Rahasia Dibalik Pernikahan

Rahasia Dibalik Pernikahan
Bertemu Lagi


__ADS_3

Risa menahan tangan sang suami, yang baru saja membantunya naik keatas tempat tidur, saat baru saja pulang dari rumah sakit.


"Mas, aku ikut," pinta Risa, karena sang suami ingin pergi ke rumah orang tuanya untuk menemui adik angkatnya.


Dan anton kini membalik tubuhnya, untuk menatap pada sang istri, yang sudah duduk di atas kasur, kemudian membelai pipinya.


"Kamu tetap disini, sayang. Kamu butuh banyak istirahat,"


"Aku sudah baik-baik saja, jadi aku mau ikut,"


"Tidak!" tegas Anton.


"Mas, aku mohon,"


"Aku juga mohon padamu, dengarkan aku, jika aku bilang tidak, ya tidak,"


"Mas, aku hanya tidak ingin kamu menyelesaikan masalah ini dengan emosi," ucap Risa, setelah kemarin sang ibu memberi tahu Anton, tentang apa yang pernah dia dengar dari mulut Neta, bukan hanya itu, Anton juga sudah nengetahui, jika dalang kecelakan yang menimpa sang istri dan juga ibu mertuanya adalah Neta.


Dan yang lebih membuatnya emosi, ternyata selama ini dia hidup berdampingan dengan seorang penjahat, karena dia baru mengetahui, jika Neta juga yang sudah merencakan kecelakan untuk almarhum Leta, hingga dia mengalami lumpuh total.


"Tidak ada alasan untuk aku tidak emosi," sambung Anton, tidak dia pungkiri.


"Tapi..."


"Aku pergi dulu," sambung Anton memotong perkataan sang istri, lalu keluar dari dalam kamarnya, tidak ingin lagi mengulur waktu bertemu dengan Neta.


*


*


*


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya Antom tiba di rumah kedua orang tuanya, dan langsung membanting pintu, membuat papa Martin dan juga mama Marta yang sedang berada di ruang tengah, begitu terkejut dengan kehadiran sang putra.


Papa Martin yang tahu jika sang putra datang untuk menemui Neta, setelah apa yang dia perbuat, kini mendekati Anton.


"Tenangkan emosimu, Ton,"

__ADS_1


"Tidak bisa Pa, ini tidak bisa dibiarkan, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya,"


Dan mama Marta yang tidak tahu apa yang terjadi begitu bingung dengan emosi sang putra, karena memang papa Martin yang mengetahui semua kejahatan dari putri angkatnya, tidak memberi tahu sang istri yang pasti akan terkejut dengan hal ini, karena terlalu sayangnya mama Marta pada Neta.


Anton pun langsung menuju kamar Neta, meninggalkan kedua orang tuanya.


"Pa, sebenarnya ada apa?" tanya mama Marta setelah kepergian Anton.


"Maaf, papa belum memberi tahu kamu, Ma,"


"Memberi tahu apa?" tanya mama Marta lagi begitu penasaran.


"Tentang Neta,"


"Neta? Putri kita?"


"Iya,"


Sementara itu, Anton yang baru masuk ke dalam kamar Neta, langsung di sambut senyum sinis dari adik angkatnya tersebut, yang sudah mengetahui jika Anton, telah mengetahui kejahatannya selama ini.


"Kenapa kamu melakukan ini semua, katakan, kenapa!" teriak Anton langsung pada intinya.


"Karena aku tidak ingin kamu dimiliki wanita mana pun, karena kamu hanya milikku," Tidak malu lagi Neta mengatakan perasaannya.


Dan benar dugaan Anton, jika adik angkatnya benar memiliki rasa untuknya.


"Aku kakakmu!"


"Bukan, aku tidak pernah menganggap kamu sebagai kakakku, tapi menganggap kamu sebagai kekasihku,"


"Jangan gila kamu, Net!"


"Aku sudah gila, dan jika aku tidak bisa memiliki kamu, orang lain juga tidak akan bisa memilikimu!" tegas Neta, dan kini menodongkan pistol yang baru saja dia ambil dari balik pakaian yang di kenakannya, kearah Anton.


Tentu saja membuat Anton begitu terkejut dengan kenekatan Neta.


"Ya ampun Net!" teriak mama Marta yang baru masuk ke dalam kamar sang putri setelah mendengar cerita dari sang suami tentang kejahatannya, sedang menodongkan pistol kearah Anton.

__ADS_1


"Net, apa yang kamu lakukan!" teriak papa Martin.


"Berhenti, atau aku akan melepas tembakan!" ancam Neta, ketika kedua orang tuanya ingin mendekat, tentu saja papa Martin dan juga mama Marta langsung mengurungkan niat, mendekati Anton dan juga Neta. "Aku tahu, kalian pasti sudah melaporkanku ke polisi, dan aku akan mendekam di penjara, tapi sebelum itu, terima kado terakhir dari aku,"


Dor! Dor! Dor!


Suara tiga kali tembakan membuat Risa yang tadi mengikuti sang suami, dengan segera menuju kearah sumber suara dimana terdengar jelas jeritan dari mama Marta, dan pikiran negatif jika terjadi sesuatu pada sang suami memenuhi pikirannya.


Begitu pun dengan beberapa polisi yang baru saja tiba di kediaman papa Martin, atas perintahnya untuk mengamankan putri angkatnya, kini berlari mengikuti Risa.


Risa terdiam tepat di depan pintu kamar Neta, ketika melihat banyak darah yang mengalir dari tubuh Neta yang berada di pangkuan mama Marta yang sedang menangis histeris.


Dan Anton yang menyadari keberadaan sang istri langsung mendekatinya, dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Sayang, apa yang terjadi?"


Namun, Anton tidak menjawab pertanyaan sang istri, dan semakin mengeratkan pelukannya, dia benar-benar terkejut dengan kejadian di depan matanya, dimana Neta menebak kepalanya sendiri berkali-kali hingga akhirnya tewas.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Risa merasa sang suami sedang tidak baik-baik saja.


"Neta bunuh diri,"


Mendengar jawaban dari sang suami membuat Risa kini balik memeluk tubuh sang suami, dan menyaksikan para polisi mengevakuasi jazad dari Neta, wanita yang dia anggap sebagai teman dan saudara, ternyata menyimpan berbagai kejahatan.


"Mungkin ini sudah takdir dari Tuhan, dan maafkan semua kesalahannya Mas," ucap Risa pada sang suami, yang hanya mendapat anggukkan kepala dari Anton yang masih memeluknya.


"Dan sekarang tidak ada lagi yang akan merusak rumah tangga kita, sayang," batin Anton.


TAMAT


Akhirnya tamat juga, setelah bersusah payah mengukir setiap kata di novel ini, karena novel ini sebenarnya bukanlah genre aku banget.


Tapi aku bangga pada diriku sendiri, telah menyelesaikan tantangan yang aku buat untuk diriku sendiri.


Dan untuk kalian yang selalu mendukung aku dari novel ini tayang hingga tamat, terima kasih banyak.


Bertemu lagi di novel yang akan datang, yang pasti akan kembali ke genre yang aku kuasai. HAPPY WEEKEND

__ADS_1


__ADS_2