
"Hai Bu," sapa Neta pada ibu Ria yang sedikit terkejut dengan kedatangan adik ipar sang putri, saat dia ingin memberi tahu kebenaran pada Risa, tentang siapa Neta.
Ibu Ria hanya membalas sapaan Neta dengan senyum.
..."Oh tua bangka, apa yang akan kamu katakan pada putrimu yang tidak tahu diri ini, tentang diriku? Hah!" batin Neta yang masih menatap ibu Ria, karena tadi dia sudah mendengar apa yang akan dia katakan pada Risa. "Apa jangan- jangan dia mendengar apa yang aku katakan semalam, jika iya, ini tidak boleh dibiarkan, dan lebih baik, aku harus menyingkirkan orang orang yang menjadi penghalangku," batinnya lagi, mengingat lagi apa yang semalam dia katakan sebelum meninggalkan rumah sang kakak....
"Net, pagi-pagi sudah sampai sini, rajin sekali kamu," ujar Risa, membuat Neta yang tadi masih menatap pada ibu Ria kini beralih menatap pada kakak iparnya tersebut, sambil mengukir senyum.
"Ya ampun Kak, apa Kakak lupa hari ini kita akan pergi keluar lagi?"
"Masa sih? Kok aku lupa," tanya balik Risa, karena memang kemarin tidak ada pembicaraan jika hari ini mereka akan keluar lagi.
"Itu karena faktor lupa, biasanya orang yang sedang hamil, begitu Kak, suka lupa, sekarang Kakak bersiap aja dulu," sambung Neta yang kini menggandeng tangan Risa dan menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah, meninggalkan ibu Ria yang menatap kedua dengan perasaan cemas.
"Ya Tuhan, lindungilah putriku, jauhkanlah dia dari mara bahaya," ucap ibu Ria yang kini ikut masuk ke dalam rumah.
Ibu Ria yang sudah berada di dalam rumah, melihat Neta seorang diri di ruang tengah, membuatnya langsung menuju kamar sang putri, karena dia yakin, Risa berada di kamarnya, dan ini saatnya untuk ibu Ria memberi tahu pada sang putri siapa Neta, karena ibu Ria yakin, Neta memiliki rencana jahat untuk Risa.
"Ris," panggil ibu Ria yang sudah berada di dalam kamar sang putri, dan menghampirinya, ketika Risa sedang berada di depan meja rias.
__ADS_1
"Iya, Bu. Ada apa?" tanya Risa yang sedang bersolek.
"Tidak usah keluar ya,"
"Kenapa Bu?"
"Ibu tidak percaya dengan kebaikan adik ipar kamu, Ris,"
"Maksud ibu apa?" tanya Risa yang kini menoleh pada sang ibu.
"Semalam ibu mendengar dia..." ibu Ria tidak jadi meneruskan ucapannya, karena tiba-tiba Neta masuk ke dalam kamar Risa.
"Yuk, Kak," ajak Neta, sambil menatap tidak suka pada ibu Ria.
"Tidak perlu, aku sudah menghubunginya untuk meminta ijin, jika aku ingin mengajak Kakak ipar, dan kata dia tidak masalah, yang penting jangan lama-lama,"
"Oh begitu, baiklah," Risa yang sudah selesai bersolek kini beranjak dari duduknya.
"Ris, ibu ikut dengan kamu," pinta Ibu Ria, yang tidak ingin sang putri pergi hanya bersama dengan Neta.
__ADS_1
"Net, bolehkah ibu ikut?"
"Iya, tidak masalah," jawabnya sambil menatap ibu Ria. "Oke sekali mendayung, dua, tiga pulau terlampaui," batin Neta yang kini menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya. Karena bukan hanya Risa yang harus dia singkirkan, tapi juga ibu Ria.
*
*
*
Sementara itu, Anton terus mendengar apa yang papa Martin bicarakan, saat papa Martin sengaja menemuinya di kantor dan menceritakan apa yang dia tahu tentang Neta putri sambungnya yang mencintai Anton, meskipun semalam Neta terus mengelak, tapi papa Martin tidak bisa di bohongi, jika Neta benar mencintai Anton.
"Tidak mungkin Pa," ucap Anton setelah sang papa menceritakan semuanya.
"Papa yakin Ton, dan papa takut dia akan melakukan sesuatu pada Risa, kamu kenal adik kamu itu kan, apa pun yang dia inginkan harus menjadi miliknya," sambung papa Martin, mengingat lagi sifat putri sambungnya.
"Tapi selama ini dia baik pada Neta, dan keduanya sudah akrab sejak lama," Anton mengingat lagi kedekatan almarhum istrinya pertama dengan Neta, tanpa dia tahu, kecelakaan yang menimpanya sudah direncanakan oleh adik angakatnya.
"Iya papa, tahu. Tapi untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, lebih baik kamu suruh Risa jangan terlalu dekat dengan Neta, kalau perlu, kamu suruh Neta untuk kembali ke luar negeri.
__ADS_1
"Baik, Pa,"
Bersambung......................