
Seminggu berlalu setelah meninggalkan Leta, kesedihan tidak bisa ditutupi oleh Anton, yang terus mengurung diri di dalam kamar.
Untuk merutuki dirinya sendiri, bisa bisanya dia tidak tahu jika Leta mengidap penyakit yang mematikan, hingga akhirnya dia meninggal dunia.
"Dasar bodoh!" teriak Anton yang masih berada di dalam kamar, pada dirinya sendiri, sambil menatap foto Risa dan juga Leta di kedua tangannya.
Rasa bersalah terus menyelimuti hatinya, disisi lain dia merasa bersalah pada Risa karena sudah membohonginya, dan disisi lainnya dia merasa tidak berguna menjadi seorang suami, hingga tidak tahu apa yang selama ini Leta rasakan untuk melawan penyakit yang mematikan.
Dam Anton baru tahu, jika selama dia tidak berada di sisi Leta, ternyata Leta pergi berobat sendiri untuk mengobati penyakitnya, yang membuatnya kini sudah meninggal dunia.
"Maafkan aku," ucap Anton sambil menatap forto Risa dan juga Leta, dan air mata kembali mengalir dari kedua pelupuk matanya, dan entah kapan air mata itu kering.
Sementara itu, mama Marta yang berada di rumah sang putra, begitu panik ketika sang putra belum juga keluar dari dalam kamar selama seminggu.
Tentu saja membuatnya memanggil Risa dan juga Nana yang masih tinggal di rumah ibu Ria untuk datang, untuk membujuk Anton agar keluar dari dalam kamar.
Awalnya Risa enggan untuk datang ke rumah yang sudah satu tahun lebih dia tempati, tapi karena rasa iba dan juga rasa cinta yang masih dia miliki untuk Anton, akhirnya Risa membawa sang putri ke rumah tersebut.
Meskipun Risa masih kesal dengan Anton, tapi dia tidak memungkiri rasa didalam hatinya untuk sang suami.
Dan Risa berpikir apa yang Anton rasakan sama dengan yang dia rasakan saat ini, sama-sama di bohongi oleh orang tercinta, mungkin Anton lebih sakit hati di banding Risa, karena orang tercinta yang membohonginya tentang penyakit yang di derita sudah meninggal dunia.
"Terima kasih, Ris. Kamu mau datang ke sini," ucap mama Marta pada Risa.
"Sama-sama, Ma,"
__ADS_1
"Papa dimana Oma? Kenapa sudah satu minggu papa tidak datang ke rumah menemui aku?" tanya Nana yang masih menggandeng tangan Risa.
"Papa kamu ada di kamar, sayang. Sana temui dia,"
"Oke, Oma," Nana pun segera menaiki anak tangga untuk menuju kamar sang papa, diikuti oleh Risa dan juga mama Marta.
Nana terus berteriak memanggil Anton, tak lupa terus mengetuk pintu kamarnya.
"Ma, papa kenapa, ko pintunya di kunci?" tanya Nana karena pintu kamar Anton selama ini tidak pernah di kunci, dan Nana bisa keluar masuk kapan pun dia mau.
"Papa kamu..." mama Marta tidak jadi meneruskan ucapannya, saat pintu kamar di buka, dan memperlihatkan Anton dengan penampilan acak acakan dan wajah yang begitu pucat.
Membuat Nana langsung menoleh pada sang papa. "Papa, kenapa dengan papa?" tanya Nana yang melihat keadaan Anton.
"Sayang, kamu datang?"
"Iya, Pa. Papa sakit?"
"Tidak, papa baik-baik saja, sayang," jawab Anton dengan lemah, karena sudah seminggu ini dia tidak makan atau minum apa pun, karena semuanya makanan yang selalu mama Marta taruh di depan pintu kamar Anton, berharap dia kan mengambilnya dan memakannya, tetap utuh dan tidak tersentuh, dan untung saja Anton tidak mati.
"Kenapa wajah Papa dan juga pakaian Papa seperti ini?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari Nana, Anton malah menatap pada Risa yang berdiri tidak jauh darinya.
"Sayang,"
__ADS_1
Risa hanya diam tanpa mengatakan apa pun, melihat sang suami yang begitu menyedihkan.
Dan Anton kini mendekati Risa, lalu mengelus perutnya yang sudah mulai membesar.
"Maafkan papa," ucapnya, lalu menatap pada Risa kembali. "Sayang, maafkan aku,"
"Papa!"
"Anton,"
"Mas," ucap Nana, mama Marta dan juga Risa bergantian, ketika melihat Anton tiba-tiba jatuh tersungkur diatas lantai.
Membuat semuanya panik, dan mama Marta pun segara memanggil satpam dan juga supir pribadinya, untuk mengangkat tubuh Anton.
"Mas, bangun," Risa menepuk pipi Anton yang tergeletak diatas lantai, berbarengan dengan tangisan Nana yang melihat sang papa tidak berdaya. "Mas, bangunlah,"
"Iya, Pa. Bangun Pa, bangun!" teriak Nana yang ikut menggoyangkan tubuh Anton.
Membuat Anton perlahan membuka kedua bola mata, dan menatap pada Risa.
"Sa, sayang. Ma...afkan aku," ucap Anton terbata dan kembali memejamkan matanya.
"Mas!"
Bersambung...............
__ADS_1