
Sesal, itu yang sedang papa Martin rasakan saat ini, bagaimana dia tidak menyesal, setelah apa yang di katakannya pada sang putra tadi, saat mengunjungi kantor.
Karena perintahnya untuk menghabisi bayi yang ada di kandungan Risa. Meskipun sebenarnya papa Martin tidak sungguh sungguh menginginkan hal itu, dia mengatakan hal itu hanya ingin menggeretak sang putra, agar bercerai dengan istrinya.
Karena sampai sekarang, meskipun tahu Risa sedang mengandung cucu untuknya, tapi papa Marti belum merestui pernikahan sang putra dengan Risa, yang sangat dia kenal.
Tentu saja papa Martin sangat mengenal Risa, karena dia terlebih dahulu menjadi sekretarisnya, sebelum sang putra menggantikan posisinya.
"Aku harus menemui seseorang," ucap Papa Martin berbarengan dengan mobil yang di kendarai oleh sang supir pribadinya, berhenti tepat di garasi mobil rumahnya.
Baru juga masuk ke dalam rumah, papa Martin sudah di hadang oleh sang istri yang berdiri sambil bertolak pinggang menatap tidak suka padanya.
"Papa ingin beristirahat," ucap papa Martin ketika mama Marta berjalan mendekatinya, saat dia tahu, pasti sang istri sudah di beri tahu Anton, jika dia tadi mendatanginya ke kantor.
"Orang tua macam apa kamu, Pa. Tega teganya berkata seperti itu pada Anton, bagaimana pun juga, anak yang sedang Risa kandung adalah cucu kita," ucap Mama Marta yang tadi mendapat telepon dari Anton, yang memberi tahu jika papa Martin datang ke kantor.
"Papa sedang tidak ingin berdebat," sambung papa Martin yang langsung berjalan meninggalkan sang istri.
"Mama tidak akan membiarkan Papa menyentuh Risa, dan menyakiti cucu mama, ingat itu!"
Papa Martin mendengar jelas apa yang sang istri katakan, dan tetap melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya.
*
*
*
__ADS_1
"Mas," panggil Risa yang baru masuk ke dalam kamar setelah menidurkan sang putri. "Aku perhatian, sedari tadi pulang kerja, wajah Mas, terlihat murung. Ada apa, apa pekerjaan di kantor sangat banyak?" tanya Risa yang kini naik keatas tempat tidur. Mengingat lagi sudah hampiri satu bulan setelah diketahui dia mengandung, Anton tidak menginjinkan sang istri bekerja lagi.
Bukannya menjawab pernyataan sang istri, Anton malah menarik pinggang sang istri untuk mendekat, lalu mengelus perutnya yang masih rata, karena memang usia kandungan Risa baru akan memasuki usia tiga bulan.
"Bagiamana kamu baik-baik saja?" tanya Anton tanpa menjawab pertanyaan sang istri, karena sang istri mengalami ngidam diawal kehamilannya.
"Aku baik-baik saja, Mas. Hari ini hanya sekali muntah, pusing yang biasa aku rasakan juga tidak aku rasakan kembali,"
"Bagus kalau begitu," sambung Anton diakhiri mencium kening sang istri.
"Mas, belum menjawab pertanyaan aku, kenapa Mas murung,"
"Tidak kenapa napa, aku hanya perlu istirahat saja. Yuk kita tidur, sayang" ajak Anton, tidak mungkin dia harus mengatakan pada sang istri, jika hari ini papa Anton datang ke kantor dan mengatakan hal gila.
"Baiklah," Risa langsung mengikuti sang suami merebahkan tubuhnya, membuat Anton langsung membawanya ke dalam pelukan.
"I love you too, Mas," sahut Risa yang balik memeluk tubuh Anton. "Mas,"
"Iya sayang,"
"Besok Mas kan pergi ke luar negeri lagi," ujar Risa, yang sudah paham, jika sang suami setiap bulannya akan pergi untuk mengurus perusahannya di luar negeri.
"Iya, apa kamu mau ikut menemani aku? Agar aku tidak merindukan kamu,"
"Kalau aku ikut, yang ada Mas tidak akan berkonsentrasi dalam pekerjaan,"
"Bisa saja istriku ini," sambung Anton sambil mencubit hidung sang istri.
__ADS_1
"Kalau boleh, selama seminggu kamu di luar negeri, aku ingin tinggal bersama dengan ibu di rumahnya, apa Mas, mengijinkan?"
"Tentu, besok sebelum aku berangkat ke luar negeri, aku akan mengantar kamu,"
"Terima kasih Mas,"
"Hanya itu?"
"Apaan sih Mas,"
"Heh, besok aku akan pergi, apa kamu tidak menginjinkan aku menengok anakku?"
"Mas, aku..." Risa tidak jadi meneruskan ucapannya ketika bibir sang suami sudah menempel di bibirnya.
*
*
*
Benar yang Anton katakan semalam, jika sebelum berangkat ke luar negeri dia akan mengantar sang istri ke rumah ibunya.
"Mas, ada apa?" tanya Risa, saat Anton menyuruh sopir pribadinya menghentikan laju mobilnya, padahal kurang beberapa meter lagi tiba di rumah ibu mertuanya.
"Tidak ada," jawab Anton, sambil menatap mobil yang dia kenal, dimana dia dengan mata kepalanya sendiri melihat papa Martin menaiki mobilnya setelah keluar dari halaman rumah ibu mertuanya. "Apa yang papa lakukan disini?" batin Anton.
Bersambung.................
__ADS_1