
Risa menautkan kedua alisnya, menatap sang suami yang terlihat begitu terkejut mengetahui jika dirinya hamil. Harusnya senang mengetahui jika dirinya hamil, itu yang sedang Risa pikirkan saat ini, padahal sebelum dia pergi ke luar negeri, Anton selalu menanyakan apakah dirinya sudah hamil apa belum.
"Mas,"
"Katakan padaku, sekali lagi. Apa kamu sedang hamil?" tanya Anton yang mulai berkaca-kaca.
"Iya, Mas. Aku hamil,"
"Ya Tuhan, terima kasih," ucap Anton penuh kebahagiaan, lalu meraup wajah sang istri, untuk menghujami setiap inci wajahnya dengan ciuman, lalu memeluknya dengan erat. "Terima kasih, sayang," Anton yang tadi sudah berkaca-kaca kini tak kuasa menumpahkan air mata kebahagiaan, dengan mengucap rasa syukur berkali-kali.
Tentu saja membuat Risa balik memeluk tubuh sang suami, dan kecemasan yang tadi menghampirinya, saat ucapan pertama sang suami, ketika mengetahui dirinya hamil, dia singkirkan jauh-jauh.
"Terima kasih, sayang," entah sudah berapa kali ucapan tersebut keluar dari bibir Anton, dan kini mencium bibir sang istri setelah melepas pelukannya, tanpa menyadari jika Nana masih berdiri di sisi tempat tidur dimana keduanya berada.
"Ish, kata Miss di sekolah, perempuan dengan laki-laki tidak boleh peluk pelukan, dan cium ciuman. Tapi kenapa papa dan mama melakukan itu?"
Pertanyaan bocah kecil tersebut membuat Anton langsung melepas tautan bibirnya, lalu menatap pada Nana, dia lupa jika selama ini, dirinya dan juga sang istri tidak pernah menunjukkan kemesraan di depan Nana.
"Nana sayang, papa dan juga mama ini suami istri, tentu boleh melakukan hal itu, yang tidak boleh jika belum menikah, begitu. Nana juga nanti boleh melakukan hal itu dengan seorang laki-laki, tapi jika kamu dan dia sudah menikah, paham?" tanya Anton yang kini turun dari atas tempat tidur, untuk memberi edukasi pada sang putri, karena menurut Anton, pendidikan moral harus di terapkan sejak dini, apa lagi di jaman canggih seperti sekarang ini, dimana bocah kecil sudah bisa mengakses berbagai macam tontonan dari gadget.
"Oh begitu, jadi aku tidak boleh berciuman dan juga berpelukan dengan laki-laki sebelum menikah?"
"Benar sekali,"
"Jadi papa juga tidak boleh, cium kening dan pipi aku dong,"
"Kalau itu beda sayang, kamu kan anak papa,"
__ADS_1
"Oh begitu," gadis kecil nan imut tersebut langsung mengangguk anggukan kepalanya mencerna ucapan dari papa sambungnya tersebut.
"Oh ya, ini sudah malam. Kenapa Nana belum tidur, yuk kembali ke kamar, papa akan menyanyikan lagu nina bobo,"
"Tidak mau, aku ingin tidur dengan adik bayi yang ada di perut mama," tolak Nana yang langsung naik keatas tempat tidur. Membuat Anton langsung menepuk jidatnya sendiri, karena untuk malam ini dia gagal untuk menggauli sang istri. "Ayo Pa, kita tidur," Nana menarik tangan Anton untuk naik keatas kasur.
Setelah memastikan Nana tertidur, Anton yang tadi merebahkan tubuhnya di samping Nana, kini berpindah posisi tidur tepat disamping Risa, yang sudah memejamkan matanya.
"Sayang," bisik Anton tepat di telinga Risa, sambil memeluknya.
Membuat tidur Risa terganggu, dan langsung menatap pada sang suami saat sudah membuka kedua bola matanya.
"Kamu belum tidur, Mas?"
"Belum sayang, aku ingin memberi nutrisi pada calon anak kita," jawab Anton masih dengan niat awalnya
"Mas,"
"Tapi,"
"Tidak disini, kita pindah ke kamar tamu," ajak Anton yang kini melepas pelukannya, lalu turun dari atas kasur, kemudian membopong tubuh Risa. "Terima kasih,"
"Mas, aku sudah mendengar ucapan itu lebih dari sepuluh kali,"
"Dan aku akan terus mengucapkan kata itu sayang, karena kamu mau mengandung anakku,"
"Aku istrimu Mas, tentu saja aku juga sangat senang bisa mengandung,"
__ADS_1
"Terima kasih, sayang," ucap Anton yang langsung mencium bibir sang istri.
*
*
*
Tentu saja kabar kehamilan Risa, sudah sampai di telinga mama Marta dan juga Papa Martin.
Di mana pria paruh baya tersebut sekarang menghampiri sang putra di kantornya.
"Tumben Papa ke sini," ucap Anton saat papa Martin sudah berada di dalam ruang kerjanya.
Namun, ucapannya tidak ditanggapi oleh papa Martin yang kini duduk di kursi tepat di depan meja kerja sang putra.
"Papa tidak mengira, kamu akan sejauh ini,"
"Apa maksud Papa?" tanya Anton pada sang papa.
"Berapa usia kandungannya?"
"Kehamilan menantu papa?"
"Jangan sebut dia menantuku!"
"Tapi bayi yang sedang di kandungnnya adalah cucu papa,"
__ADS_1
"Papa tidak peduli, katakan saja berapa usia kandungannya, masih bisa di gugurkan, bukan?"
Bersambung...................