
"Diam!" teriak Risa pada Nana sang putri, yang terus menanyakan keberadaan Anton, pasalnya sudah dua hari dia tidak bertemu dengan papa sambunganya, padahal Nana tahu, Anton sudah kembali dari luar negeri dua hari lalu. "Dan, habiskan sarapanmu!"
"Tidak mau, aku ingin bertemu dengan papa," sahut Nana yang kini beranjak dari duduknya.
"Nana! Duduk, mama bilang!" teriak Risa lagi, dan menjauhkan ponsel miliknya yang ada di atas meja makan, saat sang putri ingin meraih ponsel tersebut.
"Aku ingin menghubungi papa, Ma,"
"Tidak boleh!"
"Mama jahat, kenapa Mama selalu melarang aku menghubungi papa, padahal aku tahu, papa sudah pulang dari luar negeri, dan aku juga tahu, kemarin papa datang, tapi mama malah mengunci aku di dalam kamar, Mama jahat!" teriak Nana yang sudah menginjak usia tujuh tahun.
Mengingat lagi, kemarin dia mendengar suara mobil Anton, yang datang, tapi Risa menguncinya di dalam kamar, dan membukakan pintu, ketika Anton sudah pergi.
"Dia bukan papa kamu, paham!"
"Papa Anton, papaku, Ma,"
"Mulai sekarang bukan, dan jangan lagi kamu bertemu dengannya!" ucap Risa dengan kesal yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya, karena sang putri tidak menurut padanya.
"Mama jahat!"
"Nana, berhenti!" teriak Risa saat Nana ingin keluar dari dalam rumah.
"Biar ibu yang bicara dengan anak kamu," ibu Ria yang sedari tadi juga berada di ruang makan, melarang sang putri untuk mengikuti sang cucu, dan dia yang kini mengikuti Nana.
Meninggalkan Risa yang memegangi keningnya sendiri, merasa pusing dengan semua ini, dan tak terasa air matanya jatuh membasahi pipi, menyesali jika dirinya baru saja membentak sang putri, yang tidak pernah di lalukan sebelumnya, hanya karena Nana ingin bertemu dengan Anton, sang suami yang sudah melukai hatinya, disaat Risa begitu mencintai Anton.
__ADS_1
Ibu Ria menghentikan langkahnya, ketika melihat Anton turun dari dalam mobil yang terparkir tepat di depan halaman rumahnya.
"Papa!" teriak Nana yang langsung mendekati Anton, dan tiba-tiba menangis.
Membuat Anton langsung berjongkok untuk mengsesejarkan tubuhnya dengan Nana.
"Sayang, ada apa?" tanya Anton.
Tapi tidak mendapat jawaban dari Nana yang langsung memeluknya, dan Anton sekarang menoleh pada ibu Ria yang masih berdiri tepat di depan pintu rumahnya.
"Katakan pada papa, apa yang terjadi, sayang," ucap Anton, sambil membelai rambut panjang sang putri.
"Mama jahat, Pa. Mama membentak aku, padahal aku hanya ingin bertemu dengen papa," kata Nana disela isak tangisnya.
Dan hal itu membuat Anton langsung melepas pelukan sang putri, lalu meraup wajahnya.
"Aku ingin pulang ke rumah," ujar Nana.
"Tidak!" sahut Risa penuh penekanan, ketika baru keluar dari dalam rumah.
Lalu berjalan mendekati Anton dan juga sang putri.
"Masuk!" perintah Risa sambil menarik tangan sang putri. Dan dengan segera Anton menahan tangan sang istri.
"Sayang, jangan kasar seperti ini pada putri kita,"
"Dia putriku, bukan putrimu!" tegas Risa tanpa menoleh pada Anton, dan terus menarik tangan Nana, meskipun tangannya sudah di cekal oleh Anton.
__ADS_1
"Papa, mama jahat," ucap Nana sambil menangis kembali, dan melepas tangannya sendiri dari cekalan Risa, lalu memeluk pinggang Anton.
"Minggir!" kini Risa yang menyingkirkan tangan Anton, yang masih menahan tangannya, dan ingin menarik tangan sang putri.
Tepi dengan segera Anton menahannya. "Jangan seperti ini, sayang,"
"Diam, kau! Dia putriku!"
"Dia juga putriku,"
"Bukan!"
"Ris, kita bisa bicara dan menyelesaikan masalah ini, dengan baik-baik, jangan seperti ini,"
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, kita akan segera bercerai,"
"Aku mohon jangan katakan itu, sayang. Aku..."
"Diam!" sahut Risa memotong perkataan Anton.
Dan kembali ingin menarik tangan Nana, tapi sang putri segera masuk ke dalam mobil Anton.
"Pa, ayo pergi. Aku banci mama!" teriak Nana dari dalam mobil.
"Maaf," hanya itu ucapan yang keluar dari bibir Anton, sebelum masuk ke dalam mobil.
Bersambung.................
__ADS_1
SELAMAT TAHUN BARU UNTUK KALIAN SEMUA, SEMOGA DI TAHUN YANG BARU INI, KITA SEMUA MENJADI PRIBADI YANG LEBIH BAIK, DAN APA YANG KITA CITA CITAKAN TERCAPAI AMIIN