
"Mas, siapa..." Risa tidak jadi meneruskan ucapannya, karena Anton sekarang mendekatinya, lalu memberi kecupan mesra di keningnya.
"Masa suami pulang, tidak di suruh masuk," ujar Anton sambil mencubit hidung Risa. "Selama aku pergi, kamu baik-baik saja kan, sayang?"
"Iya, Mas,"
"Bagaimana dengan malaikat kecil kita, dia tidak menyusahkan kamu kan?" tanya Anton yang kini mengelus perut Risa yang sudah mulai membesar.
"Dimana putri kita?"
"Dia masih berada di rumah ibu, Nanti ibu yang akan mengantarnya pulang,"
Leta yang berada di belakang keduanya hanya mengukir senyum, melihat jelas kebahagiaan sang suami bertemu dengan istri ke duanya. Mungkin di dunia ini hanya Leta lah, yang tidak merasa cemburu dengan sang suami yang sedang bermesraan dengan madunya.
Tidak mungkin? Tentu saja mungkin, karena tidak ada kata tidak mungkin di dunia ini.
"Mas, siapa wanita itu?" tanya Risa yang sekarang menatap pada Leta, yang juga sedang menatapnya balik sambil mengukir senyum.
Namun, tidak mendapat jawaban dari Anton yang tadi berada tepat di depan Risa, kini kembali ketempat semula, untuk mendorong kursi roda yang diduduki oleh Leta. Lalu mendorongnya untuk masuk ke dalam rumah.
Kemudian menghentikan kursi roda tersebut, tepat di depan Risa persis, dan Leta langsung mengulurkan tangannya kearah Risa, tentu saja langsung dijabat olehnya.
"Perkenalkan, aku Leta,"
"Aku..."
"Risa," sahut Leta memotong perkataan Risa yang akan memperkenalkan diri.
Tentu aja hal itu membuat Risa langsung menoleh pada sang suami yang masih berdiri di belakang kursi Roda yang diduduki oleh Leta.
"Anton sudah bercerita banyak tentang kamu," kata Leta, dan Risa yang masih menatap pada sang suami, kini menoleh pada Leta. "Bagaimana kandungan kamu ini?" tanya Leta sambil mengelus perut Risa, karena posisi perutnya tidak jauh dari jangkauan tangan Leta.
Dan Risa kembali menatap pada Anton, tatapan ingin sekali sang suami segera memberi tahu siapa wanita yang baru saja memperkenalkan diri bernama Leta, dan kenapa dia tahu namanya dan juga tahu dirinya sedang mengandung.
Risa kembali menolah pada Leta, saat salah satu tangannya di genggam olehnya. "Ternyata kamu lebih cantik jika bertemu langsung," ucap Leta untuk berbasa basi.
__ADS_1
"Siapa kamu?" tanya Risa yang selama ini tidak suka berbasa basi, hal yang Anton sukai darinya, yang tidak dia temui dari Leta.
"Aku sudah memperkenalkan diri tadi, jika namaku Leta,"
"Bukan itu, maksud aku, kenapa kamu mengenal aku, dan kamu juga tahu aku sedang hamil?" tanya Risa penasaran.
"Anton yang memberi tahu aku,"
"Kamu siapanya mas Anton?"
Bukannya menjawab pertanyaan Risa, Leta malah tersenyum, lalu mengalihkan tatapannya untuk menatap pada sang suami.
"Sayang, nanti kita berbincang lagi, sekarang biarkan Leta masuk terlebih dahulu, masa tamu hanya di suruh berada disini,"
"Iya Mas," sambung Risa, lalu mempersilakan Leta masuk.
Risa tidak melanjutkan perbincangannya dengan Leta, karena dia ingin beristirahat terlebih dahulu, dan Risa pun mengantar Leta menuju kamar tamu bersama dengan Anton yang setia mendorong kursi roda yang diduduki oleh sang istri.
"Aku sangat merindukan kamu, sayang," ucap Anton sambil memeluk pinggang Risa, saat keduanya sudah keluar dari kamar tamu dimana Leta berada.
"Iya,"
"Siapa leta sebenarnya? Kenapa dia tahu tentang aku?"
"Karena aku yang memberi tahunya,"
"Kenapa Mas Anton memberikan tahu tentang aku padanya, dia siapanya Mas Anton? Saudaranya?" tanya Risa yang benar-benar ingin tahu.
Namun, bukannya menjawab pertanyaan Risa, Anton malah tersenyum padanya. "Nanti aku beri tahu siapa dia, sekarang aku mau mandi dulu, apa kamu tidak ingin menemani suamimu ini mandi?"
"Tidak, jika aku ikut mandi, siapa yang akan manyiapkan pakaian masa Anton,"
"Ya ampun istriku, sayang. Kamu sungguh perhatian sekali padaku,"
"Karena kamu suamiku, Mas," sambung Risa sambil mengukir senyum.
__ADS_1
"Terima kasih sayang,"
Anton yang sudah mandi dan juga berganti pakaian yang telah disiapkan Risa sebelumnya, kini menghampiri sang istri yang sedang duduk diatas kasur sambil menelpon, dan Anton tahu siapa yang sedang di hubungi oleh sang istri, karena Risa menghidupkan pengeras suara.
Risa pun tersenyum ke arah Anton, setelah menutup sambungan ponselnya.
"Jadi malam ini, Nana ingin menginap di rumah ibu?" tanya Anton karena barusan ibu Ria yang menelpon sang istri, untuk memberi tahu, jika Nana tidak ingin pulang dan ingin menginap di rumah sang nenek, karena keduanya sangatlah dekat.
"Iya Mas,"
"Ah, padahal aku sangat merindukan putri kita, tapi tidak apa, kerinduan aku sudah terbalas karena kehadiran mamanya disini," ujar Aton yang langsung memeluk tubuh Risa, bukan hanya memeluknya, tapi juga menciumi seluruh wajahnya.
"Mas hentikan," Risa mendorong wajah sang suami yang sudah menciumi tengkuk lehernya.
"Sayang, aku sangat merindukan kamu,"
"Aku juga,"
"Ya sudah, biarkan aku memeluk kamu,"
"Tidak, mau sebelum kamu memberi tahu aku, siapa leta,"
Anton yang masih memeluk tubuh sang istri, kini segera melepas pelukannya, setelah mendengar apa yang ditanyakan sang istri.
"Yakin kamu ingin tahu,"
"Tentu Mas,"
"Maaf,"
"Untuk apa, Mas Minta maaf?"
"Aku salah,"
"Mas, apa yang Mas Anton katakan sih?"
__ADS_1
Bersambung.....................