"Nana dengan siapa?" tanya mama Marta.


"Ibu dan juga mbak," jawab Risa yang tadi meninggalkan sang putri bersama dengan pengasuhnya, dan dia juga menghubungi ibu Ria untuk datang ke rumah dan menemani sang putri. "Bagaimana keadaan Mas Anton, Ma?"


"Dia sudah sadar, dan dia ingin kamu menemuinya," jawab mama Marta, yang sekarang meraih salah satu tangan Risa dan menggenggamnya dengan erat. "Maafkan mama, Ris,"


"Jangan di bahas lagi, Ma," sahut Risa yang kini melepas genggaman tangan mama mertuanya, lalu beranjak dari duduknya. "Aku ingin menemui Mas Anton dulu, Ma," Risa kini melangkahkan kakinya menuju ruang perawatan dimana sang suami berada.


Risa yang sudah berada di dalam ruang perawatan sang suami, kini mendekati ranjang perawatan dimana Anton sedang tergeletak lemah sambil memejamkan matanya.


Rasa benci pada Anton saat tahu kebohongan apa yang pernah dia lalukan, mulai melebur dari diri Risa, ketika melihat wajah sang suami, dan Risa mengingat kebaikan kebaikan yang sudah Anton lalukan, sebelum dia tahu rahasia besar dari sang suami.


"Sayang," ucap Anton yang sudah membuka kedua bola matanya, ketika melihat Risa berada tepat disisi ranjang dimana dirinya berada.


"Bagaimana keadaan kamu, Mas?" tanya Risa tanpa meninggikan suaranya seperti biasa.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja,"


"Ikhlaskan Leta, doakan yang terbaik untuknya, Mas,"


Namun, Anton tidak menanggapi apa yang sang istri katakan, karena sekarang dia meraih tangan Risa dan menggenggamnya dengan sangat erat.


"Aku ingin bicara denganmu, sayang. Maafkan aku sekali lagi, meskipun seribu maaf tidak cukup untuk memaafkan apa yang sudah aku lalukan padamu, sayang,"


Risa hanya menghembuskan nafasnya kasar, tanpa menimpali apa yang dikatakan oleh sang suami.


"Aku akan menerima, jika kamu ingin menceraikan aku,"


Ucapan Anton membuat Risa langsung manautkan kedua alisnya, entah mengapa dia merasa bersedih dengan ucapan tersebut, padahal itulah yang Risa inginkan.


Namun, bukannya menanggapi apa yang Anton katakan, Risa dengan segera meninggalkan ruangan dimana sang suami berada.


Meninggalkan Anton, yang kini menitikan air mata dari kedua sudut pelupuk matanya, tidak tahu harus apa, jika benar sang istri menceraikannya, seperti yang Risa inginkan.


"Aku sangat mencintaimu, sayang," ucapnya, dan tetesan bulir air mata kini menjadi tangisan, masa bodoh jika ada orang melihatnya, dan mengatakan jika dirinya adalah pria cengeng.


Mama Marta menghampiri Risa yang baru saja keluar dari ruang perawatan sang putra.

__ADS_1


"Ris, ada apa?" tanya mama Marta yang baru menyadari jika sang menantu menangis.


"Tidak ada apa-apa Ma. Aku pulang dulu," ujar Risa yang langsung meninggalkan mama Marta.


Tentu saja membuat mama Marta segara masuk ke dalam ruang perawatan sang putra, selepas kepergian Risa.


Dan langsung menautkan keningnya, mendapati Anton sedang menangis.


"Ton, apa yang terjadi?" tanya mama Marta, ketika sudah mendekati sang putra.


"Aku mengabulkan keinginan Risa, Ma," jawab Anton disela sela tangisnya.


"Maksud kamu, tentang perceraian?"


Anton pun hanya mengangguk, untuk menjawab pertanyaan sang mama.


"Ya, Tuhan. Kenapa kamu melakukan hal ini, sih," ujar mama Marta yang tidak habis pikir dengan sang putra.


"Aku hanya ingin membuat dia bahagia, karena ini yang dia inginkan, mungkin dengan ini, dia akan bahagia, dan aku bisa melihat keceriaan di wajahnya lagi, Ma,"


"Tapi tidak dengan kamu menyetujui perceraian yang Risa inginkan, ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini,"

__ADS_1


Bersambung.....................


__ADS_2