
Setelah kepergian papa Martin dari ruang kerjanya, Anton terus mencerna semua perkataannya, tentang Neta yang memiliki perasan lebih dari sekedar perasaan seorang adik ke kakaknya.
Dan mengingat lagi, bagaimana selama ini Neta tidak pernah memanggilnya dengan panggilan kakak, seperti layaknya seorang adik, dan selalu ingin dekat dengannya, terlebih saat dia masih bersama dengan almarhum Leta, hingga dia susah untuk berdua dengan Leta, karena selalu ada Neta bersamanya.
Kemudian Anton mengingat lagi, yang membuat dirinya semakin percaya, jika sang adik angkat memiliki perasan lain padanya, ketika Anton pernah masuk ke dalam kamar Neta yang sedang sakit, ketika dia baru saja menikah dengan Leta, lalu menemukan kertas yang berisi sebuah curahan hatinya untuk seseorang yang diawali dengan huruf A, dulu memang Anton pikir curahan hati yang di tulis Neta ditunjukkan untuk orang lain. Tapi sekarang Anton baru sadar inisiatif A itu adalah namanya, telebih lagi, Anton juga beberapa kali melihat fotonya di simpan di dompet sang adik.
Anton kini beranjak dari duduknya, lalu menghubungi sang istri untuk menanyakan sedang apa di rumah, tapi sudah dua kali menghubunginya, tapi tidak diangkatnya, membuat Anton langsung menghubungi telepon rumah, dan asisten rumah tangganya lah yang menerima teleponnya.
"Apa?!" tanya Anton, ketika menghubungi asisten rumah tangganya, dan dia mengatakan jika Risa pergi bersama dengan sang ibu dan juga Neta. Tentu saja Anton langsung menutup sambungan ponselnya, dan kali ini dia segera menghubungi adik angakatnya, entah mengapa hatinya merasa cemas.
Namun, sudah beberapa kali Anton menghubungi Neta. Tapi sambungan ponselnya tidak diangkat. "Net, angkatlah ponselmu, jangan membuat prasangka burukku padamu semakin menjadi," ucap Anton yang coba untuk terus menghubungi adik angkatnya.
*
*
*
Sementara itu, di sebuah restoran, Neta langsung menghidupkan mode hening ketika Anton terus menghubunginya.
__ADS_1
"Net, apa Mas Anton menghubungimu?" tanya Risa, karena ponsel miliknya tertinggal di rumah, jadi dia tidak bisa memberi tahu sang suami dimana sekarang dirinya berada.
"Tidak Kak, mungkin Anton sedang sibuk, lagian dia juga sudah tahu Kakak ipar pergi denganku," jawab Neta penuh kebohongan, tentu sambil menunjukkan senyum manis pada Risa, untuk menutupi kebohongannya. "Oh ya Kak, dari sini kita pergi lagi yuk," ajak Neta, setelah tadi sudah berkeliling di pusat perbelanjaan, dan sekarang sedang menikmati makan siang.
"Lain kali saja ya, Net. Aku merasa sangat lelah," tolak Risa.
"Yah, Kakak ipar tidak asik tahu," sambung Neta, dan menunjukkan wajah murungnya.
"Maaf, besok saja kita pergi lagi, gimana?" tanya Risa yang merasa tidak enak hati.
"Oh ya?"
"Oke," sambung Neta sambil mengukir senyum.
Ibu Ria yang duduk di samping sang putri, berhadapan dengan Neta, tahu benar senyum yang adik ipar sang putri tunjukkan adalah senyum palsu. Dan ibu Ria yakin, ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh Neta untuk putrinya, kemudian ibu Ria mengalihkan tatapannya, ketika Neta kini menoleh padanya.
"Apa kau tua bangka, sudah siap menemui penciptamu bukan?" batin Neta, sambil menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya.
Setelah lebih dari satu jam berada di restoran, akhirnya Neta mengikuti apa yang Risa ingin, pulang ke rumah secepatnya, karena entah mengapa dia ingin segera menemui Nana sang putri, yang pasti sudah pulang dari sekolah bersama dengan pengasuhnya.
__ADS_1
"Net, ada apa?" tanya Risa, ketika Neta yang mengendarai mobilnya, dan baru keluar dari restoran, kini menepikan mobil yang dikendarainya, lalu menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan.
"Ya Tuhan. Aku meninggalkan ponselku, Kak," jawab Neta. "Oh ya, Kakak ipar tunggu disini ya, aku akan kembali ke restoran untuk mengambil ponselku,"
"Jalan kaki?" tanya Risa karena Neta sudah berancang acang membuka pintu mobil dimana dirinya berada.
"Iya Kak, lebih dekat, dari pada aku puter balik, yang pasti macet, dan akan memakan waktu lebih lama," jawab Neta yang kini langsung turun dari dalam mobil, lalu berjalan menuju restoran tempatnya tadi makan siang, yang memang tidak jauh dari mobilnya berada.
Senyum sinis Neta sunggingkan ketika sudah berada di halaman restoran. "Mampus kalian berdua!"
Sementara itu, ibu Ria menautkan keningnya, lalu beranjak dari duduknya di bangku belakang, ketika melihat ada sebuah truk melaju kencang menuju kearahnya.
"Risa!"
"Bu!"
Brak!
Teriak keduanya bersamaan dengan mobil dimana keduanya berada di tabrak oleh sebuah truk.
__ADS_1
Bersambung......................