Rahasia Dibalik Pernikahan

Rahasia Dibalik Pernikahan
Tidak Ingin Lagi Ada Kebohongan


__ADS_3

Ibu Ria sangat bingung, bagaimana dia tidak bingung, saat Risa sang putri tengah malam datang ke rumah, lalu menangis sejadi jadinya, di dalam pelukannya.


"Ris, ada apa sebenarnya?" tanya ibu Ria entah sudah berapa kali bertanya pada sang putri, tapi tidak mendapat jawaban dari Risa yang masih terus menangis, hingga tidak ada tanda tandanya dia akan menghentikan tangisnya. "Ris, cukup. Nanti Nana bangun,"


Bukannya menghentikan tangisnya, tangisnya malah semakin jadi, membuat ibu Ria langsung menuntun sang putri menuju kamarnya, agar Nana yang tidur di dalam kamar ibu Ria tidak keberisikan, bukan hanya itu, ibu Ria juga tidak enak dengan para tetangga jika mendengar tangisan sang putri.


"Ris, ceritakan pada ibu, apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti ini?" tanya ibu Ria lagi, ketika sudah berada di dalam kamar sang putri. Mengingat lagi kepulangan Risa tadi dari rumahnya, begitu bahagia karena ingin menyambut sang suami yang akan pulang dari luar negeri.


Namun, ibu Ria tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya, karena Risa terus saja menangis, membuatnya langsung keluar dari dalam kamar, meninggalkannya seorang diri, saat ibu Ria hafal betul sikap sang putri, tidak akan bercerita apa pun padanya, apa yang terjadi dan lebih memendam sendiri, apa yang sedang dialaminya.


"Aku harus menghubungi Anton," ucap ibu Ria yang sudah keluar dari dalam kamar, dan melangkahkan kakinya menuju kamar untuk mengambil ponsel miliknya, bertepatan dengan pintu rumahnya di ketuk dari luar.


Tentu saja ibu Ria mengurungkan niatnya menuju ke arah kamar, dan sekarang menuju kearah pintu.


"Ya ampun, apa itu para tetangga yang mendengar tangisan Risa, apa yang harus aku katakan pada mereka," ucap ibu Ria, yang meyakini jika para tetangganya mendengar tangisan sang putri, dan sekarang mendatangi rumahnya.


"Malam, Bu," sapa Anton setelah ibu Ria membuka pintu rumahnya.


"Kamu, Nak?"


"Iya, Bu. Di mana istriku?"


"Risa ada di kamar,"

__ADS_1


Anton tidak mengatakan apa pun lagi, karena sekarang dia masuk ke dalam rumah dan menuju kamar sang istri.


"Nak, tunggu!"


Anton pun kini menghentikan langkahnya, lalu membalik tubuhnya untuk menghadap pada ibu mertuanya.


"Apa yang terjadi pada Risa?"


"Nanti aku beri tahu Ibu, sekarang aku ingin menemuinya," jawab Anton, dan berpamitan pada ibu Ria dan kembali melangkahkan kakinya menuju kamar sang istri.


Isak tangis Risa terdengar jelas dari depan pintu kamarnya, tangis pilu yang baru saja Anton dengar, membuatnya merasa sangat bersalah, karena semua ini adalah karenanya.


Anton yang tadi menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar Risa, kini masuk ke dalam kamar, dan pandangannya langsung tertuju pada Risa yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur, sambil menangis.


Risa yang mendapati kehadiran Anton, segera menghentikan isak tangisnya, tidak ingin terlihat lemah di depan orang yang sudah menyakiti hatinya.


Lalu dia bersimpuh di lantai sambil memeluk kedua kaki Risa, tentu saja pemilik kaki sebisa mungkin untuk melepas kedua tangan Anton yang memeluk kedua kakinya.


"Maafkan aku, sayang. Aku salah, karena tidak memberi tahu kamu sejak awal. Aku salah, aku mohon maafkan aku," ujar Anton semakin erat memeluk kedua kaki sang istri. "Dan aku tidak ingin bercerai denganmu, sayang. Aku sangat mencintaimu,"


"Cinta? Cinta macam apa ini? Hah? Katakan padaku, cinta macam apa ini?!" tanya Risa sedikit berteriak, membuat ibu Ria kini mengintip keduanya dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, karena dia yakin, sang putri dan juga suaminya sedang tidak baik-baik saja.


"Maafkan aku sayang, aku memang salah. Tapi percaya, aku sangat mencintaimu,"

__ADS_1


"Aku tidak butuh cintamu, aku tetap ingin bercerai denganmu!" Risa masih dengan keputusannya.


Membuat Anton kini melepas kedua tangannya yang masih memeluk kedua kaki sang istri, lalu beranjak dari tempatnya, karena Risa sekarang sudah beranjak dari duduknya.


"Tidak, aku tidak akan menceraikan kamu, sampai kapan pun, sayang. Ingat, ada anak kita disini," Anton Coba untuk mengelus perut sang istri yang sudah mulai membesar, tapi dengan segera Risa menampik tangannya.


"Aku bisa membesarkan anak ini seorang diri, tanpa ada seorang pembohong seperti kamu!"


"Aku memang pembohong, tapi tolong maafkan aku, sayang,"


"Tidak! Sekarang pergi dari sini, cepat!"


"Sebenarnya ada apa ini?" tanya ibu Ria yang terpaksa masuk ke dalam kamar sang putri setelah mendengar kata cerai dari mulut sang putri.


Membuat Anton langsung membalik tubuhnya, untuk menghadap pada ibu mertuanya, begitu pun dengan Risa.


"Aku ingin bercerai dengan menantu yang selalu ibu banggakan, dan alasannya apa, ibu tanya saja pada dia!" kesal Risa yang langsung meninggalkan kamarnya meninggalkan sang ibu bersama dengan sang suami.


"Nak Anton, ada apa ini?" tanya Ibu Ria.


Dan Anton yang tidak ingin lagi ada kebohongan, langsung menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutup tutupi.


Plak!

__ADS_1


Tamparan mendarat di salah satu pipi Anton, yang di layangkan oleh ibu Ria, setelah dia selesai bercerita.


Bersambung...............


__ADS_2