Rahasia Dibalik Pernikahan

Rahasia Dibalik Pernikahan
Jangan Protes


__ADS_3

Bukan hanya tubuh Anton yang keluar dari dalam kamar, tapi juga Risa, yang sekarang berada didalam pekukan Anton, karena, ketika Risa mendorong tubuh sang suami, Anton sengaja menarik tangan Risa, membuatnya kini bisa memeluk wanita yang sangat dicintainya.


Tentu saja hal itu membuat Risa diam mematung, apa lagi baru saja Anton mendaratkan kecupan di keningnya. Dan ini kecupan pertama yang diberikan oleh seorang pria, setelah Risa menyandang status janda.


"Aku keluar dulu," ucap Anton sambil melepas pelukannya, saat menyadari Risa hanya diam mematung, tanpa bereaksi. "Aku akan segera kembali," Anton pun kembali mengecup kening Risa, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut, dan pergi meninggalkan Risa yang masih diam mematung.


Setelah kepergian Anton dari rumah, kini Risa memegang keningnya yang baru saja mendapat dua kali kecupan dari sang suami, lalu masuk ke dalam kamar dengan perasaan yang campur aduk, kesal karena Anton berani melakukan hal itu, tapi disisi lain, Anton adalah suaminya, meskipun Risa sama sekali tidak menyukainya.


"Mama, Papa ke mana. Kenapa belum pulang juga, aku sangat merindukan Papa," ujar Nana, karena Anton belum pulang dari kepergiannya siang tadi, dan sekarang sudah pukul sembilan malam.


"Nanti pulang," sahut Risa tanpa ekspresi.


"Aku ingin tidur bersama dengan Papa,"


"Jangan manja, biasanya juga tidur sama mama," kesal Risa, karena sedari tadi, sang putri terus memanggil Anton, dan beberapa kali menangis.


"Aku ingin menelpon papa,"

__ADS_1


"Dia sedang sibuk, lebih baik kamu tidur, ingat, besok sekolah,"


"Mama jahat," ucap Nana yang langsung menutup seluruh tubuhnya, karena sedari tadi dia ingin menghubungi Anton, tapi Risa melarang, dengan alasan sang suami sedang sibuk.


"Maafkan Mama, sayang," batin Risa yang kini naik keatas kasur, dan merebahkan tubuhnya disamping sang putri.


Risa sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, hingga jam dinding yang ada di kamarnya sudah menunjukkan pukul dua belas malam, dan belum ada tanda-tanda Anton pulang.


Membuatnya langsung turun dari atas kasur, dan keluar dari dalam kamar, untuk memastikan Anton memang belum pulang.


"Ke mana dia, kenapa belum pulang," ujar Risa yang sudah berada di ruang tamu, dan mengintip keluar jendela dan tidak mendapati ada mobil Anton. "Kenapa aku cemas, mau pulang atau tidak, tidak ada urusan dengan aku," batin Risa yang kini mendudukkan bokongnya di sofa yang ada di ruang tamu, bertepan dengan suara mobil yang berhenti tepat di halaman rumahnya.


Dan benar saja, Anton sudah berdiri tepat di depan pintu dan mengetuk pintu tersebut, membuat Risa langsung membukakan pintu tersebut.


"Malam, kamu belum tidur?" tanya Anton sambil mengukir senyum. Tapi tidak mendapat jawaban dari Risa, yang kini berjalan menuju kamarnya. "Ris, aku ingin bicara denganmu,"


"Aku mengantuk," sambung Risa yang sudah menghentikan langkahnya, dan membelakangi Anton.

__ADS_1


"Sebentar saja,"


"Katakan," Risa pun kini membalik tubuhnya untuk menghadap pada sang suami.


"Besok aku akan membawa kamu, Nana dan juga Ibu untuk pindah dari rumah ini, rumah ini terlalu kecil,"


"Tidak mau, ini rumahku! Jika kamu tidak ingin tinggal disini, pergi saja!"


"Ris, bukannya aku tidak ingin tinggal disini,"


"Ya sudah, jangan paksa aku untuk meninggalkan rumah ini,"


"Oke, kalau begitu, kamu juga jangan protes, jika aku tidur dengan kamu dan juga Nana," sambung Anton, yang langsung berjalan menuju kamar Risa, karena memang di rumah tersebut hanya ada dua kamar, kamar yang di tempati oleh Risa dan Nana, dan satu kamar lagi di tempati oleh Ibu Ria.


Tentu saja Risa langsung menyusul Anton ke dalam kamar, dan langsung menghembuskan nafasnya kasar, ketika melihat Anton sudah merebahkan tubuhnya diatas kasur bersebelahan dengan Nana sang putri.


"Tidurlah, ini sudah malam," ujar Anton yang masih menyisakan ruang di atas tempat tidur tersebut, agar Risa bisa tidur.

__ADS_1


Bersambung...................


__ADS_2